24.7 C
Malang
Tuesday, 6 December 2022

Wajah Kali

Kosokan watu ning kali nyemplung ning kedhung
Jaman ndisik durung usum sabun
Andhukku mung cukup andhuk sarung
Dolananku montor cilik soko lempung

Anda pernah mendengar la­gu berjudul “Kuncung” kar­ya almarhum Didi Kem­pot itu? Cuplikan di atas meng­­­gambarkan betapa ke­ceriaan bisa terjadi dalam ke­sederhanaan di tengah ke­indahan alam. Dan, kali alias sungai adalah spot ter­indah untuk menik­matinya.

Di sungai, anak-anak bisa sa­ling bertemu, ber­inte­raksi, dan bermain ber­sa­ma-sama. Di sungai, ibu-ibu dan gadis remaja demikian pula. Pendeknya, sungai adalah sebuah wahana besar tempat terjadinya interaksi sosial.

Pada sungai-sungai yang besar, bukan hanya interaksi sosial berupa obrolan sehari-hari antar-warga yang terjadi. Akan tetapi, juga persoalan-persoalan yang lebih luas lagi. Soal perdagangan. Bahkan soal kenegaraan.

Sebab, sungai-sungai besar adalah jalur transportasi utama. Yang menghubungkan antar-wilayah. Tempat para saudagar mengirim dagangannya ke pasar luar daerah. Tempat para penguasa negeri adidaya mengirim ekspedisi militer untuk menginvasi wilayah-wilayah lain.
Karena itu, disadari atau tidak, sungai adalah ibu kandung peradaban kita: umat manusia. Di sanalah terletak sumber penghidupan. Maka sungai menjadi sangat dihormati.

Kawasan yang berada di sepanjang tepian sungai-sungai besar adalah kawasan elite. Rumah-rumah yang didirikan, dihadapkan mukanya pada sungai. Bukan membelakanginya. Sungai menjadi latar depan, bukan latar belakang.

Dan, karena menjadi latar depan, sungai sangat dijaga keberadaannya. Kebersihannya. Keindahannya. Sebab, mengotori atau merusaknya sama dengan mengotori dan merusak muka alias wajah sendiri.

Yang Tze di Tiongkok. Nil di Mesir. Gangga di India. Amazon di Amerika. Musi di Palembang. Brantas di Jawa Timur. Semua adalah sungai-sungai besar dengan jejak peradaban yang membentang hingga ribuan tahun lalu. Yang menghidupi jutaan nyawa di sepanjang aliran airnya.

Brantas yang berhulu di Malang bahkan menyimpan kisah kejayaan Singasari atas bangsa asing. Hanya Singasarilah yang berani mempermalukan pasukan Mongol yang dikenal sebagai pasukan adidaya di muka bumi pada masanya. Yakni, lewat kisah heroik Raja Kertanegara -raja besar yang memiliki konsep besar Dwipantara- yang memotong sebelah telinga utusan Raja Kubilai Khan yang memintanya tunduk di bawah Mongol.

Di Brantas pula, Raja Airlangga pada abad 11 Masehi membuktikan bahwa peradaban Nusantara sudah jauh lebih dulu maju dibanding Eropa. Yakni, dengan dibangunnya dawuhan alias waduk-waduk untuk mengatasi banjir sekaligus mengairi lahan-lahan pertanian. Ini terjadi jauh sebelum Kerajaan Belanda yang dikenal dengan teknologi pengairannya berdiri.

Maka, jika Minggu lalu (6/11) digelar Gerakan Bersih-Bersih Sungai Resik-Resik Sampah (Rempah) oleh mahasiswa Fakultas Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) bersama lintas-elemen, hal itu perlu terus dilakukan dengan dilengkapi gerakan budaya. Untuk mengembalikan kesadaran yang telah lama hilang di tengah-tengah masyarakat kita. Yakni, bahwa sungai adalah ibu kandung peradaban kita.

Sebagai ibu kandung, sudah barang tentu kita harus menghormatinya. Mengagungkannya. Menjadikannya cermin dari perilaku keseharian kita. Bukan justru melecehkannya. Menghinakannya.

Sudah berpuluh tahun sejak sungai bukan lagi dianggap sebagai ibu kandung peradaban, rumah-rumah tak lagi menghadapkan wajahnya ke sana. Yang terjadi justru membelakangi. Sungai adalah latar belakang. Semata tempat membuang kotoran. Aneka sampah. Bahkan juga mayat-mayat dan limbah industri. Karena itu, jangan heran jika sebagai “ibu” sungai-sungai lantas menunjukkan murkanya kepada anak-anaknya yang durhaka.

Tak mudah memang. Gerakan budaya butuh napas panjang. Harus dilakukan terus menerus. Sebab, yang hendak dibangun adalah kesadaran. Dan, kesadaran bukan proses yang simsalabim. Untuk itu, butuh kolaborasi yang lebih luas lagi. Perguruan tinggi, pemerintah, pengusaha, aktivis pencinta lingkungan, budayawan, agamawan, media, dan berbagai elemen masyarakat yang lain.

Sebagai anak-cucu Kertanegara, tentu ini bukan hal yang mustahil untuk kita lakukan bersama-sama. Oyi? (*)

Kosokan watu ning kali nyemplung ning kedhung
Jaman ndisik durung usum sabun
Andhukku mung cukup andhuk sarung
Dolananku montor cilik soko lempung

Anda pernah mendengar la­gu berjudul “Kuncung” kar­ya almarhum Didi Kem­pot itu? Cuplikan di atas meng­­­gambarkan betapa ke­ceriaan bisa terjadi dalam ke­sederhanaan di tengah ke­indahan alam. Dan, kali alias sungai adalah spot ter­indah untuk menik­matinya.

Di sungai, anak-anak bisa sa­ling bertemu, ber­inte­raksi, dan bermain ber­sa­ma-sama. Di sungai, ibu-ibu dan gadis remaja demikian pula. Pendeknya, sungai adalah sebuah wahana besar tempat terjadinya interaksi sosial.

Pada sungai-sungai yang besar, bukan hanya interaksi sosial berupa obrolan sehari-hari antar-warga yang terjadi. Akan tetapi, juga persoalan-persoalan yang lebih luas lagi. Soal perdagangan. Bahkan soal kenegaraan.

Sebab, sungai-sungai besar adalah jalur transportasi utama. Yang menghubungkan antar-wilayah. Tempat para saudagar mengirim dagangannya ke pasar luar daerah. Tempat para penguasa negeri adidaya mengirim ekspedisi militer untuk menginvasi wilayah-wilayah lain.
Karena itu, disadari atau tidak, sungai adalah ibu kandung peradaban kita: umat manusia. Di sanalah terletak sumber penghidupan. Maka sungai menjadi sangat dihormati.

Kawasan yang berada di sepanjang tepian sungai-sungai besar adalah kawasan elite. Rumah-rumah yang didirikan, dihadapkan mukanya pada sungai. Bukan membelakanginya. Sungai menjadi latar depan, bukan latar belakang.

Dan, karena menjadi latar depan, sungai sangat dijaga keberadaannya. Kebersihannya. Keindahannya. Sebab, mengotori atau merusaknya sama dengan mengotori dan merusak muka alias wajah sendiri.

Yang Tze di Tiongkok. Nil di Mesir. Gangga di India. Amazon di Amerika. Musi di Palembang. Brantas di Jawa Timur. Semua adalah sungai-sungai besar dengan jejak peradaban yang membentang hingga ribuan tahun lalu. Yang menghidupi jutaan nyawa di sepanjang aliran airnya.

Brantas yang berhulu di Malang bahkan menyimpan kisah kejayaan Singasari atas bangsa asing. Hanya Singasarilah yang berani mempermalukan pasukan Mongol yang dikenal sebagai pasukan adidaya di muka bumi pada masanya. Yakni, lewat kisah heroik Raja Kertanegara -raja besar yang memiliki konsep besar Dwipantara- yang memotong sebelah telinga utusan Raja Kubilai Khan yang memintanya tunduk di bawah Mongol.

Di Brantas pula, Raja Airlangga pada abad 11 Masehi membuktikan bahwa peradaban Nusantara sudah jauh lebih dulu maju dibanding Eropa. Yakni, dengan dibangunnya dawuhan alias waduk-waduk untuk mengatasi banjir sekaligus mengairi lahan-lahan pertanian. Ini terjadi jauh sebelum Kerajaan Belanda yang dikenal dengan teknologi pengairannya berdiri.

Maka, jika Minggu lalu (6/11) digelar Gerakan Bersih-Bersih Sungai Resik-Resik Sampah (Rempah) oleh mahasiswa Fakultas Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) bersama lintas-elemen, hal itu perlu terus dilakukan dengan dilengkapi gerakan budaya. Untuk mengembalikan kesadaran yang telah lama hilang di tengah-tengah masyarakat kita. Yakni, bahwa sungai adalah ibu kandung peradaban kita.

Sebagai ibu kandung, sudah barang tentu kita harus menghormatinya. Mengagungkannya. Menjadikannya cermin dari perilaku keseharian kita. Bukan justru melecehkannya. Menghinakannya.

Sudah berpuluh tahun sejak sungai bukan lagi dianggap sebagai ibu kandung peradaban, rumah-rumah tak lagi menghadapkan wajahnya ke sana. Yang terjadi justru membelakangi. Sungai adalah latar belakang. Semata tempat membuang kotoran. Aneka sampah. Bahkan juga mayat-mayat dan limbah industri. Karena itu, jangan heran jika sebagai “ibu” sungai-sungai lantas menunjukkan murkanya kepada anak-anaknya yang durhaka.

Tak mudah memang. Gerakan budaya butuh napas panjang. Harus dilakukan terus menerus. Sebab, yang hendak dibangun adalah kesadaran. Dan, kesadaran bukan proses yang simsalabim. Untuk itu, butuh kolaborasi yang lebih luas lagi. Perguruan tinggi, pemerintah, pengusaha, aktivis pencinta lingkungan, budayawan, agamawan, media, dan berbagai elemen masyarakat yang lain.

Sebagai anak-cucu Kertanegara, tentu ini bukan hal yang mustahil untuk kita lakukan bersama-sama. Oyi? (*)

Previous article#MalangBergerak
Next articlePolitik Baju Dinas

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/