alexametrics
22.3 C
Malang
Saturday, 1 October 2022

Energi Murah dan Mimpi di Siang Bolong

BELUM lama ini, sebuah kampus swasta di Malang meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Lokasinya di Singosari, Kabupaten Malang. Panel-panel surya dipampang di tanah lapang. Energi listrik yang dihasilkan disebut mencapai 0,5 Megawatt peak (MWp). MWp dipakai untuk mengukur listrik dari energi baru terbarukan (EBT) matahari.

Sederhananya, MWp dihasilkan dari cahaya matahari yang menyinari bumi setiap hari. Energi dari matahari dikonversikan menjadi listrik lewat panel photovoltaic. Panel itu berisi cermin yang bisa mengonsentrasi radiasi surya. Konsentrasi energi ini bisa dipakai menghasilkan listrik. Atau, disimpan dalam bentuk baterai.
Idealnya, panel surya 0,5 MWp bisa menghasilkan energi sesuai kapasitas maksimal. Namun, sejumlah referensi bacaan sekilas di internet berkata sebaliknya. Output listrik tidak sebesar itu. Dengan kata lain, 0,5 MWp bisa jadi hanya menghasilkan 0,35 MWpatau 0,4 MWp. Tetapi, jangan terjebak dengan desimal kecil itu.

Megawatt itu satuan energi yang besar. Sebagai gambaran, mari lihat kekuatan 1 megawatt pembangkit batu bara. 1 MW bisa memproduksi listrik untuk 400 sampai 900 rumah dalam setahun. Walhasil, energi PLTS di Singosari ini juga lumayan besar. Bahkan, penggunaannya disebut baru 40 persen, dan sisanya diekspor ke PLN.
Terlalu muluk-muluk bila menyebut kelahiran PLTS ini sebagai penanda era penggunaan energi surya di Malang. Tetapi, setidaknya ini akhirnya menggelitik saya me-review ulang perdebatan besar abad ini. Yaitu, penggunaan energi baru terbarukan versus fosil. Bahwa, jika energi terbarukan gratis, maka seharusnya penyediaannya kepada masyarakat juga murah.
Tak perlu antre berjam-jam di SPBU. Tak perlu ada sindikat penimbunan bahan bakar yang meresahkan. Bahkan, kalau kita jujur menilai, sejumlah persoalan yang terjadi di masyarakat dewasa ini adalah akibat energi fosil yang langka. Kita bahkan sedang rasakan dampaknya dari tahun ke tahun.
Begitu harga BBM naik, biaya hidup ikut naik. Ketika harga Pertalite naik, maka sepiring pecel pun turut terdampak. Bila semua mahal, kemiskinan meningkat. Begitu rakyat miskin bertambah, kejahatan pun meroket. Kondisi masyarakat menjadi tidak stabil. Krisis di berbagai lini bisa terjadi gara-gara tidak ada energi murah.
Lalu, kapan Indonesia sepenuhnya memakai listrik dari EBT? Kapan juga, negeri ini tidak dikendalikan energi fosil yang suatu saat akan habis? Kapan EBT bisa menggantikan fosil yang merusak lingkungan? Kapan listrik bisa murah?
Jangan-jangan ini cuma mimpi di siang bolong. Karena, dimensi ”kapan” itu bicara soal optimisme. Bahwa suatu saat, entah sepuluh, seratus, atau seribu tahun lagi, Indonesia akan sepenuhnya pakai EBT. Nah, jangan-jangan jenis pertanyaannya harus diganti. Apakah Indonesia bisa sepenuhnya memakai listrik EBT? Apakah listrik bisa murah?
Dimensi ”apakah”, menurut saya bicara soal kemungkinan antara iya atau tidak. Bisa jadi kita pakai EBT. Bisa juga tidak. Bisa jadi listrik bisa murah. Bisa juga tidak. Jadi, dimensi pertanyaan ”apakah” masih ada kemungkinan gagal. Gagal pakai EBT. Gagal sediakan listrik murah.
Terlepas bisa atau tidak kita bebas dari energi fosil, 5-10 tahun ke depan, mimpi ini saya rasa masih sekadar mimpi. Mari kita hitung elek-elekan. Misalnya, sekarang PLTS dimasifkan pembangunannya di seluruh muka bumi. Mungkinkah bisa sepenuhnya lepas dari minyak bumi dan batu bara sebagai sumber energi utama teknologi? Mungkin bisa, mungkin juga tidak.
Karena, teknologi sekarang masih bergantung pada fosil. Pembangkit listrik masih pakai minyak atau batu bara. Persentase penggunaan EBT sangat kecil. Otomatis, semua peralatan teknologi yang ada, termasuk internet, pakai listrik yang dihasilkan dari fosil. Mobil dan sepeda motor juga menyedot BBM.
Mampukah EBT sepenuhnya menggantikan energi primer bagi peradaban manusia, sementara semua teknologi manusia sekarang sangat bergantung pada energi fosil. Karena itulah, saya pribadi menganggap EBT cuma mimpi yang sulit terwujud dalam waktu dekat. Bahkan, sulit terwujud bila pemerintah masih belum menemukan solusi memasifkan EBT.
Tetapi pada akhirnya, persoalan pengganti fosil ini harus terjawab secepatnya. Kuantitas EBT yang bisa dihasilkan juga wajib mencukupi kebutuhan energi yang besar. Sehingga, krisis energi seperti yang berulang kali dialami bangsa ini bisa terselesaikan. Atau jangan-jangan memang ini mimpi saja. Semoga tidak. (*)

BELUM lama ini, sebuah kampus swasta di Malang meresmikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Lokasinya di Singosari, Kabupaten Malang. Panel-panel surya dipampang di tanah lapang. Energi listrik yang dihasilkan disebut mencapai 0,5 Megawatt peak (MWp). MWp dipakai untuk mengukur listrik dari energi baru terbarukan (EBT) matahari.

Sederhananya, MWp dihasilkan dari cahaya matahari yang menyinari bumi setiap hari. Energi dari matahari dikonversikan menjadi listrik lewat panel photovoltaic. Panel itu berisi cermin yang bisa mengonsentrasi radiasi surya. Konsentrasi energi ini bisa dipakai menghasilkan listrik. Atau, disimpan dalam bentuk baterai.
Idealnya, panel surya 0,5 MWp bisa menghasilkan energi sesuai kapasitas maksimal. Namun, sejumlah referensi bacaan sekilas di internet berkata sebaliknya. Output listrik tidak sebesar itu. Dengan kata lain, 0,5 MWp bisa jadi hanya menghasilkan 0,35 MWpatau 0,4 MWp. Tetapi, jangan terjebak dengan desimal kecil itu.

Megawatt itu satuan energi yang besar. Sebagai gambaran, mari lihat kekuatan 1 megawatt pembangkit batu bara. 1 MW bisa memproduksi listrik untuk 400 sampai 900 rumah dalam setahun. Walhasil, energi PLTS di Singosari ini juga lumayan besar. Bahkan, penggunaannya disebut baru 40 persen, dan sisanya diekspor ke PLN.
Terlalu muluk-muluk bila menyebut kelahiran PLTS ini sebagai penanda era penggunaan energi surya di Malang. Tetapi, setidaknya ini akhirnya menggelitik saya me-review ulang perdebatan besar abad ini. Yaitu, penggunaan energi baru terbarukan versus fosil. Bahwa, jika energi terbarukan gratis, maka seharusnya penyediaannya kepada masyarakat juga murah.
Tak perlu antre berjam-jam di SPBU. Tak perlu ada sindikat penimbunan bahan bakar yang meresahkan. Bahkan, kalau kita jujur menilai, sejumlah persoalan yang terjadi di masyarakat dewasa ini adalah akibat energi fosil yang langka. Kita bahkan sedang rasakan dampaknya dari tahun ke tahun.
Begitu harga BBM naik, biaya hidup ikut naik. Ketika harga Pertalite naik, maka sepiring pecel pun turut terdampak. Bila semua mahal, kemiskinan meningkat. Begitu rakyat miskin bertambah, kejahatan pun meroket. Kondisi masyarakat menjadi tidak stabil. Krisis di berbagai lini bisa terjadi gara-gara tidak ada energi murah.
Lalu, kapan Indonesia sepenuhnya memakai listrik dari EBT? Kapan juga, negeri ini tidak dikendalikan energi fosil yang suatu saat akan habis? Kapan EBT bisa menggantikan fosil yang merusak lingkungan? Kapan listrik bisa murah?
Jangan-jangan ini cuma mimpi di siang bolong. Karena, dimensi ”kapan” itu bicara soal optimisme. Bahwa suatu saat, entah sepuluh, seratus, atau seribu tahun lagi, Indonesia akan sepenuhnya pakai EBT. Nah, jangan-jangan jenis pertanyaannya harus diganti. Apakah Indonesia bisa sepenuhnya memakai listrik EBT? Apakah listrik bisa murah?
Dimensi ”apakah”, menurut saya bicara soal kemungkinan antara iya atau tidak. Bisa jadi kita pakai EBT. Bisa juga tidak. Bisa jadi listrik bisa murah. Bisa juga tidak. Jadi, dimensi pertanyaan ”apakah” masih ada kemungkinan gagal. Gagal pakai EBT. Gagal sediakan listrik murah.
Terlepas bisa atau tidak kita bebas dari energi fosil, 5-10 tahun ke depan, mimpi ini saya rasa masih sekadar mimpi. Mari kita hitung elek-elekan. Misalnya, sekarang PLTS dimasifkan pembangunannya di seluruh muka bumi. Mungkinkah bisa sepenuhnya lepas dari minyak bumi dan batu bara sebagai sumber energi utama teknologi? Mungkin bisa, mungkin juga tidak.
Karena, teknologi sekarang masih bergantung pada fosil. Pembangkit listrik masih pakai minyak atau batu bara. Persentase penggunaan EBT sangat kecil. Otomatis, semua peralatan teknologi yang ada, termasuk internet, pakai listrik yang dihasilkan dari fosil. Mobil dan sepeda motor juga menyedot BBM.
Mampukah EBT sepenuhnya menggantikan energi primer bagi peradaban manusia, sementara semua teknologi manusia sekarang sangat bergantung pada energi fosil. Karena itulah, saya pribadi menganggap EBT cuma mimpi yang sulit terwujud dalam waktu dekat. Bahkan, sulit terwujud bila pemerintah masih belum menemukan solusi memasifkan EBT.
Tetapi pada akhirnya, persoalan pengganti fosil ini harus terjawab secepatnya. Kuantitas EBT yang bisa dihasilkan juga wajib mencukupi kebutuhan energi yang besar. Sehingga, krisis energi seperti yang berulang kali dialami bangsa ini bisa terselesaikan. Atau jangan-jangan memang ini mimpi saja. Semoga tidak. (*)

Previous articleNoktah Hitam Kota Layak Anak
Next articleMembela Hantu

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/