21.8 C
Malang
Thursday, 2 February 2023

Dampak Kekerasan Seksual terhadap Kesehatan Mental

Oleh: Al thuba Septa Priyanggasari, S.Psi., M.Psi

Wakil Dekan I Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang

 

Studi mengungkapkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban kekerasan seksual, meskipun rasio perempuan yang menjadi korban jauh lebih banyak (UN Women, 2012). Satu dari setiap tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dari pasangan atau kekerasan seksual dari orang lain (UN Women 2019; WHO 2013).

Kekerasan seksual dianggap memiliki dampak psikologis dan fisik (Campbell et al., 2008; Einarsen dan Nielsen, 2014; Krieger et al., 2008). Munculnya traumatik event pasca kejadian bisa langsung dialami atau dirasakan reaksinya oleh si korban dan bisa jadi terlihat dampaknya di masa mendatang entah 5, 10 atau bahkan 20 tahun kedepan. Dampak yang muncul entah itu dengan perubahan orientasi seksual atau timbul kecemasan untuk membangun hubungan dengan lawan jenis.

Traumatik event yang tidak dirasakan secara langsung biasanya terjadi apabila korban masih dalam usia dini, karena pada saat masih kecil memori tersebut masih ditekan di alam bawah sadarnya atau bisa juga karena pada saat masih kecil dia masih perlu menyadari bahwa kondisi ini sangat potensial untuk menjadi sumber masalah. Jadi mungkin dia belum tahu bahwa itu sebenarnya masalah karena dipastikan saat masih kecil secara kognitif masih belum bisa melogikakan hal tersebut. Sedangkan ketika korban beranjak dewasa dan telah memiliki dan mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan aktivitas pelecehan seksual, sehingga memanggil kembali ingatan bahwa korban pernah mengalami pelecehan dan kemudian baru merasa tersakiti.

Ketika korban mengalami hal tersebut, korban harus mendapatkan pemeriksaan tenaga profesional secara menyeluruh sehingga bisa diberikan penanganan secara holistik, karena trauma itu urusannya alam bawah sadar. Alam bawah sadar dapat diibaratkan seperti bawang bombay yang memiliki banyak lapisan. Orang tanpa kecakapan dan keterampilan profesional akan sulit untuk melihat dalamnya, karena kita harus mengupas lapisannya satu persatu untuk menetahui bagian mana yang terluka agar mendapatkan penanganan yang sesuai dan tepat berdasarkan lukanya. Selain itu, mereka akan memetakan dan mengondisikan seluruh keluarga atau teman-teman yang ada di dekat korban untuk melihat siapa yang paling tepat menjadi pendamping utama korban selama proses pengobatan.

Memang untuk mengakses tenaga profesional membutuhkan kemampuan materi yang cukup, lantas pertanyaannya ketika korban berasal dari keluarga kurang mampu bagaimana untuk dapat mengakses fasilitas tersebut?

Saat ini pemerintah telah menerbitkan Undang Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (Undang Undang Dasar TPKS) yang mengatur soal hak-hak korban kekerasan seksual. Sehingga korban kekerasan seksual dapat mengakses layanan hukum, penguatan psikologis, pelayanan kesehatan, maupun hak korban lainnya yang difasilitasi oleh negara. Salah satunya Woman Crisis Center yang tersebar di berbagai daerah atau melalui layanan call center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129.

Selain bantuan tenaga profesional peran keluarga dan orang-orang terdekat juga akan sangat menolong korban melalui masa pemulihan. Keluarga harus dapat menjadi support system  dengan memberikan perhatian serta waktu kepada korban misalnya dengan sering mengajak berdialog agar lambat laun penyintas merasa nyaman untuk bercerita. Aktivitas lain yang dapat dilakukan adalah bermain bersama, ketika melakukan permainan kita sambil memberikan kekuatan dan menanamkan value agar korban tidak selalu berfikir bahwa dirinya tidak memiliki masa depan ataupun pikiran negatif lainnya yang dapat timbul.

Pencegahan Tindak Kekerasan Atau Pelecehan Seksual

Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021 yang dilakukan oleh KemenPPPA, kekerasan fisik dan/atau seksual terhadap perempuan usia 15-64 tahun oleh pasangan dan selain pasangan, prevalensinya menurun 7,3 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Namun, masih terjadi peningkatan prevalensi kekerasan seksual dalam setahun terakhir dari 4,7 persen pada tahun 2016 menjadi 5,2 persen pada tahun 2021.

Meskipun secara prevalensi kekerasan menurun, data menunjukan bahwa masih terjadi kekerasan seksual kepada perempuan yang dilakukan oleh selain pasangan. Untuk itu sexual education penting untuk diajarkan oleh keluarga sejak usia dini. Agar anak mengetahui bagian tubuh yang mana saja yang harus dilindungi dan tidak boleh disentuh orang lain. Lalu apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang tidak dikenal atau orang yang dikenal sekalipun ingin memegang anggota badan tersebut.

Pendidikan seksual diawali dari kesadaran tentang jenis kelaminnya, karena saat ini banyak orang yang orientasi seksualnya menyimpang, karena dari kecil tidak ditanamkan sesuai dengan jenis kelaminnya.. Misalnya menamakan pemahaman, “Saya perempuan, saya cantik, supaya cantik maka aya harus pakai rok” atau jika anak laki-laki, “saya ganteng karena saya laki-laki, supaya ganteng saya harus pakai celana, jika saya bear saya akan seperti ayah”.

Sejak usia 2 tahun, anak juga sudah harus dikenalkan tentang fitrah gender Misal jika saya laki-laki, tidak boleh memukul teman perempuan, harus melindungi teman perempuan. Sedangkan untuk yang perempuan diajarkan jika dijahatin oleh temanlaki-laki atau orang lain, maka aku harus teriak atau lari. Tidak boleh ada yang melihat atau menyentuh bagian-bagian tertentu dalam tubuh perempuan.

Pemahaman ini perlu ditanamkan agar menjadi dasar anak untuk menyerap informasi yang didapatkan dari luar rumah atau melalui paparan informasi dari media digital. Sehingga anak memiliki benteng untuk mencera informasi yang baik dan buruk bagi dirinya.

Jadi orang tua juga harus mempelajari pola asuh anak dan memperhatikan tumbuh kembang anak. Pengetahuan ini bisa didapatkan di KUA pada saat kelas pra-nikah. Selain itu dapat jua diperoleh dari buku kesehatan ibu dan anak (KIA) dari Dinas Kesehatan tentang informasi tumbuh kembang anak. Kemajuan teknologi juga memudahkan orang tua untuk mendapatkan aplikasi bebasis android maupun ios tentang perkembangan tumbuh kembang anak.

Oleh: Al thuba Septa Priyanggasari, S.Psi., M.Psi

Wakil Dekan I Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang

 

Studi mengungkapkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban kekerasan seksual, meskipun rasio perempuan yang menjadi korban jauh lebih banyak (UN Women, 2012). Satu dari setiap tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dari pasangan atau kekerasan seksual dari orang lain (UN Women 2019; WHO 2013).

Kekerasan seksual dianggap memiliki dampak psikologis dan fisik (Campbell et al., 2008; Einarsen dan Nielsen, 2014; Krieger et al., 2008). Munculnya traumatik event pasca kejadian bisa langsung dialami atau dirasakan reaksinya oleh si korban dan bisa jadi terlihat dampaknya di masa mendatang entah 5, 10 atau bahkan 20 tahun kedepan. Dampak yang muncul entah itu dengan perubahan orientasi seksual atau timbul kecemasan untuk membangun hubungan dengan lawan jenis.

Traumatik event yang tidak dirasakan secara langsung biasanya terjadi apabila korban masih dalam usia dini, karena pada saat masih kecil memori tersebut masih ditekan di alam bawah sadarnya atau bisa juga karena pada saat masih kecil dia masih perlu menyadari bahwa kondisi ini sangat potensial untuk menjadi sumber masalah. Jadi mungkin dia belum tahu bahwa itu sebenarnya masalah karena dipastikan saat masih kecil secara kognitif masih belum bisa melogikakan hal tersebut. Sedangkan ketika korban beranjak dewasa dan telah memiliki dan mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan aktivitas pelecehan seksual, sehingga memanggil kembali ingatan bahwa korban pernah mengalami pelecehan dan kemudian baru merasa tersakiti.

Ketika korban mengalami hal tersebut, korban harus mendapatkan pemeriksaan tenaga profesional secara menyeluruh sehingga bisa diberikan penanganan secara holistik, karena trauma itu urusannya alam bawah sadar. Alam bawah sadar dapat diibaratkan seperti bawang bombay yang memiliki banyak lapisan. Orang tanpa kecakapan dan keterampilan profesional akan sulit untuk melihat dalamnya, karena kita harus mengupas lapisannya satu persatu untuk menetahui bagian mana yang terluka agar mendapatkan penanganan yang sesuai dan tepat berdasarkan lukanya. Selain itu, mereka akan memetakan dan mengondisikan seluruh keluarga atau teman-teman yang ada di dekat korban untuk melihat siapa yang paling tepat menjadi pendamping utama korban selama proses pengobatan.

Memang untuk mengakses tenaga profesional membutuhkan kemampuan materi yang cukup, lantas pertanyaannya ketika korban berasal dari keluarga kurang mampu bagaimana untuk dapat mengakses fasilitas tersebut?

Saat ini pemerintah telah menerbitkan Undang Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (Undang Undang Dasar TPKS) yang mengatur soal hak-hak korban kekerasan seksual. Sehingga korban kekerasan seksual dapat mengakses layanan hukum, penguatan psikologis, pelayanan kesehatan, maupun hak korban lainnya yang difasilitasi oleh negara. Salah satunya Woman Crisis Center yang tersebar di berbagai daerah atau melalui layanan call center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129.

Selain bantuan tenaga profesional peran keluarga dan orang-orang terdekat juga akan sangat menolong korban melalui masa pemulihan. Keluarga harus dapat menjadi support system  dengan memberikan perhatian serta waktu kepada korban misalnya dengan sering mengajak berdialog agar lambat laun penyintas merasa nyaman untuk bercerita. Aktivitas lain yang dapat dilakukan adalah bermain bersama, ketika melakukan permainan kita sambil memberikan kekuatan dan menanamkan value agar korban tidak selalu berfikir bahwa dirinya tidak memiliki masa depan ataupun pikiran negatif lainnya yang dapat timbul.

Pencegahan Tindak Kekerasan Atau Pelecehan Seksual

Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021 yang dilakukan oleh KemenPPPA, kekerasan fisik dan/atau seksual terhadap perempuan usia 15-64 tahun oleh pasangan dan selain pasangan, prevalensinya menurun 7,3 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Namun, masih terjadi peningkatan prevalensi kekerasan seksual dalam setahun terakhir dari 4,7 persen pada tahun 2016 menjadi 5,2 persen pada tahun 2021.

Meskipun secara prevalensi kekerasan menurun, data menunjukan bahwa masih terjadi kekerasan seksual kepada perempuan yang dilakukan oleh selain pasangan. Untuk itu sexual education penting untuk diajarkan oleh keluarga sejak usia dini. Agar anak mengetahui bagian tubuh yang mana saja yang harus dilindungi dan tidak boleh disentuh orang lain. Lalu apa yang harus dilakukan ketika ada orang yang tidak dikenal atau orang yang dikenal sekalipun ingin memegang anggota badan tersebut.

Pendidikan seksual diawali dari kesadaran tentang jenis kelaminnya, karena saat ini banyak orang yang orientasi seksualnya menyimpang, karena dari kecil tidak ditanamkan sesuai dengan jenis kelaminnya.. Misalnya menamakan pemahaman, “Saya perempuan, saya cantik, supaya cantik maka aya harus pakai rok” atau jika anak laki-laki, “saya ganteng karena saya laki-laki, supaya ganteng saya harus pakai celana, jika saya bear saya akan seperti ayah”.

Sejak usia 2 tahun, anak juga sudah harus dikenalkan tentang fitrah gender Misal jika saya laki-laki, tidak boleh memukul teman perempuan, harus melindungi teman perempuan. Sedangkan untuk yang perempuan diajarkan jika dijahatin oleh temanlaki-laki atau orang lain, maka aku harus teriak atau lari. Tidak boleh ada yang melihat atau menyentuh bagian-bagian tertentu dalam tubuh perempuan.

Pemahaman ini perlu ditanamkan agar menjadi dasar anak untuk menyerap informasi yang didapatkan dari luar rumah atau melalui paparan informasi dari media digital. Sehingga anak memiliki benteng untuk mencera informasi yang baik dan buruk bagi dirinya.

Jadi orang tua juga harus mempelajari pola asuh anak dan memperhatikan tumbuh kembang anak. Pengetahuan ini bisa didapatkan di KUA pada saat kelas pra-nikah. Selain itu dapat jua diperoleh dari buku kesehatan ibu dan anak (KIA) dari Dinas Kesehatan tentang informasi tumbuh kembang anak. Kemajuan teknologi juga memudahkan orang tua untuk mendapatkan aplikasi bebasis android maupun ios tentang perkembangan tumbuh kembang anak.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/