alexametrics
23C
Malang
Wednesday, 3 March 2021

Lima Faktor Penghambat Bisnis Start-Up

ANDA ingin membangun bisnis start-up? Setidaknya ada lima faktor yang wajib dihindari jika tidak ingin gagal. Kelimanya adalah tidak punya dana emergency, tidak menyiapkan rencana strategis, tidak adequate atau memadai dalam menjalankan usaha, gagal memahami audiens, dan gagal mengatasi legalitas.

Dalam bisnis, menyiapkan dana emergency itu wajib. Itu faktor pertama yang harus diperhatikan. Karena itu, harus hati-hati dalam mengeluarkan keuangan. Hindari menghambur-hamburkan uang seolah tidak ada hari esok. Pola berpikir menghambur-hamburkan uang itu banyak terjadi di kalangan pebisnis pemula. Boleh jadi, karena ingin cepat mewujudkan impiannya itu, cashflow tidak diperhatikan. Risikonya, keuangan tidak terkelola secara efektif dan efisien.

Faktor kedua yang harus dihindari adalah tidak punya rencana strategis. Boleh fleksibel dalam menentukan langkah, tapi jangan ngawur. Agar langkahnya tepat, bangun riset lebih dalam dan berbasis data. Hal itu harus disiapkan sebelum melangkah.

Caranya, buat daftar strategi secara rinci. Setelah itu, amati dan perhatikan secara sungguh-sungguh, di mana posisi kita saat ini, dan sedang ingin menuju ke mana. Targetnya harus jelas dan detail. Jika perlu, lengkapi dengan tanggal sekaligus PIC assignee (penanggung jawabnya). Termasuk kalkulasi apa saja risiko kegagalannya sehingga bisa diantisipasi sejak awal.

Faktor ketiga yang harus dihindari, tidak adequate dalam menjalankan usahanya. Memang, memulai sebuah perusahaan start-up membutuhkan tekad kuat dan harus total menjalankannya. Karena itu, jangan sekali kali menjadikan bisnis start-up sebagai pekerjaan sampingan. Kesuksesan bisa diraih dengan komitmen dan usaha sunguh-sungguh. Biasanya, kesungguhan dan totalitas muncul jika kita mencintai pekerjaan tersebut. Oleh sebab itu, perlu dimunculkan rasa mencintai terhadap pekerjaan tersebut.

Faktor keempat yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai gagal memahami audiens. Jika ditanya apakah produk kita potensial? Tentu jawabannya akan berbanding lurus dengan seberapa besar manfaat produk tersebut untuk audiens.

Pemahaman terhadap audiens itu bisa diraih melalui riset pasar. Misalnya, problem apa saja yang dihadapi oleh audiens, seberapa banyak audiens mengalami problem tersebut, dan apa solusi yang dibutuhkan untuk mengatasinya. Rumuskan bagaimana caranya agar audiens tersebut mengenal dan memahami manfaat produk kita.

Sebab, gagal dalam memvalidasi produk kepada audiens sering kali berujung pada kegagalan bisnis itu sendiri. Bayangkan jika kita mengembangkan produk yang tidak dibutuhkan audiens yang kita bidik. Itu sama saja membuang-buang waktu, tenaga, dan uang. Setidaknya ada 42 persen bisnis start-up yang berhenti di awal kehadirannya lantaran tidak ada kebutuhan pasar.

Lantas, bagaimana caranya agar hasil riset akurat dalam memenuhi kebutuhan pasar? Ada empat poin yang harus diperhatikan. Pertama, market size. Pastikan berapa besar jumlah audiens yang ditargetkan.

Kedua, market wealth, yakni seberapa besar kecukupan uang target audiens terhadap produk yang akan kita tawarkan. Ketiga, competition, yakni seberapa banyak pesaingnya di bidang tersebut. Keempat, value proposition, yaitu keunggulan apa yang dimiliki oleh produk sehingga dibutuhkan audiens

Dengan menggali hal-hal tersebut bisa menambah wawasan kita tentang demand di target audiens, standar biaya industri sejenis, dan seberapa kompleks persaingannya.

Menentukan target audiens juga jangan sembarangan. Sebab, tidak semua orang adalah target audiens. Jangan terlalu memaksakan resource terbuang sia-sia hanya untuk mengurusi yang bukan target audiens potensial.

Sementara itu, faktor kelima yang harus dihindari adalah gagal mengatasi urusan legalitas. Dalam bisnis start-up, legalitas itu krusial. Gegara tidak mempunyai legalitas, banyak perusahaan yang sudah berkembang pun akhirnya tutup juga. Termasuk urusan pajak dan ketenagakerjaan juga harus diperhatikan. Mengabaikan hal tersebut akan berujung pada kesulitan-kesulitan.

Belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut membuat kita mampu menyusun peta jalan yang lebih baik. Siapkan road map untuk melacak jalan mana yang harus ditempuh. Pelajari kegagalan demi kegagalan. Sebab dengan begitu, kita akan memahami area mana yang harus dihindari sehingga kita lebih berani melangkah. Semoga bermanfaat. (*)

ANDA ingin membangun bisnis start-up? Setidaknya ada lima faktor yang wajib dihindari jika tidak ingin gagal. Kelimanya adalah tidak punya dana emergency, tidak menyiapkan rencana strategis, tidak adequate atau memadai dalam menjalankan usaha, gagal memahami audiens, dan gagal mengatasi legalitas.

Dalam bisnis, menyiapkan dana emergency itu wajib. Itu faktor pertama yang harus diperhatikan. Karena itu, harus hati-hati dalam mengeluarkan keuangan. Hindari menghambur-hamburkan uang seolah tidak ada hari esok. Pola berpikir menghambur-hamburkan uang itu banyak terjadi di kalangan pebisnis pemula. Boleh jadi, karena ingin cepat mewujudkan impiannya itu, cashflow tidak diperhatikan. Risikonya, keuangan tidak terkelola secara efektif dan efisien.

Faktor kedua yang harus dihindari adalah tidak punya rencana strategis. Boleh fleksibel dalam menentukan langkah, tapi jangan ngawur. Agar langkahnya tepat, bangun riset lebih dalam dan berbasis data. Hal itu harus disiapkan sebelum melangkah.

Caranya, buat daftar strategi secara rinci. Setelah itu, amati dan perhatikan secara sungguh-sungguh, di mana posisi kita saat ini, dan sedang ingin menuju ke mana. Targetnya harus jelas dan detail. Jika perlu, lengkapi dengan tanggal sekaligus PIC assignee (penanggung jawabnya). Termasuk kalkulasi apa saja risiko kegagalannya sehingga bisa diantisipasi sejak awal.

Faktor ketiga yang harus dihindari, tidak adequate dalam menjalankan usahanya. Memang, memulai sebuah perusahaan start-up membutuhkan tekad kuat dan harus total menjalankannya. Karena itu, jangan sekali kali menjadikan bisnis start-up sebagai pekerjaan sampingan. Kesuksesan bisa diraih dengan komitmen dan usaha sunguh-sungguh. Biasanya, kesungguhan dan totalitas muncul jika kita mencintai pekerjaan tersebut. Oleh sebab itu, perlu dimunculkan rasa mencintai terhadap pekerjaan tersebut.

Faktor keempat yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai gagal memahami audiens. Jika ditanya apakah produk kita potensial? Tentu jawabannya akan berbanding lurus dengan seberapa besar manfaat produk tersebut untuk audiens.

Pemahaman terhadap audiens itu bisa diraih melalui riset pasar. Misalnya, problem apa saja yang dihadapi oleh audiens, seberapa banyak audiens mengalami problem tersebut, dan apa solusi yang dibutuhkan untuk mengatasinya. Rumuskan bagaimana caranya agar audiens tersebut mengenal dan memahami manfaat produk kita.

Sebab, gagal dalam memvalidasi produk kepada audiens sering kali berujung pada kegagalan bisnis itu sendiri. Bayangkan jika kita mengembangkan produk yang tidak dibutuhkan audiens yang kita bidik. Itu sama saja membuang-buang waktu, tenaga, dan uang. Setidaknya ada 42 persen bisnis start-up yang berhenti di awal kehadirannya lantaran tidak ada kebutuhan pasar.

Lantas, bagaimana caranya agar hasil riset akurat dalam memenuhi kebutuhan pasar? Ada empat poin yang harus diperhatikan. Pertama, market size. Pastikan berapa besar jumlah audiens yang ditargetkan.

Kedua, market wealth, yakni seberapa besar kecukupan uang target audiens terhadap produk yang akan kita tawarkan. Ketiga, competition, yakni seberapa banyak pesaingnya di bidang tersebut. Keempat, value proposition, yaitu keunggulan apa yang dimiliki oleh produk sehingga dibutuhkan audiens

Dengan menggali hal-hal tersebut bisa menambah wawasan kita tentang demand di target audiens, standar biaya industri sejenis, dan seberapa kompleks persaingannya.

Menentukan target audiens juga jangan sembarangan. Sebab, tidak semua orang adalah target audiens. Jangan terlalu memaksakan resource terbuang sia-sia hanya untuk mengurusi yang bukan target audiens potensial.

Sementara itu, faktor kelima yang harus dihindari adalah gagal mengatasi urusan legalitas. Dalam bisnis start-up, legalitas itu krusial. Gegara tidak mempunyai legalitas, banyak perusahaan yang sudah berkembang pun akhirnya tutup juga. Termasuk urusan pajak dan ketenagakerjaan juga harus diperhatikan. Mengabaikan hal tersebut akan berujung pada kesulitan-kesulitan.

Belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut membuat kita mampu menyusun peta jalan yang lebih baik. Siapkan road map untuk melacak jalan mana yang harus ditempuh. Pelajari kegagalan demi kegagalan. Sebab dengan begitu, kita akan memahami area mana yang harus dihindari sehingga kita lebih berani melangkah. Semoga bermanfaat. (*)

Previous articlePede dan Covid
Next articlePintu Kematian

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru