alexametrics
29 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Islam dan Akuntansi

Boleh jadi, tak banyak yang tahu bahwa islam juga menerapkan prinsip-prinsip akuntansi. Setidaknya, ada empat konsep yang terkait antara islam dengan akuntansi

Konsep Pencatatan

Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi atau kejadian yang bersifat keuangan. Transaksi atau kejadian tersebut berdaya guna dalam bentuk satuan yang menginterpretasikan hasil proses tersebut.

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah secara tidak tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”–QS Al-Baqarah (02):282.

Yang dimaksud bermuamalah adalah berjual beli, berutang piutang, atau sewa-menyewa. Hampir sebagian besar aktivitas perusahaan merupakan aktivitas muamalah, baik itu dilakukan secara tunai maupun nontunai (accrual). Ayat di atas merupakan bukti bahwa peradaban Islam telah mengenal sistem pencatatan aktivitas bermuamalah dengan menggunakan basis accrual.

Perintah untuk melakukan pencatatan memiliki dua tujuan. Yakni menjadi bukti telah terjadi transaksi dan menjaga agar tidak terjadi manipulasi, baik dalam transaksi maupun hasil (laba) dari transaksi.

Jika memahami Alquran, ternyata Allah adalah Maha Akuntan. Di dalam pengelolaan sistem jagat dan manajemen alam dibutuhkan fungsi akuntansi. Allah tidak membiarkan manusia bebas tanpa monitoring dan objek pencatatan. Allah memiliki akuntan malaikat bernama Rakib dan Atid. Kedua malaikat itu bertugas selalu menjurnal semua aktivitas kehidupan, kemudian menghasilkan buku atau neraca sebagaimana telah tercantum dalam Alquran: ”Ketika kedua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”–QS Qaaf (50):17.

Hasil pencatatan kedua malaikat berbentuk laporan amalan baik disebut ”sijjin” dan laporan amalan buruk disebut ”illyin”. Catatan itu nantinya akan dilaporkan kepada Allah (principal) di akhirat.

Konsep Penyajian Jujur dan Adil

Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang harusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.

Aktivitas bermuamalah mengharuskan pencatatan untuk tujuan keadilan dan kebenaran sebagaimana diperintahkan dalam Alquran sebagai berikut. ”Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya…”–QS Al-Baqarah (02):282.

”Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun Kami mendatangkan (pahala)-nya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.”–QS Al-Anbiyaa (21):47

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”–QS An-Nisaa (04):29.

”Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”–QS Al-Mutaffifin (83):1-3.

Ayat di atas memerintahkan manusia dalam bermuamalah agar tidak melakukan manipulasi dalam setiap transaksi. Istilah ”jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka”, di bidang akuntansi dapat diterjemahkan sebagai prinsip akuntansi berterima umum. Oleh sebab itu, manajemen dibantu akuntan dalam mengukur dan melaporkan transaksi-transaksi ekonomi berlandaskan akuntansi berterima umum yang tidak boleh meninggalkan nilai kebenaran dan kejujuran.

Konsep Efisiensi

Islam menganjurkan bahkan mewajibkan efisiensi. Tuhan telah menggariskan bahwa pemborosan merupakan pekerjaan setan. ”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan sesungguhnya setan sangat ingkar kepada Tuhannya.”–QS Al-Isra’ (17):26-27.

Ayat tersebut telah memerintahkan kepada umat manusia untuk berbuat efisien atas semua hal. Dalam lingkup akuntansi, setiap pengeluaran kas (belanja) harus mempertimbangkan prinsip efisiensi. Saat ini, akuntansi telah memperkenalkan beberapa metode untuk efisiensi, seperti just in time (JIT), economic value added (EVA), activity based costing (ABC), dan sebagainya.

Konsep Akuntabilitas

Laporan keuangan bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta pertumbuhan posisi keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan ini diharapkan bermanfaat bagi sejumlah pengambilan keputusan ekonomi. Bagi manajemen, laporan keuangan berperan sebagai alat pertanggungjawaban atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pengguna yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau dipertanggungjawabkan bermanfaat bagi pemakai laporan keuangan. Manfaat dalam membuat keputusan ekonomi, di dalam melakukan akuntabilitas, manajemen membutuhkan alat bantu berupa sistem yang andal.

Akuntansi bukan sekadar sistem informasi kondisi bisnis, namun sarana manajemen mempertanggungjawabkan pengelolaan atas perusahaan yang diamanahkan kepadanya. Akuntansi memerlukan way of life dan ideologi baru yang memberi semangat dan dorongan kuat untuk mengarahkan akuntansi pada akuntabilitas. Way of life dalam pendekatan konvensional adalah menghamba kepada pemilik modal.

Ideologi Islam menjawab agar dalam berbisnis harus jujur, tidak mengambil hak orang lain, dan menjaga amanah. Untuk itu, perlu laporan pertanggungjawaban. Konsep akuntabilitas atas semua tindakan yang telah dilakukan tertuang dalam Alquran sebagai berikut: ”Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?”–QS Al-Qiyamah(75):36.

”Dan jangan kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban,”–QS Al-Israa (17):36.

Pada saat manajemen mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya kepada principal, maka dibutuhkan alat bukti berupa laporan keuangan. Laporan keuangan adalah ringkasan semua bukti transaksi. Konsep diperlukannya bukti dalam menjalankan akuntabilitas atas semua tindakan yang dilakukan oleh manusia tertuang dalam Alquran sebagai berikut:

”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap yang dahulu mereka kerjakan.”–QS Yaa-siin (36):65.

”Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” –QS Fushilat (41):19.

Laporan keuangan sebagai alat bagi manajemen dalam mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya perlu diuji kebenarannya. Sebab, manajemen dianggap berpeluang berperilaku tidak adil dan tidak objektif dalam melaporkan hasil prestasinya.

Oleh karena itu, diperlukan penyaksi independen untuk menjamin bahwa laporan keuangan yang disusun manajemen sesuai standar akuntansi keuangan. Dalam konteks ini, Alquran memberikan pedoman yang diberikan kepada auditor independen sebagai pelaku ”attest function” sebagai berikut:

”Wahai orang-orang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu, bapak, dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”–QS An-Nisaa (04):135. Ayat tersebut menunjukkan seorang akuntan/auditor harus berbuat independen dan objektif. (*)

Boleh jadi, tak banyak yang tahu bahwa islam juga menerapkan prinsip-prinsip akuntansi. Setidaknya, ada empat konsep yang terkait antara islam dengan akuntansi

Konsep Pencatatan

Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi atau kejadian yang bersifat keuangan. Transaksi atau kejadian tersebut berdaya guna dalam bentuk satuan yang menginterpretasikan hasil proses tersebut.

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah secara tidak tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”–QS Al-Baqarah (02):282.

Yang dimaksud bermuamalah adalah berjual beli, berutang piutang, atau sewa-menyewa. Hampir sebagian besar aktivitas perusahaan merupakan aktivitas muamalah, baik itu dilakukan secara tunai maupun nontunai (accrual). Ayat di atas merupakan bukti bahwa peradaban Islam telah mengenal sistem pencatatan aktivitas bermuamalah dengan menggunakan basis accrual.

Perintah untuk melakukan pencatatan memiliki dua tujuan. Yakni menjadi bukti telah terjadi transaksi dan menjaga agar tidak terjadi manipulasi, baik dalam transaksi maupun hasil (laba) dari transaksi.

Jika memahami Alquran, ternyata Allah adalah Maha Akuntan. Di dalam pengelolaan sistem jagat dan manajemen alam dibutuhkan fungsi akuntansi. Allah tidak membiarkan manusia bebas tanpa monitoring dan objek pencatatan. Allah memiliki akuntan malaikat bernama Rakib dan Atid. Kedua malaikat itu bertugas selalu menjurnal semua aktivitas kehidupan, kemudian menghasilkan buku atau neraca sebagaimana telah tercantum dalam Alquran: ”Ketika kedua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”–QS Qaaf (50):17.

Hasil pencatatan kedua malaikat berbentuk laporan amalan baik disebut ”sijjin” dan laporan amalan buruk disebut ”illyin”. Catatan itu nantinya akan dilaporkan kepada Allah (principal) di akhirat.

Konsep Penyajian Jujur dan Adil

Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang harusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.

Aktivitas bermuamalah mengharuskan pencatatan untuk tujuan keadilan dan kebenaran sebagaimana diperintahkan dalam Alquran sebagai berikut. ”Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya…”–QS Al-Baqarah (02):282.

”Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun Kami mendatangkan (pahala)-nya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.”–QS Al-Anbiyaa (21):47

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”–QS An-Nisaa (04):29.

”Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”–QS Al-Mutaffifin (83):1-3.

Ayat di atas memerintahkan manusia dalam bermuamalah agar tidak melakukan manipulasi dalam setiap transaksi. Istilah ”jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka”, di bidang akuntansi dapat diterjemahkan sebagai prinsip akuntansi berterima umum. Oleh sebab itu, manajemen dibantu akuntan dalam mengukur dan melaporkan transaksi-transaksi ekonomi berlandaskan akuntansi berterima umum yang tidak boleh meninggalkan nilai kebenaran dan kejujuran.

Konsep Efisiensi

Islam menganjurkan bahkan mewajibkan efisiensi. Tuhan telah menggariskan bahwa pemborosan merupakan pekerjaan setan. ”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan sesungguhnya setan sangat ingkar kepada Tuhannya.”–QS Al-Isra’ (17):26-27.

Ayat tersebut telah memerintahkan kepada umat manusia untuk berbuat efisien atas semua hal. Dalam lingkup akuntansi, setiap pengeluaran kas (belanja) harus mempertimbangkan prinsip efisiensi. Saat ini, akuntansi telah memperkenalkan beberapa metode untuk efisiensi, seperti just in time (JIT), economic value added (EVA), activity based costing (ABC), dan sebagainya.

Konsep Akuntabilitas

Laporan keuangan bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta pertumbuhan posisi keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan ini diharapkan bermanfaat bagi sejumlah pengambilan keputusan ekonomi. Bagi manajemen, laporan keuangan berperan sebagai alat pertanggungjawaban atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pengguna yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau dipertanggungjawabkan bermanfaat bagi pemakai laporan keuangan. Manfaat dalam membuat keputusan ekonomi, di dalam melakukan akuntabilitas, manajemen membutuhkan alat bantu berupa sistem yang andal.

Akuntansi bukan sekadar sistem informasi kondisi bisnis, namun sarana manajemen mempertanggungjawabkan pengelolaan atas perusahaan yang diamanahkan kepadanya. Akuntansi memerlukan way of life dan ideologi baru yang memberi semangat dan dorongan kuat untuk mengarahkan akuntansi pada akuntabilitas. Way of life dalam pendekatan konvensional adalah menghamba kepada pemilik modal.

Ideologi Islam menjawab agar dalam berbisnis harus jujur, tidak mengambil hak orang lain, dan menjaga amanah. Untuk itu, perlu laporan pertanggungjawaban. Konsep akuntabilitas atas semua tindakan yang telah dilakukan tertuang dalam Alquran sebagai berikut: ”Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?”–QS Al-Qiyamah(75):36.

”Dan jangan kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban,”–QS Al-Israa (17):36.

Pada saat manajemen mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya kepada principal, maka dibutuhkan alat bukti berupa laporan keuangan. Laporan keuangan adalah ringkasan semua bukti transaksi. Konsep diperlukannya bukti dalam menjalankan akuntabilitas atas semua tindakan yang dilakukan oleh manusia tertuang dalam Alquran sebagai berikut:

”Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap yang dahulu mereka kerjakan.”–QS Yaa-siin (36):65.

”Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya). Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” –QS Fushilat (41):19.

Laporan keuangan sebagai alat bagi manajemen dalam mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya perlu diuji kebenarannya. Sebab, manajemen dianggap berpeluang berperilaku tidak adil dan tidak objektif dalam melaporkan hasil prestasinya.

Oleh karena itu, diperlukan penyaksi independen untuk menjamin bahwa laporan keuangan yang disusun manajemen sesuai standar akuntansi keuangan. Dalam konteks ini, Alquran memberikan pedoman yang diberikan kepada auditor independen sebagai pelaku ”attest function” sebagai berikut:

”Wahai orang-orang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu, bapak, dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”–QS An-Nisaa (04):135. Ayat tersebut menunjukkan seorang akuntan/auditor harus berbuat independen dan objektif. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru