alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Pede dan Covid

Jika dulu, orang-orang yang terkena Covid-19 adalah mereka yang jauh dari saya. Artinya, saya tidak mengenalnya. Tapi sekarang, satu per satu kawan-kawan saya, orang-orang terdekat saya, mulai terkena Covid-19. Artinya, semakin lama, ancaman Covid-19 semakin mendekat.

Yang mutakhir adalah kawan saya ketika dulu sama-sama masih bertugas di Surabaya. Kawan saya ini pernah 40 hari bersama saya, satu kamar, satu ranjang, ketika sama-sama meliput Piala Dunia di Afrika Selatan 2010. Hingga catatan ini saya buat, dia masih tergolek lemah, belum sadarkan diri di ICU RS Unair, Surabaya. Pernapasannya harus ditopang ventilator. Dan, saat ini sedang berusaha mencari donor untuk plasma konvalesen. Istrinya beberapa kali menghubungi saya untuk minta doa dan dukungan. Istrinya positif. Dua anaknya juga positif. Bahkan, ibu mertua kawan saya ini juga positif. Sungguh, saya sedih sekali.

Sebelumnya, kawan saya yang tinggal di Jakarta, yang dulu pernah satu kantor dengan saya ketika sama-sama bertugas di Surabaya, dan satu angkatan dengan saya ketika masuk Jawa Pos, juga positif Covid-19. Saya sempat khawatir ketika dikabari kawan saya ini bahwa dia positif. Bagaimana tidak, enam hari sebelum dia dinyatakan positif Covid-19, saya bersama-sama dengan dia. Saya ke Jakarta dengan dia. Bersama-sama dengan dia selama 3 hari. Ke mana-mana bersama dia satu mobil. Saya pun langsung rapidtest antigen begitu dapat kabar dia positif. Alhamdulillah, saya negatif.

Covid-19 benar-benar semakin mendekati kita. Masih ada lagi kawan-kawan saya lainnya yang juga positif Covid-19. Bahkan, di antara mereka ada yang meninggal. Dari sejumlah kawan yang terkena Covid-19 itu, saya gali ceritanya. Saya kulik kebiasaannya.

Di antara kawan yang kena Covid-19 itu, ada yang terlalu pede (percaya diri). Dia terlalu pede dengan gaya hidupnya yang katanya sehat. Dia bercerita, hampir setiap pagi, begitu habis subuh, dia nggowes. Minimal 20 kilometer. Makan tiga kali sehari. Tidur pun dia merasa sudah cukup.

Kawan saya ini termasuk mobilitas tinggi. Dia sering keluar kota. Bahkan, dia termasuk sering bepergian dengan pesawat terbang. Suatu ketika, saya bertanya kepadanya: ”Apa nggak khawatir terkena Covid-19?” Saya bertanya seperti ini karena saya bandingkan dengan diri saya. Selama pandemi, saya masih belum berani naik pesawat. Belum berani naik kereta api. Pokoknya, saya belum berani naik kendaraan umum. Ketika harus ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya memilih pakai mobil sendiri.

Tapi kawan saya ini begitu bebasnya pergi. Begitu bebasnya naik pesawat. ”Yang penting makan teratur, istirahat teratur, olahraga teratur, pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak, insya Allah aman,” ini kata kawan saya.

Tapi, apa yang terjadi? Kawan saya ini terkena Covid-19. Dan begitu terkena Covid-19, dia mengaku sempat syok dan stres. Kebetulan, dia tergolong tidak berat gejalanya. Hanya sedikit batuk dan kehilangan indra rasa dan penciuman. Yang membuat dia stres, lebih pada isolasi mandiri. Diisolasi di sebuah ruangan. Tidak bisa bersama-sama dengan keluarga. Tak ada aktivitas selain beribadah, membaca buku, dan membuka handphone. Praktis selama 17 hari dia diisolasi. Padahal, pekerjaannya sedang padat-padatnya.

Selama dia diisolasi, hampir tak terhitung berapa kali dia menelepon saya. Padahal, sebelumnya dia termasuk jarang menelepon saya. Saat itulah saya mencoba mengulik kebiasaan-kebiasaannya yang katanya sudah sehat itu. Dari sinilah saya baru tahu, ternyata dia termasuk yang tidak suka mengonsumsi vitamin, suplemen, ataupun multivitamin. Dia beralasan, itu semua adalah obat-obatan kimia. Dia beranggapan, mengonsumsi vitamin, suplemen, ataupun multivitamin berupa tablet atau kapsul tidaklah baik bagi tubuh.

Saya kurang setuju dengan pendapatnya. Mengapa? Karena kebetulan, saya termasuk yang rajin mengonsumsi vitamin atau suplemen, atau multivitamin, apalagi di era pandemi sekarang ini. Sebab, menurut saya, tubuh perlu di-support dengan tambahan vitamin, suplemen, ataupun multivitamin agar daya tahan tubuh (imunitas) meningkat. Apalagi untuk kategori orang yang padat aktivitasnya. Saya pun menduga, kawan saya itu akhirnya terkena Covid-19 karena daya tahan tubuhnya melemah. Ketika aktivitas padat, lalu tubuh tidak di-support dengan vitamin, suplemen, ataupun multivitamin yang memadai, maka melemahlah sistem imunnya. Dan dalam kondisi seperti ini, Covid-19 pun dengan mudah masuk ke tubuh. Saya berkesimpulan, kawan saya ini terlalu pede. Terlalu pede membuatnya terlena. Terlalu pede membuatnya menjadi kurang waspada.

Pede memang baik. Tapi, khusus di era pandemi seperti sekarang ini, sebaiknya jangan pede. Kita harus selalu waspada. Jangan pernah merasa, jika sudah begini-begitu, sudah melakukan ini-itu, tidak akan terkena Covid-19. Sebaliknya, kita harus selalu merasa, bahwa Covid-19 ada di dekat kita. Sewaktu-waktu bisa masuk ke tubuh kita. Bisa menyerang kita. Dengan selalu merasa seperti ini, maka kita akan selalu waspada. Dan selalu waspada itu berbeda dengan paranoid. Waspada itu antisipatif. Kalau paranoid itu takut. Jadi, jelaslah berbeda antara antisipatif dan takut.

Seorang kawan pernah meledek saya begitu tahu isi yang ada di dalam tas yang selalu saya bawa. Di dalam tas saya tersedia hand sanitizer. Sampai tiga botol. Ada minyak eucalyptus. Ada obat probiotik khusus minum. Ada probiotik khusus semprot hidung. Dan ada juga aneka vitamin, suplemen, dan multivitamin. ”Ente kok kayak paranoid gitu,” kata teman saya. ”Kalau paranoid, saya nggak berani keluar rumah, Bro.” ”Ini namanya waspada. Ibarat perang, ini adalah senjata dan amunisi saya.” Ndilalah, kawan yang meledek saya paranoid itu beberapa hari kemudian terkena Covid-19. Lho… iya kan? Masih pede jika urusannya dengan Covid-19? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Jika dulu, orang-orang yang terkena Covid-19 adalah mereka yang jauh dari saya. Artinya, saya tidak mengenalnya. Tapi sekarang, satu per satu kawan-kawan saya, orang-orang terdekat saya, mulai terkena Covid-19. Artinya, semakin lama, ancaman Covid-19 semakin mendekat.

Yang mutakhir adalah kawan saya ketika dulu sama-sama masih bertugas di Surabaya. Kawan saya ini pernah 40 hari bersama saya, satu kamar, satu ranjang, ketika sama-sama meliput Piala Dunia di Afrika Selatan 2010. Hingga catatan ini saya buat, dia masih tergolek lemah, belum sadarkan diri di ICU RS Unair, Surabaya. Pernapasannya harus ditopang ventilator. Dan, saat ini sedang berusaha mencari donor untuk plasma konvalesen. Istrinya beberapa kali menghubungi saya untuk minta doa dan dukungan. Istrinya positif. Dua anaknya juga positif. Bahkan, ibu mertua kawan saya ini juga positif. Sungguh, saya sedih sekali.

Sebelumnya, kawan saya yang tinggal di Jakarta, yang dulu pernah satu kantor dengan saya ketika sama-sama bertugas di Surabaya, dan satu angkatan dengan saya ketika masuk Jawa Pos, juga positif Covid-19. Saya sempat khawatir ketika dikabari kawan saya ini bahwa dia positif. Bagaimana tidak, enam hari sebelum dia dinyatakan positif Covid-19, saya bersama-sama dengan dia. Saya ke Jakarta dengan dia. Bersama-sama dengan dia selama 3 hari. Ke mana-mana bersama dia satu mobil. Saya pun langsung rapidtest antigen begitu dapat kabar dia positif. Alhamdulillah, saya negatif.

Covid-19 benar-benar semakin mendekati kita. Masih ada lagi kawan-kawan saya lainnya yang juga positif Covid-19. Bahkan, di antara mereka ada yang meninggal. Dari sejumlah kawan yang terkena Covid-19 itu, saya gali ceritanya. Saya kulik kebiasaannya.

Di antara kawan yang kena Covid-19 itu, ada yang terlalu pede (percaya diri). Dia terlalu pede dengan gaya hidupnya yang katanya sehat. Dia bercerita, hampir setiap pagi, begitu habis subuh, dia nggowes. Minimal 20 kilometer. Makan tiga kali sehari. Tidur pun dia merasa sudah cukup.

Kawan saya ini termasuk mobilitas tinggi. Dia sering keluar kota. Bahkan, dia termasuk sering bepergian dengan pesawat terbang. Suatu ketika, saya bertanya kepadanya: ”Apa nggak khawatir terkena Covid-19?” Saya bertanya seperti ini karena saya bandingkan dengan diri saya. Selama pandemi, saya masih belum berani naik pesawat. Belum berani naik kereta api. Pokoknya, saya belum berani naik kendaraan umum. Ketika harus ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya memilih pakai mobil sendiri.

Tapi kawan saya ini begitu bebasnya pergi. Begitu bebasnya naik pesawat. ”Yang penting makan teratur, istirahat teratur, olahraga teratur, pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak, insya Allah aman,” ini kata kawan saya.

Tapi, apa yang terjadi? Kawan saya ini terkena Covid-19. Dan begitu terkena Covid-19, dia mengaku sempat syok dan stres. Kebetulan, dia tergolong tidak berat gejalanya. Hanya sedikit batuk dan kehilangan indra rasa dan penciuman. Yang membuat dia stres, lebih pada isolasi mandiri. Diisolasi di sebuah ruangan. Tidak bisa bersama-sama dengan keluarga. Tak ada aktivitas selain beribadah, membaca buku, dan membuka handphone. Praktis selama 17 hari dia diisolasi. Padahal, pekerjaannya sedang padat-padatnya.

Selama dia diisolasi, hampir tak terhitung berapa kali dia menelepon saya. Padahal, sebelumnya dia termasuk jarang menelepon saya. Saat itulah saya mencoba mengulik kebiasaan-kebiasaannya yang katanya sudah sehat itu. Dari sinilah saya baru tahu, ternyata dia termasuk yang tidak suka mengonsumsi vitamin, suplemen, ataupun multivitamin. Dia beralasan, itu semua adalah obat-obatan kimia. Dia beranggapan, mengonsumsi vitamin, suplemen, ataupun multivitamin berupa tablet atau kapsul tidaklah baik bagi tubuh.

Saya kurang setuju dengan pendapatnya. Mengapa? Karena kebetulan, saya termasuk yang rajin mengonsumsi vitamin atau suplemen, atau multivitamin, apalagi di era pandemi sekarang ini. Sebab, menurut saya, tubuh perlu di-support dengan tambahan vitamin, suplemen, ataupun multivitamin agar daya tahan tubuh (imunitas) meningkat. Apalagi untuk kategori orang yang padat aktivitasnya. Saya pun menduga, kawan saya itu akhirnya terkena Covid-19 karena daya tahan tubuhnya melemah. Ketika aktivitas padat, lalu tubuh tidak di-support dengan vitamin, suplemen, ataupun multivitamin yang memadai, maka melemahlah sistem imunnya. Dan dalam kondisi seperti ini, Covid-19 pun dengan mudah masuk ke tubuh. Saya berkesimpulan, kawan saya ini terlalu pede. Terlalu pede membuatnya terlena. Terlalu pede membuatnya menjadi kurang waspada.

Pede memang baik. Tapi, khusus di era pandemi seperti sekarang ini, sebaiknya jangan pede. Kita harus selalu waspada. Jangan pernah merasa, jika sudah begini-begitu, sudah melakukan ini-itu, tidak akan terkena Covid-19. Sebaliknya, kita harus selalu merasa, bahwa Covid-19 ada di dekat kita. Sewaktu-waktu bisa masuk ke tubuh kita. Bisa menyerang kita. Dengan selalu merasa seperti ini, maka kita akan selalu waspada. Dan selalu waspada itu berbeda dengan paranoid. Waspada itu antisipatif. Kalau paranoid itu takut. Jadi, jelaslah berbeda antara antisipatif dan takut.

Seorang kawan pernah meledek saya begitu tahu isi yang ada di dalam tas yang selalu saya bawa. Di dalam tas saya tersedia hand sanitizer. Sampai tiga botol. Ada minyak eucalyptus. Ada obat probiotik khusus minum. Ada probiotik khusus semprot hidung. Dan ada juga aneka vitamin, suplemen, dan multivitamin. ”Ente kok kayak paranoid gitu,” kata teman saya. ”Kalau paranoid, saya nggak berani keluar rumah, Bro.” ”Ini namanya waspada. Ibarat perang, ini adalah senjata dan amunisi saya.” Ndilalah, kawan yang meledek saya paranoid itu beberapa hari kemudian terkena Covid-19. Lho… iya kan? Masih pede jika urusannya dengan Covid-19? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru