alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Intropeksi Ilmu Administrasi sebagai Ilmu Terapan :

Berkaca dari dampak Pandemi Covid-19

Ilmu Administrasi mempunyai tantangan dan peluang yang sangat besar ke depannya. Hal ini disebabkan adanya perubahan besar yang terjadi didunia saat ini. Permasalahan Pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan berubahnya cara pandang, cara berinteraksi (silaturahmi), cara berkomunikasi antar-elemen masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi sangat vital dan sangat dibutuhkan. Pertemuan dan acara formal dan informal melalui sarana ”Zoom link”, ”Google Mee”, dan berbagai aplikasi sejenis lainnya menjadi sesuatu hal biasa sekarang dalam pola kehidupan kita. Aktivitas seperti ini merupakan hal yang masih sangat jarang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, namun sekarang sudah menjadi kebutuhan.
Hal yang sama juga terjadi dalam sektor lainnya seperti ekonomi, belanja online merupakan alternatif yang saat ini menjadi pilihan utama. Pola pemenuhan kebutuhan ekonomi dan rekreasi kuliner secara ”luring” seperti ke ”mal” semakin tereduksi, digantikan dengan belanja online. Mal dan gedung ber-AC sentral lainnya seperti hotel, perkantoran bagi sebagian orang dapat dianggap beresiko menyebarkan pandemi Covid-19. Pandangan sebagian masyarakat terhadap gedung-gedung pencakar langit atau ”rumah-rumah kaca” yang dapat mengakibatkan dampak pada penipisan lapisan ozon di bumi ini sekarang merupakan lokasi yang mulai kurang diminati. Padahal sebelumnnya sarana dan prasarana seperti ini merupakan istana bagi sebagian masyarakat dengan kesejukan artifisalnya. Saya sekeluarga merupakan salah satu bagian dari masyarakat yang juga mengalami transformasi cara pandang ini. Semula sebelum Covid-19 hampir setiap minggu kami sekeluarga melakukan aktivitas ke mal-mal, namun sejak Covid-19 sudah setahun lebih kami tidak ke mal. Seingat saya pernah kesana hanya untuk memperbaiki HP di era Covid-19 ini karena pusat perbaikannya hanya ada di mal tersebut. Bahkan, AC di rumah ataupun di ruang kantor saya sudah tidak pernah diaktifkan lagi sejak pandemi Covid-19.
Kejadian-kejadian ini membuat kita menjadi lebih dekat dengan alam, dengan mematikan AC, membuka jendela-jendela untuk merasakan langsung sentuhan angin dari alam semesta. Alam semesta ini seolah bereaksi terhadap aktivitas manusia selama ini yaitu modernisasi dan industrialisasinya yang dilakukan manusia mungkin sudah dianggap keterlaluan mencedarai alam dan sudah tidak dapat ditolerir lagi. Perbuatan manusia tersebut dianggap tidak ramah atau pro terhadap alam dan lingkungan. Pandemi Covid-19 memang merupakan bencana, namun juga bisa dianggap sebagai sebuah momen, intropeksi, koreksi, rekonstruksi diri manusia dan segala macam hasil kreasi buatannya untuk lebih bersahabat dengan alam semesta dan seisinya. Kebutuhan melakukan aktivitas olah raga setiap pagi dan merasakan sengatan matahari pagi menjadi kenikmatan tersendiri, tanpa harus khawatir kulit menjadi hitam karena terjemur matahari. Pola hidup sehat dan pola aktivitas yang berkolaborasi dengan alam sekarang bagi sebagian masyarakat sudah menjadi suatu kebutuhan dibandingkan hanya sekadar keinginan.
Ilmu administrasi publik seolah-olah sudah menyiasati kebutuhan model kehidupan manusia yang telah mengalami transformasi tersebut. Paradigma terkini ilmu ini yaitu ”governance” telah menyediakan ”framework”, cara pendang untuk mendekati hal ini yang juga terus berevolusi teori2 yang berkembang di paradigma ini, seperti teori ”collaborative governance”, “pentahelix governance”, ”multihelix governance”, dll memberikan piranti lunak maupun keras untuk mendekati case seperti Pandemi Covid 19 ini agar penyelesaian permasalahan ini harus diselesaikan bersama-sama, jadi bukan hanya menjadi domain tanggung jawab unsur ”pemerintah”. Namun masyarakat, pelaku bisnis, akademisi, media, dan stakeholders lainnya harus bekerja sama saling bahu membahu untuk menyelesaikan problem seperti ini. Tanggungjawab berjamah ini harus dilakukan bersama-sama, walaupun mereka secara alami mempunyai kepentingan yang bervariasi. Tetapi tujuan bersama dalam menyelesaikan permasalahan bersama ini dapat menjadi perekat dan peredam kepentingan yang bervariasi di antara mereka.
Pada akhirnya, implementasi ”governance” tetap membutuhkan ‘penggerak’ semacam inisiator, inovator untuk menyebabkan ”governance” ini bergerak dan berjalan. Inisiator dan inovator itu tidak mesti harus pemerintah, dan tidak mesti harus individu atau aktor yang teratas atau di level puncak, mereka juga bisa berasal kalangan menengah atau bahkan dari dari akar rumput atau ”grass roots”. Insiator ini bersama-sama dengan simpatisan lainnya bergerak secara bergelombang yang membuat ombaknya semakin membesar dan mempengaruhi sebagian besar elemen kemasayarakatan yang ada. Pada prinsipnya sang inisiator dan inovator harus bersedia ”ngalahi” untuk menembus sekat-sekat primodial atau keangkungah struktural dari masing individu yang berada dipuncaknya untuk memulai semacam kolaborasi governance itu dilakukan.
Kesimpulannya, perubahan cara pandang dan interaksi elemen masyarakat tadi yang disebutkan diatas akibat dampak Covid-19 ini juga memerlukan perubahan pendekatan teori dalam menyelesaikannya permasalahan ini. Penyelesaian dengan menggunakan paradigma ”Old Public Administration” (OPA) yang serba dominasi pemerintah ataupun ”New Public Management” (NPM) yang serba dominasi non pemerintah terutama kalangan swasta, bukan merupakan solusi terbaik dalam pemecahan ini. Pada akhirnya, pandemi Covid-19 ini juga membuka ruang lebar untuk peneliti di bidang ilmu administrasi untuk menemukan ”novelty” dan model rekomendasi yang solutif dan bermanfaat. Model-model temuan yang tidak hanya berhasil diuji dalam ruang sidang Ujian mahasiswa pascasarjana, namun juga ”workable” untuk dieksekusi dilapangan. Hal ini seusai dengan karakterisktik ilimu administrasi yang merupakan ilmu terapan.
*Penulis adalah dekan Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya

Ilmu Administrasi mempunyai tantangan dan peluang yang sangat besar ke depannya. Hal ini disebabkan adanya perubahan besar yang terjadi didunia saat ini. Permasalahan Pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan berubahnya cara pandang, cara berinteraksi (silaturahmi), cara berkomunikasi antar-elemen masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi sangat vital dan sangat dibutuhkan. Pertemuan dan acara formal dan informal melalui sarana ”Zoom link”, ”Google Mee”, dan berbagai aplikasi sejenis lainnya menjadi sesuatu hal biasa sekarang dalam pola kehidupan kita. Aktivitas seperti ini merupakan hal yang masih sangat jarang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, namun sekarang sudah menjadi kebutuhan.
Hal yang sama juga terjadi dalam sektor lainnya seperti ekonomi, belanja online merupakan alternatif yang saat ini menjadi pilihan utama. Pola pemenuhan kebutuhan ekonomi dan rekreasi kuliner secara ”luring” seperti ke ”mal” semakin tereduksi, digantikan dengan belanja online. Mal dan gedung ber-AC sentral lainnya seperti hotel, perkantoran bagi sebagian orang dapat dianggap beresiko menyebarkan pandemi Covid-19. Pandangan sebagian masyarakat terhadap gedung-gedung pencakar langit atau ”rumah-rumah kaca” yang dapat mengakibatkan dampak pada penipisan lapisan ozon di bumi ini sekarang merupakan lokasi yang mulai kurang diminati. Padahal sebelumnnya sarana dan prasarana seperti ini merupakan istana bagi sebagian masyarakat dengan kesejukan artifisalnya. Saya sekeluarga merupakan salah satu bagian dari masyarakat yang juga mengalami transformasi cara pandang ini. Semula sebelum Covid-19 hampir setiap minggu kami sekeluarga melakukan aktivitas ke mal-mal, namun sejak Covid-19 sudah setahun lebih kami tidak ke mal. Seingat saya pernah kesana hanya untuk memperbaiki HP di era Covid-19 ini karena pusat perbaikannya hanya ada di mal tersebut. Bahkan, AC di rumah ataupun di ruang kantor saya sudah tidak pernah diaktifkan lagi sejak pandemi Covid-19.
Kejadian-kejadian ini membuat kita menjadi lebih dekat dengan alam, dengan mematikan AC, membuka jendela-jendela untuk merasakan langsung sentuhan angin dari alam semesta. Alam semesta ini seolah bereaksi terhadap aktivitas manusia selama ini yaitu modernisasi dan industrialisasinya yang dilakukan manusia mungkin sudah dianggap keterlaluan mencedarai alam dan sudah tidak dapat ditolerir lagi. Perbuatan manusia tersebut dianggap tidak ramah atau pro terhadap alam dan lingkungan. Pandemi Covid-19 memang merupakan bencana, namun juga bisa dianggap sebagai sebuah momen, intropeksi, koreksi, rekonstruksi diri manusia dan segala macam hasil kreasi buatannya untuk lebih bersahabat dengan alam semesta dan seisinya. Kebutuhan melakukan aktivitas olah raga setiap pagi dan merasakan sengatan matahari pagi menjadi kenikmatan tersendiri, tanpa harus khawatir kulit menjadi hitam karena terjemur matahari. Pola hidup sehat dan pola aktivitas yang berkolaborasi dengan alam sekarang bagi sebagian masyarakat sudah menjadi suatu kebutuhan dibandingkan hanya sekadar keinginan.
Ilmu administrasi publik seolah-olah sudah menyiasati kebutuhan model kehidupan manusia yang telah mengalami transformasi tersebut. Paradigma terkini ilmu ini yaitu ”governance” telah menyediakan ”framework”, cara pendang untuk mendekati hal ini yang juga terus berevolusi teori2 yang berkembang di paradigma ini, seperti teori ”collaborative governance”, “pentahelix governance”, ”multihelix governance”, dll memberikan piranti lunak maupun keras untuk mendekati case seperti Pandemi Covid 19 ini agar penyelesaian permasalahan ini harus diselesaikan bersama-sama, jadi bukan hanya menjadi domain tanggung jawab unsur ”pemerintah”. Namun masyarakat, pelaku bisnis, akademisi, media, dan stakeholders lainnya harus bekerja sama saling bahu membahu untuk menyelesaikan problem seperti ini. Tanggungjawab berjamah ini harus dilakukan bersama-sama, walaupun mereka secara alami mempunyai kepentingan yang bervariasi. Tetapi tujuan bersama dalam menyelesaikan permasalahan bersama ini dapat menjadi perekat dan peredam kepentingan yang bervariasi di antara mereka.
Pada akhirnya, implementasi ”governance” tetap membutuhkan ‘penggerak’ semacam inisiator, inovator untuk menyebabkan ”governance” ini bergerak dan berjalan. Inisiator dan inovator itu tidak mesti harus pemerintah, dan tidak mesti harus individu atau aktor yang teratas atau di level puncak, mereka juga bisa berasal kalangan menengah atau bahkan dari dari akar rumput atau ”grass roots”. Insiator ini bersama-sama dengan simpatisan lainnya bergerak secara bergelombang yang membuat ombaknya semakin membesar dan mempengaruhi sebagian besar elemen kemasayarakatan yang ada. Pada prinsipnya sang inisiator dan inovator harus bersedia ”ngalahi” untuk menembus sekat-sekat primodial atau keangkungah struktural dari masing individu yang berada dipuncaknya untuk memulai semacam kolaborasi governance itu dilakukan.
Kesimpulannya, perubahan cara pandang dan interaksi elemen masyarakat tadi yang disebutkan diatas akibat dampak Covid-19 ini juga memerlukan perubahan pendekatan teori dalam menyelesaikannya permasalahan ini. Penyelesaian dengan menggunakan paradigma ”Old Public Administration” (OPA) yang serba dominasi pemerintah ataupun ”New Public Management” (NPM) yang serba dominasi non pemerintah terutama kalangan swasta, bukan merupakan solusi terbaik dalam pemecahan ini. Pada akhirnya, pandemi Covid-19 ini juga membuka ruang lebar untuk peneliti di bidang ilmu administrasi untuk menemukan ”novelty” dan model rekomendasi yang solutif dan bermanfaat. Model-model temuan yang tidak hanya berhasil diuji dalam ruang sidang Ujian mahasiswa pascasarjana, namun juga ”workable” untuk dieksekusi dilapangan. Hal ini seusai dengan karakterisktik ilimu administrasi yang merupakan ilmu terapan.
*Penulis adalah dekan Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/