21.6 C
Malang
Friday, 3 February 2023

Masih Layakkah Berekspektasi ke Timnas?

Siapa yang salah? Pertanyaan itu banyak muncul di media sosial pasca Timnas gagal juara di Piala AFF. Analisa terhadap problem Timnas kembali mengemuka. Itu bisa dimaklumi karena dalam 32 tahun keikutsertaan di turnamen itu, Tim Garuda belum pernah sekali pun juara.

Capaian terbaik mereka adalah peringkat dua. Catatan yang tentunya miris. Itu lebih buruk ketimbang Timnas Singapura, yang tidak mempunyai kultur sepak bola. Mereka pernah tiga kali juara di ajang itu.

Selain itu, yang banyak membuat sejumlah warganet penasaran adalah komposisi Timnas, yang dinilai lebih baik dari sebelumnya. Banyak pemain potensial yang masuk skuad merah putih. Bahkan sebagian nama bermain di kompetisi luar negeri. Tidak hanya itu, mereka juga punya pemain naturalisasi.

Pada ajang tersebut, Timnas juga dinakhodai Shin Tae-Yong. Pelatih 52 tahun asal Korea Selatan yang mempunyai curriculum vitae (CV) mentereng. Salah satu yang terkenal sempat membawa Korea Selatan mengalahkan Jerman di babak grup Piala Dunia 2018. Musim perdananya pada ajang AFF 2021 lalu juga langsung membawa Indonesia ke final.

Capaian seperti itu sebelumnya dibuat Alfred Riedl. Mantan pelatih Timnas asal Austria itu melakukannya pada Piala AFF 2010 lalu. Ketika itu, dengan perpaduan pemain naturalisasi dan lokal, sukses berada di final dengan catatan tidak pernah kalah dalam lima laga beruntun.

Melihat catatan itu, tidak heran bila banyak yang geram dan bertanya-tanya dengan Timnas di tahun ini. Siapa sebenarnya harus disalahkan dengan capaian Timnas yang masih kering prestasi itu di Piala AFF?

PSSI, pemain, pelatih, atau malah kita sebagai penonton? Menurut hemat saya, masih banyak penonton yang menaruh ekspektasi tinggi kepada Tim Garuda. Harusnya, dengan melihat sepak bola nasional yang masih ala kadarnya, level harapan jangan tinggi-tinggi. Bagaimana bisa juara dengan federasi yang dalam urusan dasar sepak bola, seperti membuat jadwal liga, masih kesulitan.

Thailand dan Vietnam bisa menjadi satu contoh bila prestasi itu tidak ada yang bimsalabim. Sebelum seperti sekarang, kedua negara itu getol melakukan transformasi di sepak bola mereka. Vietnam misalnya. Menurut beberapa sumber, disebutkan bila mereka sudah menginvestasikan Rp 435 miliar pada 2008 lalu untuk memajukan sepak bolanya.

Salah satu langkah yang mereka lakukan adalah membuat akademi berlevel internasional. Namanya Promotion Fund for Vietnamese Football Talent (PVF) Academy. Akademi itu menjadi kawah candradimuka untuk pesepakbola muda di Vietnam. Mereka yang berlatih di sana ditunjang dengan sistem pembinaan yang baik dan fasilitas kelas satu.

Seperti memiliki satu lapangan utama dan enam lapangan latihan berstandar 11 lawan 11 pemain. Tidak hanya itu, PVF juga memiliki 360 alat simulator dan peralatan PlayerTek. Alat paling modern di Asia itu berfungsi untuk memantau kinerja setiap pemain.

Akademi itu juga mendapat sertifikasi di Program Kualitas FIFA untuk lapangan sepak bola. Vietnam juga melakukan transformasi dengan memberantas praktik pengaturan skor di liganya. Mereka selalu merujuk sepak bola Eropa sebagai jalan menuju kesuksesan.

Mantan Presiden Manchester United Martin Edwards pernah berkata dalam sebuah wawancara dengan media di Inggris tentang Sir Alex Ferguson. Menurut dia, capaian menakjubkan dari sang pelatih tidak datang begitu saja. Perlu proses dan waktu. Begini ucapannya: ”Kami harus bersabar dan menunggu tiga hingga empat tahun untuk piala pertama. Tetapi kami tahu betapa sulitnya dia (Alex Ferguson) bekerja. Kami pikir itu hanya masalah waktu sebelum dia menjadi sukses,” kata Edwards.

Berangkat statement itu dan contoh bagaimana Vietnam membangun sepak bolanya, sudah seharusnya Indonesia melakukan banyak perubahan. Baru setelah itu menata harapan baru. Sedikit berekspektasi juga boleh.

Berdasarkan teori psikolog Victor Vroom dalam bukunya yang berjudul ’Work and Motivation’, disebutkan bila ekspektasi mempunyai konsekuensi tertentu pada setiap individu. Sementara, Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul ’Anak Semua Bangsa’, menyebut bila siapa yang hanya memandang pada keceriaan saja, dia termasuk orang gila. Barang siapa memandang penderitaan saja, dia termasuk orang yang sakit.

Pram, sapaan akrabnya, sepertinya ingin menekankan keseimbangan dalam pola pikir. Fanatik memang penting dalam sepak bola. Namun itu juga harus diimbangi dengan pemikiran yang realistis. Terus-terusan bermimpi juga tidak bagus. Mari bangun, dan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Timnas Jepang saja bisa, masak kita tidak bisa. (*)

Siapa yang salah? Pertanyaan itu banyak muncul di media sosial pasca Timnas gagal juara di Piala AFF. Analisa terhadap problem Timnas kembali mengemuka. Itu bisa dimaklumi karena dalam 32 tahun keikutsertaan di turnamen itu, Tim Garuda belum pernah sekali pun juara.

Capaian terbaik mereka adalah peringkat dua. Catatan yang tentunya miris. Itu lebih buruk ketimbang Timnas Singapura, yang tidak mempunyai kultur sepak bola. Mereka pernah tiga kali juara di ajang itu.

Selain itu, yang banyak membuat sejumlah warganet penasaran adalah komposisi Timnas, yang dinilai lebih baik dari sebelumnya. Banyak pemain potensial yang masuk skuad merah putih. Bahkan sebagian nama bermain di kompetisi luar negeri. Tidak hanya itu, mereka juga punya pemain naturalisasi.

Pada ajang tersebut, Timnas juga dinakhodai Shin Tae-Yong. Pelatih 52 tahun asal Korea Selatan yang mempunyai curriculum vitae (CV) mentereng. Salah satu yang terkenal sempat membawa Korea Selatan mengalahkan Jerman di babak grup Piala Dunia 2018. Musim perdananya pada ajang AFF 2021 lalu juga langsung membawa Indonesia ke final.

Capaian seperti itu sebelumnya dibuat Alfred Riedl. Mantan pelatih Timnas asal Austria itu melakukannya pada Piala AFF 2010 lalu. Ketika itu, dengan perpaduan pemain naturalisasi dan lokal, sukses berada di final dengan catatan tidak pernah kalah dalam lima laga beruntun.

Melihat catatan itu, tidak heran bila banyak yang geram dan bertanya-tanya dengan Timnas di tahun ini. Siapa sebenarnya harus disalahkan dengan capaian Timnas yang masih kering prestasi itu di Piala AFF?

PSSI, pemain, pelatih, atau malah kita sebagai penonton? Menurut hemat saya, masih banyak penonton yang menaruh ekspektasi tinggi kepada Tim Garuda. Harusnya, dengan melihat sepak bola nasional yang masih ala kadarnya, level harapan jangan tinggi-tinggi. Bagaimana bisa juara dengan federasi yang dalam urusan dasar sepak bola, seperti membuat jadwal liga, masih kesulitan.

Thailand dan Vietnam bisa menjadi satu contoh bila prestasi itu tidak ada yang bimsalabim. Sebelum seperti sekarang, kedua negara itu getol melakukan transformasi di sepak bola mereka. Vietnam misalnya. Menurut beberapa sumber, disebutkan bila mereka sudah menginvestasikan Rp 435 miliar pada 2008 lalu untuk memajukan sepak bolanya.

Salah satu langkah yang mereka lakukan adalah membuat akademi berlevel internasional. Namanya Promotion Fund for Vietnamese Football Talent (PVF) Academy. Akademi itu menjadi kawah candradimuka untuk pesepakbola muda di Vietnam. Mereka yang berlatih di sana ditunjang dengan sistem pembinaan yang baik dan fasilitas kelas satu.

Seperti memiliki satu lapangan utama dan enam lapangan latihan berstandar 11 lawan 11 pemain. Tidak hanya itu, PVF juga memiliki 360 alat simulator dan peralatan PlayerTek. Alat paling modern di Asia itu berfungsi untuk memantau kinerja setiap pemain.

Akademi itu juga mendapat sertifikasi di Program Kualitas FIFA untuk lapangan sepak bola. Vietnam juga melakukan transformasi dengan memberantas praktik pengaturan skor di liganya. Mereka selalu merujuk sepak bola Eropa sebagai jalan menuju kesuksesan.

Mantan Presiden Manchester United Martin Edwards pernah berkata dalam sebuah wawancara dengan media di Inggris tentang Sir Alex Ferguson. Menurut dia, capaian menakjubkan dari sang pelatih tidak datang begitu saja. Perlu proses dan waktu. Begini ucapannya: ”Kami harus bersabar dan menunggu tiga hingga empat tahun untuk piala pertama. Tetapi kami tahu betapa sulitnya dia (Alex Ferguson) bekerja. Kami pikir itu hanya masalah waktu sebelum dia menjadi sukses,” kata Edwards.

Berangkat statement itu dan contoh bagaimana Vietnam membangun sepak bolanya, sudah seharusnya Indonesia melakukan banyak perubahan. Baru setelah itu menata harapan baru. Sedikit berekspektasi juga boleh.

Berdasarkan teori psikolog Victor Vroom dalam bukunya yang berjudul ’Work and Motivation’, disebutkan bila ekspektasi mempunyai konsekuensi tertentu pada setiap individu. Sementara, Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul ’Anak Semua Bangsa’, menyebut bila siapa yang hanya memandang pada keceriaan saja, dia termasuk orang gila. Barang siapa memandang penderitaan saja, dia termasuk orang yang sakit.

Pram, sapaan akrabnya, sepertinya ingin menekankan keseimbangan dalam pola pikir. Fanatik memang penting dalam sepak bola. Namun itu juga harus diimbangi dengan pemikiran yang realistis. Terus-terusan bermimpi juga tidak bagus. Mari bangun, dan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Timnas Jepang saja bisa, masak kita tidak bisa. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru