alexametrics
25.6 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

Berharap Deja vu 2013-2014 Tak Terulang

Ada banyak pelaja­ran yang bisa diambil Arema FC dari turna­men Piala Presiden. Yang pasti satu, mereka bisa memaksimalkan ajang itu sebagai ba­gian dari persiapan tim sebelum turun di Liga 1. Bonusnya, tim pelatih Singo Edan bisa mengintip kekuatan tim-tim lainnya. Itu penting dilakukan karena di masa pre-season mulai bulan Mei lalu, kontestan Liga 1 sudah banyak berbenah. Bila dirata-rata, tiap tim merombak 40 sampai 60 persen skuadnya.

Dengan persentase itu, kekuatan tiap kontestan Liga 1 musim depan dipastikan berbeda ketimbang musim lalu. Contohnya Persib Bandung, yang musim lalu finish sebagai runner-up. Di musim depan, komposisi pemain mereka tidak banyak berubah. Namun daftar nama penggawa baru yang didatangkan tidak main-main. Semuanya punya kualitas mumpuni. Seperti David Da Silva, Ciro Alves dan Ricky Kambuaya.

Hal serupa juga dilakukan juara bertahan Liga 1, Bali United. Dengan komposisi pemain yang sudah nyetel, mereka hanya menambahkan sejumlah pemain yang sudah berpengalaman. Seperti Novri Setiawan, Ramdani Lestaluhu dan Ardi Idrus. Bisa diprediksi bila Persib Bandung dan Bali United bakal menjadi pesaing ketat Singo Edan untuk merengkuh titel juara.

Kejutan dari kontestan lainnya juga bisa saja terjadi. Misalnya dari PSIS Semarang, yang sudah pasti diperkuat Carlos Fortes dan Taisei Marukawa. Bisa juga hadir dari sesama tim Jatim, Persik Kediri dan Persebaya Surabaya. Keduanya cukup banyak merubah komposisi pemain untuk musim depan. Kekuatannya tentu sulit diprediksi.

Beranjak dari kondisi itulah penting bagi pelatih Arema FC untuk ikut memantau jalannya pertandingan tim-tim lain di Piala Presiden 2022. Soal keseriusan manajemen, semua pendukung Singo Edan sepertinya satu suara. Buktinya, dua laga uji coba yang dibuka untuk umum sukses menyedot animo suporter untuk hadir di Stadion Kanjuruhan. Dari sana bisa dilihat bila ekspektasi tinggi sudah tersaji. Sebagai warga asli Malang, harapan saya tentu sama dengan Aremania dan Aremanita: musim ini bisa juara.

Namun sebagai pengingat agar ekspektasi lebih terkontrol adalah capaian di beberapa musim lalu. Yang pertama memori di musim 2013. Serupa dengan persiapan di musim ini, saat itu skuad Arema juga bertabur bintang. Di lini depan, ada nama Greg Nwokolo, Cristian Gonzales dan Beto Goncalves yang mengisinya. Itu masih belum ditambah dengan nama Kayamba Gumbs dan Sunarto.

Di lini belakang, ada duet Purwaka Yudhi dan Victor Igbonefo. Juga masih ada nama Kurnia Meiga Hermansyah di bawah mistar gawang. Sepanjang jalannya kompetisi, Dendi Santoso dan kawan-kawan sebenarnya tampil cukup impresif. Namun soal konsistensi, mereka masih kalah dengan Persipura Jayapura, yang di tahun ini menjadi juara Indonesia Super League (ISL) 2013 dengan mengumpulkan 82 poin.

Sementara Arema yang saat itu dilatih Rahmad Darmawan finish di posisi kedua dengan mengumpulkan 69 poin. Problem tentang konsistensi juga tersaji di ISL musim 2014. Saat itu, materi pemain Singo Edan juga cukup dalam. Di lini depan, duet Cristian Gonzales dan Beto Goncalves masih dipertahankan. Belum lagi ditambah dua penyerang lokal yang moncer, yakni Samsul Arif dan Sunarto.

Saat itu, sistem kompetisinya dibagi dua wilayah. Ada wilayah barat dan timur. Arema masuk ke wilayah barat. Sepanjang babak penyisihan, mereka sebenarnya tampil impresif. Total ada 46 poin yang telah dikumpulkan. Di bawahnya ada Persib Bandung yang mengoleksi 41 poin. Namun di babak 8 besar, langkah Singo Edan mulai terseok-seok. Muaranya, di babak semifinal mereka kalah dari Persib Bandung dengan skor 1-3.

Saya turut meliput jalannya pertandingan di Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, 4 November 2014 itu. Pasca menelan kekalahan, raut wajah penggawa Arema semuanya lesu. Begitu juga dengan manajemen dan tim pelatih. Memori cukup menohok berikutnya tersaji 2016 lalu. Saat itu, Singo Edan juga finish di posisi runner-up di kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC).

Dari catatan-catatan itu, bisa dilihat pentingnya konsistensi sepanjang jalannya kompetisi. Khususnya di pertandingan-pertandingan terakhir. Oleh sebab itu, jalannya turnamen Piala Presiden 2022 ini sudah seharusnya dimaksimalkan sebaik mungkin. Juara di kompetisi lebih penting dibandingkan juara di turnamen. Namun kalau bisa juara di turnamen dan kompetisi tentu bakal menjadi kabar bahagia bagi seluruh pendukung Arema. Malang pasti siap berpesta. (*)

Ada banyak pelaja­ran yang bisa diambil Arema FC dari turna­men Piala Presiden. Yang pasti satu, mereka bisa memaksimalkan ajang itu sebagai ba­gian dari persiapan tim sebelum turun di Liga 1. Bonusnya, tim pelatih Singo Edan bisa mengintip kekuatan tim-tim lainnya. Itu penting dilakukan karena di masa pre-season mulai bulan Mei lalu, kontestan Liga 1 sudah banyak berbenah. Bila dirata-rata, tiap tim merombak 40 sampai 60 persen skuadnya.

Dengan persentase itu, kekuatan tiap kontestan Liga 1 musim depan dipastikan berbeda ketimbang musim lalu. Contohnya Persib Bandung, yang musim lalu finish sebagai runner-up. Di musim depan, komposisi pemain mereka tidak banyak berubah. Namun daftar nama penggawa baru yang didatangkan tidak main-main. Semuanya punya kualitas mumpuni. Seperti David Da Silva, Ciro Alves dan Ricky Kambuaya.

Hal serupa juga dilakukan juara bertahan Liga 1, Bali United. Dengan komposisi pemain yang sudah nyetel, mereka hanya menambahkan sejumlah pemain yang sudah berpengalaman. Seperti Novri Setiawan, Ramdani Lestaluhu dan Ardi Idrus. Bisa diprediksi bila Persib Bandung dan Bali United bakal menjadi pesaing ketat Singo Edan untuk merengkuh titel juara.

Kejutan dari kontestan lainnya juga bisa saja terjadi. Misalnya dari PSIS Semarang, yang sudah pasti diperkuat Carlos Fortes dan Taisei Marukawa. Bisa juga hadir dari sesama tim Jatim, Persik Kediri dan Persebaya Surabaya. Keduanya cukup banyak merubah komposisi pemain untuk musim depan. Kekuatannya tentu sulit diprediksi.

Beranjak dari kondisi itulah penting bagi pelatih Arema FC untuk ikut memantau jalannya pertandingan tim-tim lain di Piala Presiden 2022. Soal keseriusan manajemen, semua pendukung Singo Edan sepertinya satu suara. Buktinya, dua laga uji coba yang dibuka untuk umum sukses menyedot animo suporter untuk hadir di Stadion Kanjuruhan. Dari sana bisa dilihat bila ekspektasi tinggi sudah tersaji. Sebagai warga asli Malang, harapan saya tentu sama dengan Aremania dan Aremanita: musim ini bisa juara.

Namun sebagai pengingat agar ekspektasi lebih terkontrol adalah capaian di beberapa musim lalu. Yang pertama memori di musim 2013. Serupa dengan persiapan di musim ini, saat itu skuad Arema juga bertabur bintang. Di lini depan, ada nama Greg Nwokolo, Cristian Gonzales dan Beto Goncalves yang mengisinya. Itu masih belum ditambah dengan nama Kayamba Gumbs dan Sunarto.

Di lini belakang, ada duet Purwaka Yudhi dan Victor Igbonefo. Juga masih ada nama Kurnia Meiga Hermansyah di bawah mistar gawang. Sepanjang jalannya kompetisi, Dendi Santoso dan kawan-kawan sebenarnya tampil cukup impresif. Namun soal konsistensi, mereka masih kalah dengan Persipura Jayapura, yang di tahun ini menjadi juara Indonesia Super League (ISL) 2013 dengan mengumpulkan 82 poin.

Sementara Arema yang saat itu dilatih Rahmad Darmawan finish di posisi kedua dengan mengumpulkan 69 poin. Problem tentang konsistensi juga tersaji di ISL musim 2014. Saat itu, materi pemain Singo Edan juga cukup dalam. Di lini depan, duet Cristian Gonzales dan Beto Goncalves masih dipertahankan. Belum lagi ditambah dua penyerang lokal yang moncer, yakni Samsul Arif dan Sunarto.

Saat itu, sistem kompetisinya dibagi dua wilayah. Ada wilayah barat dan timur. Arema masuk ke wilayah barat. Sepanjang babak penyisihan, mereka sebenarnya tampil impresif. Total ada 46 poin yang telah dikumpulkan. Di bawahnya ada Persib Bandung yang mengoleksi 41 poin. Namun di babak 8 besar, langkah Singo Edan mulai terseok-seok. Muaranya, di babak semifinal mereka kalah dari Persib Bandung dengan skor 1-3.

Saya turut meliput jalannya pertandingan di Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, 4 November 2014 itu. Pasca menelan kekalahan, raut wajah penggawa Arema semuanya lesu. Begitu juga dengan manajemen dan tim pelatih. Memori cukup menohok berikutnya tersaji 2016 lalu. Saat itu, Singo Edan juga finish di posisi runner-up di kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC).

Dari catatan-catatan itu, bisa dilihat pentingnya konsistensi sepanjang jalannya kompetisi. Khususnya di pertandingan-pertandingan terakhir. Oleh sebab itu, jalannya turnamen Piala Presiden 2022 ini sudah seharusnya dimaksimalkan sebaik mungkin. Juara di kompetisi lebih penting dibandingkan juara di turnamen. Namun kalau bisa juara di turnamen dan kompetisi tentu bakal menjadi kabar bahagia bagi seluruh pendukung Arema. Malang pasti siap berpesta. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/