alexametrics
30.6 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

PPKM dan Mentalitas Kita

Pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, 3 dan 2 mulai hari Selasa (17/8/2021) hingga 23 Agustus 2021 di Jawa-Bali. Keputusan tersebut diumumkan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan selaku koordinator PPKM darurat pada konferensi pers secara daring, Senin (16/8/2021). Berdasarkan evaluasi yang dilakukan atas arahan dan petunjuk Presiden RI, maka PPKM level 2, 3, dan 4 diperpanjang sampai 23 Agustus 2021. Aturan mengenai penerapan PPKM level 4, 3, dan 2 periode 17-23 Agustus 2021 ini diatur dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 34 Tahun 2021.

Kebijakan pemerintah ini memang harus tetap memenuhi beberapa ketentuan yang telah ditetapkan oleh WHO, yaitu negara harus mempunyai bukti bahwa transmisi virus corona mampu dikendalikan, memiliki kapasitas sistem kesehatan masyarakat yang mumpuni, termasuk mempunyai rumah sakit untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien Covid-19 (test, treat, trace and isolate). Risiko penularan wabah harus diminimalisir terutama di wilayah dengan kerentanan tinggi, misalnya di panti jompo, rumah sakit, pasar dan tempat keramaian lainnya.
Demikian pula langkah-langkah pencegahan di tempat kerja harus tetap diberlakukan, seperti memakai masker, physical distancing, mencuci tangan, etika batuk dan bersin, dan protokol pencegahan lainnya. Pelibatan para tokoh masyarakat untuk memberi saran dan masukan dalam menangkal Covid-19 tersebut juga sangat diperlukan. Demikian pula, elit masyarakat harus bersatu dan memiliki misi dan langkah yang sama dalam menangani problem pandemi Covid-19 ini.

Makna Prokes
Bahwa makna mentaati protokol kesehatan adalah kita harus melakukan perubahan dalam menata kehidupan ini dengan benar sesuai hukum alam yang berlaku, yaitu bersahabat dengan alam dan konsisten untuk merawat dan menjaga ekosistem ini dengan baik. Bahkan bisa dikatakan, bahwa Covid-19 ini muncul akibat dari dosa kosmik yang dilakukan oleh manusia kepada alam. Maka semestinya manusia meminta maaf tidak saja kepada sesama manusia tetapi juga kepada alam, khususnya kepada virus corona itu sendiri. Karena sesungguhnya kehidupan ini memiliki tiga keterkaitan, yaitu Tuhan, manusia dan alam. Nah, ketika tiga hubungan ini terjadi kesenjangan (gap), maka akan terjadi pula disharmoni kehidupan. Di sinilah perlunya memahami dengan benar persoalan yang terkait dengan Covid-19 ini, yaitu problem ketimpangan relasional dan bad ethic, di mana manusia sudah tidak lagi bersahabat dengan alam dengan tidak mengindahkan hak hidup makhluk lain.

Dalam perspektif sosiologi agama, manusia mengenal tiga relasi (three centers of relationship) yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain bak setali tiga uang. Jika tiga relasi ini dibangun secara baik, maka dunia ini akan aman dan harmonis, sebaliknya jika timpang salah satunya maka akan terjadi chaos dan disharmonis seperti yang terjadi saat ini, yaitu apa yang disebut dengan chaos of the world, yang sistematis, massif dan global yang disebabkan di antara kita tidak bersahabat dengan alam dan merampas hak-hak makhluk lain.

Problem Covid-19 atau problem penyakit yang lain adalah menyangkut problem makanan, kebersihan, dan problem perilaku (behavior). Maka dalam doktrin Islam kita diperintahkan untuk makan makanan yang halal dan baik, halalan thayyiba (QS. Al-Baqarah:168). Tidak sekadar halal tetapi harus baik untuk kesehatan badan dan tidak berlebihan, israf (QS. Al-A’raf: 31). Dalam soal kebersihan atau kesehatan kita juga diperintahkan oleh agama kita supaya menjaga kebersihan mulai dari wudlu hingga mandi besar atau junub (QS. Al-Maidah: 6). Bahkan tidak saja menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mental. Dalam hal ini Ibn Sina menyatakan, “bahwa kepanikan adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah separo dari obat, dan sabar adalah awal dari kesembuhan”.

Makna memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan menjauhi kerumunan juga harus dipahami secara luas. Memakai masker tidak hanya bermakna lahiriyah, menjaga penularan virus lewat mulut, namun lebih dari itu adalah bahwa kita perlu menjaga mulut kita dari ucapan yang kotor dan menimbulkan perpecahan dan konflik. Makna mencuci tangan juga demikian, lebih dari sekadar membersihkan tangan kita dari kotoran atau virus, namun juga berarti menjaga tangan kita terhindar dari menggoreskan tangan atau men-share informasi yang salah dan menyesatkan (hoax dan hate speech) yang merugikan orang lain. Demikian juga menjaga jarak maknanya, bahwa kita perlu membatasi pergaulan yang tidak baik dan menjauhkan dari persekongkolan jahat.
Dalam konteks PPKM ini tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah menyangkut soal budaya dan mentalitas. Sebagaimana yang dikatakan oleh pakar antropologi Indonesia (alm) Koentjoroningrat, bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya dan mentalitas yang suka menerobos dan indisipliner. Mentalitas inilah yang sulit dibendung dalam menghadapi aturan pemerintah dalam mengatasi pandemi covid-19 ini. Sudah banyak kasus pelanggaran protokol kesehatan dan menerobos jalan yang mestinya dilarang. Ditambah lagi tidak adanya keteladanan oleh sebagian tokoh kita yang melanggar aturan pemerintah.

Budaya kita yang suka nongkrong dan kongko-kongko, mental indisipliner dan suka menempuh jalan pintas menghambat pemulihan terjangkitnya wabah covid-19 ini. Kasus seperti yang pernah dialami oleh aparat di Jakarta dan juga salah satu tokoh agama di Jawa Timur tahun lalu, yang melanggar aturan tidak bersedia memakai masker dan bertengkar dengan petugas menunjukkan betapa masih ada figur publik yang tidak bisa dijadikan teladan oleh masyarakat. Maka sebenarnya “vaksin kedisiplinan” merupakan obat yang sangat manjur untuk mengatasi pandemi covid-19 tersebut. Dan kedisiplinan merupakan bagian dari mentalitas dan budaya bangsa yang mesti ditanamkan dan dikembangkan.

Oleh sebab itu dalam konteks penanganan covid-19 ini, tetap diperlukan kerja yang sinergi antara para tokoh, baik tokoh agama, pemerintah maupun komponen lainnya untuk tetap mematuhi aturan yang berlaku. Pelibatan para tokoh masyarakat, instansi terkait dan juga media untuk turut mengawal PPKM tersebut sangat menentukan adanya kesadaran masyarakat menuju kehidupan baru yang lebih baik, sehat dan aman, semoga.

Pemerintah kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, 3 dan 2 mulai hari Selasa (17/8/2021) hingga 23 Agustus 2021 di Jawa-Bali. Keputusan tersebut diumumkan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan selaku koordinator PPKM darurat pada konferensi pers secara daring, Senin (16/8/2021). Berdasarkan evaluasi yang dilakukan atas arahan dan petunjuk Presiden RI, maka PPKM level 2, 3, dan 4 diperpanjang sampai 23 Agustus 2021. Aturan mengenai penerapan PPKM level 4, 3, dan 2 periode 17-23 Agustus 2021 ini diatur dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 34 Tahun 2021.

Kebijakan pemerintah ini memang harus tetap memenuhi beberapa ketentuan yang telah ditetapkan oleh WHO, yaitu negara harus mempunyai bukti bahwa transmisi virus corona mampu dikendalikan, memiliki kapasitas sistem kesehatan masyarakat yang mumpuni, termasuk mempunyai rumah sakit untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien Covid-19 (test, treat, trace and isolate). Risiko penularan wabah harus diminimalisir terutama di wilayah dengan kerentanan tinggi, misalnya di panti jompo, rumah sakit, pasar dan tempat keramaian lainnya.
Demikian pula langkah-langkah pencegahan di tempat kerja harus tetap diberlakukan, seperti memakai masker, physical distancing, mencuci tangan, etika batuk dan bersin, dan protokol pencegahan lainnya. Pelibatan para tokoh masyarakat untuk memberi saran dan masukan dalam menangkal Covid-19 tersebut juga sangat diperlukan. Demikian pula, elit masyarakat harus bersatu dan memiliki misi dan langkah yang sama dalam menangani problem pandemi Covid-19 ini.

Makna Prokes
Bahwa makna mentaati protokol kesehatan adalah kita harus melakukan perubahan dalam menata kehidupan ini dengan benar sesuai hukum alam yang berlaku, yaitu bersahabat dengan alam dan konsisten untuk merawat dan menjaga ekosistem ini dengan baik. Bahkan bisa dikatakan, bahwa Covid-19 ini muncul akibat dari dosa kosmik yang dilakukan oleh manusia kepada alam. Maka semestinya manusia meminta maaf tidak saja kepada sesama manusia tetapi juga kepada alam, khususnya kepada virus corona itu sendiri. Karena sesungguhnya kehidupan ini memiliki tiga keterkaitan, yaitu Tuhan, manusia dan alam. Nah, ketika tiga hubungan ini terjadi kesenjangan (gap), maka akan terjadi pula disharmoni kehidupan. Di sinilah perlunya memahami dengan benar persoalan yang terkait dengan Covid-19 ini, yaitu problem ketimpangan relasional dan bad ethic, di mana manusia sudah tidak lagi bersahabat dengan alam dengan tidak mengindahkan hak hidup makhluk lain.

Dalam perspektif sosiologi agama, manusia mengenal tiga relasi (three centers of relationship) yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain bak setali tiga uang. Jika tiga relasi ini dibangun secara baik, maka dunia ini akan aman dan harmonis, sebaliknya jika timpang salah satunya maka akan terjadi chaos dan disharmonis seperti yang terjadi saat ini, yaitu apa yang disebut dengan chaos of the world, yang sistematis, massif dan global yang disebabkan di antara kita tidak bersahabat dengan alam dan merampas hak-hak makhluk lain.

Problem Covid-19 atau problem penyakit yang lain adalah menyangkut problem makanan, kebersihan, dan problem perilaku (behavior). Maka dalam doktrin Islam kita diperintahkan untuk makan makanan yang halal dan baik, halalan thayyiba (QS. Al-Baqarah:168). Tidak sekadar halal tetapi harus baik untuk kesehatan badan dan tidak berlebihan, israf (QS. Al-A’raf: 31). Dalam soal kebersihan atau kesehatan kita juga diperintahkan oleh agama kita supaya menjaga kebersihan mulai dari wudlu hingga mandi besar atau junub (QS. Al-Maidah: 6). Bahkan tidak saja menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mental. Dalam hal ini Ibn Sina menyatakan, “bahwa kepanikan adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah separo dari obat, dan sabar adalah awal dari kesembuhan”.

Makna memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan menjauhi kerumunan juga harus dipahami secara luas. Memakai masker tidak hanya bermakna lahiriyah, menjaga penularan virus lewat mulut, namun lebih dari itu adalah bahwa kita perlu menjaga mulut kita dari ucapan yang kotor dan menimbulkan perpecahan dan konflik. Makna mencuci tangan juga demikian, lebih dari sekadar membersihkan tangan kita dari kotoran atau virus, namun juga berarti menjaga tangan kita terhindar dari menggoreskan tangan atau men-share informasi yang salah dan menyesatkan (hoax dan hate speech) yang merugikan orang lain. Demikian juga menjaga jarak maknanya, bahwa kita perlu membatasi pergaulan yang tidak baik dan menjauhkan dari persekongkolan jahat.
Dalam konteks PPKM ini tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah menyangkut soal budaya dan mentalitas. Sebagaimana yang dikatakan oleh pakar antropologi Indonesia (alm) Koentjoroningrat, bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya dan mentalitas yang suka menerobos dan indisipliner. Mentalitas inilah yang sulit dibendung dalam menghadapi aturan pemerintah dalam mengatasi pandemi covid-19 ini. Sudah banyak kasus pelanggaran protokol kesehatan dan menerobos jalan yang mestinya dilarang. Ditambah lagi tidak adanya keteladanan oleh sebagian tokoh kita yang melanggar aturan pemerintah.

Budaya kita yang suka nongkrong dan kongko-kongko, mental indisipliner dan suka menempuh jalan pintas menghambat pemulihan terjangkitnya wabah covid-19 ini. Kasus seperti yang pernah dialami oleh aparat di Jakarta dan juga salah satu tokoh agama di Jawa Timur tahun lalu, yang melanggar aturan tidak bersedia memakai masker dan bertengkar dengan petugas menunjukkan betapa masih ada figur publik yang tidak bisa dijadikan teladan oleh masyarakat. Maka sebenarnya “vaksin kedisiplinan” merupakan obat yang sangat manjur untuk mengatasi pandemi covid-19 tersebut. Dan kedisiplinan merupakan bagian dari mentalitas dan budaya bangsa yang mesti ditanamkan dan dikembangkan.

Oleh sebab itu dalam konteks penanganan covid-19 ini, tetap diperlukan kerja yang sinergi antara para tokoh, baik tokoh agama, pemerintah maupun komponen lainnya untuk tetap mematuhi aturan yang berlaku. Pelibatan para tokoh masyarakat, instansi terkait dan juga media untuk turut mengawal PPKM tersebut sangat menentukan adanya kesadaran masyarakat menuju kehidupan baru yang lebih baik, sehat dan aman, semoga.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/