21.8 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

#MalangBergerak

MENGULAS soal banjir di Kota Malang memang tak ada habisnya.Di kota dengan seluas 110,1 Km2 dan berpenduduk kisaran 800 ribu jiwa (kala malam hari ini), kabar banjir seakan sering mampir di dua telinga kita. Terlebih itu saat musim hujan. Sekalipun tak tinggi curah hujannya, titik-titik genangan kerap bermunculan. Topiknya, seputar sedimentasi di sungai akibat masih payahnya budaya hidup bersih sebagian warga, serta anggapan sebagian pihak lambannya penanganan pemerintah dalam hal mitigasi bencana musiman ini.

Bicara tentang air, merupakan gambaran yang paling penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Karl Wittfogel dalam teori Masyarakat hidrolik-nya, menjelaskan bahwa negara birokrasi muncul dari sungai. Dalam kasus di Asia Tenggara, sebagian besar negara pada 300-1200 CE berlokasi di sekitar sungai yang lebih rendah. Namun, masalah air masih disisihkan dalam historiografi perkotaan Indonesia yang membahas berkenaan tentang lahan, mulai pemerintah daerah, konflik ruang, transportasi dan aneka masalah lahan lainnya. Di tahun 1920-an, air limbah menjadi masalah mendesak yang harus dipecahkan di zaman itu. Risiko tinggi epidemi yang disebabkan oleh air tersumbat adalah alasan utama bagi Gemeente (sebutan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu)  untuk membuat sistem saluran pembuangan.

Ketika daerah lain, contoh saja Surabaya, telah memiliki program kreatif berupa “Surabaya Bergerak” yang menggiatkan kembali budaya gotong royong  di masyarakat perkotaan berupa bersih-bersih di sekitar lingkungan dia tinggal. Konsep kreatif berupa gerakan “Surabaya Bergerak” ini dilakukan untuk bisa kembali menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk lebih aware (peduli) terhadap potensi/risiko bencana, khususnya banjir.  Melalui gerakan ini, bisa kembali menguatkan konsep gotong royong saat ini pelahan mulai berkurang. Di mana kampung-kampung yang kerja bakti itu selama ini ya itu-itu saja. Ada kecenderungan partisipasi masyarakat kecil, tapi jumlah sampah saat ini meningkat.  Acap kali selama ini, kerja bakti dinilai bersifat kontemporer dan hanya dilakukan untuk menyambut momen-momen tertentu. Sehingga, kepedulian terhadap kondisi lingkungan menjadi minim.

Dalam program tersebut, setiap pejabat yang wilayahnya mengikuti Surabaya Bergerak”, khususnya camat sampai lurah, diwajibkan untuk turun bahkan ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Karena, akan dimintai data laporan sebagai bahan untuk evaluasi setiap minggunya. Untuk mensukseskan program ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sampai melakukan rotasi banyak pejabat di jajarannya. Mereka  dipindah ke lokasi-lokasi tertentu yang dekat rumahnya, tujuannya supaya hanya bisa ikut kerja bakti bersama warganya dan bisa membantu mengoptimalkan program Pemkot terkait optimalisasi drainase yang tak berfungsi.

Tak berniat meniru gerakan di Surabaya, hari ini (Minggu, 6 November 2022) tujuh elemen gabungan masyarakat bersatu kompak untuk mengawali gerakan #MalangBergerak. Elemen gabungan  tersebut antara lain, Lions Club Malang Indah (LCMI), Himpunaan Mahasiswa Teknik Pengairan (Departemen  Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya), Pemkot Malang diwakili oleh Dinas Pekerjaan Umum – Penataan Ruang – Perumahan Dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP) Kota Malang dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang. Kemudian ada Srikandi Sungai Indonesia, Forum Komunikasi Warga Tionghoa se Malang Raya (FKWTMR), serta Jawa Pos Radar Malang.

Dengan mengerahkan lebih kurang 500 orang, aksi yang diberi nama “Gerakan Bersih-Bersih Sungai” ini menyasar dua titik yakni sungai di Jalan Bendungan Sutami, Kecamatan Lowokwaru dan sungai di Jalan Batubara, Kecamatan Blimbing. Dua sungai tersebut menjadi sasaran karena memiliki sedimen endapan lumpur yang tinggi sehingga terjadi pendangkalan. Akibatnya saat hujan turun, air sungai meluber dan memasuki kawasan pemukiman.

Sejumlah tokoh muncul menjadi penggerak di acara ini, antara lain Project Officer dari Lions Club Malang Indah (LCMI) yang guru besar hidrologi di Departemen  Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Lily Montarcih Limantara, M.Sc. Serta ada juga pengusaha sekaligus founder LCMI Sutjipto Goenawan yang dikenal cukup konsen melaksanakan beragam kegiatan sosial kemanusiaan di Malang Raya. Keduanya cukup gigih mewujudkan teselenggarannya acara ini supaya bisa terlaksana secara lancar. Mulai dari mengurusi persoalan sepele hingga yang berbobot.

Lewat kolaborasi ini, para stakeholder yang terlibat mulai dari instansi pemerintah, organisasi non pemerintah, akademisi, media  dan masyarakat umum akan membantu memfasilitasi masyarakat dan mahasiswa yang telah mendaftarkan diri untuk ikut gerakan ini. Fasilitas yang dimaksud, berupa penyediaan 1.500 gelangsi, armada truk yang siap untuk mengangkut sampah/sendimen yang telah dikumpulkan, alat berat, penyediaan 160 pasang sepatu both, alat kerja garuk dan cangkul, serta 500 lebih dresscode yang bisa menunjukkan visual kebersamaan dan kekompakan dalam acara.

Program #MalangBergerak semacam ini justru harusnya dilakukan sejak dulu. Seakan ada kesalahan sebenarnya yang diberikan pemerintah di awal, yaitu penanganan dan pencegahan bencana dilakukan sendirian. Makanya gerakan ini harusnya dilakukan sedari dulu. Apabila pemerintah tidak kunjung melaksanakan program atau gerakan serupa, maka akan timbul sifat ketergantungan pada masyarakat dalam menyikapi bencana.  Ibaratnya kalau kena bencana, akhirnya njagakno (mengandalkan) bantuan. Tidak aware sama lingkungannya sendiri, padahal potensi bencana seperti banjir bisa mereka ketahui sendiri kalau memang peduli.

Semangat gotong royong masyarakat saat ini diakui memang mulai luntur. Untuk itu, sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat agar mau ikut dalam gerakan ini, harus jadi fokus utama. Hematnya, sosialisasi dengan metode pemberitahuan atau pesan siaran (broadcast) saat ini cenderung diabaikan. Karenanya, pendekatan secara langsung harus dilakukan. Diusahakan jika RT/RW itu melakukan sosialisasi sifatnya adalah mengajak secara tatap muka atau mouth to mouth. Jadi ada rasa sungkan (tidak enak) kalau semisal tidak menghadiri.

Selain itu, soal keterlibatan dunia pendidikan dalam gerakan ini, dirasa sangat perlu. Apalagi, di Universitas Brawijaya ada puluhan ribu mahasiswa yang berasal dari luar Malang. Belum yang di luar Brawijaya, Malang punya 60 lebih lembaga pendidikan dengan ratusan ribu mahasiswa banyaknya. Mereka pasti banyak yang kos. Untuk itu, mereka juga harus diajak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, bukan hanya untuk kuliah atau wisata saja di Malang.

Terakhir, konsep gerakan bersama ini melibatkan unsur Pentahelix, yakni pemerintah, masyarakat, pengusaha (swasta), pendidikan dan media tersebut bisa menjadi momen bersama-sama membangun dan melindungi Kota Malang dari ancaman bencana banjir. (*)

*kritik dan saran ke: mardisampurno@icloud.com

 

 

MENGULAS soal banjir di Kota Malang memang tak ada habisnya.Di kota dengan seluas 110,1 Km2 dan berpenduduk kisaran 800 ribu jiwa (kala malam hari ini), kabar banjir seakan sering mampir di dua telinga kita. Terlebih itu saat musim hujan. Sekalipun tak tinggi curah hujannya, titik-titik genangan kerap bermunculan. Topiknya, seputar sedimentasi di sungai akibat masih payahnya budaya hidup bersih sebagian warga, serta anggapan sebagian pihak lambannya penanganan pemerintah dalam hal mitigasi bencana musiman ini.

Bicara tentang air, merupakan gambaran yang paling penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Karl Wittfogel dalam teori Masyarakat hidrolik-nya, menjelaskan bahwa negara birokrasi muncul dari sungai. Dalam kasus di Asia Tenggara, sebagian besar negara pada 300-1200 CE berlokasi di sekitar sungai yang lebih rendah. Namun, masalah air masih disisihkan dalam historiografi perkotaan Indonesia yang membahas berkenaan tentang lahan, mulai pemerintah daerah, konflik ruang, transportasi dan aneka masalah lahan lainnya. Di tahun 1920-an, air limbah menjadi masalah mendesak yang harus dipecahkan di zaman itu. Risiko tinggi epidemi yang disebabkan oleh air tersumbat adalah alasan utama bagi Gemeente (sebutan pemerintah Hindia Belanda pada saat itu)  untuk membuat sistem saluran pembuangan.

Ketika daerah lain, contoh saja Surabaya, telah memiliki program kreatif berupa “Surabaya Bergerak” yang menggiatkan kembali budaya gotong royong  di masyarakat perkotaan berupa bersih-bersih di sekitar lingkungan dia tinggal. Konsep kreatif berupa gerakan “Surabaya Bergerak” ini dilakukan untuk bisa kembali menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk lebih aware (peduli) terhadap potensi/risiko bencana, khususnya banjir.  Melalui gerakan ini, bisa kembali menguatkan konsep gotong royong saat ini pelahan mulai berkurang. Di mana kampung-kampung yang kerja bakti itu selama ini ya itu-itu saja. Ada kecenderungan partisipasi masyarakat kecil, tapi jumlah sampah saat ini meningkat.  Acap kali selama ini, kerja bakti dinilai bersifat kontemporer dan hanya dilakukan untuk menyambut momen-momen tertentu. Sehingga, kepedulian terhadap kondisi lingkungan menjadi minim.

Dalam program tersebut, setiap pejabat yang wilayahnya mengikuti Surabaya Bergerak”, khususnya camat sampai lurah, diwajibkan untuk turun bahkan ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Karena, akan dimintai data laporan sebagai bahan untuk evaluasi setiap minggunya. Untuk mensukseskan program ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sampai melakukan rotasi banyak pejabat di jajarannya. Mereka  dipindah ke lokasi-lokasi tertentu yang dekat rumahnya, tujuannya supaya hanya bisa ikut kerja bakti bersama warganya dan bisa membantu mengoptimalkan program Pemkot terkait optimalisasi drainase yang tak berfungsi.

Tak berniat meniru gerakan di Surabaya, hari ini (Minggu, 6 November 2022) tujuh elemen gabungan masyarakat bersatu kompak untuk mengawali gerakan #MalangBergerak. Elemen gabungan  tersebut antara lain, Lions Club Malang Indah (LCMI), Himpunaan Mahasiswa Teknik Pengairan (Departemen  Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya), Pemkot Malang diwakili oleh Dinas Pekerjaan Umum – Penataan Ruang – Perumahan Dan Kawasan Pemukiman (DPUPRPKP) Kota Malang dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang. Kemudian ada Srikandi Sungai Indonesia, Forum Komunikasi Warga Tionghoa se Malang Raya (FKWTMR), serta Jawa Pos Radar Malang.

Dengan mengerahkan lebih kurang 500 orang, aksi yang diberi nama “Gerakan Bersih-Bersih Sungai” ini menyasar dua titik yakni sungai di Jalan Bendungan Sutami, Kecamatan Lowokwaru dan sungai di Jalan Batubara, Kecamatan Blimbing. Dua sungai tersebut menjadi sasaran karena memiliki sedimen endapan lumpur yang tinggi sehingga terjadi pendangkalan. Akibatnya saat hujan turun, air sungai meluber dan memasuki kawasan pemukiman.

Sejumlah tokoh muncul menjadi penggerak di acara ini, antara lain Project Officer dari Lions Club Malang Indah (LCMI) yang guru besar hidrologi di Departemen  Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Lily Montarcih Limantara, M.Sc. Serta ada juga pengusaha sekaligus founder LCMI Sutjipto Goenawan yang dikenal cukup konsen melaksanakan beragam kegiatan sosial kemanusiaan di Malang Raya. Keduanya cukup gigih mewujudkan teselenggarannya acara ini supaya bisa terlaksana secara lancar. Mulai dari mengurusi persoalan sepele hingga yang berbobot.

Lewat kolaborasi ini, para stakeholder yang terlibat mulai dari instansi pemerintah, organisasi non pemerintah, akademisi, media  dan masyarakat umum akan membantu memfasilitasi masyarakat dan mahasiswa yang telah mendaftarkan diri untuk ikut gerakan ini. Fasilitas yang dimaksud, berupa penyediaan 1.500 gelangsi, armada truk yang siap untuk mengangkut sampah/sendimen yang telah dikumpulkan, alat berat, penyediaan 160 pasang sepatu both, alat kerja garuk dan cangkul, serta 500 lebih dresscode yang bisa menunjukkan visual kebersamaan dan kekompakan dalam acara.

Program #MalangBergerak semacam ini justru harusnya dilakukan sejak dulu. Seakan ada kesalahan sebenarnya yang diberikan pemerintah di awal, yaitu penanganan dan pencegahan bencana dilakukan sendirian. Makanya gerakan ini harusnya dilakukan sedari dulu. Apabila pemerintah tidak kunjung melaksanakan program atau gerakan serupa, maka akan timbul sifat ketergantungan pada masyarakat dalam menyikapi bencana.  Ibaratnya kalau kena bencana, akhirnya njagakno (mengandalkan) bantuan. Tidak aware sama lingkungannya sendiri, padahal potensi bencana seperti banjir bisa mereka ketahui sendiri kalau memang peduli.

Semangat gotong royong masyarakat saat ini diakui memang mulai luntur. Untuk itu, sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat agar mau ikut dalam gerakan ini, harus jadi fokus utama. Hematnya, sosialisasi dengan metode pemberitahuan atau pesan siaran (broadcast) saat ini cenderung diabaikan. Karenanya, pendekatan secara langsung harus dilakukan. Diusahakan jika RT/RW itu melakukan sosialisasi sifatnya adalah mengajak secara tatap muka atau mouth to mouth. Jadi ada rasa sungkan (tidak enak) kalau semisal tidak menghadiri.

Selain itu, soal keterlibatan dunia pendidikan dalam gerakan ini, dirasa sangat perlu. Apalagi, di Universitas Brawijaya ada puluhan ribu mahasiswa yang berasal dari luar Malang. Belum yang di luar Brawijaya, Malang punya 60 lebih lembaga pendidikan dengan ratusan ribu mahasiswa banyaknya. Mereka pasti banyak yang kos. Untuk itu, mereka juga harus diajak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, bukan hanya untuk kuliah atau wisata saja di Malang.

Terakhir, konsep gerakan bersama ini melibatkan unsur Pentahelix, yakni pemerintah, masyarakat, pengusaha (swasta), pendidikan dan media tersebut bisa menjadi momen bersama-sama membangun dan melindungi Kota Malang dari ancaman bencana banjir. (*)

*kritik dan saran ke: mardisampurno@icloud.com

 

 

Previous articleLesti, KDRT, dan Netizen
Next articleWajah Kali

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/