alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Pizza Hut On The Street

JIKA tidak ada pandemi Covid-19, bisa jadi Pizza Hut tidak akan berjualan di pinggir jalan, menawarkan paket makanan dengan harga lebih murah. Siapa yang tak kenal Pizza Hut? Ini restoran kelas menengah ke atas. Dan ini adalah termasuk waralaba raksasa di Indonesia dengan gerai sedikitnya 500-an, tersebar di hampir seluruh provinsi.

Rupanya Pizza Hut tak mengenal gengsi. Meski sudah punya nama besar, tapi untuk berjualan di pinggir jalan bukanlah sebuah ”aib”. Dan bukan pula menganggap bakal menurunkan ”derajat”-nya Pizza Hut.

Yang jelas, dengan strategi seperti itu (memobilisasi karyawannya untuk berjualan di pinggir jalan), selama pandemi menyerang, Pizza Hut hingga kini tidak melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja), pemotongan gaji atau merumahkan para karyawannya. Setidaknya ini menurut keterangan resmi dari manajemen PT Sarimelati Kencana Tbk, pemegang hak waralaba Pizza Hut dalam sebuah kesempatan jumpa pers. Mereka mengakui, selama pandemi Covid-19 menyerang, nilai total pendapatannya menurun hingga 25 persen. Dan untuk laba bersihnya diperkirakan anjlok lebih dari 75 persen.

Bukan hanya Pizza Hut yang anjlok. Hampir semua dunia usaha mengalami keterpurukan selama pandemi menyerang. Makanya, jika Pizza Hut sampai harus mempertaruhkan nama besarnya ketika memutuskan untuk menjual produk-produknya di pinggir jalan, itu adalah bagian dari jurus beradaptasi di tengah krisis akibat pandemi.

Menurut saya, tanpa Pizza Hut harus memobilisasi karyawannya untuk berjualan di jalan, sebenarnya tidak ada masalah. Pizza Hut mungkin akan baik-baik saja. Dari data yang tercatat, selama 9 bulan pertama pada 2020, manajemen yang mengelola Pizza Hut masih membukukan laba operasi Rp 13,12 miliar. Meski angka ini ambles 94 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 202,64 miliar. Jadi, sebetulnya Pizza Hut masih berlaba. Belum benar-benar rugi. Labanya saja yang anjlok. Sehingga, tanpa harus berjualan di pinggir jalan, sesungguhnya Pizza Hut mungkin akan tetap bisa bertahan. Tapi, saya menduga ada maksud lain dibalik manajemen Pizza Hut memobilisasi karyawannya agar berjualan di pinggir jalan. Maksud lain itu menurut saya adalah: ingin menanamkan ”sense of crisis” kepada para karyawannya. Ingin mengobrak-abrik zona nyaman para karyawannya. Karena harus disadari sekaligus diwaspadai, salah satu penyakit bawaan sebuah perusahaan besar yang dialami oleh para karyawannya adalah ”penyakit zona nyaman”. Karyawan yang terlalu lama berada di zona nyaman, biasanya sulit diajak untuk membuat perubahan. Biasanya juga sulit untuk diajak membuat terobosan.

Maka itu, perusahaan merasa perlu untuk membuat shock therapy kepada para karyawannya, ketika mayoritas dari mereka mulai merasakan zona nyaman. Dan menyuruh berjualan di pinggir jalan, bisa jadi adalah bagian dari shock therapy itu.

Selain Pizza Hut, Ta Wan yang dikelola PT Eatwell Culinary Indonesia juga melakukan hal yang sama. Yakni menjajakan produknya di pinggir jalan. Tapi, itu rupanya hanya dilakukan di beberapa titik di Jakarta.

Dalam marketing, apa yang dilakukan oleh Pizza Hut maupun Ta Wan itu disebut sebagai strategi jemput bola. Ini adalah cara pemasaran aktif. Di mana si penjual secara aktif menawarkan dagangannya berupa produk barang maupun jasa langsung kepada konsumen. Salah satunya bisa dilakukan dengan cara turun ke jalan.

Di antara keuntungan dari strategi jemput bola adalah: si penjual dapat mengeksplore kemampuannya dalam mempengaruhi calon pembeli. Selain itu, juga mampu menggugah minat calon konsumen yang awalnya merasa tidak membutuhkan produk yang ditawarkan, kemudian tertarik untuk membelinya.

Sedangkan kelemahan dari strategi jemput bola di antaranya: posisi tawar penjual bisa dianggap rendah di mata konsumen, karena seakan-akan pihak penjual yang butuh. Selain itu, ada risiko produk yang dijual rusak sebelum laku. Atau, produk yang dijual tidak dalam keadaan hangat atau fresh karena terlalu lama berada di luar.

Biasanya, produk-produk yang dijual dengan menggunakan strategi jemput bola, adalah produk-produk yang baru yang belum punya brand image atau belum dikenal masyarakat luas. Tapi, ini Pizza Hut. Sebuah brand yang cukup
dikenal. Tetap saja menggunakan strategi jemput bola ketika krisis mendera.

Saya salut dengan yang dilakukan Pizza Hut. Meski ketika awal-awal menerapkan strategi jualan di pinggir jalan banyak dicemooh netizen atau warga net, apa yang dilakukan Pizza Hut itu menurut saya tetap ”terhormat”. Pizza Hut tak akan ”turun kelas” gara-gara strateginya itu. Jadi, tak ada yang salah dengan berjualan di pinggir jalan. Karena dilakukan dalam kondisi yang tidak normal. Itulah yang disebut sebagai jurus beradaptasi terhadap krisis. Dan itulah yang disebut sebagai jurus bertahan hidup. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

JIKA tidak ada pandemi Covid-19, bisa jadi Pizza Hut tidak akan berjualan di pinggir jalan, menawarkan paket makanan dengan harga lebih murah. Siapa yang tak kenal Pizza Hut? Ini restoran kelas menengah ke atas. Dan ini adalah termasuk waralaba raksasa di Indonesia dengan gerai sedikitnya 500-an, tersebar di hampir seluruh provinsi.

Rupanya Pizza Hut tak mengenal gengsi. Meski sudah punya nama besar, tapi untuk berjualan di pinggir jalan bukanlah sebuah ”aib”. Dan bukan pula menganggap bakal menurunkan ”derajat”-nya Pizza Hut.

Yang jelas, dengan strategi seperti itu (memobilisasi karyawannya untuk berjualan di pinggir jalan), selama pandemi menyerang, Pizza Hut hingga kini tidak melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja), pemotongan gaji atau merumahkan para karyawannya. Setidaknya ini menurut keterangan resmi dari manajemen PT Sarimelati Kencana Tbk, pemegang hak waralaba Pizza Hut dalam sebuah kesempatan jumpa pers. Mereka mengakui, selama pandemi Covid-19 menyerang, nilai total pendapatannya menurun hingga 25 persen. Dan untuk laba bersihnya diperkirakan anjlok lebih dari 75 persen.

Bukan hanya Pizza Hut yang anjlok. Hampir semua dunia usaha mengalami keterpurukan selama pandemi menyerang. Makanya, jika Pizza Hut sampai harus mempertaruhkan nama besarnya ketika memutuskan untuk menjual produk-produknya di pinggir jalan, itu adalah bagian dari jurus beradaptasi di tengah krisis akibat pandemi.

Menurut saya, tanpa Pizza Hut harus memobilisasi karyawannya untuk berjualan di jalan, sebenarnya tidak ada masalah. Pizza Hut mungkin akan baik-baik saja. Dari data yang tercatat, selama 9 bulan pertama pada 2020, manajemen yang mengelola Pizza Hut masih membukukan laba operasi Rp 13,12 miliar. Meski angka ini ambles 94 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 202,64 miliar. Jadi, sebetulnya Pizza Hut masih berlaba. Belum benar-benar rugi. Labanya saja yang anjlok. Sehingga, tanpa harus berjualan di pinggir jalan, sesungguhnya Pizza Hut mungkin akan tetap bisa bertahan. Tapi, saya menduga ada maksud lain dibalik manajemen Pizza Hut memobilisasi karyawannya agar berjualan di pinggir jalan. Maksud lain itu menurut saya adalah: ingin menanamkan ”sense of crisis” kepada para karyawannya. Ingin mengobrak-abrik zona nyaman para karyawannya. Karena harus disadari sekaligus diwaspadai, salah satu penyakit bawaan sebuah perusahaan besar yang dialami oleh para karyawannya adalah ”penyakit zona nyaman”. Karyawan yang terlalu lama berada di zona nyaman, biasanya sulit diajak untuk membuat perubahan. Biasanya juga sulit untuk diajak membuat terobosan.

Maka itu, perusahaan merasa perlu untuk membuat shock therapy kepada para karyawannya, ketika mayoritas dari mereka mulai merasakan zona nyaman. Dan menyuruh berjualan di pinggir jalan, bisa jadi adalah bagian dari shock therapy itu.

Selain Pizza Hut, Ta Wan yang dikelola PT Eatwell Culinary Indonesia juga melakukan hal yang sama. Yakni menjajakan produknya di pinggir jalan. Tapi, itu rupanya hanya dilakukan di beberapa titik di Jakarta.

Dalam marketing, apa yang dilakukan oleh Pizza Hut maupun Ta Wan itu disebut sebagai strategi jemput bola. Ini adalah cara pemasaran aktif. Di mana si penjual secara aktif menawarkan dagangannya berupa produk barang maupun jasa langsung kepada konsumen. Salah satunya bisa dilakukan dengan cara turun ke jalan.

Di antara keuntungan dari strategi jemput bola adalah: si penjual dapat mengeksplore kemampuannya dalam mempengaruhi calon pembeli. Selain itu, juga mampu menggugah minat calon konsumen yang awalnya merasa tidak membutuhkan produk yang ditawarkan, kemudian tertarik untuk membelinya.

Sedangkan kelemahan dari strategi jemput bola di antaranya: posisi tawar penjual bisa dianggap rendah di mata konsumen, karena seakan-akan pihak penjual yang butuh. Selain itu, ada risiko produk yang dijual rusak sebelum laku. Atau, produk yang dijual tidak dalam keadaan hangat atau fresh karena terlalu lama berada di luar.

Biasanya, produk-produk yang dijual dengan menggunakan strategi jemput bola, adalah produk-produk yang baru yang belum punya brand image atau belum dikenal masyarakat luas. Tapi, ini Pizza Hut. Sebuah brand yang cukup
dikenal. Tetap saja menggunakan strategi jemput bola ketika krisis mendera.

Saya salut dengan yang dilakukan Pizza Hut. Meski ketika awal-awal menerapkan strategi jualan di pinggir jalan banyak dicemooh netizen atau warga net, apa yang dilakukan Pizza Hut itu menurut saya tetap ”terhormat”. Pizza Hut tak akan ”turun kelas” gara-gara strateginya itu. Jadi, tak ada yang salah dengan berjualan di pinggir jalan. Karena dilakukan dalam kondisi yang tidak normal. Itulah yang disebut sebagai jurus beradaptasi terhadap krisis. Dan itulah yang disebut sebagai jurus bertahan hidup. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/