alexametrics
21.1 C
Malang
Monday, 15 August 2022

Merah Putih

MUNCULNYA Surat Edaran (SE) dari pemerintah kepada masyarakat untuk memasang bendera merah putih, bendera kebangsaan kita, mulai tanggal 1 hingga 31 Agustus, mendapat sambutan luar biasa. Edaran dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ini pun dipatuhi dengan memasang bendera. Pemasangannya tidak sekadar di depan rumah dan tempat kerja seperti kantor ataupun  tempat usaha. Di pinggir-pinggir jalan, depan pintu masuk perumahan, perkampungan, gang hingga kendaraan pun dipasangi bendera. Di dalam ruangan juga demikian.

Bersamaan, ajakan untuk pemasangan bendera  pun marak di berbagai media, termasuk di media sosial. Tidak sedikit pula yang mengunggah pose bertema ajakan, memasang bendera negara kita. Wajar kalau kemudian muncul kesan kemeriahan di banyak tempat. Semua dilakukan karena semangat cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bendera merah putih sebagai bendera lambang kedaulatan dan kehormatan NKRI.

Dari potret kondisi masyarakat menjelang hari kemerdekaan tersebut, suatu pagi masuk di nomor WhatsApp  saya  salah satu rekan pengusaha di Malang. Isinya, sebuah tayangan video salah satu ruas jalan yang telah dihiasi kain merah putih. Dengan gembiranya dia menginformasikan bahwa hiasan merah putih dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ini dia yang pasang. Proses masangnya rapi, masih diuji coba pakai kawat harapannya meminimalisir jatuh ke jalan sehingga bisa membahayakan pengguna jalan. Selain itu, ide pengerjaan ini pun ia katakan sudah atas sepengetahuan Pemkot Malang. Dan  tak lupa bayar-bayar pajaknya juga sudah ia lakukan.

Andaikan ide ini bisa diterima oleh masyarakat, lanjut si pengusaha ini,  dia juga merencanakan bakal lebih serius membantu pemerintah menghias kawasan jalan-jalan di Kota Malang. Khusus di ruas jalan tersebut, dia akan menambahi dengan lampu hias yang diimport khusus dari China. Tujuannya murni supaya tampak lebih cantik dan bisa menjadi kebanggan warga Malang. Masyarakat, katanya dalam pesan WhatsApp itu, diimbau harus mau mendukung  walikotanya dalam  menata wajah kota supaya lebih cantik.

Cerita singkat dari rekan pengusaha ini ada yang menggelitik pikiran saya sebagai jurnalis. Utamanya soal bayar pajak untuk pemasangan kain merah putih dalam rangka memperingati  HUT Kemerdekaan.

Niatan dia memasang ornamen kain merah putih di titik tersebut tentunya bukan tanpa alasan, salah satunya yang ia katakan adalah minim ia temui hiasan di jalan-jalan protokol yang bisa menggugah rasa nasionalisme warga kotanya. Sebagai warga Kota Malang, jiwa nasionalismenya tergugah. Dia mencoba merealisasikan ide itu, kendati harus keluar duit lebih untuk bayar pajak.

Dalam benak saya, pemerintah tidak semestinya memukul rata penerapan aturan pengenaan pajak atas pemasangan ornamen di jalan raya, utamanya ornamen yang non kemersil. Sekalipun toh ada nilai komersilnya, semestinya pemerintah memberikan pengecualian dari sisi besaran pajak yang dibebankan kepada obyek  pajak tersebut dan bukan malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan alias aji  mumpung. Mengingat apa yang dilakukan oleh pengusaha ini merupakan bagian dari partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan yang perlu diapresiasi oleh pemerintah.

Bayangkan, di saat wabah Covid-19 merebak kocek pemerintah dibuat acak adul untuk penanganan wabah ini. Akibatnya anggaran infrastruktur harus dialihkan kepada hal yang berkaitan penanganan wabah. Alhasil wajah sejumlah infrastruktur juga ikutan acak adul, contohnya banyak ditemui jalan berlubang di pinggiran ataupun tengah kota.  Pengusaha yang menjadi wajib pajak pun kelimpungan karena duit saving dan aset mereka terkuras hampir habis untuk mempertahankan kelangsungan bisnis selama dua tahun pandemi berlangsung. Sekarang, saat wabah pandemi berangsur mulai melandai, bisnis pun mulai ikutan bangkit. Regulasi pemerintah dalam tata ekonomi termasuk soal pengenaan pajak mulai kembali dijalankan dengan serius.

Sekaranglah waktu yang tepat bagi pemerintah untuk menunjukkan perhatiannya kepada pengusaha yang mulai merangkak untuk bangkit dari keterpurukan. Termasuk kepada pengusaha yang menjadi contoh dalam catatan ini, meski mengaku bisnisnya belum pulih benar namun dia masih mau memikirkan perlunya menghias jalan raya untuk memperindah wajah  Kota Malang di momen HUT Kemerdekaan RI.

Semangat untuk menggelorakan merah putih di moment HUT Kemerdekaan ini jangan sampai hilang atau berkurang dengan kebijakan pemerintah yang serasa digebyah uyah. Kesannya hanya melihat aturan, tanpa tahu maksud baik di balik niatan itu.

Demikian juga euforia merayakan HUT Kemerdekaan RI bagi masyarakat yang tinggal di kampung  ataupun di perumahan. Mereka memasang bendera merah putih  di setiap sudut pemukiman. Bahkan mereka juga rela patungan  untuk mendekor wajah lingkungan mereka menjadi lebih bernuansa kemerdekaan. Tanpa disadari, momentum kemerdekaan membangkitkan lagi  jiwa gotong royong yang mulai luntur utamanya di masyarakat perkotaan.

Melalui pemasangan dan pengibaran itulah, diharapkan semangat mencintai NKRI dapat terus tumbuh dan berkembang sekaligus menjadi spirit positif untuk terus berkarya serta bersama melakukan yang terbaik untuk diri, masyarakat, bangsa dan NKRI.  Jangan sampai semangat  masyarakat dicederai dengan kebijakan pemerintah yang kurang pas. (*)

Saran dan Kritik ke email: mardisampurno@icloud.com   

MUNCULNYA Surat Edaran (SE) dari pemerintah kepada masyarakat untuk memasang bendera merah putih, bendera kebangsaan kita, mulai tanggal 1 hingga 31 Agustus, mendapat sambutan luar biasa. Edaran dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ini pun dipatuhi dengan memasang bendera. Pemasangannya tidak sekadar di depan rumah dan tempat kerja seperti kantor ataupun  tempat usaha. Di pinggir-pinggir jalan, depan pintu masuk perumahan, perkampungan, gang hingga kendaraan pun dipasangi bendera. Di dalam ruangan juga demikian.

Bersamaan, ajakan untuk pemasangan bendera  pun marak di berbagai media, termasuk di media sosial. Tidak sedikit pula yang mengunggah pose bertema ajakan, memasang bendera negara kita. Wajar kalau kemudian muncul kesan kemeriahan di banyak tempat. Semua dilakukan karena semangat cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bendera merah putih sebagai bendera lambang kedaulatan dan kehormatan NKRI.

Dari potret kondisi masyarakat menjelang hari kemerdekaan tersebut, suatu pagi masuk di nomor WhatsApp  saya  salah satu rekan pengusaha di Malang. Isinya, sebuah tayangan video salah satu ruas jalan yang telah dihiasi kain merah putih. Dengan gembiranya dia menginformasikan bahwa hiasan merah putih dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ini dia yang pasang. Proses masangnya rapi, masih diuji coba pakai kawat harapannya meminimalisir jatuh ke jalan sehingga bisa membahayakan pengguna jalan. Selain itu, ide pengerjaan ini pun ia katakan sudah atas sepengetahuan Pemkot Malang. Dan  tak lupa bayar-bayar pajaknya juga sudah ia lakukan.

Andaikan ide ini bisa diterima oleh masyarakat, lanjut si pengusaha ini,  dia juga merencanakan bakal lebih serius membantu pemerintah menghias kawasan jalan-jalan di Kota Malang. Khusus di ruas jalan tersebut, dia akan menambahi dengan lampu hias yang diimport khusus dari China. Tujuannya murni supaya tampak lebih cantik dan bisa menjadi kebanggan warga Malang. Masyarakat, katanya dalam pesan WhatsApp itu, diimbau harus mau mendukung  walikotanya dalam  menata wajah kota supaya lebih cantik.

Cerita singkat dari rekan pengusaha ini ada yang menggelitik pikiran saya sebagai jurnalis. Utamanya soal bayar pajak untuk pemasangan kain merah putih dalam rangka memperingati  HUT Kemerdekaan.

Niatan dia memasang ornamen kain merah putih di titik tersebut tentunya bukan tanpa alasan, salah satunya yang ia katakan adalah minim ia temui hiasan di jalan-jalan protokol yang bisa menggugah rasa nasionalisme warga kotanya. Sebagai warga Kota Malang, jiwa nasionalismenya tergugah. Dia mencoba merealisasikan ide itu, kendati harus keluar duit lebih untuk bayar pajak.

Dalam benak saya, pemerintah tidak semestinya memukul rata penerapan aturan pengenaan pajak atas pemasangan ornamen di jalan raya, utamanya ornamen yang non kemersil. Sekalipun toh ada nilai komersilnya, semestinya pemerintah memberikan pengecualian dari sisi besaran pajak yang dibebankan kepada obyek  pajak tersebut dan bukan malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan alias aji  mumpung. Mengingat apa yang dilakukan oleh pengusaha ini merupakan bagian dari partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan yang perlu diapresiasi oleh pemerintah.

Bayangkan, di saat wabah Covid-19 merebak kocek pemerintah dibuat acak adul untuk penanganan wabah ini. Akibatnya anggaran infrastruktur harus dialihkan kepada hal yang berkaitan penanganan wabah. Alhasil wajah sejumlah infrastruktur juga ikutan acak adul, contohnya banyak ditemui jalan berlubang di pinggiran ataupun tengah kota.  Pengusaha yang menjadi wajib pajak pun kelimpungan karena duit saving dan aset mereka terkuras hampir habis untuk mempertahankan kelangsungan bisnis selama dua tahun pandemi berlangsung. Sekarang, saat wabah pandemi berangsur mulai melandai, bisnis pun mulai ikutan bangkit. Regulasi pemerintah dalam tata ekonomi termasuk soal pengenaan pajak mulai kembali dijalankan dengan serius.

Sekaranglah waktu yang tepat bagi pemerintah untuk menunjukkan perhatiannya kepada pengusaha yang mulai merangkak untuk bangkit dari keterpurukan. Termasuk kepada pengusaha yang menjadi contoh dalam catatan ini, meski mengaku bisnisnya belum pulih benar namun dia masih mau memikirkan perlunya menghias jalan raya untuk memperindah wajah  Kota Malang di momen HUT Kemerdekaan RI.

Semangat untuk menggelorakan merah putih di moment HUT Kemerdekaan ini jangan sampai hilang atau berkurang dengan kebijakan pemerintah yang serasa digebyah uyah. Kesannya hanya melihat aturan, tanpa tahu maksud baik di balik niatan itu.

Demikian juga euforia merayakan HUT Kemerdekaan RI bagi masyarakat yang tinggal di kampung  ataupun di perumahan. Mereka memasang bendera merah putih  di setiap sudut pemukiman. Bahkan mereka juga rela patungan  untuk mendekor wajah lingkungan mereka menjadi lebih bernuansa kemerdekaan. Tanpa disadari, momentum kemerdekaan membangkitkan lagi  jiwa gotong royong yang mulai luntur utamanya di masyarakat perkotaan.

Melalui pemasangan dan pengibaran itulah, diharapkan semangat mencintai NKRI dapat terus tumbuh dan berkembang sekaligus menjadi spirit positif untuk terus berkarya serta bersama melakukan yang terbaik untuk diri, masyarakat, bangsa dan NKRI.  Jangan sampai semangat  masyarakat dicederai dengan kebijakan pemerintah yang kurang pas. (*)

Saran dan Kritik ke email: mardisampurno@icloud.com   

Previous articleHeboh Fashion di Jalan
Next articleSeragam Dinas Arema

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/