alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 1 October 2022

Noktah Hitam Kota Layak Anak

Kota Batu berhasil meraih predikat Kota Layak Anak (KLA) dengan kategori cukup bergengsi. Tahun 2021 untuk kategori tingkat Madya, sedangkan tahun 2022 naik meraih kategori Nindya. Dua prestasi itu dicapai setelah 6 kali berturut-turut pada tahun-tahun sebelumnya Kota Batu hanya mandek di KLA kategori Pratama.

Penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) itu diberikan karena Kota Batu dianggap telah memenuhi 24 indikator Kota Layak Anak. Untuk 22 indikator Kota Batu bisa dibilang sudah OK. Tapi ada dua indikator yang saat ini sepertinya perlu menjadi perhatian serius Pemkot Batu. Indikator tersebut adalah pada poin 21 tentang korban kekerasan anak dan eksploitasi dan indikator ke 11 terkait infrastruktur ramah anak.

Sengaja penulis dahulukan pembasahan tentang indikator nomor 21. Karena ini berkaitan dengan kasus kekerasan terhadap anak yang baru-baru ini terjadi dan sempat heboh.

Yang pertama adalah munculnya kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah siswi SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) oleh owner-nya yang bernama Julianto Eka Putra (JE). Kasusnya sempat viral di berbagai platform media. Belum tuntas proses hukum kasus tersebut di pengadilan, Juni 2022 lalu muncul kasus kekerasan fisik secara sadis yang menimpa siswa SMAN 1 berinisial R, 17. Dia dihajar oleh lima temannya yang berinisial A, N, A, D dan Y siswa kelas XII sekolah tersebut. Mirisnya, Y dihajar teman-temannya secara berseri. Seri pertama dilakukan pada 10 Juni 2022 dan penganiayaan seri kedua dilakukan 12 Juni 2022 (baca, koran Radar Batu 1 September 2022). Kondisi tubuh siswa itu pun babak belur.

Akibat pengeroyokan itu, Y mengalami luka parah di bagian kepala dan patah tulang pipi. Kejadian ini awalnya tidak terendus oleh media. Namun di akhir Agustus baru tercium awak media ketika proses hukumnya sedang ditangani oleh Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polres Batu.

Jika melihat dua kasus kekerasan psikis yang diterima para siswi SMA Selamat Pagi Indonesia dan kekerasan fisik siswa SMAN 1 Kota Batu oleh teman-temannya, kita layak mempertanyakan kembali status Kota Layak Anak yang disandang oleh Kota Batu selama ini? Dari dua kasus besar itu telah nyata-nyata mencoreng Kota Batu di hadapan warga Kota Batu dan bahkan masyarakat Indonesia.

Dua kasus ini sudah sepatutnya menjadi perhatian serius Pemkot Batu agar menyiapkan strategi guna mengantisipasi agar tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak. Baik itu kekerasan psikis ataupun kekerasan fisik. Jangan sampai Kota Batu yang adem ayem menjadi panas gara-gara kasus kekerasan anak yang berulang-ulang. Dua kasus di atas sudah cukup membuat malu Kota Batu.

Memang, tanggung jawab untuk menjaga anak-anak buka hanya urusan pemerintah dalam hal ini sekolah, tetapi yang tidak kalah penting adalah orang tua. Didikan orang tua terhadap anaknya akan sangat berpengaruh terhadap karakter seorang anak. Ayo kita jaga anak-anak kita dari segala kekerasan.

Selain soal kekerasan yang menimpa anak-anak, dari pengamatan penulis, ada hal lain yang juga agak mengganjal terkait predikat Kota Layak Anak untuk Kota Batu. Karena dari 24 indikator kota layak anak di atas, sepertinya bukan hanya pada poin 21 Kota Batu tercoreng, bisa pula dikatakan pada poin 11, yaitu terkait infrastruktur ramah anak. Dari pantauan Radar Batu, di Kota Batu infrastruktur yang ramah anak masih perlu ditingkatkan. Utamanya terkait taman bermain, karena di kota wisata ini sejumlah taman bermain anak yang ada kondisinya kurang terawat dan banyak permainan yang rusak. Seperti di Taman Wilis di Kelurahan Sisir, Taman Bondas Jalan Sultan Agung dan Taman Kenang Bulukerto.

Kalau taman-taman bermain anak banyak yang rusak dan anak-anak tidak nyaman bermain di sana, lalu apakah pantas kota ini menyandang predikat kota layak anak? Barangkali sebagian kita menjawab tidak layak, tapi bagi tim penilai dari Kemen-PPPA telah memutuskan bahwa Kota Batu adalah kota yang layak anak selama dua tahun berturut-turut mulai 2021-2022. Ya sudah.

Kota Batu berhasil meraih predikat Kota Layak Anak (KLA) dengan kategori cukup bergengsi. Tahun 2021 untuk kategori tingkat Madya, sedangkan tahun 2022 naik meraih kategori Nindya. Dua prestasi itu dicapai setelah 6 kali berturut-turut pada tahun-tahun sebelumnya Kota Batu hanya mandek di KLA kategori Pratama.

Penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) itu diberikan karena Kota Batu dianggap telah memenuhi 24 indikator Kota Layak Anak. Untuk 22 indikator Kota Batu bisa dibilang sudah OK. Tapi ada dua indikator yang saat ini sepertinya perlu menjadi perhatian serius Pemkot Batu. Indikator tersebut adalah pada poin 21 tentang korban kekerasan anak dan eksploitasi dan indikator ke 11 terkait infrastruktur ramah anak.

Sengaja penulis dahulukan pembasahan tentang indikator nomor 21. Karena ini berkaitan dengan kasus kekerasan terhadap anak yang baru-baru ini terjadi dan sempat heboh.

Yang pertama adalah munculnya kasus dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah siswi SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) oleh owner-nya yang bernama Julianto Eka Putra (JE). Kasusnya sempat viral di berbagai platform media. Belum tuntas proses hukum kasus tersebut di pengadilan, Juni 2022 lalu muncul kasus kekerasan fisik secara sadis yang menimpa siswa SMAN 1 berinisial R, 17. Dia dihajar oleh lima temannya yang berinisial A, N, A, D dan Y siswa kelas XII sekolah tersebut. Mirisnya, Y dihajar teman-temannya secara berseri. Seri pertama dilakukan pada 10 Juni 2022 dan penganiayaan seri kedua dilakukan 12 Juni 2022 (baca, koran Radar Batu 1 September 2022). Kondisi tubuh siswa itu pun babak belur.

Akibat pengeroyokan itu, Y mengalami luka parah di bagian kepala dan patah tulang pipi. Kejadian ini awalnya tidak terendus oleh media. Namun di akhir Agustus baru tercium awak media ketika proses hukumnya sedang ditangani oleh Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) Polres Batu.

Jika melihat dua kasus kekerasan psikis yang diterima para siswi SMA Selamat Pagi Indonesia dan kekerasan fisik siswa SMAN 1 Kota Batu oleh teman-temannya, kita layak mempertanyakan kembali status Kota Layak Anak yang disandang oleh Kota Batu selama ini? Dari dua kasus besar itu telah nyata-nyata mencoreng Kota Batu di hadapan warga Kota Batu dan bahkan masyarakat Indonesia.

Dua kasus ini sudah sepatutnya menjadi perhatian serius Pemkot Batu agar menyiapkan strategi guna mengantisipasi agar tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak. Baik itu kekerasan psikis ataupun kekerasan fisik. Jangan sampai Kota Batu yang adem ayem menjadi panas gara-gara kasus kekerasan anak yang berulang-ulang. Dua kasus di atas sudah cukup membuat malu Kota Batu.

Memang, tanggung jawab untuk menjaga anak-anak buka hanya urusan pemerintah dalam hal ini sekolah, tetapi yang tidak kalah penting adalah orang tua. Didikan orang tua terhadap anaknya akan sangat berpengaruh terhadap karakter seorang anak. Ayo kita jaga anak-anak kita dari segala kekerasan.

Selain soal kekerasan yang menimpa anak-anak, dari pengamatan penulis, ada hal lain yang juga agak mengganjal terkait predikat Kota Layak Anak untuk Kota Batu. Karena dari 24 indikator kota layak anak di atas, sepertinya bukan hanya pada poin 21 Kota Batu tercoreng, bisa pula dikatakan pada poin 11, yaitu terkait infrastruktur ramah anak. Dari pantauan Radar Batu, di Kota Batu infrastruktur yang ramah anak masih perlu ditingkatkan. Utamanya terkait taman bermain, karena di kota wisata ini sejumlah taman bermain anak yang ada kondisinya kurang terawat dan banyak permainan yang rusak. Seperti di Taman Wilis di Kelurahan Sisir, Taman Bondas Jalan Sultan Agung dan Taman Kenang Bulukerto.

Kalau taman-taman bermain anak banyak yang rusak dan anak-anak tidak nyaman bermain di sana, lalu apakah pantas kota ini menyandang predikat kota layak anak? Barangkali sebagian kita menjawab tidak layak, tapi bagi tim penilai dari Kemen-PPPA telah memutuskan bahwa Kota Batu adalah kota yang layak anak selama dua tahun berturut-turut mulai 2021-2022. Ya sudah.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/