alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Pemimpin Apa Adanya

ADA tipe pemimpin yang ingin tampil apa adanya. Tanpa mau dipermak penampilannya. Tanpa mau diatur-atur cara bicaranya. Dan tanpa mau diarahkan untuk gaya dan style-nya setiap kali tampil di depan publik. Tapi ada juga tipe pemimpin yang penampilannya sudah tidak genuine. Cara bicaranya sudah dipoles. Penampilannya sudah dipermak. Kebiasaan-kebiasaannya yang lama sudah tidak dilakukan lagi. Serta cara berpakaiannya sudah ada pakemnya. Harus menggunakan pakaian rancangan siapa. Warna dan corak pakaiannya harus benar-benar disesuaikan dengan acara yang dihadirinya.

Pemimpin yang ”apa adanya”, bisa baik bisa juga kurang baik. Joko Widodo (Jokowi) adalah sosok pemimpin yang masuk dalam kriteria ”apa adanya”. Dia pemimpin yang lahir dari rakyat jelata. Tidak punya trah bangsawan. Tidak ada dinasti ketokohan yang kuat. Sejak jadi Wali Kota Solo, kemudian Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi presiden, penampilan Jokowi masih kelihatan genuine-nya. Cara bicaranya yang medok (Jawa banget), gaya blusukannya yang jauh dari kesan dibuat-buat, dan selama menjadi presiden beberapa kali menerobos pakem yang selama ini belum pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. Misalnya, saat berpidato di sebuah acara, dia tak segan-segan mengajak audiens untuk tanya jawab, dan orang yang ditanya disuruh naik panggung dan mendekat kepadanya. Ini sebenarnya melanggar standar protokoler pengamanan presiden.

Pernah juga Jokowi menerobos standar protokoler kepresidenan ketika pada 2016 dia berencana untuk mengunjungi Kabupaten Nduga di Papua. Saat itu, Kapolri, kepala BIN, dan panglima TNI tidak merekomendasikan presiden datang ke Nduga. Selain alasan keamanan karena gerakan separatis di sana eskalasinya meningkat, juga alasan medan jalan yang belum bisa dilalui mobil. Tapi saat itu Jokowi bersikeras untuk tetap datang ke Nduga. ”Urusan keamanan itu menjadi urusanmu, urusanmu, dan urusanmu,” kata Jokowi saat itu sambil menunjuk kepada tiga pejabat yang melarangnya tadi.

Itulah Jokowi. Dia lebih memilih menjaga ”genuine”-nya ketimbang mengikuti secara saklek aturan protokoler.

Tapi ada juga pemimpin yang justru kurang baik ketika tetap mempertahankan genuine-nya. Misalnya Donald Trump. Sejak sebelum menjadi presiden, Trump dikenal sebagai figur yang pernyataan-pernyataannya ceplas-ceplos. Dan ceplas-ceplosnya itu sering kelewatan. Tak jarang menyinggung dan menyakiti orang lain atau kelompok lain. Dan terkesan sarkasme. Sering juga meng-upload komentar-komentarnya yang kontroversial melalui Twitter.

Ironisnya, sikap dan perilakunya sebelum menjadi presiden, tetap terbawa selama menjadi presiden. Ceplas-ceplosnya yang sering mengandung sarkasme tak berubah. Sehingga wajar jika seringkali pernyataannya di-bully netizen. Sikap ”apa adanya” ala Trump inilah yang dia tunjukkan ketika tampil di debat perdana pilpres di Amerika Serikat saat melawan penantangnya, Joe Biden. Banyak pengamat mencela gaya, cara bicara, dan sikap Trump yang dianggap tak mencerminkan sebagai seorang presiden, apalagi presiden negara adi daya. Tak sedikit media setempat yang menyebut debat tersebut sebagai debat terburuk dalam sejarah pilpres di Amerika.

Itulah Trump. Dia lebih memilih menjaga ”genuine”-nya ketimbang mengikuti etika dan norma yang berlaku secara universal.

Bagaimana dengan pemimpin yang tidak ”apa adanya”? Pemimpin yang tidak ”apa adanya” biasanya ada sesuatu yang menyanderanya. Bisa tersandera oleh persepsi tentang dia yang sudah terlanjur dibangun di masyarakat. Bisa juga tersandera oleh orang-orang terdekatnya (istri, suami, dan anak). Atau bisa juga tersandera oleh kepentingan. Bisa kepentingan partai, kepentingan organisasi, atau kepentingan utang-piutang.

Adakah pemimpin seperti ini di sekitar kita? Simpan di dalam hati saja, jawaban Anda. Pemimpin yang ”apa adanya”, biasanya berangkat dari kejujuran. Sedangkan pemimpin yang tidak ”apa adanya” biasanya berangkat dari kepalsuan. Dan lama-kelamaan masyarakat akan semakin tahu tentang kepalsuan yang dia bentuk dan dia bangun. Jadi, Anda pasti lebih menyukai pemimpin yang ”apa adanya” ketimbang pemimpin yang ”ada apanya”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

ADA tipe pemimpin yang ingin tampil apa adanya. Tanpa mau dipermak penampilannya. Tanpa mau diatur-atur cara bicaranya. Dan tanpa mau diarahkan untuk gaya dan style-nya setiap kali tampil di depan publik. Tapi ada juga tipe pemimpin yang penampilannya sudah tidak genuine. Cara bicaranya sudah dipoles. Penampilannya sudah dipermak. Kebiasaan-kebiasaannya yang lama sudah tidak dilakukan lagi. Serta cara berpakaiannya sudah ada pakemnya. Harus menggunakan pakaian rancangan siapa. Warna dan corak pakaiannya harus benar-benar disesuaikan dengan acara yang dihadirinya.

Pemimpin yang ”apa adanya”, bisa baik bisa juga kurang baik. Joko Widodo (Jokowi) adalah sosok pemimpin yang masuk dalam kriteria ”apa adanya”. Dia pemimpin yang lahir dari rakyat jelata. Tidak punya trah bangsawan. Tidak ada dinasti ketokohan yang kuat. Sejak jadi Wali Kota Solo, kemudian Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi presiden, penampilan Jokowi masih kelihatan genuine-nya. Cara bicaranya yang medok (Jawa banget), gaya blusukannya yang jauh dari kesan dibuat-buat, dan selama menjadi presiden beberapa kali menerobos pakem yang selama ini belum pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. Misalnya, saat berpidato di sebuah acara, dia tak segan-segan mengajak audiens untuk tanya jawab, dan orang yang ditanya disuruh naik panggung dan mendekat kepadanya. Ini sebenarnya melanggar standar protokoler pengamanan presiden.

Pernah juga Jokowi menerobos standar protokoler kepresidenan ketika pada 2016 dia berencana untuk mengunjungi Kabupaten Nduga di Papua. Saat itu, Kapolri, kepala BIN, dan panglima TNI tidak merekomendasikan presiden datang ke Nduga. Selain alasan keamanan karena gerakan separatis di sana eskalasinya meningkat, juga alasan medan jalan yang belum bisa dilalui mobil. Tapi saat itu Jokowi bersikeras untuk tetap datang ke Nduga. ”Urusan keamanan itu menjadi urusanmu, urusanmu, dan urusanmu,” kata Jokowi saat itu sambil menunjuk kepada tiga pejabat yang melarangnya tadi.

Itulah Jokowi. Dia lebih memilih menjaga ”genuine”-nya ketimbang mengikuti secara saklek aturan protokoler.

Tapi ada juga pemimpin yang justru kurang baik ketika tetap mempertahankan genuine-nya. Misalnya Donald Trump. Sejak sebelum menjadi presiden, Trump dikenal sebagai figur yang pernyataan-pernyataannya ceplas-ceplos. Dan ceplas-ceplosnya itu sering kelewatan. Tak jarang menyinggung dan menyakiti orang lain atau kelompok lain. Dan terkesan sarkasme. Sering juga meng-upload komentar-komentarnya yang kontroversial melalui Twitter.

Ironisnya, sikap dan perilakunya sebelum menjadi presiden, tetap terbawa selama menjadi presiden. Ceplas-ceplosnya yang sering mengandung sarkasme tak berubah. Sehingga wajar jika seringkali pernyataannya di-bully netizen. Sikap ”apa adanya” ala Trump inilah yang dia tunjukkan ketika tampil di debat perdana pilpres di Amerika Serikat saat melawan penantangnya, Joe Biden. Banyak pengamat mencela gaya, cara bicara, dan sikap Trump yang dianggap tak mencerminkan sebagai seorang presiden, apalagi presiden negara adi daya. Tak sedikit media setempat yang menyebut debat tersebut sebagai debat terburuk dalam sejarah pilpres di Amerika.

Itulah Trump. Dia lebih memilih menjaga ”genuine”-nya ketimbang mengikuti etika dan norma yang berlaku secara universal.

Bagaimana dengan pemimpin yang tidak ”apa adanya”? Pemimpin yang tidak ”apa adanya” biasanya ada sesuatu yang menyanderanya. Bisa tersandera oleh persepsi tentang dia yang sudah terlanjur dibangun di masyarakat. Bisa juga tersandera oleh orang-orang terdekatnya (istri, suami, dan anak). Atau bisa juga tersandera oleh kepentingan. Bisa kepentingan partai, kepentingan organisasi, atau kepentingan utang-piutang.

Adakah pemimpin seperti ini di sekitar kita? Simpan di dalam hati saja, jawaban Anda. Pemimpin yang ”apa adanya”, biasanya berangkat dari kejujuran. Sedangkan pemimpin yang tidak ”apa adanya” biasanya berangkat dari kepalsuan. Dan lama-kelamaan masyarakat akan semakin tahu tentang kepalsuan yang dia bentuk dan dia bangun. Jadi, Anda pasti lebih menyukai pemimpin yang ”apa adanya” ketimbang pemimpin yang ”ada apanya”. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Previous articlePilkada dan Kedewasaan Kita
Next articleNegosiasi

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/