alexametrics
27C
Malang
Sunday, 18 April 2021

Catatan Akhir Pekan: Jurnalisme Nyinyir

Seorang teman yang mengaku pernah beberapa kali ditulis jelek oleh sebuah media online menyebut media online itu dengan ”jurnalisme nyinyir”. Lantas dia bertanya kepada saya: ”Apa memang ada jurnalisme nyinyir?” Saya pun balik bertanya kepada dia: ”Lha sampeyan sudah pake istilah itu (jurnalisme nyinyir), kok baru tanya ke saya? Saya pikir sampeyan sudah tahu artinya (jurnalisme nyinyir).”

Rupanya dia hanya ingin mengonfirmasi kepada saya, tentang ”jurnalime nyinyir”. Seakan-akan ada satu aliran khusus tentang jurnalisme. Yakni jurnalisme nyinyir.

”Nyinyir” jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ”mengulang-ulang perintah atau permintaan”. ”Nyinyir” juga bermakna ”cerewet”. Bila merujuk pada kata ”cerewet”, maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”cerewet” bermakna ”suka mencela” (mengomel, mengata-ngatai, dst).

Jadi, jika teman saya tadi menyebut ada jurnalisme nyinyir, mungkin maksudnya adalah jurnalisme yang tulisan-tulisan dalam beritanya suka mencela. Atau sudut pemberitaannya lebih cenderung mengambil dari sisi kejelekan dari sebuah objek berita ketimbang sisi kebaikannya. Pertanyaannya, apakah memang ada jurnalisme nyinyir dalam khazanah jurnalistik?

Sebatas yang saya ketahui, setidaknya ada empat jenis dalam jurnalistik. Pertama, citizen journalism atau jurnalisme warga. Untuk jenis ini, hingga kini masih terjadi ”khilafiyah”. Ada yang berpendapat, ini termasuk dalam jurnalistik. Tapi ada juga yang berpendapat, bukan termasuk jurnalistik. Beberapa bentuk citizen journalism antara lain menulis blog, serta menulis apa saja, yang kemudian di-upload di sosial media (Twitter, Facebook, Instagram, dll). Citizen journalism juga dikenal dengan sebutan participatory journalism, netizen, open source journalism, dan grassroot journalism.

Kedua, yellow journalism. Ini adalah jenis jurnalisme yang berupaya menciptakan kesan-kesan sensasional yang biasanya dilakukan dengan pemburukan makna, yang kurang memperhatikan substansi peristiwa. Tujuannya agar beritanya banyak yang membaca atau memperhatikan. Tujuan dari jurnalisme ini adalah jelas untuk meningkatkan traffic atau penjualan media tersebut.

Jurnalisme kuning ini sering dinilai sebagai jurnalisme yang tidak profesional dan tidak punya etika. Mengapa disebut jurnalisme kuning? Istilah jurnalisme kuning pertama kali disebut oleh The New York Press sekitar tahun 1897. Di mana saat itu, terjadi pertarungan berita utama dua koran besar di New York, yakni ”New York World” dan “New York Journal”. Kata kuning dimunculkan, karena warna kedua koran itu kuning.

Ketiga, jurnalisme lher. Ini termasuk “saudara”-nya jurnalisme kuning. Jurnalisme lher lebih cenderung menampilkan hal-hal yang memicu peningkatan sensasi nafsu (syahwat). Alias lebih dekat ke pornografi. Sehingga untuk jenis ini ada yang menyebutnya jurnalisme pornografi.

Keempat, jurnalisme presisi. Ini adalah sebuah bentuk jurnalisme yang menerapkan kaidah-kaidah pencarian berita berdasarkan fakta secara objektif. Jurnalisme ini menerapkan ilmu sosial di dalam dunia jurnalistik dan berupaya mencari ketetapan informasi dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial terkait. Asal-usul jurnalisme ini dikemukakan oleh Philip Mayer sekitar 1969 – 1970 ketika dia menjadi dosen tamu di Russel Sage Foundation, New York. Selanjutnya pada 1971, Everette E. Dennis dari Kansas State University mengajar ”The New Journalism” di University of Oregon. Dennislah yang kemudian memopulerkan jurnalisme presisi sebagai ”new journalism” atau jurnalisme baru.

Selain empat jenis jurnalistik di atas, ada lagi jenis-jenis jurnalistik lainnya. Di antaranya ”war journalism” (jurnalisme perang). Ini adalah jurnalisme yang lebih menonjolkan berita-berita konflik dan peperangan. ”Peace journalism” (jurnalisme damai) adalah jurnalisme yang menonjolkan berita-berita kemanusiaan, dan mendorong perdamaian. ”Development journalism” (jurnalisme pembangunan) adalah jurnalisme yang pro pembangunan dan kemajuan. Dan ada juga ”clickbait journalism” (jurnalisme umpan klik). Ini adalah jurnalisme yang mengedepankan judul berita untuk menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan pembaca, sehingga mengeklik link judul berita itu. Umumnya, saat link judul berita itu diklik, isinya tidak sesuai dengan perkiraan.

Nah, lantas di mana letak dari jurnalisme nyinyir? Jurnalisme nyinyir bisa cenderung kepada jurnalisme kuning. Atau, bisa juga cenderung ke jurnalisme umpan klik.
Berbagai jenis jurnalistik itu, sesungguhnya sangat ditentukan pada pemilihan angle (sudut pandang), pemilihan diksi (kalimat) dan narasi, serta judul. Dan semua ini sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di newsroom. Mulai wartawan, redaktur, hingga pemimpin redaksi. Bisa jadi, yang ditulis wartawan adalah fakta objektif atau fakta presisi. Tapi, fakta objektif itu bisa saja dibelokkan atau diarahkan oleh si redaktur atau pemimpin redaksi untuk kepentingan tertentu. Sehingga dalam membuat angle, diksi, narasi, dan judul akan disesuaikan dengan kepentingan tertentu itu. Atau, bisa juga sejak mencari berita, si wartawan sudah diarahkan pada angle tertentu. Bagaimana bisa menilai hal seperti ini? Di sinilah pentingnya kode etik jurnalistik.

Martabat atau nilai sebuah media massa, sangat ditentukan oleh seberapa para pelaku di media massa itu dalam menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Dalam Pasal 1 Kode Etik Wartawan Indonesia yang ditetapkan pada 14 Maret 2006 oleh 29 organisasi wartawan menyebutkan bahwa dalam menulis berita, selain harus akurat dan berimbang, juga tidak boleh ada iktikad buruk. Dalam penafsiran pasal itu menyebutkan yang dimaksud dengan ”tidak boleh beriktikad buruk” berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Bagaimana jika Anda merasa menjadi korban karena dirugikan oleh pemberitaan sebuah media massa? Jika boleh menyarankan: Anda lihat dulu, seberapa kredibel media massa itu. Salah satu cara untuk ngecek kredibel atau tidaknya media massa, dengan mengecek langsung ke dewan pers, apakah media itu sudah tersertifikasi atau belum. Kalau tidak salah, bisa dilihat melalui website-nya Dewan Pers. Jika media massa itu memang ”trademark”-nya selalu nyinyir dalam berita-beritanya, menurut saya tidak usah diladeni. Karena kalau media itu berita-beritanya selalu nyinyir, saya berpendapat media itu kurang kredibel.
Kami juga pernah ditulis jelek oleh sebuah media online. Tapi kami lebih memilih membiarkannya. Pertimbangan kami saat itu, karena beritanya ditulis kurang komprehensif, kelihatan sekali tendensius, sehingga kami yakin masyarakat sudah cukup cerdas untuk menilainya. Jadi, kami tak perlu menanggapinya secara serius.

Kecuali jika memang Anda punya banyak waktu dan energi. Anda bisa melaporkan ke Dewan Pers atas dasar kode etik wartawan dan UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ujung-ujungnya memang ke dewan pers. Atau, Anda juga bisa menggunakan UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Walakhir, produk jurnalistik sebenarnya adalah produk yang sangat mulia. Karena sesungguhnya sangat bermanfaat. Ketika sebuah produk jurnalistik malah dianggap resek, atau dikesankan nyinyir, maka berarti ada yang salah dari orang-orang yang berada di newsroom-nya. Ingat: ”Hasil tak akan pernah mengkhianati proses”. Semoga tulisan ini bermanfaat.

(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Seorang teman yang mengaku pernah beberapa kali ditulis jelek oleh sebuah media online menyebut media online itu dengan ”jurnalisme nyinyir”. Lantas dia bertanya kepada saya: ”Apa memang ada jurnalisme nyinyir?” Saya pun balik bertanya kepada dia: ”Lha sampeyan sudah pake istilah itu (jurnalisme nyinyir), kok baru tanya ke saya? Saya pikir sampeyan sudah tahu artinya (jurnalisme nyinyir).”

Rupanya dia hanya ingin mengonfirmasi kepada saya, tentang ”jurnalime nyinyir”. Seakan-akan ada satu aliran khusus tentang jurnalisme. Yakni jurnalisme nyinyir.

”Nyinyir” jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ”mengulang-ulang perintah atau permintaan”. ”Nyinyir” juga bermakna ”cerewet”. Bila merujuk pada kata ”cerewet”, maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”cerewet” bermakna ”suka mencela” (mengomel, mengata-ngatai, dst).

Jadi, jika teman saya tadi menyebut ada jurnalisme nyinyir, mungkin maksudnya adalah jurnalisme yang tulisan-tulisan dalam beritanya suka mencela. Atau sudut pemberitaannya lebih cenderung mengambil dari sisi kejelekan dari sebuah objek berita ketimbang sisi kebaikannya. Pertanyaannya, apakah memang ada jurnalisme nyinyir dalam khazanah jurnalistik?

Sebatas yang saya ketahui, setidaknya ada empat jenis dalam jurnalistik. Pertama, citizen journalism atau jurnalisme warga. Untuk jenis ini, hingga kini masih terjadi ”khilafiyah”. Ada yang berpendapat, ini termasuk dalam jurnalistik. Tapi ada juga yang berpendapat, bukan termasuk jurnalistik. Beberapa bentuk citizen journalism antara lain menulis blog, serta menulis apa saja, yang kemudian di-upload di sosial media (Twitter, Facebook, Instagram, dll). Citizen journalism juga dikenal dengan sebutan participatory journalism, netizen, open source journalism, dan grassroot journalism.

Kedua, yellow journalism. Ini adalah jenis jurnalisme yang berupaya menciptakan kesan-kesan sensasional yang biasanya dilakukan dengan pemburukan makna, yang kurang memperhatikan substansi peristiwa. Tujuannya agar beritanya banyak yang membaca atau memperhatikan. Tujuan dari jurnalisme ini adalah jelas untuk meningkatkan traffic atau penjualan media tersebut.

Jurnalisme kuning ini sering dinilai sebagai jurnalisme yang tidak profesional dan tidak punya etika. Mengapa disebut jurnalisme kuning? Istilah jurnalisme kuning pertama kali disebut oleh The New York Press sekitar tahun 1897. Di mana saat itu, terjadi pertarungan berita utama dua koran besar di New York, yakni ”New York World” dan “New York Journal”. Kata kuning dimunculkan, karena warna kedua koran itu kuning.

Ketiga, jurnalisme lher. Ini termasuk “saudara”-nya jurnalisme kuning. Jurnalisme lher lebih cenderung menampilkan hal-hal yang memicu peningkatan sensasi nafsu (syahwat). Alias lebih dekat ke pornografi. Sehingga untuk jenis ini ada yang menyebutnya jurnalisme pornografi.

Keempat, jurnalisme presisi. Ini adalah sebuah bentuk jurnalisme yang menerapkan kaidah-kaidah pencarian berita berdasarkan fakta secara objektif. Jurnalisme ini menerapkan ilmu sosial di dalam dunia jurnalistik dan berupaya mencari ketetapan informasi dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial terkait. Asal-usul jurnalisme ini dikemukakan oleh Philip Mayer sekitar 1969 – 1970 ketika dia menjadi dosen tamu di Russel Sage Foundation, New York. Selanjutnya pada 1971, Everette E. Dennis dari Kansas State University mengajar ”The New Journalism” di University of Oregon. Dennislah yang kemudian memopulerkan jurnalisme presisi sebagai ”new journalism” atau jurnalisme baru.

Selain empat jenis jurnalistik di atas, ada lagi jenis-jenis jurnalistik lainnya. Di antaranya ”war journalism” (jurnalisme perang). Ini adalah jurnalisme yang lebih menonjolkan berita-berita konflik dan peperangan. ”Peace journalism” (jurnalisme damai) adalah jurnalisme yang menonjolkan berita-berita kemanusiaan, dan mendorong perdamaian. ”Development journalism” (jurnalisme pembangunan) adalah jurnalisme yang pro pembangunan dan kemajuan. Dan ada juga ”clickbait journalism” (jurnalisme umpan klik). Ini adalah jurnalisme yang mengedepankan judul berita untuk menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan pembaca, sehingga mengeklik link judul berita itu. Umumnya, saat link judul berita itu diklik, isinya tidak sesuai dengan perkiraan.

Nah, lantas di mana letak dari jurnalisme nyinyir? Jurnalisme nyinyir bisa cenderung kepada jurnalisme kuning. Atau, bisa juga cenderung ke jurnalisme umpan klik.
Berbagai jenis jurnalistik itu, sesungguhnya sangat ditentukan pada pemilihan angle (sudut pandang), pemilihan diksi (kalimat) dan narasi, serta judul. Dan semua ini sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di newsroom. Mulai wartawan, redaktur, hingga pemimpin redaksi. Bisa jadi, yang ditulis wartawan adalah fakta objektif atau fakta presisi. Tapi, fakta objektif itu bisa saja dibelokkan atau diarahkan oleh si redaktur atau pemimpin redaksi untuk kepentingan tertentu. Sehingga dalam membuat angle, diksi, narasi, dan judul akan disesuaikan dengan kepentingan tertentu itu. Atau, bisa juga sejak mencari berita, si wartawan sudah diarahkan pada angle tertentu. Bagaimana bisa menilai hal seperti ini? Di sinilah pentingnya kode etik jurnalistik.

Martabat atau nilai sebuah media massa, sangat ditentukan oleh seberapa para pelaku di media massa itu dalam menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Dalam Pasal 1 Kode Etik Wartawan Indonesia yang ditetapkan pada 14 Maret 2006 oleh 29 organisasi wartawan menyebutkan bahwa dalam menulis berita, selain harus akurat dan berimbang, juga tidak boleh ada iktikad buruk. Dalam penafsiran pasal itu menyebutkan yang dimaksud dengan ”tidak boleh beriktikad buruk” berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Bagaimana jika Anda merasa menjadi korban karena dirugikan oleh pemberitaan sebuah media massa? Jika boleh menyarankan: Anda lihat dulu, seberapa kredibel media massa itu. Salah satu cara untuk ngecek kredibel atau tidaknya media massa, dengan mengecek langsung ke dewan pers, apakah media itu sudah tersertifikasi atau belum. Kalau tidak salah, bisa dilihat melalui website-nya Dewan Pers. Jika media massa itu memang ”trademark”-nya selalu nyinyir dalam berita-beritanya, menurut saya tidak usah diladeni. Karena kalau media itu berita-beritanya selalu nyinyir, saya berpendapat media itu kurang kredibel.
Kami juga pernah ditulis jelek oleh sebuah media online. Tapi kami lebih memilih membiarkannya. Pertimbangan kami saat itu, karena beritanya ditulis kurang komprehensif, kelihatan sekali tendensius, sehingga kami yakin masyarakat sudah cukup cerdas untuk menilainya. Jadi, kami tak perlu menanggapinya secara serius.

Kecuali jika memang Anda punya banyak waktu dan energi. Anda bisa melaporkan ke Dewan Pers atas dasar kode etik wartawan dan UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Ujung-ujungnya memang ke dewan pers. Atau, Anda juga bisa menggunakan UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Walakhir, produk jurnalistik sebenarnya adalah produk yang sangat mulia. Karena sesungguhnya sangat bermanfaat. Ketika sebuah produk jurnalistik malah dianggap resek, atau dikesankan nyinyir, maka berarti ada yang salah dari orang-orang yang berada di newsroom-nya. Ingat: ”Hasil tak akan pernah mengkhianati proses”. Semoga tulisan ini bermanfaat.

(kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru