alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Optimalkan Keuangan Syariah Demi Dukung Pemulihan Ekonomi Daerah

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam rangka antisipasi dampak COVID 19 terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional, peran sektor jasa keuangan menjadi sangat krusial sebagai katalisator dan motor penggerak, termasuk peran dari sektor ekonomi dan keuangan syariah.

Guna mendukung program PEN tersebut, OJK Malang mendorong Pelaku Keuangan Syariah di Kota Malang untuk berperan dalam percepatan pelaksanaan PEN di daerah khususnya peningkatan penyaluran pembiayaan kepada UMKM. Sektor jasa keuangan Syariah sudah terbukti memiliki resiliensi atau daya tahan yang baik di masa pandemi hingga periode recovery saat ini.

Bulan suci Ramadan ini menjadi momentum yang tepat, bagi pelaku ekonomi dan keuangan Syariah untuk keluar melompat lebih tinggi lagi. Bahu membahu memperkenalkan kepada masyarakat mengenai produk dan layanan keuangan Syariah dengan cara yang mudah dipahami di tengah kebijakan suku bunga rendah yang saat ini diberikan sebagai suatu stimulus pemulihan ekonomi.

Trend pasar pembiayaan dengan suku bunga rendah saat ini, tentu memberikan peluang yang cukup bagus bagi perbankan Syariah maupun pelaku ekonomi dan keuangan Syariah dalam menawarkan pembiayaan dengan tingkat marjin atau bagi hasil yang kompetitif namun pasti. Untuk itu, penetrasi pasar keuangan Syariah perlu terus didorong.

Di sisi lain, masyarakat sebagai pelaku usaha akan semakin tertarik untuk mendapatkan pendanaan dari perbankan Syariah dan LJK Syariah lainnya. Karena apa? Trend suku bunga rendah, tentu akan dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mendapatkan pinjaman dengan skema pembiayaan yang murah dan pasti.

Sistem pembiayaan Syariah memiliki keunggulan dalam memberikan pembiayaan dengan tingkat marjin atau bagi hasil yang disepakati di awal dan cenderung pasti hingga berakhirnya jatuh tempo. Bisa dibayangkan jika saat ini masyarakat pelaku UMKM mendapatkan pembiayaan dengan tingkat marjin yang setara dengan suku bunga rendah di pasar, tentu ini akan sangat membantu pelaku UMKM untuk kembali pulih dalam melakukan produksi.

OJK Malang mencatat kinerja industri perbankan syariah di Wilayah Malang Raya yang semakin baik di masa pandemi ini. Share pembiayaan perbankan Syariah di Malang Raya terhadap total kredit perbankan secara umum mengalami peningkatan dari sebelumnya Rp2,39 T (5,66%) menjadi Rp2,65 T (6,15%) dari total penyaluran kredit berdasarkan lokasi debitur. Di tengah tantangan belum pulihnya sektor-sektor ekonomi di Malang Raya, namun pembiayaan perbankan Syariah masih mengalami pertumbuhan di bulan Maret 2021 sebesar 11,20% (berdasarkan lokasi debitur yang dibiayai).

Kondisi ini juga didukung dengan pengelolaan risiko pembiayaan yang sangat baik dengan kisaran rasio kredit bermasalah hanya 1,52% atau masih jauh dibawah batas 5%. Perbankan Syariah di wilayah Malang Raya juga telah memberikan relaksasi bagi debitur-debitur yang terdampak COVID-19, dengan total sebanyak 13.211 debitur dengan baki debet sebesar Rp678 Miliar.

Relaksasi pembiayaan ini diberikan berdasarkan asesmen yang dilakukan oleh perbankan Syariah untuk secara selektif memastikan tidak terjadi free rider yang memanfaatkan relaksasi tersebut padahal debitur tersebut sudah bermasalah sebelum adanya pandemi ini.

Dari sisi dana yang tersimpan di perbankan Syariah Malang Raya menunjukkan pertumbuhan 9,41% yaitu dari Rp3,5 T menjadi Rp3,84 T pada bulan Maret 2021. Dengan jumlah dana yang tumbuh tinggi dimaksud, kondisi likuiditas di perbankan Syariah Malang Raya relatif terjaga secara aman. Tantangan bagi perbankan syariah justru adalah bagaimana menjalankan fungsi intermediasi secara baik dengan melakukan penyaluran kredit kepada sektor-sektor ekonomi yang mulai membaik di tengah masa pandemi ini.

Tantangan lain dalam pengembangan keuangan Syariah adalah masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai produk layanan keuangan Syariah, dan juga kemudahan akses masyarakat terhadap keuangan syariah. Indeks literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Indeks tersebut belum mencapai 10 persen atau hanya 8,93 persen. Sedangkan inklusi keuangan masih tercatat 9,1 persen.

Tentu perlu langkah-langkah yang tidak biasa dalam mendorong tingkat literasi dan inkluasi keuangan Syariah agar masyarakat semakin mudah dalam akses keuangan Syariah dan semakin paham mengenai produk dan layanan keuangan Syariah. Pendekatan bisnis perlu dilakukan, karena pelaku usaha keuangan Syariah adalah pelaku ekonomi yang pastinya dihadapkan pula pada risiko bisnis (untung atau rugi).

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dihadapkan pada tantangan yang semakin tidak mudah. Meski total aset keuangan syariah tumbuh pesat, yakni mencapai 21,84 persen pada 2020, atau melampaui industri keuangan konvensional, produk layanan keuangan syariah harus berpacu dengan pelbagai perubahan. Dari sisi model bisnis, misalnya, keuangan syariah harus mencari diferensiasi produk dan mengembangkan strategi yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Saat ini, produk keuangan syariah dinilai masih sulit dipahami masyarakat awam dengan istilah produk yang juga tidak mudah diingat.

Dalam kesempatan menjawab tantangan pengembangan keuangan Syariah di daerah, khususnya di Malang Raya, dirasa perlu upaya peningkatan kerja sama dan kolaborasi hexahelix bersama pemda, dunia usaha, akademisi, komunitas, media dan lembaga keuangan. Peningkatan kerja sama dan kolaborasi hexahelix salah satunya dilakukan melalui penyelenggaraan Seminar Peningkatan Peran Perbankan Syariah Dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Daerah Di Tengah Masa Pandemi.

Seminar ini menghadirkan narasumber Wali Kota Malang Bapak Drs H Sutiaji, Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr H Abd Haris MAg, Ketua MES Kabupaten Malang KH Mas’udi Busyiri LC MA, Kepala Bank Syariah Indonesia Area Malang Moh Endry Dzul Fikri.

Dengan hasil diskusi ini diharapkan dapat menjawab tantangan dengan suatu solusi kongkrit agar potensi keuangan Syariah di Kota Malang dapat dioptimalisasi dalam mendukung pemulihan ekonomi di daerah. Pandemi ini juga menjadi momentum sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan Syariah di daerah agar share keuangan Syariah di Indonesia menjadi lebih baik lagi. “Keuangan Syariah, dari Malang untuk Indonesia dan dunia”.

Penulis:
Sugiarto Kasmuri
(Kepala Otoritas Jasa Keuangan Malang)

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam rangka antisipasi dampak COVID 19 terhadap pertumbuhan ekonomi. Untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional, peran sektor jasa keuangan menjadi sangat krusial sebagai katalisator dan motor penggerak, termasuk peran dari sektor ekonomi dan keuangan syariah.

Guna mendukung program PEN tersebut, OJK Malang mendorong Pelaku Keuangan Syariah di Kota Malang untuk berperan dalam percepatan pelaksanaan PEN di daerah khususnya peningkatan penyaluran pembiayaan kepada UMKM. Sektor jasa keuangan Syariah sudah terbukti memiliki resiliensi atau daya tahan yang baik di masa pandemi hingga periode recovery saat ini.

Bulan suci Ramadan ini menjadi momentum yang tepat, bagi pelaku ekonomi dan keuangan Syariah untuk keluar melompat lebih tinggi lagi. Bahu membahu memperkenalkan kepada masyarakat mengenai produk dan layanan keuangan Syariah dengan cara yang mudah dipahami di tengah kebijakan suku bunga rendah yang saat ini diberikan sebagai suatu stimulus pemulihan ekonomi.

Trend pasar pembiayaan dengan suku bunga rendah saat ini, tentu memberikan peluang yang cukup bagus bagi perbankan Syariah maupun pelaku ekonomi dan keuangan Syariah dalam menawarkan pembiayaan dengan tingkat marjin atau bagi hasil yang kompetitif namun pasti. Untuk itu, penetrasi pasar keuangan Syariah perlu terus didorong.

Di sisi lain, masyarakat sebagai pelaku usaha akan semakin tertarik untuk mendapatkan pendanaan dari perbankan Syariah dan LJK Syariah lainnya. Karena apa? Trend suku bunga rendah, tentu akan dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mendapatkan pinjaman dengan skema pembiayaan yang murah dan pasti.

Sistem pembiayaan Syariah memiliki keunggulan dalam memberikan pembiayaan dengan tingkat marjin atau bagi hasil yang disepakati di awal dan cenderung pasti hingga berakhirnya jatuh tempo. Bisa dibayangkan jika saat ini masyarakat pelaku UMKM mendapatkan pembiayaan dengan tingkat marjin yang setara dengan suku bunga rendah di pasar, tentu ini akan sangat membantu pelaku UMKM untuk kembali pulih dalam melakukan produksi.

OJK Malang mencatat kinerja industri perbankan syariah di Wilayah Malang Raya yang semakin baik di masa pandemi ini. Share pembiayaan perbankan Syariah di Malang Raya terhadap total kredit perbankan secara umum mengalami peningkatan dari sebelumnya Rp2,39 T (5,66%) menjadi Rp2,65 T (6,15%) dari total penyaluran kredit berdasarkan lokasi debitur. Di tengah tantangan belum pulihnya sektor-sektor ekonomi di Malang Raya, namun pembiayaan perbankan Syariah masih mengalami pertumbuhan di bulan Maret 2021 sebesar 11,20% (berdasarkan lokasi debitur yang dibiayai).

Kondisi ini juga didukung dengan pengelolaan risiko pembiayaan yang sangat baik dengan kisaran rasio kredit bermasalah hanya 1,52% atau masih jauh dibawah batas 5%. Perbankan Syariah di wilayah Malang Raya juga telah memberikan relaksasi bagi debitur-debitur yang terdampak COVID-19, dengan total sebanyak 13.211 debitur dengan baki debet sebesar Rp678 Miliar.

Relaksasi pembiayaan ini diberikan berdasarkan asesmen yang dilakukan oleh perbankan Syariah untuk secara selektif memastikan tidak terjadi free rider yang memanfaatkan relaksasi tersebut padahal debitur tersebut sudah bermasalah sebelum adanya pandemi ini.

Dari sisi dana yang tersimpan di perbankan Syariah Malang Raya menunjukkan pertumbuhan 9,41% yaitu dari Rp3,5 T menjadi Rp3,84 T pada bulan Maret 2021. Dengan jumlah dana yang tumbuh tinggi dimaksud, kondisi likuiditas di perbankan Syariah Malang Raya relatif terjaga secara aman. Tantangan bagi perbankan syariah justru adalah bagaimana menjalankan fungsi intermediasi secara baik dengan melakukan penyaluran kredit kepada sektor-sektor ekonomi yang mulai membaik di tengah masa pandemi ini.

Tantangan lain dalam pengembangan keuangan Syariah adalah masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai produk layanan keuangan Syariah, dan juga kemudahan akses masyarakat terhadap keuangan syariah. Indeks literasi keuangan syariah di Indonesia masih rendah. Indeks tersebut belum mencapai 10 persen atau hanya 8,93 persen. Sedangkan inklusi keuangan masih tercatat 9,1 persen.

Tentu perlu langkah-langkah yang tidak biasa dalam mendorong tingkat literasi dan inkluasi keuangan Syariah agar masyarakat semakin mudah dalam akses keuangan Syariah dan semakin paham mengenai produk dan layanan keuangan Syariah. Pendekatan bisnis perlu dilakukan, karena pelaku usaha keuangan Syariah adalah pelaku ekonomi yang pastinya dihadapkan pula pada risiko bisnis (untung atau rugi).

Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dihadapkan pada tantangan yang semakin tidak mudah. Meski total aset keuangan syariah tumbuh pesat, yakni mencapai 21,84 persen pada 2020, atau melampaui industri keuangan konvensional, produk layanan keuangan syariah harus berpacu dengan pelbagai perubahan. Dari sisi model bisnis, misalnya, keuangan syariah harus mencari diferensiasi produk dan mengembangkan strategi yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Saat ini, produk keuangan syariah dinilai masih sulit dipahami masyarakat awam dengan istilah produk yang juga tidak mudah diingat.

Dalam kesempatan menjawab tantangan pengembangan keuangan Syariah di daerah, khususnya di Malang Raya, dirasa perlu upaya peningkatan kerja sama dan kolaborasi hexahelix bersama pemda, dunia usaha, akademisi, komunitas, media dan lembaga keuangan. Peningkatan kerja sama dan kolaborasi hexahelix salah satunya dilakukan melalui penyelenggaraan Seminar Peningkatan Peran Perbankan Syariah Dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Daerah Di Tengah Masa Pandemi.

Seminar ini menghadirkan narasumber Wali Kota Malang Bapak Drs H Sutiaji, Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr H Abd Haris MAg, Ketua MES Kabupaten Malang KH Mas’udi Busyiri LC MA, Kepala Bank Syariah Indonesia Area Malang Moh Endry Dzul Fikri.

Dengan hasil diskusi ini diharapkan dapat menjawab tantangan dengan suatu solusi kongkrit agar potensi keuangan Syariah di Kota Malang dapat dioptimalisasi dalam mendukung pemulihan ekonomi di daerah. Pandemi ini juga menjadi momentum sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan Syariah di daerah agar share keuangan Syariah di Indonesia menjadi lebih baik lagi. “Keuangan Syariah, dari Malang untuk Indonesia dan dunia”.

Penulis:
Sugiarto Kasmuri
(Kepala Otoritas Jasa Keuangan Malang)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru