alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Menemukan Kekuatan Jati Diri Guna Melampaui Keterbatasan

BERBICARA masa depan, mandat satu-satunya adalah kita harus mewariskan kehidupan kita ini, kehidupan yang cemerlang kepada generasi yang gemilang. Tugas kita adalah tidak meninggalkan dunia ini selain meninggalkan kecemerlangan kepada generasi yang gemilang, kepada generasi yang sanggup untuk melanjutkan kegemilangan. Kalau kita merasakan, dari sejak abad 12 kita telah mengalami kemunduran yang luar biasa, baik kemunduran ilmu pengetahuan, maupun kemunduran peradaban.

Kita mengetahui bahwa di abad 12 lahir ilmuwan-ilmuwan hebat, karya-karya hebat. Selama ratusan tahun, orang bertanya ekosistem yang seperti apa yang membuat lahirnya karya-karya besar itu. Ibnu Sina (370–428 H) menguasai bahasa Arab, geometri, fisika, logika, ilmu hukum Islam, teologi, dan ilmu kedokteran. Ibnu Rusyd (520–595 H) menguasai ilmu fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika astronomi, kedokteran, dan filsafat. Muhammad bin Musa al Khawarizmi (780–850 H) menguasai bidang matematika, astronomi, geografi, dan membuat buku al-Jabar, buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat; dan ilmuwan hebat lainnya.

Bahwa ketersediaan sumber daya untuk tumbuh dapat menghasilkan ilmu pengetahuan itu lahir dari kemakmuran. Maka kita kembali ke teologi kemakmuran, bahwa hidup manusia itu didesain hanya untuk memilih 2 (dua) hal. Makna Surat An Najm: 48, bahwa Allah sudah memberikan kepada umat manusia dua pilihan, pertama kemakmuran atau kecukupan. Manusia itu secara takdir, diperintahkan memilih, apakah memilih makmur atau memilih cukup. Dan kita memilih makmur, karena makmur itu melahirkan banyak hal, yaitu peradaban. Hanya dengan kemakmuran, ada kemajuan teknologi. Sehingga sebenarnya yang harus kita semai adalah pikiran-pikiran untuk selalu melahirkan ekosistem peradaban, dan ekosistem kemakmuran hanya bisa dilahirkan dari teologi kemakmuran. Pilihan hidup yang didasarkan kepada perintah Allah, yang bermakna spritualitas dengan kita selalu berusaha mengembangkan kemampuan kita untuk mengelola hidup lebih baik.

Pada masa pandemi sekarang ini, dapat kita pelajari dari 2 (dua) pesan penting dari Charles Darwin, yakni survive dan the fittest. Charles Darwin (1809) mengatakan ”It’s not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” Bukanlah yang paling pintar dan yang paling kuat yang dapat bertahan, tetapi yang paling responsif pada perubahan yang bisa bertahan. Kondisi pandemi ini luar biasa dahsyat, maka dia hanya memberi pesan kepada kita; yang akan survive, adalah the fittest. Charles Darwin (1811) juga mengatakan “In the struggle for survival, the fittest win out the expense of their rivals because they succeed in adapting themselves best to their environment.” Jadi dalam perjuangan untuk bertahan atau survive, maka salah satu hal yang paling penting adalah kita harus menjadi the fittest. Orang yang bisa survive adalah orang yang paling fit. Ini sebenarnya memberikan kita dorongan untuk melihat sendiri di lapangan, agar kita mampu melewati kesulitan sebagai upaya untuk membangun peradaban.
Maka justru hari ini kita harus mampu menyalip di tikungan, saatnya kita melaku­kan percepatan dan akselerasi, ini saatnya kita mengambil keputusan ketika orang lain tidak berani mengambil keputusan. Ini saatnya kita melakukan investasi pada inkubasi bisnis yang harus segera kita tanam ketika orang lain ragu-ragu. Memperhatikan di kondisi negara juga demikian, negara-negara di dunia sekarang sedang mengalami kesulitan, maka negara Indonesia harus­nya lebih cerdas, lebih cerdik untuk melakukan terobosan-terobosan ekonomi. Membangun budaya hidup yang cerdas, kreatif, inovatif, dan sebagainya.

Maka kita sebagai pemimpin mesti memosisikan diri untuk berani mengambil keputusan, di mana artinya ada harapan untuk perubahan. Kegelisahan dan kegundahan seorang pemimpin maka mun­cullah solusi-solusi dan lahirlah terobosan-terobosan, hal ini juga berlaku untuk diri kita, untuk skala mikro. Jadi justru seka­rang kita tidak boleh tinggal diam, kita tetap harus membuat keputusan setiap hari. Anak-anak muda justru waktunya menguras tenaga untuk belajar sesuatu yang baru. Sekarang justru waktunya untuk menulis buku. Riset juga membuktikan bahwa manusia mampu mengatasi berbagai persoalan ini.

Di balik masa pandemi ini, menjadi inkubasi yang melatih diri kita agar bisnis tumbuh menguat, yang menghasilkan energi yang berlimpah, yang menghasilkan pemimpin yang tambah kuat, lahirlah anak-anak yang paling tangguh, karena dia pernah lahir pada saat mengalami pandemi. Para suami menyadari mesti membekali anak-anaknya dengan hebat, para ibu sadar membekali putra-putrinya dengan banyak sekali keterampilan dan kompetensi. Kita melakukan transformasi dalam menghadapi kesulitan ini, yang menghasilkan kemampuan kita menjadi lebih kompetitif, memiliki kemampuan berkompetisi, memiliki kedaulatan untuk kreatif, dan mengasah kemampuan untuk membangun terobosan-terobosan dan melakukan perubahan yang lebih po­sitif. Karena itu, di masa pandemi ini kita tidak boleh pernah berhenti berpikir menghasilkan karya, melakukan sesuatu, membangun jaringan, melakukan networ­king, mendorong perubahan, melatih tim, dan kita akan sampai di zaman di mana musim semi pascapandemi akan segera tiba, bumi seperti disucikan kembali, disterilkan kembali, bumi akan menjadi rejuvinasi; meremajakan mereka yang tangguh, yaitu generasi gemilang yang akan mewarisi bumi ini. (*)

BERBICARA masa depan, mandat satu-satunya adalah kita harus mewariskan kehidupan kita ini, kehidupan yang cemerlang kepada generasi yang gemilang. Tugas kita adalah tidak meninggalkan dunia ini selain meninggalkan kecemerlangan kepada generasi yang gemilang, kepada generasi yang sanggup untuk melanjutkan kegemilangan. Kalau kita merasakan, dari sejak abad 12 kita telah mengalami kemunduran yang luar biasa, baik kemunduran ilmu pengetahuan, maupun kemunduran peradaban.

Kita mengetahui bahwa di abad 12 lahir ilmuwan-ilmuwan hebat, karya-karya hebat. Selama ratusan tahun, orang bertanya ekosistem yang seperti apa yang membuat lahirnya karya-karya besar itu. Ibnu Sina (370–428 H) menguasai bahasa Arab, geometri, fisika, logika, ilmu hukum Islam, teologi, dan ilmu kedokteran. Ibnu Rusyd (520–595 H) menguasai ilmu fikih, ilmu kalam, sastra Arab, matematika, fisika astronomi, kedokteran, dan filsafat. Muhammad bin Musa al Khawarizmi (780–850 H) menguasai bidang matematika, astronomi, geografi, dan membuat buku al-Jabar, buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat; dan ilmuwan hebat lainnya.

Bahwa ketersediaan sumber daya untuk tumbuh dapat menghasilkan ilmu pengetahuan itu lahir dari kemakmuran. Maka kita kembali ke teologi kemakmuran, bahwa hidup manusia itu didesain hanya untuk memilih 2 (dua) hal. Makna Surat An Najm: 48, bahwa Allah sudah memberikan kepada umat manusia dua pilihan, pertama kemakmuran atau kecukupan. Manusia itu secara takdir, diperintahkan memilih, apakah memilih makmur atau memilih cukup. Dan kita memilih makmur, karena makmur itu melahirkan banyak hal, yaitu peradaban. Hanya dengan kemakmuran, ada kemajuan teknologi. Sehingga sebenarnya yang harus kita semai adalah pikiran-pikiran untuk selalu melahirkan ekosistem peradaban, dan ekosistem kemakmuran hanya bisa dilahirkan dari teologi kemakmuran. Pilihan hidup yang didasarkan kepada perintah Allah, yang bermakna spritualitas dengan kita selalu berusaha mengembangkan kemampuan kita untuk mengelola hidup lebih baik.

Pada masa pandemi sekarang ini, dapat kita pelajari dari 2 (dua) pesan penting dari Charles Darwin, yakni survive dan the fittest. Charles Darwin (1809) mengatakan ”It’s not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” Bukanlah yang paling pintar dan yang paling kuat yang dapat bertahan, tetapi yang paling responsif pada perubahan yang bisa bertahan. Kondisi pandemi ini luar biasa dahsyat, maka dia hanya memberi pesan kepada kita; yang akan survive, adalah the fittest. Charles Darwin (1811) juga mengatakan “In the struggle for survival, the fittest win out the expense of their rivals because they succeed in adapting themselves best to their environment.” Jadi dalam perjuangan untuk bertahan atau survive, maka salah satu hal yang paling penting adalah kita harus menjadi the fittest. Orang yang bisa survive adalah orang yang paling fit. Ini sebenarnya memberikan kita dorongan untuk melihat sendiri di lapangan, agar kita mampu melewati kesulitan sebagai upaya untuk membangun peradaban.
Maka justru hari ini kita harus mampu menyalip di tikungan, saatnya kita melaku­kan percepatan dan akselerasi, ini saatnya kita mengambil keputusan ketika orang lain tidak berani mengambil keputusan. Ini saatnya kita melakukan investasi pada inkubasi bisnis yang harus segera kita tanam ketika orang lain ragu-ragu. Memperhatikan di kondisi negara juga demikian, negara-negara di dunia sekarang sedang mengalami kesulitan, maka negara Indonesia harus­nya lebih cerdas, lebih cerdik untuk melakukan terobosan-terobosan ekonomi. Membangun budaya hidup yang cerdas, kreatif, inovatif, dan sebagainya.

Maka kita sebagai pemimpin mesti memosisikan diri untuk berani mengambil keputusan, di mana artinya ada harapan untuk perubahan. Kegelisahan dan kegundahan seorang pemimpin maka mun­cullah solusi-solusi dan lahirlah terobosan-terobosan, hal ini juga berlaku untuk diri kita, untuk skala mikro. Jadi justru seka­rang kita tidak boleh tinggal diam, kita tetap harus membuat keputusan setiap hari. Anak-anak muda justru waktunya menguras tenaga untuk belajar sesuatu yang baru. Sekarang justru waktunya untuk menulis buku. Riset juga membuktikan bahwa manusia mampu mengatasi berbagai persoalan ini.

Di balik masa pandemi ini, menjadi inkubasi yang melatih diri kita agar bisnis tumbuh menguat, yang menghasilkan energi yang berlimpah, yang menghasilkan pemimpin yang tambah kuat, lahirlah anak-anak yang paling tangguh, karena dia pernah lahir pada saat mengalami pandemi. Para suami menyadari mesti membekali anak-anaknya dengan hebat, para ibu sadar membekali putra-putrinya dengan banyak sekali keterampilan dan kompetensi. Kita melakukan transformasi dalam menghadapi kesulitan ini, yang menghasilkan kemampuan kita menjadi lebih kompetitif, memiliki kemampuan berkompetisi, memiliki kedaulatan untuk kreatif, dan mengasah kemampuan untuk membangun terobosan-terobosan dan melakukan perubahan yang lebih po­sitif. Karena itu, di masa pandemi ini kita tidak boleh pernah berhenti berpikir menghasilkan karya, melakukan sesuatu, membangun jaringan, melakukan networ­king, mendorong perubahan, melatih tim, dan kita akan sampai di zaman di mana musim semi pascapandemi akan segera tiba, bumi seperti disucikan kembali, disterilkan kembali, bumi akan menjadi rejuvinasi; meremajakan mereka yang tangguh, yaitu generasi gemilang yang akan mewarisi bumi ini. (*)

Previous articleSegera Datanglah Ishoma
Next articleMazhab News Phobia

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru