alexametrics
23.6 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Memaknai Pembatasan Haji Lansia

TAHUN ini ada dua mo­men yang bisa mem­buat umat Islam Indo­nesia merasa lebih lega. Pertama, tidak diber­lakukannya lagi lara­ngan atau pembatasan mudik Lebaran. Beba­rengan dengan momen itu, pemerintah mem­berikan kepastian kabar bahwa tahun ini akan kembali membe­rang­katkan jamaah haji ke tanah suci.
Tapi ada juga kabar yang kurang meng­gembirakan.

Kuota haji yang diberikan pemerintah Arab Saudi tidak lebih dari separo kuota sebelum pandemi Covid-19 melanda. Ya, kabar terakhir dari peme­rintah, Indonesia mendapatkan kuota jamaah sebanyak 100.051 jamaah. Padahal pada 2019 lalu, Indonesia mendapat kuota sebesar 231 ribu.

Kabar kurang mengenakkan lainnya, calon jamaah di atas usia 65 tahun dilarang berang­kat. Entah sampai kapan la­rangan itu berlangsung. Mu­dah-mudahan tidak seterusnya. Sebab kalau larangan itu ber­laku selamanya, tentu menjadi sebuah pukulan telak bagi In­donesia. Sebab, dari tahun ke tahun, mayoritas jamaah haji Indonesia adalah lansia atau di atas 65 tahun.
Data Kementerian Agama me­nyebutkan bahwa 63 persen jamaah haji Indonesia pada 2019 adalah warga lanjut usia. Tahun-tahun sebelumnya nyaris sama, bahwa jamaah haji Indonesia yang siap dibe­rangkatkan mayoritas sudah sangat berumur. Ini sepertinya selaras dengan kondisi rata-rata perekonomian umat Islam di Indonesia. Yang mulai memi­liki kemampuan finansial untuk antre mendaftar haji pada usia di atas 30 tahun.
Belum lagi munculnya kesa­daran untuk berhaji itu kerap ter­lambat. Kadang ada yang baru antre mendaftar haji pada usia-usia menjelang pensiun, ka­takanlah 50 tahun. Dengan masa tunggu yang panjang, maka mereka baru bisa melak­sanakan ibadah haji saat sudah benar-benar tua.
Selama dua tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi tidak membuka negaranya untuk penyelenggaraan ibadah haji. Maka, antrean masa tunggu itu semakin panjang. Khusus­nya untuk provinsi yang per­sentase jumlah pendaftarnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kuota wilayahnya.
Apalagi jika melihat estimasi waiting list jamaah haji di website resmi kementerian agama. Rasanya, mustahil para lansia bisa melaksanakan iba­dah haji dengan mendaftar se­cara reguler. Pasalnya data masa tunggu itu didasarkan pada kuota tahun ini yang ha­nya 48 persen dari kuota normal. Karena itulah, masa tunggu menjadi membengkak dua kali lipat.
Misalnya antrean untuk ja­maah haji Jatim yang tiba-tiba menjadi 69 tahun. Padahal ka­lau dengan kuota normal seperti sebelum pandemi, masa antre untuk Jatim diestimasikan sekitar 32 tahun. Mudah-muda­han tahun depan dan seterus­nya, kuota bisa kembali normal.
Faktor kesehatan dan kese­la­matan jamaah menjadi per­tim­bangan pemerintah Arab Saudi dalam membuat kebija­kan larangan berangkat bagi ja­maah lansia. Untuk saat ini, lara­ngan itu masih terkait de­ngan rentannya lansia terhadap dampak Covid-19. Mudah-mu­dahan larangan itu bisa dicabut jika Covid-19 sudah be­nar-benar tidak lagi berbahaya.
Apalagi, pemerintah Indo­nesia sudah sangat terbiasa mem­berangkatkan jamaah haji lansia dengan segala risiko dan kerja keras yang harus diha­dapi. Dalam setiap pem­bekalan petugas haji, Kemen­terian Agama selalu mene­kankan pentingnya kesigapan dalam melayani para jamaah, khususnya lansia.
Saya pernah tergabung dalam Pe­tugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 2016 dan me­nyaksikan betapa layanan terhadap jamaah lansia harus benar-benar ekstra. Sebab, ibadah haji membutuhkan pengerahan kekuatan fisik, konsentrasi, dan kesabaran yang luar biasa. Sementara pada lansia, hal-hal semacam itu sudah sangat berkurang.
Contoh paling sederhana, saat mereka mendapat kesem­patan berada di Madinah selama 9 hari. Mayoritas ber­usa­ha keras untuk bisa salat lima waktu di Masjid Nabawi selama delapan hari penuh. Bagi jamaah muda dan sehat mungkin tidak masalah. Tapi bagi jamaah lansia, itu bisa menjadi sangat berisiko.
Tiap siang hingga malam, pe­tugas haji harus mengantar pulu­han bahkan ratusan ja­maah lansia yang tersesat dan tidak bisa kembali ke hotel selepas beribadah di Masjid Nabawi. Tak terhitung sudah berapa sandal mereka yang hilang. Kalau hilangnya malam tidak apa-apa. Kalau hilang selepas salat duhur, itu yang san­gat bahaya. Nekat pulang tanpa menggunakan sandal, akhir­nya berakhir di Klinik Kese­hatan Haji Indonesia (KKHI) dengan telapak kaki melepuh.
Ada juga jamaah lansia yang pulang salat subuh dan terlepas dari kelompoknya. Jamaah pe­rempuan itu akhirnya dinya­takan hilang. Dua hari kemu­dian dia ditemukan sudah me­ninggal dalam kondisi du­duk, beberapa ratus meter dari kompleks Masjid Nabawi.
Klinik Kesehatan Haji Indo­nesia di Makkah juga nyaris tidak pernah sepi dari pasien. Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) di sana bekerja keras untuk membuat para jamaah bisa mengikuti prosesi ibadah haji secara keseluruhan. Meski demi­kian, selalu saja ada pulu­han jamaah lansia yang harus opname dan melewatkan rangkaian ibadah haji dengan terbaring di atas ranjang klinik.
Rasanya tak tega melihat me­reka hanya bisa menjalani safari wukuf. Terbaring di da­lam bus dan hanya sesaat dibawa ke Padang Arafah pada saat jamaah haji lain khusyuk berdoa di tempat yang sama. Kadang para lansia itu kesulitan saat menaiki bus, bahkan harus diangkat, dan terus menerus menggunakan diapers.
Belum lagi ketika menjalani pro­sesi bermalam di udara terbu­ka di Muzdalifah. Kemu­dian melempar jumrah yang ha­rus didahului dengan berja­lan kaki sepanjang lebih dari 4 kilometer dari maktab di Mina menuju jamarat. Semua mem­butuhkan energi ekstra dan daya tahan tubuh yang prima.
Data kematian jamaah haji Indonesia 2019 pada hari terakhir pemulangan dari tanah suci tercatat mencapai 450 orang. Tim kesehatan haji kala itu mengidentifikasi, kematian ter­banyak karena faktor kele­lahan atau fatigue death. Jamaah lansia sangat berisiko me­ngalami kejadian semacam itu apabila memiliki penyakit bawaan, ditambah kurang asupan air dalam kondisi cuaca yang sangat panas.
Lantas, apakah lansia tidak layak untuk berhaji. Rasanya bisa kuwalat kalau kita me­ngambil kesimpulan seperti itu. Lansia adalah orang tua kita. Yang rela menahan untuk tidak segera berangkat haji de­mi menyiapkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya.
Namun, karena larangan be­rangkat haji bagi lansia adalah kebijakan pemerintah Arab Saudi, kita tentu hanya bisa berdoa. Semoga larangan itu tidak berlangsung selamanya. Sembari kita menagih peran kementerian agama dalam membangun lobi yang kuat. Agar bisa mendapat toleransi pengiriman jamaah haji lansia yang sehat.
Di luar itu, kita juga perlu me­ngambil sisi positif dari pem­batasan yang diberlakukan pe­merintah Arab Saudi. Utama­nya dalam mengubah mindset umat Islam Indonesia yang baru berpikir tentang haji di usia senja. Sudah saatnya seka­rang menabung dan mendaftar haji sejak belia. Bila perlu mari berhitung. Seandainya antrean ibadah haji adalah 32 tahun, maka idealnya sudah mulai mendaftar atau menyiapkan dana sejak usia 10 tahun.
Tentu itu dengan syarat ke­mam­puan finansial dan mana­jemen keuangan keluarga yang mencukupi. Kalau tidak mam­pu, ya tidak usah memaksa. Toh dalam ibadah haji itu ada isthitaah sebagai salah satu sya­rat wajib. Yakni mampu secara fisik (kekuatan dan kese­hatan), mampu secara harta (biaya perjalanan dan bekal materi, termasuk bagi keluarga yang ditinggal berhaji), serta mampu secara pengetahuan.
Semoga kita tidak terlambat melakukannya. (*)

TAHUN ini ada dua mo­men yang bisa mem­buat umat Islam Indo­nesia merasa lebih lega. Pertama, tidak diber­lakukannya lagi lara­ngan atau pembatasan mudik Lebaran. Beba­rengan dengan momen itu, pemerintah mem­berikan kepastian kabar bahwa tahun ini akan kembali membe­rang­katkan jamaah haji ke tanah suci.
Tapi ada juga kabar yang kurang meng­gembirakan.

Kuota haji yang diberikan pemerintah Arab Saudi tidak lebih dari separo kuota sebelum pandemi Covid-19 melanda. Ya, kabar terakhir dari peme­rintah, Indonesia mendapatkan kuota jamaah sebanyak 100.051 jamaah. Padahal pada 2019 lalu, Indonesia mendapat kuota sebesar 231 ribu.

Kabar kurang mengenakkan lainnya, calon jamaah di atas usia 65 tahun dilarang berang­kat. Entah sampai kapan la­rangan itu berlangsung. Mu­dah-mudahan tidak seterusnya. Sebab kalau larangan itu ber­laku selamanya, tentu menjadi sebuah pukulan telak bagi In­donesia. Sebab, dari tahun ke tahun, mayoritas jamaah haji Indonesia adalah lansia atau di atas 65 tahun.
Data Kementerian Agama me­nyebutkan bahwa 63 persen jamaah haji Indonesia pada 2019 adalah warga lanjut usia. Tahun-tahun sebelumnya nyaris sama, bahwa jamaah haji Indonesia yang siap dibe­rangkatkan mayoritas sudah sangat berumur. Ini sepertinya selaras dengan kondisi rata-rata perekonomian umat Islam di Indonesia. Yang mulai memi­liki kemampuan finansial untuk antre mendaftar haji pada usia di atas 30 tahun.
Belum lagi munculnya kesa­daran untuk berhaji itu kerap ter­lambat. Kadang ada yang baru antre mendaftar haji pada usia-usia menjelang pensiun, ka­takanlah 50 tahun. Dengan masa tunggu yang panjang, maka mereka baru bisa melak­sanakan ibadah haji saat sudah benar-benar tua.
Selama dua tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi tidak membuka negaranya untuk penyelenggaraan ibadah haji. Maka, antrean masa tunggu itu semakin panjang. Khusus­nya untuk provinsi yang per­sentase jumlah pendaftarnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kuota wilayahnya.
Apalagi jika melihat estimasi waiting list jamaah haji di website resmi kementerian agama. Rasanya, mustahil para lansia bisa melaksanakan iba­dah haji dengan mendaftar se­cara reguler. Pasalnya data masa tunggu itu didasarkan pada kuota tahun ini yang ha­nya 48 persen dari kuota normal. Karena itulah, masa tunggu menjadi membengkak dua kali lipat.
Misalnya antrean untuk ja­maah haji Jatim yang tiba-tiba menjadi 69 tahun. Padahal ka­lau dengan kuota normal seperti sebelum pandemi, masa antre untuk Jatim diestimasikan sekitar 32 tahun. Mudah-muda­han tahun depan dan seterus­nya, kuota bisa kembali normal.
Faktor kesehatan dan kese­la­matan jamaah menjadi per­tim­bangan pemerintah Arab Saudi dalam membuat kebija­kan larangan berangkat bagi ja­maah lansia. Untuk saat ini, lara­ngan itu masih terkait de­ngan rentannya lansia terhadap dampak Covid-19. Mudah-mu­dahan larangan itu bisa dicabut jika Covid-19 sudah be­nar-benar tidak lagi berbahaya.
Apalagi, pemerintah Indo­nesia sudah sangat terbiasa mem­berangkatkan jamaah haji lansia dengan segala risiko dan kerja keras yang harus diha­dapi. Dalam setiap pem­bekalan petugas haji, Kemen­terian Agama selalu mene­kankan pentingnya kesigapan dalam melayani para jamaah, khususnya lansia.
Saya pernah tergabung dalam Pe­tugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 2016 dan me­nyaksikan betapa layanan terhadap jamaah lansia harus benar-benar ekstra. Sebab, ibadah haji membutuhkan pengerahan kekuatan fisik, konsentrasi, dan kesabaran yang luar biasa. Sementara pada lansia, hal-hal semacam itu sudah sangat berkurang.
Contoh paling sederhana, saat mereka mendapat kesem­patan berada di Madinah selama 9 hari. Mayoritas ber­usa­ha keras untuk bisa salat lima waktu di Masjid Nabawi selama delapan hari penuh. Bagi jamaah muda dan sehat mungkin tidak masalah. Tapi bagi jamaah lansia, itu bisa menjadi sangat berisiko.
Tiap siang hingga malam, pe­tugas haji harus mengantar pulu­han bahkan ratusan ja­maah lansia yang tersesat dan tidak bisa kembali ke hotel selepas beribadah di Masjid Nabawi. Tak terhitung sudah berapa sandal mereka yang hilang. Kalau hilangnya malam tidak apa-apa. Kalau hilang selepas salat duhur, itu yang san­gat bahaya. Nekat pulang tanpa menggunakan sandal, akhir­nya berakhir di Klinik Kese­hatan Haji Indonesia (KKHI) dengan telapak kaki melepuh.
Ada juga jamaah lansia yang pulang salat subuh dan terlepas dari kelompoknya. Jamaah pe­rempuan itu akhirnya dinya­takan hilang. Dua hari kemu­dian dia ditemukan sudah me­ninggal dalam kondisi du­duk, beberapa ratus meter dari kompleks Masjid Nabawi.
Klinik Kesehatan Haji Indo­nesia di Makkah juga nyaris tidak pernah sepi dari pasien. Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) di sana bekerja keras untuk membuat para jamaah bisa mengikuti prosesi ibadah haji secara keseluruhan. Meski demi­kian, selalu saja ada pulu­han jamaah lansia yang harus opname dan melewatkan rangkaian ibadah haji dengan terbaring di atas ranjang klinik.
Rasanya tak tega melihat me­reka hanya bisa menjalani safari wukuf. Terbaring di da­lam bus dan hanya sesaat dibawa ke Padang Arafah pada saat jamaah haji lain khusyuk berdoa di tempat yang sama. Kadang para lansia itu kesulitan saat menaiki bus, bahkan harus diangkat, dan terus menerus menggunakan diapers.
Belum lagi ketika menjalani pro­sesi bermalam di udara terbu­ka di Muzdalifah. Kemu­dian melempar jumrah yang ha­rus didahului dengan berja­lan kaki sepanjang lebih dari 4 kilometer dari maktab di Mina menuju jamarat. Semua mem­butuhkan energi ekstra dan daya tahan tubuh yang prima.
Data kematian jamaah haji Indonesia 2019 pada hari terakhir pemulangan dari tanah suci tercatat mencapai 450 orang. Tim kesehatan haji kala itu mengidentifikasi, kematian ter­banyak karena faktor kele­lahan atau fatigue death. Jamaah lansia sangat berisiko me­ngalami kejadian semacam itu apabila memiliki penyakit bawaan, ditambah kurang asupan air dalam kondisi cuaca yang sangat panas.
Lantas, apakah lansia tidak layak untuk berhaji. Rasanya bisa kuwalat kalau kita me­ngambil kesimpulan seperti itu. Lansia adalah orang tua kita. Yang rela menahan untuk tidak segera berangkat haji de­mi menyiapkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya.
Namun, karena larangan be­rangkat haji bagi lansia adalah kebijakan pemerintah Arab Saudi, kita tentu hanya bisa berdoa. Semoga larangan itu tidak berlangsung selamanya. Sembari kita menagih peran kementerian agama dalam membangun lobi yang kuat. Agar bisa mendapat toleransi pengiriman jamaah haji lansia yang sehat.
Di luar itu, kita juga perlu me­ngambil sisi positif dari pem­batasan yang diberlakukan pe­merintah Arab Saudi. Utama­nya dalam mengubah mindset umat Islam Indonesia yang baru berpikir tentang haji di usia senja. Sudah saatnya seka­rang menabung dan mendaftar haji sejak belia. Bila perlu mari berhitung. Seandainya antrean ibadah haji adalah 32 tahun, maka idealnya sudah mulai mendaftar atau menyiapkan dana sejak usia 10 tahun.
Tentu itu dengan syarat ke­mam­puan finansial dan mana­jemen keuangan keluarga yang mencukupi. Kalau tidak mam­pu, ya tidak usah memaksa. Toh dalam ibadah haji itu ada isthitaah sebagai salah satu sya­rat wajib. Yakni mampu secara fisik (kekuatan dan kese­hatan), mampu secara harta (biaya perjalanan dan bekal materi, termasuk bagi keluarga yang ditinggal berhaji), serta mampu secara pengetahuan.
Semoga kita tidak terlambat melakukannya. (*)

Previous articleKenyang Kuasa
Next articleHari Libur Gadget

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/