alexametrics
22.6 C
Malang
Wednesday, 23 September 2020

Hipotesis Baru, Mengapa Covid-19 Mematikan?

- Advertisement -
- Advertisement -

SEBUAH komputer ternyata mampu membuat gambaran sekaligus mengungkap teori baru terkait bagaimana Covid-19 menyerang tubuh, dan berdampak pada tubuh. Komputer ini bukan sembarang komputer. Namanya: Summit, dan saat ini terpasang di Oak Ridge National Laboratory di Tennessee, Amerika Serikat.

Summit termasuk komputer super canggih dan tercepat di dunia. Summit punya kemampuan luar biasa dalam mengkalkulasi, memetakan, dan menganalisis sebuah data dalam jumlah besar. Ini tidak terlepas dari dukungan banyak teknologi canggih di IBM, sebagai produsen Summit.

Untuk menggambarkan bagaimana canggihnya Summit, komputer ini punya jumlah server sebanyak 4.608 server. Untuk menyimpan server sebanyak ini butuh ruangan sebesar dua kali lapangan tenis. Dan setiap server menggunakan 2 buah processor 22-core IBM Power9. Berarti, jika ditotal, terdapat 9.216 buah processor. Selain itu setiap server juga terpasang 6 buah GPU NVIDIA Tesla V100. Sehingga jika ditotal terdapat 27.648 buah GPU untuk memproses grafik.

Untuk memori dari Summit, kapasitasnya lebih dari 10 Petabyte. Ini adalah satuan tertinggi untuk kapasitas penyimpanan setelah Gigabyte dan Terabyte. Agar Anda bisa mudah membayangkan, bisa dijelaskan di sini, pada kapasitas 1 Petabyte saja, bisa digunakan untuk menyimpan 341 juta MP3 yang berdurasi 3 menit. Atau bisa juga digunakan menyimpan 10 miliar foto di Facebook. Jadi, Anda bisa bayangkan, betapa luasnya kapasitas penyimpanan Summit, karena punya 10 Petabyte (10 PB). Dan ini terpasang pada jalur bandwith yang tinggi agar data dapat bekerja cepat dan efisien.

Jika Amerika harus punya komputer super canggih semacam Summit ini, karena mereka butuh untuk mengkalkulasi secara cepat hasil-hasil riset ilmiah dalam memecahkan permasalahan umat manusia. Ini adalah bagian dari pengembangan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) di negara adi daya itu.

Adalah Dr Daniel Jacobson, Kepala Peneliti dan Kepala Ilmuwan di bidang Sistem Komputasi Biologi di Oak Ridge National Laboratory yang melakukan riset tentang Covid-19 menggunakan Summit. Komputer super canggih ini mengolah data 40 ribu gen yang diambil dari 17 ribu sampel genetik. Tujuannya untuk memahami lebih dalam tentang Covid-19.

Seperti dijelaskan di “elemental.medium.com”, sebuah website yang berisi kumpulan artikel ilmiah populer yang dirilis 1 September lalu, menyebutkan, riset yang dilakukan Jacobson itu menghasilkan teori baru yang menguak Hipotesa Bradikinin.

Hipotesis Bradikinin memberikan model yang menjelaskan banyak aspek tentang Covid-19, termasuk beberapa gejala yang tak lazim. Hipotesis ini juga menyarankan 10 lebih perawatan potensial, yang kebanyakan di antaranya sudah disetujui oleh FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika).

Jacobson dan timnya sudah mempublikasikan hasil analisis mereka ini dalam sebuah makalah di Jurnal eLife pada awal Juli 2020.

Berdasarkan hasil riset Jacobson itu didapatkan temuan bahwa penularan Covid-19 pada umumnya terjadi ketika virus masuk ke dalam tubuh melalui reseptor ACE2 melalui hidung. ACE2 adalah suatu reseptor di permukaan sel yang merupakan singkatan dari Angiotensin Converting Enzyme 2. Jadi, ini adalah semacam enzim yang menempel pada permukaan luar (membran) sel-sel di beberapa organ, seperti paru-paru, arteri, jantung, ginjal dan usus.

Begitu virus corona masuk melalui hidung, kemudian masuk ke dalam sel-sel pada organ-organ dimana terdapat ACE2 tadi. Ini lah yang sering menyebabkan munculnya gejala pada Covid-19, yakni adanya penyakit jantung, paru-paru (sesak nafas), dan saluran pencernaan (kehilangan nafsu makan).

Ketika Covid-19 berhasil masuk ke dalam tubuh, ada hal menarik yang didapatkan melalui riset Jacobson tadi, bahwa data dari Summit yang dianalisa menunjukkan virus tersebut tak cukup dengan menginfeksi sel-sel yang terdapat banyak reseptor ACE2. Tapi virus tersebut juga merenggut sistem kekebalan tubuh, serta menaikkan reseptor ACE2 yang biasanya berada pada tingkat medium atau rendah, termasuk paru-paru. Makanya, gejala paling khas orang yang terkena Covid-19 adalah sesak napas.

Covid-19 dapat dianalogikan sebagai perampok yang menyusup melalui jendela rumah. Lalu merampok isi rumah, dimana perampok tersebut tidak saja mengambil barang-barang yang ada di dalamnya, namun juga membuka semua jendela dan pintu lebar-lebar untuk memudahkan perampok-perampok lainnya membantu menjalankan aksinya dengan lebih mudah.

Lantas bagaimana kaitannya dengan Hipotesis Bradikinin? Untuk menjelaskan hal ini, dimulai dari RAS (Renin Angiotensin System). RAS adalah sistem hormon yang mengatur tekanan darah dan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta resistensi pembuluh darah sistemik. Jadi, RAS mengendalikan banyak aspek pada sistem sirkulasi, termasuk tingkat kimia pada tubuh yang disebut Bradikinin, yang mengatur tekanan darah.

Berdasarkan analisa Jacobson, ketika Covid-19 mengubah RAS, maka mekanisme tubuh dalam mengatur Bradikinin menjadi tak terkontrol. Reseptor bradikinin diatur ulang, dan tubuh berhenti memecah bradikinin. Dalam hal ini, ACE seharusnya menurunkan kadar bradikinin, tapi ketika Covid-19 mengubahnya, maka ACE tidak dapat menjalankan tugasnya dengan efektif.

Para peneliti mengatakan, bahwa tujuan akhir Covid-19 adalah melepaskan bradikinin sebanyak-banyaknya. Sehingga disebut dengan bradykinin storm (badai bradikinin) di dalam tubuh. Jadi, berdasarkan Hipotesis Bradikinin, badai bradikinin ini lah yang mempunyai efek mematikan pada Covid-19. Tim peneliti yang dipimpin Jacobson mengatakan dalam tulisan ilmiahnya, bahwa patologi Covid-19 merupakan hasil dari badai bradikinin. Jadi, bukan disebabkan oleh badai sitokin yang sudah diidentifikasi sebelumnya pada pasien Covid-19. Namun keduanya kemungkinan mempunyai hubungan yang kompleks.(bersambung/kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Latest news

Pakar: ‘Pecahnya’ Suara NU Untungkan Incumbent

“Tapi kalau pengamatan saya, “pecahnya” suara NU akan untungkan incumbent. Dia bisa dapat dukungan kalangan NU dan nasional karena diusung partai nasional," kata pria yang juga menjadi Ketua Program Studi Magister Ilmu Sosial FISIP UB ini, Rabu (23/9).
- Advertisement -

PKKMB Uniga, Ajak Maba Tetap Semangat di Tengah Pandemi Covid-19

MALANG – Universitas Gajayana Malang menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2020 -2021. Dalam kegiatan yang digelar secara daring dan luring selama tiga hari tersebut, Uniga mengangkat tema Tetap Semangat di Era Pandemi Covid-19, Bersama Uniga Menjadi yang Terdepan dan Berkarakter.

PLN UP3 Malang Salurkan 50 Tong Sampah di Pantai Selatan

MALANG - Sebanyak 50 tong sampah dibagikan di daerah wilayah pantai selatan yakni, Pantai Balekambang dan Sendang Biru, kabupaten Malang dalam rangka “Word Clean Up Day 2020”, Selasa (22/9). Sebagai wujud kepedulian PLN terhadap lingkungan sekitar, karena saat ini sampah menjadi masalah serius terutama di daerah wisata terbuka seperti pantai.

Besok Pengundian Nomor Urut, KPU Batasi Tiap Paslon Bawa 12 Pendukung

Ketua KPU Kabupaten Malang Anis Suhartini menambahkan, semua yang hadir dalam kegiatan pengundian nomor urut paslon juga harus mengenakan protap kesehatan. Hal ini juga sudah diatur dalam aturan Pilkada serentak.

Related news

Malik Fadjar Duluan Milenial

Milenial rekat dengan dunia serba kekinian. Yang muda, modern, teknologi, dan serba kebaruan. Namun apakah orang sepuh juga bisa masuk ranah itu? Bagi saya kenapa tidak. Nyatanya mantan Rektor Universitas Muhammadiyah, (alm) Prof A. Malik Fadjar MSc adalah salah satu sosok yang memiliki karakter kuat diterima oleh semua kalangan.

Move On

ADA tipe manusia yang gampang move on, tapi ada juga tipe manusia yang susah move on. Makna bebas dari move on di sini adalah cepat melupakan masa lalu.

Obat Covid Itu Danazol hingga Vitamin D?

Obat-obatan itu diduga dapat mengobati Covid-19. Di antaranya disebutkan: danazol, stanozolol, dan ecallantide. Obat-obatan ini, kata Jacobson, dapat mengurangi produksi bradikinin dan dapat menghentikan badai bradikinin yang mematikan.

Kematian Covid Rendah pada Perempuan, Why?

Tulisan kali ini masih menyinggung soal bradikinin. Jacobson menyebut bradikinin adalah tingkat kimia pada tubuh yang mengatur tekanan darah. Disebut tingkat kimia, karena bradikinin adalah semacam peptida yang merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino.
- Advertisement -