alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Caper

Di pemberhentian lampu merah di jalan-jalan protokol di Kota Malang, Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa orang bertelanjang dada dengan sekujur tubuh hingga wajah mereka dicat warna putih mengkilap keperak-perakan. Mereka membawa kotak, bermaksud minta sumbangan kepada para pengendara yang melintas.

Saya pernah sengaja mengamati perilaku mereka yang kebanyakan adalah anak-anak muda itu. Mungkin umurnya antara 18–30-an tahun. Bahkan, saya pernah menyaksikan ada yang anak-anak.

Dari hasil pengamatan saya itu, dari sejumlah pengendara yang didekati, tak banyak dari mereka yang merespons dengan cara memberikan uang sumbangan.

Padahal, sekujur tubuh hingga wajah sudah dilumuri cat. Padahal, sudah rela untuk berpanas-panasan dengan bertelanjang dada dan bertelanjang kaki. Tapi, yang merespons aksi mereka itu tidaklah banyak.

Lalu, untuk apa mereka harus berbuat seperti itu? Melumuri sekujur tubuh dan wajahnya untuk mendapatkan sumbangan? Menurut saya, sederhana saja: ”ingin menarik perhatian”. Bahasa gaulnya ”caper” alias mencari perhatian.

Mencari sumbangan di jalan-jalan bukanlah hal yang baru. Ada yang memasang pengeras suara di pinggir jalan, lalu ada beberapa orang yang berdiri di pinggir jalan sambil membawa kotak, berharap ada yang memberikan sumbangan uang melalui kotak itu. Menggunakan pengeras suara, sesungguhnya adalah bentuk untuk ”caper” juga. Dengan menggunakan pengeras suara, berharap ajakan untuk menyumbang bisa keras terdengar. Dan bisa didengar oleh semua pengendara yang melintas. Sehingga mereka tergerak untuk menyumbang.

Kali ini, cara mencari sumbangannya dibikin berbeda. Tidak lagi menggunakan pengeras suara. Tapi, dengan cara mengecat sekujur tubuhnya hingga wajah dengan warna putih keperak-perakan.

Apa yang dilakukan oleh para ”manusia cat” ini sebenarnya ada rujukannya dalam paradigma marketing. Di dalam marketing ada yang disebut dengan prinsip psikologi marketing. Ini adalah prinsip bagaimana agar bisa memberikan kesan yang spesial terhadap konsumen.

Mereka para ”manusia cat” itu ingin memberikan kesan yang spesial terhadap orang-orang di sekitarnya dengan cara mengecat sekujur tubuh hingga wajahnya. Tujuannya, agar orang-orang terkesan. Lalu, tergerak untuk memberikan sumbangan.

Ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh para seniman jalanan yang juga mengecat seluruh tubuh hingga wajahnya, lalu mereka berdiri atau duduk atau jongkok menyerupai patung. Mereka betah berdiam diri berjam-jam menyerupai patung demi menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Harapannya, orang-orang menjadi terkesan, lalu mengapresiasinya dengan cara memberikan uang.

”Berlomba-lomba mencari perhatian demi popularitas dan demi mendapatkan keuntungan atau uang.” Cara kerja seperti inilah yang saat ini semakin masif terjadi, wabil khusus di media sosial (medsos). Orang-orang, mulai dari yang awam hingga para pesohor, berlomba-lomba untuk bikin konten yang kira-kira bisa menarik perhatian banyak orang.

Ada orang yang hampir semua konten di akun medsosnya, kebanyakan memamerkan aktivitas mewahnya. Mulai dari naik kapal pesiar, menginap di hotel berbintang lima, hingga naik pesawat jet pribadi.

Ada juga artis yang selalu meng-upload aktivitas kontroversialnya. Mulai dari mengumbar aurat secara vulgar, pamer tato di daerah sensitif, hingga membuat statement dengan cara menyerang figur yang lain.

Itu semua dilakukan sesungguhnya adalah untuk caper. Alias cari perhatian. Ingin aktivitasnya mendapat perhatian dari banyak orang. Tak peduli perhatian itu disertai hujatan, kecaman, atau cemoohan. Yang penting: ”jadi perhatian banyak orang.”

Nah, kembali pada aktivitas ”manusia cat” tadi. Mereka ini caper dengan cara merelakan sekujur tubuh dan wajahnya dilumuri cat. Mereka punya tujuan baik. Yakni mencari sumbangan di jalanan, lalu katanya untuk disalurkan kepada para korban bencana alam. Caper yang ini setidaknya punya nilai.

Sedangkan, mereka yang caper hanya untuk pamer kekayaan dan kemewahan, mereka yang caper hanya untuk pamer aktivitas kontroversialnya, maka caper yang ini sesungguhnya tak bernilai. Jadi, caper itu ada yang punya nilai. Ada juga yang tak bernilai.

Di era digital seperti sekarang ini, adalah era di mana ketakjuban orang bukan lagi soal esensi. Tapi eksistensi. Orang lebih mengagungkan sesuatu yang punya pesona (daya tarik), genit, sensitif, dan manipulatif.

Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Di pemberhentian lampu merah di jalan-jalan protokol di Kota Malang, Anda mungkin pernah menyaksikan beberapa orang bertelanjang dada dengan sekujur tubuh hingga wajah mereka dicat warna putih mengkilap keperak-perakan. Mereka membawa kotak, bermaksud minta sumbangan kepada para pengendara yang melintas.

Saya pernah sengaja mengamati perilaku mereka yang kebanyakan adalah anak-anak muda itu. Mungkin umurnya antara 18–30-an tahun. Bahkan, saya pernah menyaksikan ada yang anak-anak.

Dari hasil pengamatan saya itu, dari sejumlah pengendara yang didekati, tak banyak dari mereka yang merespons dengan cara memberikan uang sumbangan.

Padahal, sekujur tubuh hingga wajah sudah dilumuri cat. Padahal, sudah rela untuk berpanas-panasan dengan bertelanjang dada dan bertelanjang kaki. Tapi, yang merespons aksi mereka itu tidaklah banyak.

Lalu, untuk apa mereka harus berbuat seperti itu? Melumuri sekujur tubuh dan wajahnya untuk mendapatkan sumbangan? Menurut saya, sederhana saja: ”ingin menarik perhatian”. Bahasa gaulnya ”caper” alias mencari perhatian.

Mencari sumbangan di jalan-jalan bukanlah hal yang baru. Ada yang memasang pengeras suara di pinggir jalan, lalu ada beberapa orang yang berdiri di pinggir jalan sambil membawa kotak, berharap ada yang memberikan sumbangan uang melalui kotak itu. Menggunakan pengeras suara, sesungguhnya adalah bentuk untuk ”caper” juga. Dengan menggunakan pengeras suara, berharap ajakan untuk menyumbang bisa keras terdengar. Dan bisa didengar oleh semua pengendara yang melintas. Sehingga mereka tergerak untuk menyumbang.

Kali ini, cara mencari sumbangannya dibikin berbeda. Tidak lagi menggunakan pengeras suara. Tapi, dengan cara mengecat sekujur tubuhnya hingga wajah dengan warna putih keperak-perakan.

Apa yang dilakukan oleh para ”manusia cat” ini sebenarnya ada rujukannya dalam paradigma marketing. Di dalam marketing ada yang disebut dengan prinsip psikologi marketing. Ini adalah prinsip bagaimana agar bisa memberikan kesan yang spesial terhadap konsumen.

Mereka para ”manusia cat” itu ingin memberikan kesan yang spesial terhadap orang-orang di sekitarnya dengan cara mengecat sekujur tubuh hingga wajahnya. Tujuannya, agar orang-orang terkesan. Lalu, tergerak untuk memberikan sumbangan.

Ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh para seniman jalanan yang juga mengecat seluruh tubuh hingga wajahnya, lalu mereka berdiri atau duduk atau jongkok menyerupai patung. Mereka betah berdiam diri berjam-jam menyerupai patung demi menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Harapannya, orang-orang menjadi terkesan, lalu mengapresiasinya dengan cara memberikan uang.

”Berlomba-lomba mencari perhatian demi popularitas dan demi mendapatkan keuntungan atau uang.” Cara kerja seperti inilah yang saat ini semakin masif terjadi, wabil khusus di media sosial (medsos). Orang-orang, mulai dari yang awam hingga para pesohor, berlomba-lomba untuk bikin konten yang kira-kira bisa menarik perhatian banyak orang.

Ada orang yang hampir semua konten di akun medsosnya, kebanyakan memamerkan aktivitas mewahnya. Mulai dari naik kapal pesiar, menginap di hotel berbintang lima, hingga naik pesawat jet pribadi.

Ada juga artis yang selalu meng-upload aktivitas kontroversialnya. Mulai dari mengumbar aurat secara vulgar, pamer tato di daerah sensitif, hingga membuat statement dengan cara menyerang figur yang lain.

Itu semua dilakukan sesungguhnya adalah untuk caper. Alias cari perhatian. Ingin aktivitasnya mendapat perhatian dari banyak orang. Tak peduli perhatian itu disertai hujatan, kecaman, atau cemoohan. Yang penting: ”jadi perhatian banyak orang.”

Nah, kembali pada aktivitas ”manusia cat” tadi. Mereka ini caper dengan cara merelakan sekujur tubuh dan wajahnya dilumuri cat. Mereka punya tujuan baik. Yakni mencari sumbangan di jalanan, lalu katanya untuk disalurkan kepada para korban bencana alam. Caper yang ini setidaknya punya nilai.

Sedangkan, mereka yang caper hanya untuk pamer kekayaan dan kemewahan, mereka yang caper hanya untuk pamer aktivitas kontroversialnya, maka caper yang ini sesungguhnya tak bernilai. Jadi, caper itu ada yang punya nilai. Ada juga yang tak bernilai.

Di era digital seperti sekarang ini, adalah era di mana ketakjuban orang bukan lagi soal esensi. Tapi eksistensi. Orang lebih mengagungkan sesuatu yang punya pesona (daya tarik), genit, sensitif, dan manipulatif.

Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru