alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Kesaksian atas Kezuhudan Romo Agus Sunyoto

Hidup Sederhana dan Berpikir Besar

K.Ng. Agus Sunyoto atau saya sebut lebih familiar Romo Agus, ketua Lesbumi PB NU, pendiri pondok Tarbiyatul Arifin, dan mantan wartawan Jawa Pos plus penulis besar sejarah Islam, 27 April lalu wafat. Inilah obituari saya tentang beliau.

——————–

Mahatma Gandhi, siapa yang tak mengenal tokoh dunia ini. Guru dan bapak bangsa India ini berhasil memerdekakan India dari penjajahan Inggris. Ketika India sudah merdeka, beliau menolak tawaran jabatan apa pun, dari presiden sampai perdana menteri ditolaknya. Ia sejak awal perjuangannya tidak pernah berorientasi untuk memperoleh kekuasaan pribadi, selain satu tujuan tunggal: memerdekakan bangsanya. Bukan hanya kekuasaan politik yang dihindari, kenikmatan duniawi pun, ditinggalkan.

Kalau orang kebanyakan tiap hari menambah keinginan duniawinya apalagi secara materi dia mampu, Gandhi dalam kegemilangan materi yang sangat mampu dia kumpulkan, tiap hari malah mengurangi kebutuhannya, alih-alih keinginannya. Puncaknya adalah dia mengeluarkan pembantu rumah tangganya karena dia sadar penuh bahwa dirinya dan anak istrinya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri. Tentu saja anak istrinya protes keras. Sampai suatu saat istrinya harus menyikat kloset WC sendiri, maka meledaklah protesnya. Dia menolak dan bilang pada Gandhi. ”Aku ini istri seorang Mahatma, masak aku harus menyikat kloset sendiri!!” teriaknya sambil melemparkan sikat kloset. Dengan tenang Gandhi menjawab, ”Keluarlah dari rumah ini kalau kamu tidak mau mengurusi pekerjaan yang bisa kamu kerjakan sendiri.”

Prinsip hidup Gandhi, yakni ”The little living and the big thinking”, hidup sederhana dan berpikir besar seperti itu saya kira hanya pada Gandhi (sebagai orang biasa bukan nabi) dan selanjutnya akan jadi mitos. Ternyata tidak. Saya ternyata sempat menemukan pribadi yang menerapkan laku hidup ”The little living and the big thinking” dalam kehidupan praksis secara konsisten pada diri Mas Agus Sunyoto.

Saya sangat bersyukur bisa kenal dia dan kemudian menjadi sahabat dan guru rohani saya secara tidak langsung. Saya tidak gampang memilih guru rohani. Selain saya harus menilai kualitas ilmunya, juga–dan ini yang penting bagi saya– adalah konsistensi menerapkan kedalaman ilmunya dalam laku hidup kesehariannya. Sudah puluhan kiai, dari yang kaliber lokal, regional, hingga nasional yang pernah saya kumpuli, bahkan secara intens. Namun, saya sering dibuat kecewa, karena ilmu dan amaliahnya seperti langit dan bumi. Bagaimana kita mau percaya seorang ulama bicara atau dakwah tentang hidup zuhud, sementara ke mana-mana dia naik Mercy atau Jeep Rubicon? Pada laku seorang Agus Sunyoto saya baru menemui kezuhudan yang sebenarnya.

Saya beberapa kali melakukan perjalanan dakwah dengan beliau. Pernah suatu kali harus menginap di Semarang. Karena kami bertiga, maka harus menambah satu kasur lagi di kamar hotel yang hanya menyediakan dua kasur. Romo Agus pun menolak. Alasannya, tidak perlu menambah pengeluaran lagi dan beliau memilih tidur di karpet. Tentu saja saya menolak. Toh saya punya uang cukup untuk membayarnya dan tidak mungkin saya membiarkan beliau tidur di karpet. Namun beliau bersikeras. Beliau bilang ”Biaya untuk extra bed disumbangkan saja untuk bangun masjid di Blitar. Atapnya belum jadi.” Ya sudah, saya tidak berani membantah. Lalu saya tawarkan beliau yang tidur di tempat tidur, saya atau teman saya yang tidur di karpet beralaskan selimut. Beliau menolak. ”Aku susah tidur kalau kasurnya terlalu empuk,” katanya sambil menggelar selimut di karpet. Tak berapa lama kemudian sudah terdengar suara dengkurnya.

Ini bukan pengalaman pertama dan terakhir. Karena sering diundang dakwah ke mana-mana dan Mas Agus selalu menggunakan sepatu bertali, maka saya pikir itu tidak praktis. Saya tanya apa beliau tidak punya sepatu sandal. Dia bilang, tidak punya. Lalu saya tanya berapa ukuran kakinya. Setelah tahu, lalu saya belikan sepatu sandal kulit lumayan bagus. Saat saya sowan ke pondoknya, saya serahkan sepatu sandal itu. Wajahnya tampak senang dan dipakainya sepatu sandal itu. Tiba-tiba dicopotnya sepatu sandal itu dan diamatinya. ”Ini mesti mahal. Mesti ratusan ribu rupiah. Kalau sebelumnya sampean bilang mau belikan sepatu sandal saya, tidak usah yang terbuat dari kulit, cukup dari plastik. Sisa uangnya bisa dibelikan semen untuk menyelesaikan bangun masjid di pondok.” Saya pun bingung mereaksinya. Saya hanya bilang, ”Apa salahnya sih Mas, sesekali memanjakan diri?” Mas Agus diam saja. Beberapa bulan kemudian, saya lihat dia benar-benar mengenakan sepatu sandal plastik warna putih. Mungkin sepatu sandal kulit dari saya sudah rusak.

Banyak sekali laku kezuhudannya yang bisa diceritakan. Sebagian besar, atau mungkin malah seluruh penghasilannya dari royalti menulis, mengajar, dan dakwahnya, digunakan untuk jalan agama. Memberi santunan pada janda-janda telantar, para yatim, membiayai pondoknya dan santri-santri plus murid-murid RA dan MI yang tiap bulan selalu defisit. Nyaris tidak ada untuk kenikmatan duniawi bagi dirinya sendiri dan juga keluarganya. Saya sangat dekat dengan Mas Agus Sunyoto. Kadang saya berani memprotesnya. Saya sempat memprotes keras beliau ketika memutuskan tidak menguliahkan anak-anaknya. Maklum, saya seorang dosen dan bagi saya kuliah itu penting untuk modal mobilitas vertikal dalam stratifikasi sosial. Jawabannya di luar perkiraan saya. ”Lulus SMA sudah bisa untuk mencari pekerjaan. Saya tidak punya pekerjaan tetap. Kalau saya membiayai anak-anak saya kuliah di perguruan tinggi, saya tidak bisa maksimal beramal.” Mau bilang apa kalau sudah begitu prinsipnya. Istrinya pernah protes karena tidak dibangunkan rumah. Seluruh bangunan pondok sudah diwakafkan. Jawabannya enteng saja. ”Kamu sudah saya bangunkan rumah di surga.”

Dua minggu sebelum beliau wafat, saya sempat ngobrol bersama. Beliau cerita yang ia miliki tinggal sepeda motor tuanya yang masih atas nama dia, tapi sudah disampaikan ke yayasan pondoknya, bahwa motor itu sudah ia wakafkan.

Beberapa hal yang saya ceritakan di atas adalah contoh-contoh laku kezuhudannya. The litte living dari laku hidupnya, sedangkan pikiran-pikiran besarnya. The big thinking-nya, masterpiece-nya adalah menulis sendiri, ya sendirian, tentang sejarah kiprah para Wali Sanga dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, dalam bukunya ”Atlas Wali Songo” yang menjadi best seller dan terus cetak ulang. Seorang penulis sejarah dari Surabaya bilang pada saya, ”Gila Mas Agus ini. Menulis buku sejarah Wali Sanga sebagus dan selengkap ini sendirian. Saya beberapa kali membentuk tim untuk menulis sejarah Wali Sanga nggak pernah berhasil.”

Pikiran besarnya yang lain adalah membangun pondok Tarbiyatul Arifin di tengah-tengah perkampungan yang nyaris tidak menjadikan Islam sebagai pedoman laku keseharian masyarakatnya. Bahkan, ada agama lain yang lebih dulu membuka sekolah di kawasan itu. Melihat ada ancaman yang merugikan syiar Islam, Mas Agus memutuskan mendirikan pondok di tanah miliknya yang hanya seluas 600 meter persegi. Semua dibiayai sendiri. Tidak ada proposal minta bantuan ke mana pun. Jangan dikira tidak ada penentangan atas berdirinya pondok tersebut. Baik secara sosial dari masyarakat maupun aparat desa, bahkan secara gaib pun dilakukan untuk mencegah pondok itu berdiri. Awal pendirian pondok di kawasan Wendit, Mas Agus didatangi makhluk gaib berupa monyet besar menyerupai gorila. Tahu-tahu sudah berdiri di tengah rumah dan minta Mas Agus untuk buat selamatan minta izin gorila itu untuk bangun pondok di situ. Mas Agus menolaknya. Dia hanya minta izin ke Allah, jawabnya. Dan disuruh gorila gaib itu pergi. Karena gorila gaib itu tetap bertahan di rumah itu, maka dengan terpaksa Mas Agus menendangnya sampai gorila itu terpental keluar dan tidak pernah kembali lagi.

Demi syiar Islam dan mencerdaskan masyarakat sekitar, Mas Agus korbankan apa pun yang dia punya untuk kelangsungan pondoknya. Terakhir muridnya ada 150 orang. Sepertiganya tidak mampu bayar dan Mas Agus yang berjibaku sendiri untuk membiayai, tanpa penghasilan tetap.

Saya akan menutup obituari saya tentang pribadi dan laku hidup Romo Agus dengan mengutip perkataan Yahya Bin Muadz Ar Razi, yakni: ”Orang yang zuhud dan jujur adalah makanan pokok apa yang ada, pakaiannya apa yang dapat menutupi aurat saja, tempat tinggalnya di mana ia berada. Dunia itu penjaranya. Kubur itu tempat berbaringnya, tempat yang sepi itu tempat duduknya, mengambil iktibar itu berfikirnya. Alquran itu pembicaraanya. Tuhan itu kesayangan hatinya, berzikir kepada Allah itu kawannya. Zuhud itu kawan hidupnya, lapar itu lauk-pauknya, rasa malu itu syiarnya, hikmah itu pembicaraannya, debu tanah itu alas tidurnya, takwa itu bekal hidupnya, kesabaran itu pegangannya, tawakal itu yang mencukupinya, akal itu yang menunjukkannya, ibadah ke Allah Ta’ala itu pekerjaannya, dan surga itu tujuan hidupnya.”

Ini adalah tingkatan orang-orang yang ma’rifah. Insya Allah Ta’ala, itulah Mas Agus yang kukenal. Sekarang beliau menikmati laku hidupnya yang tegak lurus hanya dan untuk Allah Ta’ala di alamnya sekarang. Sampai ketemu guru rohaniku. Saat-saat bercengkerama denganmu untuk mereguk ilmu rohanimu dan amal hidupmu, tak akan terlupakan. Dan semoga pencerahanmu yang tersurat dan tersirat akan menjadi pahalamu. Yakin. Khusnul khotimah.

Malang. 16 Mei 2021.

(Tulisan ini juga akan dimuat dalam buku 100 hari K.Ng. Agus Sunyoto)

*Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos sekaligus dosen di Universitas Brawijaya

K.Ng. Agus Sunyoto atau saya sebut lebih familiar Romo Agus, ketua Lesbumi PB NU, pendiri pondok Tarbiyatul Arifin, dan mantan wartawan Jawa Pos plus penulis besar sejarah Islam, 27 April lalu wafat. Inilah obituari saya tentang beliau.

——————–

Mahatma Gandhi, siapa yang tak mengenal tokoh dunia ini. Guru dan bapak bangsa India ini berhasil memerdekakan India dari penjajahan Inggris. Ketika India sudah merdeka, beliau menolak tawaran jabatan apa pun, dari presiden sampai perdana menteri ditolaknya. Ia sejak awal perjuangannya tidak pernah berorientasi untuk memperoleh kekuasaan pribadi, selain satu tujuan tunggal: memerdekakan bangsanya. Bukan hanya kekuasaan politik yang dihindari, kenikmatan duniawi pun, ditinggalkan.

Kalau orang kebanyakan tiap hari menambah keinginan duniawinya apalagi secara materi dia mampu, Gandhi dalam kegemilangan materi yang sangat mampu dia kumpulkan, tiap hari malah mengurangi kebutuhannya, alih-alih keinginannya. Puncaknya adalah dia mengeluarkan pembantu rumah tangganya karena dia sadar penuh bahwa dirinya dan anak istrinya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri. Tentu saja anak istrinya protes keras. Sampai suatu saat istrinya harus menyikat kloset WC sendiri, maka meledaklah protesnya. Dia menolak dan bilang pada Gandhi. ”Aku ini istri seorang Mahatma, masak aku harus menyikat kloset sendiri!!” teriaknya sambil melemparkan sikat kloset. Dengan tenang Gandhi menjawab, ”Keluarlah dari rumah ini kalau kamu tidak mau mengurusi pekerjaan yang bisa kamu kerjakan sendiri.”

Prinsip hidup Gandhi, yakni ”The little living and the big thinking”, hidup sederhana dan berpikir besar seperti itu saya kira hanya pada Gandhi (sebagai orang biasa bukan nabi) dan selanjutnya akan jadi mitos. Ternyata tidak. Saya ternyata sempat menemukan pribadi yang menerapkan laku hidup ”The little living and the big thinking” dalam kehidupan praksis secara konsisten pada diri Mas Agus Sunyoto.

Saya sangat bersyukur bisa kenal dia dan kemudian menjadi sahabat dan guru rohani saya secara tidak langsung. Saya tidak gampang memilih guru rohani. Selain saya harus menilai kualitas ilmunya, juga–dan ini yang penting bagi saya– adalah konsistensi menerapkan kedalaman ilmunya dalam laku hidup kesehariannya. Sudah puluhan kiai, dari yang kaliber lokal, regional, hingga nasional yang pernah saya kumpuli, bahkan secara intens. Namun, saya sering dibuat kecewa, karena ilmu dan amaliahnya seperti langit dan bumi. Bagaimana kita mau percaya seorang ulama bicara atau dakwah tentang hidup zuhud, sementara ke mana-mana dia naik Mercy atau Jeep Rubicon? Pada laku seorang Agus Sunyoto saya baru menemui kezuhudan yang sebenarnya.

Saya beberapa kali melakukan perjalanan dakwah dengan beliau. Pernah suatu kali harus menginap di Semarang. Karena kami bertiga, maka harus menambah satu kasur lagi di kamar hotel yang hanya menyediakan dua kasur. Romo Agus pun menolak. Alasannya, tidak perlu menambah pengeluaran lagi dan beliau memilih tidur di karpet. Tentu saja saya menolak. Toh saya punya uang cukup untuk membayarnya dan tidak mungkin saya membiarkan beliau tidur di karpet. Namun beliau bersikeras. Beliau bilang ”Biaya untuk extra bed disumbangkan saja untuk bangun masjid di Blitar. Atapnya belum jadi.” Ya sudah, saya tidak berani membantah. Lalu saya tawarkan beliau yang tidur di tempat tidur, saya atau teman saya yang tidur di karpet beralaskan selimut. Beliau menolak. ”Aku susah tidur kalau kasurnya terlalu empuk,” katanya sambil menggelar selimut di karpet. Tak berapa lama kemudian sudah terdengar suara dengkurnya.

Ini bukan pengalaman pertama dan terakhir. Karena sering diundang dakwah ke mana-mana dan Mas Agus selalu menggunakan sepatu bertali, maka saya pikir itu tidak praktis. Saya tanya apa beliau tidak punya sepatu sandal. Dia bilang, tidak punya. Lalu saya tanya berapa ukuran kakinya. Setelah tahu, lalu saya belikan sepatu sandal kulit lumayan bagus. Saat saya sowan ke pondoknya, saya serahkan sepatu sandal itu. Wajahnya tampak senang dan dipakainya sepatu sandal itu. Tiba-tiba dicopotnya sepatu sandal itu dan diamatinya. ”Ini mesti mahal. Mesti ratusan ribu rupiah. Kalau sebelumnya sampean bilang mau belikan sepatu sandal saya, tidak usah yang terbuat dari kulit, cukup dari plastik. Sisa uangnya bisa dibelikan semen untuk menyelesaikan bangun masjid di pondok.” Saya pun bingung mereaksinya. Saya hanya bilang, ”Apa salahnya sih Mas, sesekali memanjakan diri?” Mas Agus diam saja. Beberapa bulan kemudian, saya lihat dia benar-benar mengenakan sepatu sandal plastik warna putih. Mungkin sepatu sandal kulit dari saya sudah rusak.

Banyak sekali laku kezuhudannya yang bisa diceritakan. Sebagian besar, atau mungkin malah seluruh penghasilannya dari royalti menulis, mengajar, dan dakwahnya, digunakan untuk jalan agama. Memberi santunan pada janda-janda telantar, para yatim, membiayai pondoknya dan santri-santri plus murid-murid RA dan MI yang tiap bulan selalu defisit. Nyaris tidak ada untuk kenikmatan duniawi bagi dirinya sendiri dan juga keluarganya. Saya sangat dekat dengan Mas Agus Sunyoto. Kadang saya berani memprotesnya. Saya sempat memprotes keras beliau ketika memutuskan tidak menguliahkan anak-anaknya. Maklum, saya seorang dosen dan bagi saya kuliah itu penting untuk modal mobilitas vertikal dalam stratifikasi sosial. Jawabannya di luar perkiraan saya. ”Lulus SMA sudah bisa untuk mencari pekerjaan. Saya tidak punya pekerjaan tetap. Kalau saya membiayai anak-anak saya kuliah di perguruan tinggi, saya tidak bisa maksimal beramal.” Mau bilang apa kalau sudah begitu prinsipnya. Istrinya pernah protes karena tidak dibangunkan rumah. Seluruh bangunan pondok sudah diwakafkan. Jawabannya enteng saja. ”Kamu sudah saya bangunkan rumah di surga.”

Dua minggu sebelum beliau wafat, saya sempat ngobrol bersama. Beliau cerita yang ia miliki tinggal sepeda motor tuanya yang masih atas nama dia, tapi sudah disampaikan ke yayasan pondoknya, bahwa motor itu sudah ia wakafkan.

Beberapa hal yang saya ceritakan di atas adalah contoh-contoh laku kezuhudannya. The litte living dari laku hidupnya, sedangkan pikiran-pikiran besarnya. The big thinking-nya, masterpiece-nya adalah menulis sendiri, ya sendirian, tentang sejarah kiprah para Wali Sanga dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, dalam bukunya ”Atlas Wali Songo” yang menjadi best seller dan terus cetak ulang. Seorang penulis sejarah dari Surabaya bilang pada saya, ”Gila Mas Agus ini. Menulis buku sejarah Wali Sanga sebagus dan selengkap ini sendirian. Saya beberapa kali membentuk tim untuk menulis sejarah Wali Sanga nggak pernah berhasil.”

Pikiran besarnya yang lain adalah membangun pondok Tarbiyatul Arifin di tengah-tengah perkampungan yang nyaris tidak menjadikan Islam sebagai pedoman laku keseharian masyarakatnya. Bahkan, ada agama lain yang lebih dulu membuka sekolah di kawasan itu. Melihat ada ancaman yang merugikan syiar Islam, Mas Agus memutuskan mendirikan pondok di tanah miliknya yang hanya seluas 600 meter persegi. Semua dibiayai sendiri. Tidak ada proposal minta bantuan ke mana pun. Jangan dikira tidak ada penentangan atas berdirinya pondok tersebut. Baik secara sosial dari masyarakat maupun aparat desa, bahkan secara gaib pun dilakukan untuk mencegah pondok itu berdiri. Awal pendirian pondok di kawasan Wendit, Mas Agus didatangi makhluk gaib berupa monyet besar menyerupai gorila. Tahu-tahu sudah berdiri di tengah rumah dan minta Mas Agus untuk buat selamatan minta izin gorila itu untuk bangun pondok di situ. Mas Agus menolaknya. Dia hanya minta izin ke Allah, jawabnya. Dan disuruh gorila gaib itu pergi. Karena gorila gaib itu tetap bertahan di rumah itu, maka dengan terpaksa Mas Agus menendangnya sampai gorila itu terpental keluar dan tidak pernah kembali lagi.

Demi syiar Islam dan mencerdaskan masyarakat sekitar, Mas Agus korbankan apa pun yang dia punya untuk kelangsungan pondoknya. Terakhir muridnya ada 150 orang. Sepertiganya tidak mampu bayar dan Mas Agus yang berjibaku sendiri untuk membiayai, tanpa penghasilan tetap.

Saya akan menutup obituari saya tentang pribadi dan laku hidup Romo Agus dengan mengutip perkataan Yahya Bin Muadz Ar Razi, yakni: ”Orang yang zuhud dan jujur adalah makanan pokok apa yang ada, pakaiannya apa yang dapat menutupi aurat saja, tempat tinggalnya di mana ia berada. Dunia itu penjaranya. Kubur itu tempat berbaringnya, tempat yang sepi itu tempat duduknya, mengambil iktibar itu berfikirnya. Alquran itu pembicaraanya. Tuhan itu kesayangan hatinya, berzikir kepada Allah itu kawannya. Zuhud itu kawan hidupnya, lapar itu lauk-pauknya, rasa malu itu syiarnya, hikmah itu pembicaraannya, debu tanah itu alas tidurnya, takwa itu bekal hidupnya, kesabaran itu pegangannya, tawakal itu yang mencukupinya, akal itu yang menunjukkannya, ibadah ke Allah Ta’ala itu pekerjaannya, dan surga itu tujuan hidupnya.”

Ini adalah tingkatan orang-orang yang ma’rifah. Insya Allah Ta’ala, itulah Mas Agus yang kukenal. Sekarang beliau menikmati laku hidupnya yang tegak lurus hanya dan untuk Allah Ta’ala di alamnya sekarang. Sampai ketemu guru rohaniku. Saat-saat bercengkerama denganmu untuk mereguk ilmu rohanimu dan amal hidupmu, tak akan terlupakan. Dan semoga pencerahanmu yang tersurat dan tersirat akan menjadi pahalamu. Yakin. Khusnul khotimah.

Malang. 16 Mei 2021.

(Tulisan ini juga akan dimuat dalam buku 100 hari K.Ng. Agus Sunyoto)

*Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos sekaligus dosen di Universitas Brawijaya

Previous articleNarsis
Next articleKonsep Landak, Cara Baru Bisnis Maju

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/