alexametrics
23 C
Malang
Wednesday, 6 July 2022

Diundang Jadi Reviewer di Belanda, Rektor UIN Malang Kenalkan Islam Moderat

Oleh: Rektor UIN Maliki Malang, Prof M Zainuddin 

REKTOR UIN Maliki Malang Prof M Zainuddin bersama empat orang tim nya baru saja melakukan lawatan ke Belanda. Beragam acara forum keilmiahan sukses dilaksanakan oleh tim dengan sejumlah catatan rekomendasi yang bisa dikembangkan bagi pengembangan kampus UIN dan secara umum peradaban Islam di tanah air. Prof M Zainuddin berkesempatan menjadi convener (reviewer) dalam forum 3rd Biennal International Conference on Reimagining Religion and Values in Time of (societal) Crisis. Forum ini diselenggarakan oleh PCINU Belanda, kemudian mengikuti expert meeting dengan Nuffic dan kedutaan di Belanda, serta terakhir memenuhi undangan para mahasiswa program PhD tentang Moderat Islam yang tinggal di Belanda. Berikut catatan perjalannya yang ditulis dengan gaya bertutur.

Hari Pertama

Alhamdulillah wa fi ‘anillah, saya tiba di Belanda dalam keadaan sehat. Perjalanan juga lancar. Hari itu, Selasa, 7 Juni lalu, saya mendapat kesempatan menjadi convener (reviewer) dalam forum 3rd Biennal International Conference on Reimagining Religion and Values in Time of (societal) Crisis. Forum ini diselenggarakan oleh PCINU Belanda.

Dari Surabaya, saya naik pasawat Garuda menuju Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Saya tiba pukul 19.30 di Jakarta. Kemudian pukul 00. 00 saya bertolak dari Cengkareng menuju Belanda. Tepat pukul 13.00 saya tiba di Bandara Schiphol, setelah transit di Dubai airport, Rabu, 8 Juni lalu.

Delegasi dari UIN Malang ada empat orang: Dr Isyraqunnajah (warek IV bidang kerja sama), Drs Basri PhD (Wadir Bidang Akademik PPs), Dr Sri Harini (dekan Fakultas Saintek), Prof Dr Tutik Hamidah (guru besar dan anggota senat), dan Jamila MA (dosen FITK dan kandidat PhD di Universitas di Belanda).

Begitu tiba di Bandara Schipol, saya dijemput oleh Mas Syafii, salah satu panitia penyelenggara yang asli Madura itu untuk langsung menuju tempat konferensi dan mengikuti season pertama. Konferensi diselenggarakan di kampus Vrije Uniersitet, salah satu kampus ternama di Belanda.

Ternyata di arena acara sudah banyak peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Mereka menyambut dengan hangat dan menyenangkan. Usai acara, semua berpose bersama, saling mengenal antar narasumber dan peserta. Untuk selanjutnya break, dan malam hari bersama tim dari UIN Malang menuju hotel Ibis dengan tram. Jarak lokasi konferensi dengan Den Haag tempat kami menginap lumayan jauh.

Hari kedua

EXPERT MEETING DAN INTERFAITH DIALOGUE

Hari itu Kamis, 9 Juni 2022 kami bersiap untuk melanjutkan agenda expert meeting dengan Nuffic dan kedutaan di Belanda. Nuffic (the Netherlands Organisation for International Cooperation in Higher Education) adalah organisasi independen non-profit yang berbasis di Den Haag, Belanda.

Ada dua agenda pada kegiatan siang itu: Expert Meeting dan Interfaith Dialogue. Dalam acara expert meeting itu sebagai narasumbernya adalah Peter Van Tuijl (Netherland Support Education of Indonesia), Ulil Abshar Abdalla (PBNU), Prof Martin K PhD (rektor UIN Padang), Dr Din Wahid (Adikbud Belanda) Prof M Zainuddin (Rektor UIN Maliki Malang). Acara dipandu oleh Mbak Yus, salah seorang panitia penyelenggara yang dari Indonesia. Agenda hari kedua konferensi ini diselenggarakan di gereja ternama di Den Haag.

Dalam pertemuan tersebut dibincang berbagai hal, terutama menyangkut Islam Indonesia: sosial, budaya, dan khususnya perkembangan pendidikan madrasah dan pesantren dan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Masing-masing menyampaikan orasinya dan dilanjutkan dengan dialog yang intens dari beberapa ekspert, termasuk dari Belanda hingga selesai (pukul. 12.00 waktu Belanda).

Usai coffee break, dilanjutkan agenda 7th Indonesia-The Netherlands Interfaith Dialogue yang dipandu oleh 2 moderator: satu dari Indonesia dan satunya lagi perempuan dari Belanda. Sementara narasumbernya dari berbagai utusan dan perwakilan, baik dari Indonesia maupun Belanda. Hadir para expert dunia dari berbagai bidang keilmuan. Hadir pula Prof Farid Al-Attas dari NUS (National University of Singapura). Dalam dialog tersebut dibahas banyak tentang hubungan Indonesia-Belanda dari aspek kerja sama dan dialog antaragama. Termasuk diselipkan peringatan singkat mendiang Prof Karel Stenbring dengan dibacakan riwayat hidup dan perannya sebagai seorang islamisis, khususnya Indonesian Islam.

Usai sesi kedua dilanjut dengan sesi ketiga yang dibuka oleh Prof Mahfud MD (Menko Polhukam). Acara terus berlangsung dengan khidmat hingga sore hari.

JAMUAN MAKAN MALAM DI KEDUBES RI 

Usai pertemuan sore itu, peserta dan narasumber dijamu makan malam di rumah dinas Dubes Indonesia untuk Belanda. Sebelum makan malam dimulai dengan sambutan-sambutan dari Dubes RI H. E Mayerfas, Menko Polhukam Mahfud MD, dan perwakilan dari Nuffic Neso Peter Van Tuijl.

Dalam sambutannya, mereka saling mengucapkan terima kasih atas kerja samanya (Belanda-Indonesia) dalam berbagai bidang, utamanya pendidikan. Pak Mahfud juga menyampaikan sekilas tentang sejarah dan semangat juang para tokoh organisasi Islam Indonesia (Muhammadiyah-NU) dalam kemerdekaan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Dan mengharapkan peran tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya. Maka Islam moderat harus menjadi pilihannya.

Dalam acara Dinner itu disuguhkan beberapa pertunjukan seni, di antaranya seni tari Indonesia. Makan malam bersama selesai dan kami kembali ke hotel untuk melanjutkan agenda esok hari (Jumat, 10/6/2022).

Hari ketiga

Menuju Leiden. Hari Jumat, 10 Juni 2022 pukul 09.00 (waktu Belanda) dari hotel Ibis Den Haag, saya menuju Leiden dengan kereta api cepat. Melanjutkan kegiatan untuk memenuhi undangan para mahasiswa program PhD tentang Moderat Islam di sebuah apartemen.

Saya jalan kaki dari apartemen menuju tempat tersebut karena tidak terlalu jauh dari apartemen yang saya tinggali di May Flower itu. Sebagaimana biasanya, setiap saya melakukan rihlah ilmiah, baik itu konferensi maupun research collaborative, maka selalu saya sempatkan hadir memenuhi undangan mereka. Beberapa ceramah ilmiah dan diskusi yang pernah saya lakukan dengan diaspora di beberapa negara, misalnya di Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, Australia, Belanda dan Austria (Wina). Diskusi kali ini adalah tentang “Peta Umat Islam Indonesia Kontemporer dan Wacana Moderasi Keberagamaan”. Sekitar dua jam kita diskusi dan dialog, mereka antusias mengikutinya.

KEMBALI KE INDONESIA 

Hari Sabtu, 11 Juni 2022 pukul 06.00 waktu Belanda (CEST) saya check out dari hotel May Flower di Leiden menuju airport Shiphol yang diantar oleh Syharir, Ph.D, lulusan Leiden Universiteit. Alhamdulillah, semoga berkah dan manfaat segala sesuatunya dimudahkan oleh Allah Swt.(*)

Oleh: Rektor UIN Maliki Malang, Prof M Zainuddin 

REKTOR UIN Maliki Malang Prof M Zainuddin bersama empat orang tim nya baru saja melakukan lawatan ke Belanda. Beragam acara forum keilmiahan sukses dilaksanakan oleh tim dengan sejumlah catatan rekomendasi yang bisa dikembangkan bagi pengembangan kampus UIN dan secara umum peradaban Islam di tanah air. Prof M Zainuddin berkesempatan menjadi convener (reviewer) dalam forum 3rd Biennal International Conference on Reimagining Religion and Values in Time of (societal) Crisis. Forum ini diselenggarakan oleh PCINU Belanda, kemudian mengikuti expert meeting dengan Nuffic dan kedutaan di Belanda, serta terakhir memenuhi undangan para mahasiswa program PhD tentang Moderat Islam yang tinggal di Belanda. Berikut catatan perjalannya yang ditulis dengan gaya bertutur.

Hari Pertama

Alhamdulillah wa fi ‘anillah, saya tiba di Belanda dalam keadaan sehat. Perjalanan juga lancar. Hari itu, Selasa, 7 Juni lalu, saya mendapat kesempatan menjadi convener (reviewer) dalam forum 3rd Biennal International Conference on Reimagining Religion and Values in Time of (societal) Crisis. Forum ini diselenggarakan oleh PCINU Belanda.

Dari Surabaya, saya naik pasawat Garuda menuju Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Saya tiba pukul 19.30 di Jakarta. Kemudian pukul 00. 00 saya bertolak dari Cengkareng menuju Belanda. Tepat pukul 13.00 saya tiba di Bandara Schiphol, setelah transit di Dubai airport, Rabu, 8 Juni lalu.

Delegasi dari UIN Malang ada empat orang: Dr Isyraqunnajah (warek IV bidang kerja sama), Drs Basri PhD (Wadir Bidang Akademik PPs), Dr Sri Harini (dekan Fakultas Saintek), Prof Dr Tutik Hamidah (guru besar dan anggota senat), dan Jamila MA (dosen FITK dan kandidat PhD di Universitas di Belanda).

Begitu tiba di Bandara Schipol, saya dijemput oleh Mas Syafii, salah satu panitia penyelenggara yang asli Madura itu untuk langsung menuju tempat konferensi dan mengikuti season pertama. Konferensi diselenggarakan di kampus Vrije Uniersitet, salah satu kampus ternama di Belanda.

Ternyata di arena acara sudah banyak peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Mereka menyambut dengan hangat dan menyenangkan. Usai acara, semua berpose bersama, saling mengenal antar narasumber dan peserta. Untuk selanjutnya break, dan malam hari bersama tim dari UIN Malang menuju hotel Ibis dengan tram. Jarak lokasi konferensi dengan Den Haag tempat kami menginap lumayan jauh.

Hari kedua

EXPERT MEETING DAN INTERFAITH DIALOGUE

Hari itu Kamis, 9 Juni 2022 kami bersiap untuk melanjutkan agenda expert meeting dengan Nuffic dan kedutaan di Belanda. Nuffic (the Netherlands Organisation for International Cooperation in Higher Education) adalah organisasi independen non-profit yang berbasis di Den Haag, Belanda.

Ada dua agenda pada kegiatan siang itu: Expert Meeting dan Interfaith Dialogue. Dalam acara expert meeting itu sebagai narasumbernya adalah Peter Van Tuijl (Netherland Support Education of Indonesia), Ulil Abshar Abdalla (PBNU), Prof Martin K PhD (rektor UIN Padang), Dr Din Wahid (Adikbud Belanda) Prof M Zainuddin (Rektor UIN Maliki Malang). Acara dipandu oleh Mbak Yus, salah seorang panitia penyelenggara yang dari Indonesia. Agenda hari kedua konferensi ini diselenggarakan di gereja ternama di Den Haag.

Dalam pertemuan tersebut dibincang berbagai hal, terutama menyangkut Islam Indonesia: sosial, budaya, dan khususnya perkembangan pendidikan madrasah dan pesantren dan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Masing-masing menyampaikan orasinya dan dilanjutkan dengan dialog yang intens dari beberapa ekspert, termasuk dari Belanda hingga selesai (pukul. 12.00 waktu Belanda).

Usai coffee break, dilanjutkan agenda 7th Indonesia-The Netherlands Interfaith Dialogue yang dipandu oleh 2 moderator: satu dari Indonesia dan satunya lagi perempuan dari Belanda. Sementara narasumbernya dari berbagai utusan dan perwakilan, baik dari Indonesia maupun Belanda. Hadir para expert dunia dari berbagai bidang keilmuan. Hadir pula Prof Farid Al-Attas dari NUS (National University of Singapura). Dalam dialog tersebut dibahas banyak tentang hubungan Indonesia-Belanda dari aspek kerja sama dan dialog antaragama. Termasuk diselipkan peringatan singkat mendiang Prof Karel Stenbring dengan dibacakan riwayat hidup dan perannya sebagai seorang islamisis, khususnya Indonesian Islam.

Usai sesi kedua dilanjut dengan sesi ketiga yang dibuka oleh Prof Mahfud MD (Menko Polhukam). Acara terus berlangsung dengan khidmat hingga sore hari.

JAMUAN MAKAN MALAM DI KEDUBES RI 

Usai pertemuan sore itu, peserta dan narasumber dijamu makan malam di rumah dinas Dubes Indonesia untuk Belanda. Sebelum makan malam dimulai dengan sambutan-sambutan dari Dubes RI H. E Mayerfas, Menko Polhukam Mahfud MD, dan perwakilan dari Nuffic Neso Peter Van Tuijl.

Dalam sambutannya, mereka saling mengucapkan terima kasih atas kerja samanya (Belanda-Indonesia) dalam berbagai bidang, utamanya pendidikan. Pak Mahfud juga menyampaikan sekilas tentang sejarah dan semangat juang para tokoh organisasi Islam Indonesia (Muhammadiyah-NU) dalam kemerdekaan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Dan mengharapkan peran tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya. Maka Islam moderat harus menjadi pilihannya.

Dalam acara Dinner itu disuguhkan beberapa pertunjukan seni, di antaranya seni tari Indonesia. Makan malam bersama selesai dan kami kembali ke hotel untuk melanjutkan agenda esok hari (Jumat, 10/6/2022).

Hari ketiga

Menuju Leiden. Hari Jumat, 10 Juni 2022 pukul 09.00 (waktu Belanda) dari hotel Ibis Den Haag, saya menuju Leiden dengan kereta api cepat. Melanjutkan kegiatan untuk memenuhi undangan para mahasiswa program PhD tentang Moderat Islam di sebuah apartemen.

Saya jalan kaki dari apartemen menuju tempat tersebut karena tidak terlalu jauh dari apartemen yang saya tinggali di May Flower itu. Sebagaimana biasanya, setiap saya melakukan rihlah ilmiah, baik itu konferensi maupun research collaborative, maka selalu saya sempatkan hadir memenuhi undangan mereka. Beberapa ceramah ilmiah dan diskusi yang pernah saya lakukan dengan diaspora di beberapa negara, misalnya di Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, Australia, Belanda dan Austria (Wina). Diskusi kali ini adalah tentang “Peta Umat Islam Indonesia Kontemporer dan Wacana Moderasi Keberagamaan”. Sekitar dua jam kita diskusi dan dialog, mereka antusias mengikutinya.

KEMBALI KE INDONESIA 

Hari Sabtu, 11 Juni 2022 pukul 06.00 waktu Belanda (CEST) saya check out dari hotel May Flower di Leiden menuju airport Shiphol yang diantar oleh Syharir, Ph.D, lulusan Leiden Universiteit. Alhamdulillah, semoga berkah dan manfaat segala sesuatunya dimudahkan oleh Allah Swt.(*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/