alexametrics
25.6 C
Malang
Sunday, 3 July 2022

Trump

KETIKA Donald Trump empat tahun lalu terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, saya termasuk yang heran, bagaimana bisa dia menang? Sosoknya yang kelewat ceplas-ceplos kalau berbicara, track record-nya yang sering gonta-ganti pasangan, serta komentarnya yang sering menyinggung orang lain atau kelompok tertentu. Tapi, inilah yang terjadi di dunia global sekarang ini. Bahwa yang namanya nilai, etika, dan moralitas semakin kabur untuk dijadikan sebagai acuan.

Dalam beberapa hari ini perhatian kita seakan terfokus pada pemilihan presiden di Amerika Serikat, di mana Trump sedang berupaya keras mempertahankan kekuasaannya, melawan penantangnya: Joe Biden. Dua ”kakek” yang umurnya sama-sama lebih dari 70-an tahun itu bertarung all-out. Dan kembali saya terheran-heran, ternyata pendukung Trump juga cukup masif. Suara untuk Trump relatif masih kejar-kejaran dengan Biden. Padahal, selama empat tahun menjadi Presiden Amerika, kita semua tahu, bagaimana manuver-manuver Trump yang menurut sebagian orang bisa disebut agak ngawur. Misalnya saja, Trump sangat meremehkan Covid-19 di negaranya. Kebijakan-kebijakannya begitu tak mempedulikan penanganan Covid-19 secara komprehensif. Akibatnya, hingga saat ini Amerika menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak yang terkena Covid-19.

Selama pemilu presiden Amerika, cuitan-cuitan Trump di Twitter lewat @realDonaldTrump sempat disensor oleh pihak Twitter. Pernah, dalam satu hari, pihak Twitter sampai menyensor lima cuitan Trump. Anda bayangkan, betapa ”ngawurnya” presiden adi kuasa itu, sampai Twitter saja harus menyensor cuitan-cuitannya.

Fenomena Trump semakin menunjukkan kepada kita, bahwa Amerika bukanlah negara yang bisa dijadikan sebagai ukuran etika dan moral. Sebagai sebuah negara yang dijuluki kampiunnya demokrasi, ini pun belakangan patut dipertanyakan. Lebih tepatnya ambigu. Dalam beberapa kasus, Amerika masih kental rasismenya. Peristiwa mutakhir, kematian warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi adalah salah satu kasus yang menonjol, di mana unsur rasialis begitu kental sebagai motifnya.

Kolumnis terkenal di Amerika, Barrett Holmes Pitner, pernah mengulas dalam sebuah artikelnya, bahwa rasisme di Amerika itu tergolong unik. Yakni, rasismenya berbasis corak dan monolitik. Kebangsaan seseorang tidaklah penting. Artinya, rasisme terhadap orang kulit hitam di Amerika, kata Pitner, sebagian besar tidak ada hubungannya dengan imigrasi atau kebangsaan. Pitner menyebut, rasisme di Eropa memang buruk. Tapi, rasisme di Eropa masih lebih ramah ketimbang rasisme di Amerika.

Dan, Amerika di bawah pemerintahan Trump, dia banyak dicap sebagai presiden yang rasis. Ini bisa dilihat dari komentar-komentarnya. Misalnya, dalam sebuah pertemuan semi-publik dengan anggota senator imigrasi, Trump menyebut negara-negara di Afrika, El Savador, dan Haiti sebagai negara gembel. Dia lantas mempertanyakan, mengapa warga dari negara-negara tersebut bisa diizinkan masuk ke Amerika. Komentar Trump yang terdengar asbun (asal bunyi) ini kala itu memicu kemarahan tidak hanya dari negara bersangkutan, tapi juga dari perwakilan PBB hingga Vatikan. Juru bicara PBB, Rupert Colville, menyebut Trump sebagai orang yang rasis. Sedangkan Vatikan menyebut kata-kata Trump itu sangat kasar dan menyinggung.

Trump di awal-awal pemerintahannya juga membuat kebijakan kontroversial. Dia melarang penduduk dari negara mayoritas muslim masuk ke Amerika. Alasannya untuk mencegah terorisme. Negara-negara yang terkena dampak dari kebijakan ini di antaranya: Chad, Iran, Libya, Syria, Somalia, dan Yaman.

Masih banyak contoh kasus lainnya yang menunjukkan betapa Trump itu adalah sosok presiden yang sikap dan kebijakannya ada yang tidak linier dengan nilai-nilai demokrasi. Padahal, dia adalah presiden negara yang dijuluki ”mbahnya” demokrasi modern.

Untuk seorang Trump yang sarat dengan kontroversial seperti itu, saya sempat menduga, dia akan mudah dikalahkan oleh rivalnya saat Pemilu Presiden 2020. Tapi, ternyata dugaan saya meleset. Suara Trump untuk sementara tertinggal cukup tipis dengan Biden. Artinya, dengan gaya pemerintahannya yang kontroversial itu, rakyat Amerika ternyata banyak yang mendukungnya. Ini semakin membuktikan ambiguitas demokrasi di Amerika.

Dan ini sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Karena dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Freedom House (sebuah organisasi advokasi non pemerintah yang didirikan sejak 1941) di 195 negara dan 15 teritori, menemukan bahwa kualitas demokrasi di seluruh dunia mengalami kemunduran lebih banyak daripada kemajuan.

”Demokrasi dan pluralisme sedang diserang,” demikian bunyi kalimat pembuka laporan dari Freedom House yang ditulis oleh Sarah Repucci. ”Para diktator bekerja keras untuk membasmi sisa-sisa terakhir dari perbedaan pendapat domestik dan menyebarkan pengaruh berbahaya mereka ke sudut-sudut baru dunia.”

Laporan Freedom House tersebut juga secara terang-terangan menyebut Trump sebagai sosok pemimpin yang kerap melakukan tekanan pada integritas pemilu, independensi peradilan, dan perlindungan terhadap korupsi di Amerika.

Jadi, jelaslah bagi kita, betapa buruknya rapor Trump untuk mata pelajaran ”demokrasi”, ”etika” dan ”moralitas”. Akhirnya, jika saya harus bertanya kepada Anda, siapa yang Anda dukung: Trump atau Biden? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

KETIKA Donald Trump empat tahun lalu terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, saya termasuk yang heran, bagaimana bisa dia menang? Sosoknya yang kelewat ceplas-ceplos kalau berbicara, track record-nya yang sering gonta-ganti pasangan, serta komentarnya yang sering menyinggung orang lain atau kelompok tertentu. Tapi, inilah yang terjadi di dunia global sekarang ini. Bahwa yang namanya nilai, etika, dan moralitas semakin kabur untuk dijadikan sebagai acuan.

Dalam beberapa hari ini perhatian kita seakan terfokus pada pemilihan presiden di Amerika Serikat, di mana Trump sedang berupaya keras mempertahankan kekuasaannya, melawan penantangnya: Joe Biden. Dua ”kakek” yang umurnya sama-sama lebih dari 70-an tahun itu bertarung all-out. Dan kembali saya terheran-heran, ternyata pendukung Trump juga cukup masif. Suara untuk Trump relatif masih kejar-kejaran dengan Biden. Padahal, selama empat tahun menjadi Presiden Amerika, kita semua tahu, bagaimana manuver-manuver Trump yang menurut sebagian orang bisa disebut agak ngawur. Misalnya saja, Trump sangat meremehkan Covid-19 di negaranya. Kebijakan-kebijakannya begitu tak mempedulikan penanganan Covid-19 secara komprehensif. Akibatnya, hingga saat ini Amerika menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak yang terkena Covid-19.

Selama pemilu presiden Amerika, cuitan-cuitan Trump di Twitter lewat @realDonaldTrump sempat disensor oleh pihak Twitter. Pernah, dalam satu hari, pihak Twitter sampai menyensor lima cuitan Trump. Anda bayangkan, betapa ”ngawurnya” presiden adi kuasa itu, sampai Twitter saja harus menyensor cuitan-cuitannya.

Fenomena Trump semakin menunjukkan kepada kita, bahwa Amerika bukanlah negara yang bisa dijadikan sebagai ukuran etika dan moral. Sebagai sebuah negara yang dijuluki kampiunnya demokrasi, ini pun belakangan patut dipertanyakan. Lebih tepatnya ambigu. Dalam beberapa kasus, Amerika masih kental rasismenya. Peristiwa mutakhir, kematian warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi adalah salah satu kasus yang menonjol, di mana unsur rasialis begitu kental sebagai motifnya.

Kolumnis terkenal di Amerika, Barrett Holmes Pitner, pernah mengulas dalam sebuah artikelnya, bahwa rasisme di Amerika itu tergolong unik. Yakni, rasismenya berbasis corak dan monolitik. Kebangsaan seseorang tidaklah penting. Artinya, rasisme terhadap orang kulit hitam di Amerika, kata Pitner, sebagian besar tidak ada hubungannya dengan imigrasi atau kebangsaan. Pitner menyebut, rasisme di Eropa memang buruk. Tapi, rasisme di Eropa masih lebih ramah ketimbang rasisme di Amerika.

Dan, Amerika di bawah pemerintahan Trump, dia banyak dicap sebagai presiden yang rasis. Ini bisa dilihat dari komentar-komentarnya. Misalnya, dalam sebuah pertemuan semi-publik dengan anggota senator imigrasi, Trump menyebut negara-negara di Afrika, El Savador, dan Haiti sebagai negara gembel. Dia lantas mempertanyakan, mengapa warga dari negara-negara tersebut bisa diizinkan masuk ke Amerika. Komentar Trump yang terdengar asbun (asal bunyi) ini kala itu memicu kemarahan tidak hanya dari negara bersangkutan, tapi juga dari perwakilan PBB hingga Vatikan. Juru bicara PBB, Rupert Colville, menyebut Trump sebagai orang yang rasis. Sedangkan Vatikan menyebut kata-kata Trump itu sangat kasar dan menyinggung.

Trump di awal-awal pemerintahannya juga membuat kebijakan kontroversial. Dia melarang penduduk dari negara mayoritas muslim masuk ke Amerika. Alasannya untuk mencegah terorisme. Negara-negara yang terkena dampak dari kebijakan ini di antaranya: Chad, Iran, Libya, Syria, Somalia, dan Yaman.

Masih banyak contoh kasus lainnya yang menunjukkan betapa Trump itu adalah sosok presiden yang sikap dan kebijakannya ada yang tidak linier dengan nilai-nilai demokrasi. Padahal, dia adalah presiden negara yang dijuluki ”mbahnya” demokrasi modern.

Untuk seorang Trump yang sarat dengan kontroversial seperti itu, saya sempat menduga, dia akan mudah dikalahkan oleh rivalnya saat Pemilu Presiden 2020. Tapi, ternyata dugaan saya meleset. Suara Trump untuk sementara tertinggal cukup tipis dengan Biden. Artinya, dengan gaya pemerintahannya yang kontroversial itu, rakyat Amerika ternyata banyak yang mendukungnya. Ini semakin membuktikan ambiguitas demokrasi di Amerika.

Dan ini sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Karena dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Freedom House (sebuah organisasi advokasi non pemerintah yang didirikan sejak 1941) di 195 negara dan 15 teritori, menemukan bahwa kualitas demokrasi di seluruh dunia mengalami kemunduran lebih banyak daripada kemajuan.

”Demokrasi dan pluralisme sedang diserang,” demikian bunyi kalimat pembuka laporan dari Freedom House yang ditulis oleh Sarah Repucci. ”Para diktator bekerja keras untuk membasmi sisa-sisa terakhir dari perbedaan pendapat domestik dan menyebarkan pengaruh berbahaya mereka ke sudut-sudut baru dunia.”

Laporan Freedom House tersebut juga secara terang-terangan menyebut Trump sebagai sosok pemimpin yang kerap melakukan tekanan pada integritas pemilu, independensi peradilan, dan perlindungan terhadap korupsi di Amerika.

Jadi, jelaslah bagi kita, betapa buruknya rapor Trump untuk mata pelajaran ”demokrasi”, ”etika” dan ”moralitas”. Akhirnya, jika saya harus bertanya kepada Anda, siapa yang Anda dukung: Trump atau Biden? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Previous articlePenipuan
Next articleFaktor X

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/