alexametrics
23C
Malang
Tuesday, 2 March 2021

Pintu Kematian

Covid-19 seakan telah menjadi pintu tambahan bagi kematian. Mulai banyak orang yang menuju kematian melalui pintu itu. Dalam satu bulan terakhir, susul-menyusul orang-orang yang saya kenal meninggal satu per satu. Beberapa di antaranya membuat saya sangat trenyuh. Empat kawan saya, masing-masing suami istri, meninggal hanya terpaut beberapa hari. Yang terakhir, salah satu sahabat terbaik saya juga meninggal setelah dirawat selama hampir seminggu di rumah sakit.

Islam membuat analogi kematian dengan sangat indahnya. Kematian disebut sebagai proses untuk ”kembali”. Makanya, setiap kali mendengar musibah, khususnya kematian, dianjurkan untuk mengucapkan istirja: ”Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.”

Dengan memahami bahwa ”kematian” adalah sebuah proses ”kembali”, maka sesungguhnya kematian bukanlah hal yang mengerikan. Karena sejatinya, itu hanyalah sebuah proses untuk kembali kepada Zat Yang Menciptakannya.

Makanya, orang-orang yang saleh, para alim-allamah, para waliyullah, dan para nabi dan rasul, dalam menyambut kematian, begitu indahnya. KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa dengan Mbah Moen seakan-akan tahu bahwa beliau akan wafat. Mbah Moen seakan-akan mampu berkompromi dengan kematian. Lihat saja bagaimana aktivitas beliau menjelang wafatnya.

Jauh sebelum wafat, Mbah Moen pernah mengatakan kepada para santrinya bahwa guru-gurunya, orang tuanya, meninggal pada hari Selasa. Dan Mbah Moen ingin meninggal di hari Selasa. Dan Mbah Moen ternyata meninggal pada hari Selasa, 6 Agustus 2019.

Dan saat meninggal, Mbah Moen sedang melaksanakan ibadah haji. Meninggal di saat sedang beribadah dan meninggal di tempat yang paling mulia di muka bumi. Dan sebelum meninggal, tak ada gejala sakit. Bahkan menurut para santrinya, malam sebelum meninggal, Mbah Moen menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Keesokan harinya, setelah melaksanakan salat Subuh, Mbah Moen wafat. Dan Mbah Moen dimakamkan di tempat yang tak semua orang bisa dimakamkan di sana. Yakni, berdekatan dengan makam gurunya Sayyid Alawi al Maliki al Hasani dan makam istri Rasulullah SAW, Sayyidah Khadijah. Subhanallah. Begitu indahnya kematian ini.

Penyair sufi Syeh Jalaluddin Rumi, di saat sedang tergolek sakit menjelang wafatnya, para muridnya dan orang-orang dekatnya bersedih. Mereka cukup sibuk ke sana kemari mencari obat untuk penyakit Sang Guru mereka. Tapi, saat itu Syeh Rumi sama sekali tidak bersedih. Syeh Rumi seakan sudah tahu bahwa kematiannya semakin dekat. Dan Syeh Rumi sama sekali tak bersedih. Wajahnya malah terlihat ceria. Kebahagiaannya menjelang kematiannya dilukiskan dalam sebuah puisi: ”Mengetahui bahwa adalah Engkau yang mengambil kehidupan, kematian menjadi sangat manis. Selama aku bersama-Mu, kematian bahkan lebih manis dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri.”

Bagi Syeh Rumi, kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. Dan bagi Syeh Rumi, kematian bukanlah sebuah perpisahan yang meninggalkan semua hal yang telah dimiliki. Akan tetapi, kematian adalah pertemuan kembali dari segala kepunyaan yang sebelumnya tidak dimiliki. Sehingga, tak salah jika ada yang menyebut kematian sebagai ”malam pertemuan kembali”.

Sebuah riwayat menceritakan bagaimana ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam menjelang wafatnya. Saat itu, didatangi malaikat maut. Kepada malaikat maut, Nabi Ibrahim bertanya: ”Bagaimana bisa, ada Kekasih yang tega mencabut nyawa orang yang dicintai-Nya.” Nabi Ibrahim adalah satu-satunya rasul yang mendapat julukan khalilullah (kesayangan Allah).

Mendapat pertanyaan dari Nabi Ibrahim, sang malaikat maut tak bisa menjawab. Bertanyalah sang malaikat kepada Allah soal protesnya Nabi Ibrahim ini. Allah berkata: ”Katakanlah kepada kekasih-Ku, apakah seorang kekasih tidak suka bertemu dengan orang yang dicintainya?”

Sang malaikat maut pun kembali ke Nabi Ibrahim. Dan menyampaikan pesan ini. Mendengar jawaban Allah, Nabi Ibrahim berkata pada dirinya: ”Tenanglah diriku untuk saat ini.” Tak lama kemudian, sang malaikat maut pun menjalankan tugasnya, mencabut nyawa Nabi Ibrahim.

Itulah penggalan beberapa kisah bagaimana sebuah proses kematian, begitu indahnya bagi orang-orang yang saleh dan bagi orang-orang yang sudah begitu dekat dengan Sang Khalik.

Lantas, mengapa ada orang yang begitu takutnya dengan kematian? Dalam Kitab Mizanul Amal karya Imam Ghazali, dijelaskan beberapa alasan mengapa manusia takut terhadap kematian. Pertama, karena dia ingin bersenang-senang dan menikmati hidup ini lebih lama lagi. Kedua, dia tidak siap berpisah dengan orang-orang yang dicintai, termasuk harta dan kekayaannya yang selama ini dikumpulkannya dengan susah payah. Ketiga, karena dia tidak tahu keadaan mati nanti seperti apa. Keempat, karena dia takut pada dosa-dosanya yang selama ini dia lakukan. Alhasil, manusia takut akan kematian, karena dia tidak pernah ingat kematian dan tidak mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut kematian. Manusia, kata Imam Ghazali, biasanya baru ingat kematian hanya kalau tiba-tiba ada jenazah lewat di depannya.

Makanya, selalu mengingat kematian sangat dianjurkan. Seperti sabda Rasulullah SAW: ”Perbanyaklah olehmu mengingat kematian, si penghancur segala kesenangan duniawi.” (HR Ahmad).

Menurut Ghazali, dengan mengingat kematian akan menimbulkan berbagai kebaikan. Di antaranya, membuat manusia tidak ngoyo dalam mengejar pangkat dan kemewahan dunia. Dia akan bisa menjadi lebih legawa (qanaah) dengan apa yang dicapainya sekarang serta tidak akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Kebaikan lain, manusia bisa lebih terdorong untuk bertobat alias berhenti dari dosa-dosa, baik dosa besar maupun kecil. Kebaikan lainnya lagi, manusia bisa lebih giat dalam beribadah dan beramal saleh sebagai bekal untuk kebaikannya di akhirat.

Maka, ketika Allah menurunkan penyakit berupa Covid-19, inilah salah satu hikmahnya: agar kita kembali mengingat bahwa kematian begitu dekatnya dengan kita. Sehingga, secara tidak langsung, Allah menyuruh kita semakin sering mengingat kematian. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp).

Covid-19 seakan telah menjadi pintu tambahan bagi kematian. Mulai banyak orang yang menuju kematian melalui pintu itu. Dalam satu bulan terakhir, susul-menyusul orang-orang yang saya kenal meninggal satu per satu. Beberapa di antaranya membuat saya sangat trenyuh. Empat kawan saya, masing-masing suami istri, meninggal hanya terpaut beberapa hari. Yang terakhir, salah satu sahabat terbaik saya juga meninggal setelah dirawat selama hampir seminggu di rumah sakit.

Islam membuat analogi kematian dengan sangat indahnya. Kematian disebut sebagai proses untuk ”kembali”. Makanya, setiap kali mendengar musibah, khususnya kematian, dianjurkan untuk mengucapkan istirja: ”Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.”

Dengan memahami bahwa ”kematian” adalah sebuah proses ”kembali”, maka sesungguhnya kematian bukanlah hal yang mengerikan. Karena sejatinya, itu hanyalah sebuah proses untuk kembali kepada Zat Yang Menciptakannya.

Makanya, orang-orang yang saleh, para alim-allamah, para waliyullah, dan para nabi dan rasul, dalam menyambut kematian, begitu indahnya. KH Maimun Zubair atau yang akrab disapa dengan Mbah Moen seakan-akan tahu bahwa beliau akan wafat. Mbah Moen seakan-akan mampu berkompromi dengan kematian. Lihat saja bagaimana aktivitas beliau menjelang wafatnya.

Jauh sebelum wafat, Mbah Moen pernah mengatakan kepada para santrinya bahwa guru-gurunya, orang tuanya, meninggal pada hari Selasa. Dan Mbah Moen ingin meninggal di hari Selasa. Dan Mbah Moen ternyata meninggal pada hari Selasa, 6 Agustus 2019.

Dan saat meninggal, Mbah Moen sedang melaksanakan ibadah haji. Meninggal di saat sedang beribadah dan meninggal di tempat yang paling mulia di muka bumi. Dan sebelum meninggal, tak ada gejala sakit. Bahkan menurut para santrinya, malam sebelum meninggal, Mbah Moen menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Keesokan harinya, setelah melaksanakan salat Subuh, Mbah Moen wafat. Dan Mbah Moen dimakamkan di tempat yang tak semua orang bisa dimakamkan di sana. Yakni, berdekatan dengan makam gurunya Sayyid Alawi al Maliki al Hasani dan makam istri Rasulullah SAW, Sayyidah Khadijah. Subhanallah. Begitu indahnya kematian ini.

Penyair sufi Syeh Jalaluddin Rumi, di saat sedang tergolek sakit menjelang wafatnya, para muridnya dan orang-orang dekatnya bersedih. Mereka cukup sibuk ke sana kemari mencari obat untuk penyakit Sang Guru mereka. Tapi, saat itu Syeh Rumi sama sekali tidak bersedih. Syeh Rumi seakan sudah tahu bahwa kematiannya semakin dekat. Dan Syeh Rumi sama sekali tak bersedih. Wajahnya malah terlihat ceria. Kebahagiaannya menjelang kematiannya dilukiskan dalam sebuah puisi: ”Mengetahui bahwa adalah Engkau yang mengambil kehidupan, kematian menjadi sangat manis. Selama aku bersama-Mu, kematian bahkan lebih manis dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri.”

Bagi Syeh Rumi, kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya. Dan bagi Syeh Rumi, kematian bukanlah sebuah perpisahan yang meninggalkan semua hal yang telah dimiliki. Akan tetapi, kematian adalah pertemuan kembali dari segala kepunyaan yang sebelumnya tidak dimiliki. Sehingga, tak salah jika ada yang menyebut kematian sebagai ”malam pertemuan kembali”.

Sebuah riwayat menceritakan bagaimana ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam menjelang wafatnya. Saat itu, didatangi malaikat maut. Kepada malaikat maut, Nabi Ibrahim bertanya: ”Bagaimana bisa, ada Kekasih yang tega mencabut nyawa orang yang dicintai-Nya.” Nabi Ibrahim adalah satu-satunya rasul yang mendapat julukan khalilullah (kesayangan Allah).

Mendapat pertanyaan dari Nabi Ibrahim, sang malaikat maut tak bisa menjawab. Bertanyalah sang malaikat kepada Allah soal protesnya Nabi Ibrahim ini. Allah berkata: ”Katakanlah kepada kekasih-Ku, apakah seorang kekasih tidak suka bertemu dengan orang yang dicintainya?”

Sang malaikat maut pun kembali ke Nabi Ibrahim. Dan menyampaikan pesan ini. Mendengar jawaban Allah, Nabi Ibrahim berkata pada dirinya: ”Tenanglah diriku untuk saat ini.” Tak lama kemudian, sang malaikat maut pun menjalankan tugasnya, mencabut nyawa Nabi Ibrahim.

Itulah penggalan beberapa kisah bagaimana sebuah proses kematian, begitu indahnya bagi orang-orang yang saleh dan bagi orang-orang yang sudah begitu dekat dengan Sang Khalik.

Lantas, mengapa ada orang yang begitu takutnya dengan kematian? Dalam Kitab Mizanul Amal karya Imam Ghazali, dijelaskan beberapa alasan mengapa manusia takut terhadap kematian. Pertama, karena dia ingin bersenang-senang dan menikmati hidup ini lebih lama lagi. Kedua, dia tidak siap berpisah dengan orang-orang yang dicintai, termasuk harta dan kekayaannya yang selama ini dikumpulkannya dengan susah payah. Ketiga, karena dia tidak tahu keadaan mati nanti seperti apa. Keempat, karena dia takut pada dosa-dosanya yang selama ini dia lakukan. Alhasil, manusia takut akan kematian, karena dia tidak pernah ingat kematian dan tidak mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut kematian. Manusia, kata Imam Ghazali, biasanya baru ingat kematian hanya kalau tiba-tiba ada jenazah lewat di depannya.

Makanya, selalu mengingat kematian sangat dianjurkan. Seperti sabda Rasulullah SAW: ”Perbanyaklah olehmu mengingat kematian, si penghancur segala kesenangan duniawi.” (HR Ahmad).

Menurut Ghazali, dengan mengingat kematian akan menimbulkan berbagai kebaikan. Di antaranya, membuat manusia tidak ngoyo dalam mengejar pangkat dan kemewahan dunia. Dia akan bisa menjadi lebih legawa (qanaah) dengan apa yang dicapainya sekarang serta tidak akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Kebaikan lain, manusia bisa lebih terdorong untuk bertobat alias berhenti dari dosa-dosa, baik dosa besar maupun kecil. Kebaikan lainnya lagi, manusia bisa lebih giat dalam beribadah dan beramal saleh sebagai bekal untuk kebaikannya di akhirat.

Maka, ketika Allah menurunkan penyakit berupa Covid-19, inilah salah satu hikmahnya: agar kita kembali mengingat bahwa kematian begitu dekatnya dengan kita. Sehingga, secara tidak langsung, Allah menyuruh kita semakin sering mengingat kematian. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp).

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru