alexametrics
22.6 C
Malang
Wednesday, 23 September 2020

Obat Covid Itu Danazol hingga Vitamin D?

- Advertisement -
- Advertisement -

PENELITIAN Dr Daniel Jacobson dengan menggunakan komputer supercanggih Summit tak hanya mengungkap soal Hipotesis Bradikinin dalam menjelaskan berbagai gejala Covid-19. Lebih lanjut, riset yang dilakukan oleh Kepala Peneliti dan Kepala Ilmuwan di bidang Sistem Komputasi Biologi di Oak Ridge National Laboratory, Tennessee, Amerika Serikat, itu juga mengungkap obat-obatan yang diduga dapat mengobati Covid-19.

Seperti saya singgung pada tulisan sebelumnya, tim peneliti yang dipimpin Jacobson dalam tulisan ilmiahnya yang pernah dimuat di jurnal eLife awal Juli lalu ini menyebutkan, bahwa gejala-gejala penyakit Covid-19 merupakan hasil dari badai bradikinin. Badai bradikinin inilah yang mempunyai efek mematikan pada Covid-19.

Mengapa disebut badai? Seperti saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa tujuan akhir dari Covid-19 ketika menyerang tubuh adalah melepaskan bradikinin sebanyak-banyaknya. Dan ketika ini terjadi, maka disebut terjadi badai bradikinin. Jacobson menyebut bradikinin sebagai tingkat kimia pada tubuh yang mengatur tekanan darah. Sehingga, keberadaannya sangatlah vital.

Nah, untuk mengatasi Covid-19, wabil khusus untuk ”menaklukkan” badai bradikinin itu, Jacobson dan timnya menyebut sejumlah obat-obatan yang sudah dinyatakan lulus uji di FDA (Food and Drug Administration, BPOM-nya Amerika) untuk mengobati kondisi-kondisi gangguan kesehatan lain. Obat-obatan itu diduga dapat mengobati Covid-19. Di antaranya disebutkan: danazol, stanozolol, dan ecallantide. Obat-obatan ini, kata Jacobson, dapat mengurangi produksi bradikinin dan dapat menghentikan badai bradikinin yang mematikan. Jenis obat lainnya seperti icatibant dapat juga mengurangi tanda-tanda bradikinin dan dapat mengurangi efek sampingnya ketika bradikinin ditemukan di dalam tubuh.

Apakah obat-obatan itu sudah ada dan beredar di Indonesia? Saya mencoba search di Google, terdapat penjelasan untuk penggunaan obat-obatan tersebut. Danazol, misalnya. Adalah obat yang digunakan wanita untuk mengobati nyeri panggul dan ketidaksuburan karena gangguan rahim (endometriosis). Obat ini juga dikonsumsi pria dan wanita untuk mencegah terjadinya pembengkakan perut, lengan, kaki, wajah, dan saluran pernapasan yang disebabkan oleh suatu penyakit bawaan.

Stanozolol adalah jenis DHT (dehidrotestoterone), yakni semacam obat untuk dopping yang biasanya dipakai untuk membuat otot padat dan keras dengan menekan kadar estrogen pada tubuh. Sedangkan ecallantide dan icatibant biasanya digunakan untuk pengobatan angioedema herediter (HAE), yakni semacam penyakit bawaan berupa pembengkakan pada pembuluh darah bawah kulit.

Masalahnya, sejauh yang saya ketahui, obat-obatan yang disebut Jacobson itu belum pernah diujicobakan untuk digunakan menangani pasien-pasien Covid-19 di Indonesia. Baru-baru ini, Universitas Airlangga (Unair) mengklaim sudah meneliti sejumlah obat-obatan yang sudah dipakai oleh para dokter dalam menangani pasien-pasien Covid-19. Obat-obatan itu adalah lopinavir, ritonavir, azitromisin, doksisiklin, dan hidroksiklorokuin. Dalam perjalanan penelitian, muncul ide menggabungkan obat-obatan itu sehingga dapat meningkatkan efektivitasnya. Kombinasi obat itulah yang selanjutnya diteliti di laboratorium sehingga ditemukan lima kombinasi regiment obat yang paling baik. Obat inilah yang lantas diklaim oleh Unair telah diujicobakan kepada 1.000-an siswa dan pengajar di Pusat Pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) Angkatan Darat, Bandung, yang positif Covid-19.

Tapi belakangan obat yang diklaim Unair itu menuai polemik. Ada yang mempertanyakan prosedur risetnya, dan ada pula yang mempertanyakan ketaatan pada protokol uji klinisnya.
Akankah obat-obatan yang disebutkan Jacobson tadi akan diteliti dan diujicobakan di Indonesia? Yang jelas, hingga kini belum ada obat yang pasti, alias belum ada obat yang sahih yang benar-benar terkonfirmasi sebagai obat Covid-19. Semua obat, masih coba-coba alias spekulatif.

Selain menyebut sejumlah obat, Jacobson dan timnya juga berpendapat bahwa vitamin D merupakan obat Covid-19 yang sangat berguna. Vitamin ini disebut terdapat pada sistem RAS (Renin Angiotensin System, yakni sistem hormon yang mengatur tekanan darah dan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta resistensi pembuluh darah sistemik). Vitamin D kata Jacobson dapat mencegah terbentuknya badai bradikinin yang mematikan.

Para peneliti yang dipimpin Jacobson mencatat, bahwa vitamin D diberikan untuk membantu perawatan pasien Covid-19. Jika vitamin D ini terbukti efektif dapat mengurangi tingkat keparahan badai bradikinin, maka vitamin ini akan menjadi cara yang mudah dan aman dalam mengurangi tingkat keparahan Covid-19.

Semua bentuk pengobatan yang disebutkan di atas, diakui oleh Jacobson dan tim penelitinya masih spekulatif. Dan masih memerlukan penelitian lebih mendalam sebelum tingkat keefektifannya dapat ditentukan dan dapat diterapkan lebih luas.

Di sisi lain, Covid-19 semakin merajalela secara global. Gejala-gejalanya yang acak, membuat para dokter begitu susah payahnya dalam memahami penyakit tersebut. Jika pun ada teori yang disebutkan terkait cara kerja virus korona, ini pun belum bisa dipastikan kesahihannya. Ini juga berlaku untuk Hipotesis Bradikinin yang diungkap Jacobson dalam risetnya itu. Meski demikian, Jacobson mengklaim, bahwa hipotesis bradikinin telah memberikan prediksi yang spesifik dan dapat diuji. Termasuk di dalamnya obat-obat yang dapat digunakan untuk meringankan penyakit pasien Covid-19. Hipotesis Bradikinin setidaknya dapat mengurangi penderitaan pasien Covid-19, dan berpotensi menyelamatkan nyawa pasien Covid-19. Semoga tulisan ini bermanfaat. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Latest news

Pakar: ‘Pecahnya’ Suara NU Untungkan Incumbent

“Tapi kalau pengamatan saya, “pecahnya” suara NU akan untungkan incumbent. Dia bisa dapat dukungan kalangan NU dan nasional karena diusung partai nasional," kata pria yang juga menjadi Ketua Program Studi Magister Ilmu Sosial FISIP UB ini, Rabu (23/9).
- Advertisement -

PKKMB Uniga, Ajak Maba Tetap Semangat di Tengah Pandemi Covid-19

MALANG – Universitas Gajayana Malang menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2020 -2021. Dalam kegiatan yang digelar secara daring dan luring selama tiga hari tersebut, Uniga mengangkat tema Tetap Semangat di Era Pandemi Covid-19, Bersama Uniga Menjadi yang Terdepan dan Berkarakter.

PLN UP3 Malang Salurkan 50 Tong Sampah di Pantai Selatan

MALANG - Sebanyak 50 tong sampah dibagikan di daerah wilayah pantai selatan yakni, Pantai Balekambang dan Sendang Biru, kabupaten Malang dalam rangka “Word Clean Up Day 2020”, Selasa (22/9). Sebagai wujud kepedulian PLN terhadap lingkungan sekitar, karena saat ini sampah menjadi masalah serius terutama di daerah wisata terbuka seperti pantai.

Besok Pengundian Nomor Urut, KPU Batasi Tiap Paslon Bawa 12 Pendukung

Ketua KPU Kabupaten Malang Anis Suhartini menambahkan, semua yang hadir dalam kegiatan pengundian nomor urut paslon juga harus mengenakan protap kesehatan. Hal ini juga sudah diatur dalam aturan Pilkada serentak.

Related news

Malik Fadjar Duluan Milenial

Milenial rekat dengan dunia serba kekinian. Yang muda, modern, teknologi, dan serba kebaruan. Namun apakah orang sepuh juga bisa masuk ranah itu? Bagi saya kenapa tidak. Nyatanya mantan Rektor Universitas Muhammadiyah, (alm) Prof A. Malik Fadjar MSc adalah salah satu sosok yang memiliki karakter kuat diterima oleh semua kalangan.

Move On

ADA tipe manusia yang gampang move on, tapi ada juga tipe manusia yang susah move on. Makna bebas dari move on di sini adalah cepat melupakan masa lalu.

Kematian Covid Rendah pada Perempuan, Why?

Tulisan kali ini masih menyinggung soal bradikinin. Jacobson menyebut bradikinin adalah tingkat kimia pada tubuh yang mengatur tekanan darah. Disebut tingkat kimia, karena bradikinin adalah semacam peptida yang merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino.

Hipotesis Baru, Mengapa Covid-19 Mematikan?

Summit termasuk komputer super canggih dan tercepat di dunia. Summit punya kemampuan luar biasa dalam mengkalkulasi, memetakan, dan menganalisis sebuah data dalam jumlah besar. Ini tidak terlepas dari dukungan banyak teknologi canggih di IBM, sebagai produsen Summit.
- Advertisement -