alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

UMKM Mamin dan Imunitas Ekonomi

Saat ini sebanyak 26,9 juta warga Indonesia sudah memperoleh suntikan vaksin sampai dengan 31 Mei 2021 (Kompas.id, 1 Juni 2021).  Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir, vaksinasi harus terus ditingkatkan karena kita masih jauh di bawah negara-negara yang berpenduduk besar seperti China dan Amerika Serikat. Terlebih target penduduk Indonesia yang akan divaksin sebanyak 181,5 juta.

Tujuan utama vaksin Covid-19 untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) agar masyarakat menjadi lebih produktif dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Untuk mencapai herd immunity dalam suatu masyarakat, penelitian menyebutkan bahwa minimal 70 persen penduduk dalam negara tersebut harus sudah divaksin (Sciencealert, 30 Maret 2020). Hal ini  juga ditegaskan oleh Presiden Jokowi dalam acara pemberian bantuan modal kerja di Istana Bogor (Kompas.com, 18 Desember 2020).

Menurut para ahli Kesehatan sebenarnya sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri. Dr. Jason Goldsmith, peneliti di University of Pennsylvania’s Institute for Immunology, menyatakan pola makan sehat, selain olah raga rutin dan tidur yang cukup, adalah cara terbaik menjaga sistem imun tubuh kita.  Bila ini dilakukan dengan baik maka tidak perlu mengharapkan obat-obatan tertentu. Nicole Avena, Profesor psikologi kesehatan Universitas Princeton, menegaskan kekebalan ibaratnya maraton, bukan lari cepat/sprint. Tidak ada cara cepat dan mudah untuk segera memperkuat kekebalan tubuh.

Soal makanan, Goldsmith menekankan masalahnya saat ini bukan kekurangan gizi tetapi banyak orang kekurangan vitamin dan mineral tertentu.  Secara khusus, vitamin B, vitamin C, seng dan vitamin D penting untuk fungsi kekebalan tubuh yang tepat.  Karena itu, sejak COVID-19, secara global vitamin C menjadi suplemen peningkat kekebalan paling popular (hampir 40 persen),  menurut Webinar Tren Kesehatan & Nutrisi Euromonitor Oktober 2020.  Penjualan suplemen yang ditujukan untuk kekebalan/pilek/flu meningkat sebesar  1,8 miliar dollar di AS pada tahun 2020; kesehatan umum naik $755 juta; kesehatan mental, suasana hati dan stres naik $ 268 juta; dukungan tidur hingga $ 243 juta (Nutraceutical World, 2021).

Sejak Covid-19 peningkatan konsumsi vitamin C dan minimal herbal juga terjadi di Indonesia, paling tidak di wilayah Malang.  Penelitian penulis bersama tim pada UMKM makanan dan minuman (mamin) di Kabupaten Malang pada tahun 2020 menemukan hal menarik.  Sekitar 6 bulan di awal pembatasan sosial omzet penjualan UMKM minuman herbal dan rasa buah yang mengandung banyak vitam C meningkat sampai 400 persen, sementara sebagian besar UMKM mengalami penurunan omzet penjualan bahkan tidak sedikit yang berhenti beroperasi.

 Kendala UMKM Mamin

Memasuki paruh kedua tahun 2020 omzet penjualan UMKM penghasil minuman  herbal menurun 50 persen meskipun permintaan tetap tinggi. Karena harga bahan baku (jahe, kunyit, temulawak) lebih mahal akibat produksi terbatas.  Beda halnya dengan UMKM penghasil minuman rasa buah markisa, buah naga, apel, apel, dan leci, tidak mengalami kesulitan bahan baku sehingga omzetnya tetap, bahkan meningkat.

Penulis dan tim peneliti menemukan dua faktor penyebab perbedaan dua kondisi UMKM di atas, yang bisa saja mewakili sebagian besar UMKM di Indonesia. Pertama, lemahnya rantai pasok khususnya bahan baku. UMKM minuman herbal membeli bahan baku di pasar tradisional, tidak memiliki pemasok tetap.  Kalau ingin tanam jahe sekarang, misalnya, baru akan panen 8-10 bulan lagi.

Sebaliknya, penghasil minuman rasa buah khususnya markisa telah memiliki pemasok tetap.  Bisa dikatakan kerjasama jangka panjang karena hampir dua tahun lalu pengelola UMKM memberikan bibit markisa secara cuma-cuma kepada petani untuk dikembangkan di satu desa.  Para petani dibekali pengetahuan dan keterampilan teknis budidaya markisa yang baik. Sekarang pasokan bahan baku tidak menjadi masalah.

Kedua, terbatasnya akses pasar. UMKM minuman herbal mendapat pesanan dari dalam dan luar negeri tetapi hanya bisa dilayani secara informal karena belum memiliki izin edar.  Menurut Undang-Undang Nomo 36 Tahun 2009, “Makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Makanan dan minuman yang dimaksud adalah yang memiliki risiko tinggi dengan masa simpan lebih dari 7 hari.  Terlebih yang diklaim memiliki khasiat tertentu bagi tubuh manusia wajib memiliki izin edar.

Izin edar dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Salah satu syarat yang dirasa memberatkan UMKM adalah dokumen hasil audit sarana produksi pangan olahan yang baik (CPPOB). Hasil pantauan BPOM (2017) periode Januari hingga Juni tahun 2017 terhadap 4.333 sarana distribusi makanan dan minuman dengan hasil 1.471 (33,95%) sarana tidak memenuhi ketentuan (TMK), karena salah satunya menjual pangan tanpa izin edar (3.760.060 pcs).

 

Pendekatan Ekosistem Multi Helix

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Peran utamanya adalah menyerap 97 persen tenaga kerja dan menyumbang sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (BPS, 2018).  Pada krisis tahun 1998 UMKM menjadi penyelamat ekonomi nasional.  Peran ini tidak terlihat pada pandemi covid-19 bukan hanya karena less-contact economy dan terjadi perubahan aktivitas ekonomi dari offline menjadi online. Faktor mendasar adalah UMKM sangat rentan terhadap perubahan dan tidak memiliki kemampuan untuk menghindari, merespon, dan pulih dari situasi yang dapat mengancam.  Singkatnya, imunitas ekonomi Indonesia lemah sebab UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99 persen dari total unit usaha yang ada di Indonesia dan sekitar 60 persen bergerak di sektor makanan dan minuman.

Untuk meningkatkan imunitas UMKM tidak cukup melalui pendekatan penta helix, melainkan seharusnya ekosistem multi helix.  Selain kompleks, urusan UMKM melibatkan setidaknya 18 kementerian dan puluhan lembaga serta pemerintah sebagaimana diakui oleh Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, melalui tulisannya “Transformasi UMKM dan Koperasi” (Kompas,19 Oktober 2020).

Ekosistem multi helix, menurut Pariz-Ortis dkk. (2016) dalam buku mereka “Multiple Helix Ecosystems for Sustainable Competitiveness” adalah model yang didasarkan pada interaksi antara empat pihak utama yakni akademisi, industri, pemerintah,  masyarakat, dan organisasi hibrida (interaksi antar pihak) dan lebih banyak pihak yang terkait dan relevan dalam konteks ekonomi dan perusahaan.

Inti dari ekosistem multi helix digambarkan seperti mesin pembakar yang terdiri atas empat tahap dalam proses operasi sebuah perusahaan.  Pertama, masukan, yang pada UMKM mamin adalah faktor produksi seperti tenaga kerja, bahan baku, modal, kesiapan teknologi dan inovasi. Kedua, kompresi atau pemampatan yakni kemampuan UMKM menyesuaikan faktor lingkungan eksternal. Ketiga, pengapian yakni proses produksi mamin, termasuk pengepakannya.  Keempat, pembuangan dari proses produksi seperti limbah dan pencemaran lingkungan.

Untuk mengatasi masalah lemahnya rantai pasok bahan baku, diperlukan kerjasama UMKM dengan pemasok yaitu petani atau pedagang bila bahan bakunya impor, baik individu maupun kelompok seperti kelompok tani, koperasi, paguyuban.  Ini perlu difasilitasi  pemerintah (Koperasi dan UKM, Pertanian, Perindustrian) sebagai regulator. Kehadiran industri (transportasi, pengepakan, bahan pelengkap) atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga sangat penting.

Peluasan akses pasar produk UMKM mamin khususnya melalui izin edar seharusnya dilakukan melalui pendampingan, bukan sekedar ceramah atau pelatihan sesaat.  Perguruan tinggi bisa mendampingi UMKM dalam pemenuhan dokumen hasil audit sarana produksi yang memenuhi CPPOB  melalui transfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi.  Mahasiswa dalam bidang keilmuan terkait CPPOB dapat dilibatkan melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang sedang digiatkan oleh Kemendikbudristek. Pemerintah berperan melalui program pemberdayaan dan fasilitasi, misalnya pendanaan untuk mendukung pengadaan sarana dan peralatan produksi yang disediakan oleh industri. Diseminasi informasi antar pelaku UMKM melalui peran media dan partisipasi forum, paguyuban, atau asosiasi terakit.

Kerjasama dan pendampingan akan efektif bila “mesin pembakar” proses operasi sebagai pembentuk imun internal UMKM mamin berjalan dengan baik.  Produk mamin berbasis produk herbal dan pangan funsgional tidak hanya meningkatkan imunitas masyarakat tetapi juga imunitas ekonomi Indonesia.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Ma Chung

Saat ini sebanyak 26,9 juta warga Indonesia sudah memperoleh suntikan vaksin sampai dengan 31 Mei 2021 (Kompas.id, 1 Juni 2021).  Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir, vaksinasi harus terus ditingkatkan karena kita masih jauh di bawah negara-negara yang berpenduduk besar seperti China dan Amerika Serikat. Terlebih target penduduk Indonesia yang akan divaksin sebanyak 181,5 juta.

Tujuan utama vaksin Covid-19 untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) agar masyarakat menjadi lebih produktif dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Untuk mencapai herd immunity dalam suatu masyarakat, penelitian menyebutkan bahwa minimal 70 persen penduduk dalam negara tersebut harus sudah divaksin (Sciencealert, 30 Maret 2020). Hal ini  juga ditegaskan oleh Presiden Jokowi dalam acara pemberian bantuan modal kerja di Istana Bogor (Kompas.com, 18 Desember 2020).

Menurut para ahli Kesehatan sebenarnya sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri. Dr. Jason Goldsmith, peneliti di University of Pennsylvania’s Institute for Immunology, menyatakan pola makan sehat, selain olah raga rutin dan tidur yang cukup, adalah cara terbaik menjaga sistem imun tubuh kita.  Bila ini dilakukan dengan baik maka tidak perlu mengharapkan obat-obatan tertentu. Nicole Avena, Profesor psikologi kesehatan Universitas Princeton, menegaskan kekebalan ibaratnya maraton, bukan lari cepat/sprint. Tidak ada cara cepat dan mudah untuk segera memperkuat kekebalan tubuh.

Soal makanan, Goldsmith menekankan masalahnya saat ini bukan kekurangan gizi tetapi banyak orang kekurangan vitamin dan mineral tertentu.  Secara khusus, vitamin B, vitamin C, seng dan vitamin D penting untuk fungsi kekebalan tubuh yang tepat.  Karena itu, sejak COVID-19, secara global vitamin C menjadi suplemen peningkat kekebalan paling popular (hampir 40 persen),  menurut Webinar Tren Kesehatan & Nutrisi Euromonitor Oktober 2020.  Penjualan suplemen yang ditujukan untuk kekebalan/pilek/flu meningkat sebesar  1,8 miliar dollar di AS pada tahun 2020; kesehatan umum naik $755 juta; kesehatan mental, suasana hati dan stres naik $ 268 juta; dukungan tidur hingga $ 243 juta (Nutraceutical World, 2021).

Sejak Covid-19 peningkatan konsumsi vitamin C dan minimal herbal juga terjadi di Indonesia, paling tidak di wilayah Malang.  Penelitian penulis bersama tim pada UMKM makanan dan minuman (mamin) di Kabupaten Malang pada tahun 2020 menemukan hal menarik.  Sekitar 6 bulan di awal pembatasan sosial omzet penjualan UMKM minuman herbal dan rasa buah yang mengandung banyak vitam C meningkat sampai 400 persen, sementara sebagian besar UMKM mengalami penurunan omzet penjualan bahkan tidak sedikit yang berhenti beroperasi.

 Kendala UMKM Mamin

Memasuki paruh kedua tahun 2020 omzet penjualan UMKM penghasil minuman  herbal menurun 50 persen meskipun permintaan tetap tinggi. Karena harga bahan baku (jahe, kunyit, temulawak) lebih mahal akibat produksi terbatas.  Beda halnya dengan UMKM penghasil minuman rasa buah markisa, buah naga, apel, apel, dan leci, tidak mengalami kesulitan bahan baku sehingga omzetnya tetap, bahkan meningkat.

Penulis dan tim peneliti menemukan dua faktor penyebab perbedaan dua kondisi UMKM di atas, yang bisa saja mewakili sebagian besar UMKM di Indonesia. Pertama, lemahnya rantai pasok khususnya bahan baku. UMKM minuman herbal membeli bahan baku di pasar tradisional, tidak memiliki pemasok tetap.  Kalau ingin tanam jahe sekarang, misalnya, baru akan panen 8-10 bulan lagi.

Sebaliknya, penghasil minuman rasa buah khususnya markisa telah memiliki pemasok tetap.  Bisa dikatakan kerjasama jangka panjang karena hampir dua tahun lalu pengelola UMKM memberikan bibit markisa secara cuma-cuma kepada petani untuk dikembangkan di satu desa.  Para petani dibekali pengetahuan dan keterampilan teknis budidaya markisa yang baik. Sekarang pasokan bahan baku tidak menjadi masalah.

Kedua, terbatasnya akses pasar. UMKM minuman herbal mendapat pesanan dari dalam dan luar negeri tetapi hanya bisa dilayani secara informal karena belum memiliki izin edar.  Menurut Undang-Undang Nomo 36 Tahun 2009, “Makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Makanan dan minuman yang dimaksud adalah yang memiliki risiko tinggi dengan masa simpan lebih dari 7 hari.  Terlebih yang diklaim memiliki khasiat tertentu bagi tubuh manusia wajib memiliki izin edar.

Izin edar dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Salah satu syarat yang dirasa memberatkan UMKM adalah dokumen hasil audit sarana produksi pangan olahan yang baik (CPPOB). Hasil pantauan BPOM (2017) periode Januari hingga Juni tahun 2017 terhadap 4.333 sarana distribusi makanan dan minuman dengan hasil 1.471 (33,95%) sarana tidak memenuhi ketentuan (TMK), karena salah satunya menjual pangan tanpa izin edar (3.760.060 pcs).

 

Pendekatan Ekosistem Multi Helix

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Peran utamanya adalah menyerap 97 persen tenaga kerja dan menyumbang sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (BPS, 2018).  Pada krisis tahun 1998 UMKM menjadi penyelamat ekonomi nasional.  Peran ini tidak terlihat pada pandemi covid-19 bukan hanya karena less-contact economy dan terjadi perubahan aktivitas ekonomi dari offline menjadi online. Faktor mendasar adalah UMKM sangat rentan terhadap perubahan dan tidak memiliki kemampuan untuk menghindari, merespon, dan pulih dari situasi yang dapat mengancam.  Singkatnya, imunitas ekonomi Indonesia lemah sebab UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99 persen dari total unit usaha yang ada di Indonesia dan sekitar 60 persen bergerak di sektor makanan dan minuman.

Untuk meningkatkan imunitas UMKM tidak cukup melalui pendekatan penta helix, melainkan seharusnya ekosistem multi helix.  Selain kompleks, urusan UMKM melibatkan setidaknya 18 kementerian dan puluhan lembaga serta pemerintah sebagaimana diakui oleh Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, melalui tulisannya “Transformasi UMKM dan Koperasi” (Kompas,19 Oktober 2020).

Ekosistem multi helix, menurut Pariz-Ortis dkk. (2016) dalam buku mereka “Multiple Helix Ecosystems for Sustainable Competitiveness” adalah model yang didasarkan pada interaksi antara empat pihak utama yakni akademisi, industri, pemerintah,  masyarakat, dan organisasi hibrida (interaksi antar pihak) dan lebih banyak pihak yang terkait dan relevan dalam konteks ekonomi dan perusahaan.

Inti dari ekosistem multi helix digambarkan seperti mesin pembakar yang terdiri atas empat tahap dalam proses operasi sebuah perusahaan.  Pertama, masukan, yang pada UMKM mamin adalah faktor produksi seperti tenaga kerja, bahan baku, modal, kesiapan teknologi dan inovasi. Kedua, kompresi atau pemampatan yakni kemampuan UMKM menyesuaikan faktor lingkungan eksternal. Ketiga, pengapian yakni proses produksi mamin, termasuk pengepakannya.  Keempat, pembuangan dari proses produksi seperti limbah dan pencemaran lingkungan.

Untuk mengatasi masalah lemahnya rantai pasok bahan baku, diperlukan kerjasama UMKM dengan pemasok yaitu petani atau pedagang bila bahan bakunya impor, baik individu maupun kelompok seperti kelompok tani, koperasi, paguyuban.  Ini perlu difasilitasi  pemerintah (Koperasi dan UKM, Pertanian, Perindustrian) sebagai regulator. Kehadiran industri (transportasi, pengepakan, bahan pelengkap) atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga sangat penting.

Peluasan akses pasar produk UMKM mamin khususnya melalui izin edar seharusnya dilakukan melalui pendampingan, bukan sekedar ceramah atau pelatihan sesaat.  Perguruan tinggi bisa mendampingi UMKM dalam pemenuhan dokumen hasil audit sarana produksi yang memenuhi CPPOB  melalui transfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi.  Mahasiswa dalam bidang keilmuan terkait CPPOB dapat dilibatkan melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang sedang digiatkan oleh Kemendikbudristek. Pemerintah berperan melalui program pemberdayaan dan fasilitasi, misalnya pendanaan untuk mendukung pengadaan sarana dan peralatan produksi yang disediakan oleh industri. Diseminasi informasi antar pelaku UMKM melalui peran media dan partisipasi forum, paguyuban, atau asosiasi terakit.

Kerjasama dan pendampingan akan efektif bila “mesin pembakar” proses operasi sebagai pembentuk imun internal UMKM mamin berjalan dengan baik.  Produk mamin berbasis produk herbal dan pangan funsgional tidak hanya meningkatkan imunitas masyarakat tetapi juga imunitas ekonomi Indonesia.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Ma Chung

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru