alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

8 Ikhtiar Menuju Kebangkitan Umat

TULISAN ini saya dahului dengan sebuah hadis Rasulullah SAW: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Tingkat ketakwaan seseorang di hadapan Allah itu salah satunya bisa diukur dari kebermanfaatannya terhadap orang lain. Kebermanfaatan ini merupakan buah yang harusnya bisa dipetik di akhir Ramadan. Sebab, selama Ramadan mereka dididik menjadi orang yang bertakwa.

Ada delapan ikhtiar yang bisa dipetik dari Ramadan. Jika kedelapan poin itu terwujud, maka akan mudah menuju kebangkitan umat dan bangsa. Pertama, hidup yang naik kelas. Ramadan merupakan madrasah untuk menggembleng ketakwaan manusia. Seseorang yang lulus dari Ramadan menjadikan Idul Fitri sebagai starting point makin kuatnya belajar menjadi lebih baik. Meski perlahan, namun ada peningkatan kualitas dalam menjalani hidup.

Kedua, lahirnya karya kebajikan. Setelah membersihkan jiwa, maka akan lahir tekad untuk memulai pekerjaan dari yang kecil namun berguna dalam merawat kebajikan. Hal-hal kecil yang dilakukan itu berimplikasi meningkatnya layanan kebaikan di tengah masyarakat.

Ketiga, kebersamaan cinta dan bahagia. Kembali kepada fitrah itu artinya menemukan cinta kasih yang membangkitkan energi perjuangan kolektif dan kebersamaan dalam keluarga besar kaum muslimin. Semangat kebersamaan itu mampu meluaskan daya jangkau silaturahmi. Ini sebagai tanda meluasnya kebermanfaatan demi mewujudkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Keempat, bertambahnya aset yang berguna. Usaha yang produktif akan memunculkan gairah kerja sehingga rezeki makin berlimpah ruah. Rezeki yang bisa dibagikan itu berpotensi mewujudkan kemakmuran di lingkungan.

Kelima, meluasnya panggung pengabdian. Terwujudnya pertumbuhan hidup sedikit demi sedikit meningkatkan daya jangkau pelayanan kepada masyarakat. Lama-lama, makin banyak orang yang terberdayakan. Ending-nya, kualitas hidup meningkat serta kemampuan melayani juga makin besar.

Keenam, menjaga kehormatan manusia. Interaksi sosial yang makin baik dan bermanfaat bagi orang lain akan mengundang nilai: respect dan trust. Dua hal ini berkontribusi dalam meninggikan martabat dan kehormatan manusia dalam membangun relasi.

Ketujuh, menumbuhkan jaringan gemilang. Meningkatnya daya pancar energi kebajikan menandakan tingginya kualitas kepemimpinan. Pemimpin yang berkualitas mampu memengaruhi masyarakat untuk berproses dalam memperbaiki kehidupan lingkungan sekitarnya.

Kedelapan, sumber pancaran kegemilangan. Setiap insan yang tersucikan dalam basuhan Ramadan akan lebih kencang kepak sayap kebaikannya. Gema energi kebajikan tersebut akan menjelma dalam tindakan yang memengaruhi lingkungan. Sehingga secara bertahap berubah dan bertumbuh menuju ikhtiar dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan makmur. (*)

 

Camp King Sulaiman

1 Syawal 1442

With Love CF

TULISAN ini saya dahului dengan sebuah hadis Rasulullah SAW: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Tingkat ketakwaan seseorang di hadapan Allah itu salah satunya bisa diukur dari kebermanfaatannya terhadap orang lain. Kebermanfaatan ini merupakan buah yang harusnya bisa dipetik di akhir Ramadan. Sebab, selama Ramadan mereka dididik menjadi orang yang bertakwa.

Ada delapan ikhtiar yang bisa dipetik dari Ramadan. Jika kedelapan poin itu terwujud, maka akan mudah menuju kebangkitan umat dan bangsa. Pertama, hidup yang naik kelas. Ramadan merupakan madrasah untuk menggembleng ketakwaan manusia. Seseorang yang lulus dari Ramadan menjadikan Idul Fitri sebagai starting point makin kuatnya belajar menjadi lebih baik. Meski perlahan, namun ada peningkatan kualitas dalam menjalani hidup.

Kedua, lahirnya karya kebajikan. Setelah membersihkan jiwa, maka akan lahir tekad untuk memulai pekerjaan dari yang kecil namun berguna dalam merawat kebajikan. Hal-hal kecil yang dilakukan itu berimplikasi meningkatnya layanan kebaikan di tengah masyarakat.

Ketiga, kebersamaan cinta dan bahagia. Kembali kepada fitrah itu artinya menemukan cinta kasih yang membangkitkan energi perjuangan kolektif dan kebersamaan dalam keluarga besar kaum muslimin. Semangat kebersamaan itu mampu meluaskan daya jangkau silaturahmi. Ini sebagai tanda meluasnya kebermanfaatan demi mewujudkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Keempat, bertambahnya aset yang berguna. Usaha yang produktif akan memunculkan gairah kerja sehingga rezeki makin berlimpah ruah. Rezeki yang bisa dibagikan itu berpotensi mewujudkan kemakmuran di lingkungan.

Kelima, meluasnya panggung pengabdian. Terwujudnya pertumbuhan hidup sedikit demi sedikit meningkatkan daya jangkau pelayanan kepada masyarakat. Lama-lama, makin banyak orang yang terberdayakan. Ending-nya, kualitas hidup meningkat serta kemampuan melayani juga makin besar.

Keenam, menjaga kehormatan manusia. Interaksi sosial yang makin baik dan bermanfaat bagi orang lain akan mengundang nilai: respect dan trust. Dua hal ini berkontribusi dalam meninggikan martabat dan kehormatan manusia dalam membangun relasi.

Ketujuh, menumbuhkan jaringan gemilang. Meningkatnya daya pancar energi kebajikan menandakan tingginya kualitas kepemimpinan. Pemimpin yang berkualitas mampu memengaruhi masyarakat untuk berproses dalam memperbaiki kehidupan lingkungan sekitarnya.

Kedelapan, sumber pancaran kegemilangan. Setiap insan yang tersucikan dalam basuhan Ramadan akan lebih kencang kepak sayap kebaikannya. Gema energi kebajikan tersebut akan menjelma dalam tindakan yang memengaruhi lingkungan. Sehingga secara bertahap berubah dan bertumbuh menuju ikhtiar dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan makmur. (*)

 

Camp King Sulaiman

1 Syawal 1442

With Love CF

Previous articleMembedah Sisi Ekonomi Vaksin
Next articleNarsis

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/