alexametrics
30.1 C
Malang
Monday, 20 September 2021

Paman Coki, Public Enemy Centang Biru

NAMA Coki Pardede beberapa hari terakhir mencuat. Gara-garanya, dia ditangkap polisi karena kedapatan mengonsumsi sabu-sabu. Pencarian artikel seputar Coki pun langsung melesat dengan kata kunci yang menggelitik. Mulai dari ‘Coki Pardede Kuliah Jurusan Apa’, ‘Coki Pardede Agama Apa’, hingga ‘Coki Pardede Tinggi Badan’. Sungguh ke-julid-an netizen sangat mengesankan.

Penangkapan public figure karena terjerat narkoba memang bukan kali pertama. Bahkan yang lebih menjual dari Coki Pardede pun banyak. Sebut saja, Nia Ramadhani, Reza Artamevia, hingga Catherine Wilson. Cowok terjerat narkoba yang penampilannya lebih menarik kaum hawa pun juga ada, masih ingat Ridho Rhoma dan Jefri Nichol? Alih-alih dihujat, mereka justru mendapat simpati dan disemangati fans perempuan mereka.

Beda dengan Coki, sudah penampilannya nggak menarik, tabiatnya juga bikin darah tinggi karena suka mengkritik orang lain, eh sekarang malah ketahuan main narkoba pula. Drama penangkapannya yang terus berlanjut hingga hari ini bahkan bisa dipakai untuk bahan hujat tujuh turunan, mulai dari ditangkap saat nonton bokep gay hingga mengonsumsi sabu-sabu lewat dubur. Benar-benar sangat ideal sebagai public enemy.

Diantara sederet panjang daftar kontroversi Coki Pardede yang membuatnya layak dinobatkan sebagai public enemy, pria yang mengaku agnostic alias tak beragama ini sejatinya masih memiliki ketertarikan terhadap agama. Pria berkacamata ini punya channel khusus bersama pemuka agama Islam, Habib Husein Ja’far Al Hadar. Bersama Tretan Muslim dan Habib Ja’far, komika lulusan ajang Stand Up Comedy Indonesia itu membuat channel bernama Pemuda Tersesat di YouTube yang hingga saat ini, jumlah pengikutnya mencapai 643k subscriber sejak dibuat pada April 2021 lalu.

Berbeda dengan channel dakwah pada umumnya yang menyampaikan pesan kebaikan yang kadang kala menghakimi dan membuat kaum pendosa insecure karena merasa terlalu banyak dosa hingga tak pantas bertaubat, kemudian ditutup dengan bacaan doa-doa, Pemuda Tersesat justru menyampaikan pesan agama dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan nyeleneh dalam kemasan nakal, penuh tawa, dan sekilas terkesan nggak niat.

Beberapa topik absurd yang menjadi fenomena di kalangan milenial dibahas di channel Pemuda Tersesat, misalnya hukum sujud ala Free Fire, apakah Dajjal centang biru, taaruf lewat Tinder, hingga kurban cheetah biar di akhirat tunggangannya cepat. Meski terkesan ngawur dan tak masuk akal, Habib Ja’far yang mendapat julukan “The Light The Protector Level 3” (merujuk istilah di game royal battle PUBG Mobile), menjawab setiap pertanyaan aneh tersebut dengan sudut pandang ilmu keislaman.

Jawaban yang diselingi humor diantara Tretan Muslim, Habib Ja’far dan Coki Pardede terbukti cukup ampuh membuka mata para penonton untuk lebih dekat dengan ajaran agamanya tanpa harus merasa digurui atau dihakimi.

Kembali pada penangkapan Coki, berita ini dipastikan menjadi kabar buruk bagi kaum Pemuda Tersesat karena pria kelahiran Depok yang mendapat julukan Son of Horus akan absen dari tayangan tersebut. Di lain pihak, penangkapan itu menjadi angin kemenangan bagi para haters karena komika spesialis dark jokes itu terbukti tak layak dijadikan idola. Pasalnya, dia tidak bisa memberikan contoh yang baik.

Jika melihat karakteristik sebagian fans Coki Pardede dan Tretan Muslim, penangkapan Coki tidak akan memberikan pengaruh bagi para fans. In my opinion, fans Coki bukanlah bocil epep (merujuk pada bocah cilik fans Free Fire yang cenderung labil dan emosian) yang fanatik buta hingga apapun yang dilakukan idolanya adalah maha benar.

Alih-alih berempati dan mengucapkan kata-kata penyemangat, atau membela mati-matian idolanya di depan haters, fans Coki Pardede mungkin akan menjadikan penangkapan itu sebagai bahan dark jokes. Dan hal itu sudah mulai terlihat, beberapa pengguna Twitter sudah membuat cuitan dengan meme seperti “dark jokes paling ultimate dari Coki”. Ada juga yang iseng nge-tweet dengan nada satir “Nggak bisa ngedark lagi gara-gara drug”.

Ada juga yang nyeletuk di Twitter, ”Mas Jepri (Jefri Nichol): Disemangatin cewek cewek, Babang Tamvan (Andika Kangen Band): Dihina, Paman Coki: Dibikin jokes”.

Namun, apapun tanggapan terkait penangkapan Coki, ada hal yang harus dikawal oleh netizen. Agenda-agenda pengungkapan korupsi oleh KPK, pelecehan seksual di tubuh KPI yang notabene gerbang moralitas penyiaran di Indonesia, kebocoran data penduduk Indonesia di eHAC aplikasi Pedulilindungi, dan masih banyak lagi.

Jadi wahai para smart people (istilah yang popular di sosial media untuk netizen yang bersikat kritis), sikapi Coki secukupnya, dan jangan biarkan isu-isu besar meredup hanya karena idola para Deadwood (sebutan untuk pecinta konten YouTube Tretan Muslim dan Coki Pardede) ini terjerat hukum karena mengonsumsi narkoba lewat dubur sambal nonton bokep gay.

Penulis: Shuvia Rahma
(Jurnalis Jawa Pos Radar Malang)

NAMA Coki Pardede beberapa hari terakhir mencuat. Gara-garanya, dia ditangkap polisi karena kedapatan mengonsumsi sabu-sabu. Pencarian artikel seputar Coki pun langsung melesat dengan kata kunci yang menggelitik. Mulai dari ‘Coki Pardede Kuliah Jurusan Apa’, ‘Coki Pardede Agama Apa’, hingga ‘Coki Pardede Tinggi Badan’. Sungguh ke-julid-an netizen sangat mengesankan.

Penangkapan public figure karena terjerat narkoba memang bukan kali pertama. Bahkan yang lebih menjual dari Coki Pardede pun banyak. Sebut saja, Nia Ramadhani, Reza Artamevia, hingga Catherine Wilson. Cowok terjerat narkoba yang penampilannya lebih menarik kaum hawa pun juga ada, masih ingat Ridho Rhoma dan Jefri Nichol? Alih-alih dihujat, mereka justru mendapat simpati dan disemangati fans perempuan mereka.

Beda dengan Coki, sudah penampilannya nggak menarik, tabiatnya juga bikin darah tinggi karena suka mengkritik orang lain, eh sekarang malah ketahuan main narkoba pula. Drama penangkapannya yang terus berlanjut hingga hari ini bahkan bisa dipakai untuk bahan hujat tujuh turunan, mulai dari ditangkap saat nonton bokep gay hingga mengonsumsi sabu-sabu lewat dubur. Benar-benar sangat ideal sebagai public enemy.

Diantara sederet panjang daftar kontroversi Coki Pardede yang membuatnya layak dinobatkan sebagai public enemy, pria yang mengaku agnostic alias tak beragama ini sejatinya masih memiliki ketertarikan terhadap agama. Pria berkacamata ini punya channel khusus bersama pemuka agama Islam, Habib Husein Ja’far Al Hadar. Bersama Tretan Muslim dan Habib Ja’far, komika lulusan ajang Stand Up Comedy Indonesia itu membuat channel bernama Pemuda Tersesat di YouTube yang hingga saat ini, jumlah pengikutnya mencapai 643k subscriber sejak dibuat pada April 2021 lalu.

Berbeda dengan channel dakwah pada umumnya yang menyampaikan pesan kebaikan yang kadang kala menghakimi dan membuat kaum pendosa insecure karena merasa terlalu banyak dosa hingga tak pantas bertaubat, kemudian ditutup dengan bacaan doa-doa, Pemuda Tersesat justru menyampaikan pesan agama dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan nyeleneh dalam kemasan nakal, penuh tawa, dan sekilas terkesan nggak niat.

Beberapa topik absurd yang menjadi fenomena di kalangan milenial dibahas di channel Pemuda Tersesat, misalnya hukum sujud ala Free Fire, apakah Dajjal centang biru, taaruf lewat Tinder, hingga kurban cheetah biar di akhirat tunggangannya cepat. Meski terkesan ngawur dan tak masuk akal, Habib Ja’far yang mendapat julukan “The Light The Protector Level 3” (merujuk istilah di game royal battle PUBG Mobile), menjawab setiap pertanyaan aneh tersebut dengan sudut pandang ilmu keislaman.

Jawaban yang diselingi humor diantara Tretan Muslim, Habib Ja’far dan Coki Pardede terbukti cukup ampuh membuka mata para penonton untuk lebih dekat dengan ajaran agamanya tanpa harus merasa digurui atau dihakimi.

Kembali pada penangkapan Coki, berita ini dipastikan menjadi kabar buruk bagi kaum Pemuda Tersesat karena pria kelahiran Depok yang mendapat julukan Son of Horus akan absen dari tayangan tersebut. Di lain pihak, penangkapan itu menjadi angin kemenangan bagi para haters karena komika spesialis dark jokes itu terbukti tak layak dijadikan idola. Pasalnya, dia tidak bisa memberikan contoh yang baik.

Jika melihat karakteristik sebagian fans Coki Pardede dan Tretan Muslim, penangkapan Coki tidak akan memberikan pengaruh bagi para fans. In my opinion, fans Coki bukanlah bocil epep (merujuk pada bocah cilik fans Free Fire yang cenderung labil dan emosian) yang fanatik buta hingga apapun yang dilakukan idolanya adalah maha benar.

Alih-alih berempati dan mengucapkan kata-kata penyemangat, atau membela mati-matian idolanya di depan haters, fans Coki Pardede mungkin akan menjadikan penangkapan itu sebagai bahan dark jokes. Dan hal itu sudah mulai terlihat, beberapa pengguna Twitter sudah membuat cuitan dengan meme seperti “dark jokes paling ultimate dari Coki”. Ada juga yang iseng nge-tweet dengan nada satir “Nggak bisa ngedark lagi gara-gara drug”.

Ada juga yang nyeletuk di Twitter, ”Mas Jepri (Jefri Nichol): Disemangatin cewek cewek, Babang Tamvan (Andika Kangen Band): Dihina, Paman Coki: Dibikin jokes”.

Namun, apapun tanggapan terkait penangkapan Coki, ada hal yang harus dikawal oleh netizen. Agenda-agenda pengungkapan korupsi oleh KPK, pelecehan seksual di tubuh KPI yang notabene gerbang moralitas penyiaran di Indonesia, kebocoran data penduduk Indonesia di eHAC aplikasi Pedulilindungi, dan masih banyak lagi.

Jadi wahai para smart people (istilah yang popular di sosial media untuk netizen yang bersikat kritis), sikapi Coki secukupnya, dan jangan biarkan isu-isu besar meredup hanya karena idola para Deadwood (sebutan untuk pecinta konten YouTube Tretan Muslim dan Coki Pardede) ini terjerat hukum karena mengonsumsi narkoba lewat dubur sambal nonton bokep gay.

Penulis: Shuvia Rahma
(Jurnalis Jawa Pos Radar Malang)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru