alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 23 January 2022

Maliobatu

Sebagai kota yang kadung di­kenal sebagai kota wi­sata, sudah se­ha­rusnya jika Kota Batu tidak hanya menyuguhkan des­tinasi wisata itu-itu saja. Maka tak heran, jika objek wisata baru di Kota Batu terus bermun­culan. Geliat pariwisata itu tidak ha­nya dilakukan Pemkot Batu tetapi juga oleh swasta dengan mem­­ba­ngun berba­gai bisnis pariwisata.

Di era Wali Kota Eddy Rumpoko, Kota Batu berhasil menyulap alun-alun dari yang semula tak terawat menjadi destinasi wisata yang hebat.
Sebelum dibangun dulu, nyaris ti­dak ada wisatawan dari luar kota yang mau masuk kawasan alun-alun. Biasanya wisatawan da­tang ke sekitar alun-alun hanya untuk minum susu dan makan ketan di barat alun-alun. Sedangkan yang di dalam alun-alun kebanyakan anak-anak muda yang berpacaran.

Tetapi kemudian, Alun-Alun di­rombak seperti sekarang ini, cantik dan ciamik. Trotoar yang melingkari alun-alun di­perluas dan dihias sehingga makin nya­man untuk jalan kaki. Dan ru­panya Pemkot Ba­tu di era De­wanti Rumpoko juga melan­jut­kannya. Yang terbaru, di Jl Agus Salim di se­latan alun-alun yang selama ini hanya untuk parkir kenda­raan juga disulap menjadi makin kece. Trotoar di­lebarkan dan rencananya akan diberi kursi taman dan lampu hias. Jika sudah jadi, kita bisa mem­bayangkan kira-kira mirip Malioboro di Jogja. Atau biar gampang menyebut­nya kita namakan saja Maliobatu.
Jika sudah jadi, sepertinya Jl Agus Salim ini akan menjadi salah satu jujukan wisatawan juga. Apalagi jika benar seperti apa yang disampaikan oleh ke­pala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu bahwa di kawasan ter­s­ebut juga akan dimanfaat­kan untuk berbagai aktivitas seni budaya. Semoga saja begitu nantinya.

Dan rupanya bukan hanya Malioboro yang akan “ditiru” oleh Kota Batu, tetapi juga Pasar Bringharjo. Karena kabar­nya Pasar Besar Batu akan dibangun dengan konsep mirip Pasar Bringharjo, bahkan lebih baik. Pasar Besar Kota Batu akan menjadi pasar yang juga destinasi wisata 24 jam.
Informasinya, pasar yang di­­bangun dengan anggaran APBN sebesar Rp 200 miliar lebih tersebut akan dibikin tiga lantai. Lantai pertama pe­da­gang yang seperti selama ini, lantai dua lebih ke kios fashion dan lantai tiga untuk kuliner. Informasinya juga, ke depan Pasar Besar Batu akan dikelola dengan baik, sehingga kebersihannya selalu terjaga. Harapannya, dengan konsep seperti itu, Pasar Batu akan jadi tujuan wisata baru. Ya… kita doakan saja semua itu bisa terwujud.

Tentang tiru meniru, menurut he­mat penulis hal itu baik-baik saja, syukur-syukur konsepnya le­bih bagus dari yang ditiru. Karena banyak juga konsep tiruan itu yang berhasil. Salah satu tiruan Malioboro yang ter­masuk berhasil adalah di Kota Madiun. Kota yang miskin po­tensi wisata itu berhasil me­nyulap Jalan Pahlawan men­jadi mirip Malioboro. Kini setiap ma­lam, di “Malioboro” Ma­diun itu selalu ramai pe­ngun­jung. Mereka datang dari Ponorogo, Magetan, Ngawi dan sekitarnya. Saat ini di ka­wasan tersebut makin hidup dan ramai. Bahkan Malioboro cap Madiun ini juga viral di media sosial.
Nggak percaya? Coba ketik kata Malioboro di Mbah Google, maka akan muncul juga Malio­boro Madiun. Mini­mal dengan muncul di halaman per­tama Google orang akan penasaran lalu mengeklik dan ingin ber­kunjung ke Malioboro KW itu. Apapun alasannya kan lu­mayan, bikin banyak orang pe­­nasaran dan akhirnya ber­kunjung. Di sana pengun­jung akan parkir kendaraan, beli makan, minimal beli cilok. Tapi lumayan membangkitkan ekonomi rakyat kecil.
Dan yang terbaru, yang akan me­nirukan konsep Malioboro ada­lah Kota Solo. Wali Kota Mas Gibran, sebagaimana dibe­ritakan detik.com pada 8 De­sember lalu, akan menyulap ko­ridor Jl Gatot Subroto-Mang­kunegaran layaknya Malioboro. Bahkan dia berjanji akan mem­bangun yang lebih bagus dari Malioboro. Nah Kan? Solo saja nggak malu mencontoh Jogja.

Dan sepertinya jika Malioboro made in Solo itu jadi, akan ra­mai dan jadi jujukan wisata­wan di kotanya Pak Jokowi itu. Ayo Kota Batu jangan mau ka­lah, kini semua kota ber­lomba ber­solek menjadi kota wisata. Ja­ngan sampai ketinggalan, jadikan Kota Batu tetap yang paling dirindu. (*)

Sebagai kota yang kadung di­kenal sebagai kota wi­sata, sudah se­ha­rusnya jika Kota Batu tidak hanya menyuguhkan des­tinasi wisata itu-itu saja. Maka tak heran, jika objek wisata baru di Kota Batu terus bermun­culan. Geliat pariwisata itu tidak ha­nya dilakukan Pemkot Batu tetapi juga oleh swasta dengan mem­­ba­ngun berba­gai bisnis pariwisata.

Di era Wali Kota Eddy Rumpoko, Kota Batu berhasil menyulap alun-alun dari yang semula tak terawat menjadi destinasi wisata yang hebat.
Sebelum dibangun dulu, nyaris ti­dak ada wisatawan dari luar kota yang mau masuk kawasan alun-alun. Biasanya wisatawan da­tang ke sekitar alun-alun hanya untuk minum susu dan makan ketan di barat alun-alun. Sedangkan yang di dalam alun-alun kebanyakan anak-anak muda yang berpacaran.

Tetapi kemudian, Alun-Alun di­rombak seperti sekarang ini, cantik dan ciamik. Trotoar yang melingkari alun-alun di­perluas dan dihias sehingga makin nya­man untuk jalan kaki. Dan ru­panya Pemkot Ba­tu di era De­wanti Rumpoko juga melan­jut­kannya. Yang terbaru, di Jl Agus Salim di se­latan alun-alun yang selama ini hanya untuk parkir kenda­raan juga disulap menjadi makin kece. Trotoar di­lebarkan dan rencananya akan diberi kursi taman dan lampu hias. Jika sudah jadi, kita bisa mem­bayangkan kira-kira mirip Malioboro di Jogja. Atau biar gampang menyebut­nya kita namakan saja Maliobatu.
Jika sudah jadi, sepertinya Jl Agus Salim ini akan menjadi salah satu jujukan wisatawan juga. Apalagi jika benar seperti apa yang disampaikan oleh ke­pala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu bahwa di kawasan ter­s­ebut juga akan dimanfaat­kan untuk berbagai aktivitas seni budaya. Semoga saja begitu nantinya.

Dan rupanya bukan hanya Malioboro yang akan “ditiru” oleh Kota Batu, tetapi juga Pasar Bringharjo. Karena kabar­nya Pasar Besar Batu akan dibangun dengan konsep mirip Pasar Bringharjo, bahkan lebih baik. Pasar Besar Kota Batu akan menjadi pasar yang juga destinasi wisata 24 jam.
Informasinya, pasar yang di­­bangun dengan anggaran APBN sebesar Rp 200 miliar lebih tersebut akan dibikin tiga lantai. Lantai pertama pe­da­gang yang seperti selama ini, lantai dua lebih ke kios fashion dan lantai tiga untuk kuliner. Informasinya juga, ke depan Pasar Besar Batu akan dikelola dengan baik, sehingga kebersihannya selalu terjaga. Harapannya, dengan konsep seperti itu, Pasar Batu akan jadi tujuan wisata baru. Ya… kita doakan saja semua itu bisa terwujud.

Tentang tiru meniru, menurut he­mat penulis hal itu baik-baik saja, syukur-syukur konsepnya le­bih bagus dari yang ditiru. Karena banyak juga konsep tiruan itu yang berhasil. Salah satu tiruan Malioboro yang ter­masuk berhasil adalah di Kota Madiun. Kota yang miskin po­tensi wisata itu berhasil me­nyulap Jalan Pahlawan men­jadi mirip Malioboro. Kini setiap ma­lam, di “Malioboro” Ma­diun itu selalu ramai pe­ngun­jung. Mereka datang dari Ponorogo, Magetan, Ngawi dan sekitarnya. Saat ini di ka­wasan tersebut makin hidup dan ramai. Bahkan Malioboro cap Madiun ini juga viral di media sosial.
Nggak percaya? Coba ketik kata Malioboro di Mbah Google, maka akan muncul juga Malio­boro Madiun. Mini­mal dengan muncul di halaman per­tama Google orang akan penasaran lalu mengeklik dan ingin ber­kunjung ke Malioboro KW itu. Apapun alasannya kan lu­mayan, bikin banyak orang pe­­nasaran dan akhirnya ber­kunjung. Di sana pengun­jung akan parkir kendaraan, beli makan, minimal beli cilok. Tapi lumayan membangkitkan ekonomi rakyat kecil.
Dan yang terbaru, yang akan me­nirukan konsep Malioboro ada­lah Kota Solo. Wali Kota Mas Gibran, sebagaimana dibe­ritakan detik.com pada 8 De­sember lalu, akan menyulap ko­ridor Jl Gatot Subroto-Mang­kunegaran layaknya Malioboro. Bahkan dia berjanji akan mem­bangun yang lebih bagus dari Malioboro. Nah Kan? Solo saja nggak malu mencontoh Jogja.

Dan sepertinya jika Malioboro made in Solo itu jadi, akan ra­mai dan jadi jujukan wisata­wan di kotanya Pak Jokowi itu. Ayo Kota Batu jangan mau ka­lah, kini semua kota ber­lomba ber­solek menjadi kota wisata. Ja­ngan sampai ketinggalan, jadikan Kota Batu tetap yang paling dirindu. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru