alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

Sisi Lain

Dalam jurnalistik, ”sisi lain” disebut juga sebagai angle. Atau sudut pandang. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kejelian seorang wartawan ketika meliput di lapangan, dapat dilihat dari seberapa dia jeli dalam melihat sebuah angle atau ”sisi lain” dari peristiwa yang terjadi.

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita akan menjadi bijak atau tidak, apakah kita akan menjadi orang yang sabar atau pemarah, apakah kita akan menjadi orang yang pendendam atau pemaaf, salah satunya sangat tergantung pada seberapa kita mau melihat dari ”sisi lain” tentang sebuah peristiwa yang tak menyenangkan yang terjadi pada kita.

Ketika seorang pemuda diputus pacarnya secara sepihak karena si pacar ternyata sudah punya cowok lain yang dianggap lebih mapan, bisa jadi pemuda itu bersedih. Di satu sisi, dia mungkin bersedih, galau, ataupun stres. Karena dia begitu cintanya dengan pacarnya. Bahkan, dia sudah berniat akan menikahinya. Tapi, ternyata dia dikhianati.

Jika pemuda itu cepat move on, lalu menemukan ”sisi lain” di balik peristiwa pengkhianatan yang dia alami, maka dia pasti tidak akan larut dalam kesedihan. Mungkin dia malah bersyukur. ”Sisi lain” itu misalnya: Pengkhianatan itu justru lebih baik terjadi sekarang ketika masih pacaran, ketimbang pengkhianatan itu terjadi setelah resmi menjadi suami-istri. Atau, ”sisi lain” itu bisa juga begini: Berarti dia bukan jodoh yang baik untukku. Jadi, mencari ”sisi lain” di sini adalah sama halnya dengan mencari hikmah di balik peristiwa yang tak menyenangkan. Dengan cara seperti ini, maka jiwa akan selalu tegar. Jiwa akan selalu bersyukur terhadap apa pun yang terjadi. Jiwa akan menjadi bijak. Dan jiwa akan menjadi pemaaf.

Ketika Partai Demokrat saat ini sedang dikudeta, maka kalau saya menjadi AHY (Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono), maka saya akan berusaha melihatnya dari ”sisi lain”. Memang, di satu sisi, peristiwa yang disebut kudeta itu sangat tidak menyenangkan. Ini membuat SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kecewa berat sekaligus sakit hati. Wabil khusus sakit hati terhadap Moeldoko yang telah ditunjuk secara aklamasi di Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat tandingan di Deli Serdang, Sumatera Utara. SBY benar-benar merasa dikhianati oleh Moeldoko. Wajar jika SBY sakit hati. Karena Moeldoko bisa menjadi Panglima TNI, karena saat itu dipilih oleh SBY saat dia menjadi presiden.

Okelah, boleh saja AHY maupun SBY sakit hati dan kecewa. Tapi, menurut saya, jangan hanya melihat dari sisi ”pengkhianatannya”. Lihatlah dari ”sisi lain” di balik peristiwa kudeta tersebut. ”Sisi lain” itu misalnya: Gara-gara ramai pemberitaan soal kudeta ini, nama Partai Demokrat menjadi ramai disebut-sebut dan ramai diperbincangkan. Dan ketika nama Partai Demokrat banyak disebut-sebut, maka sesungguhnya ini punya keuntungan tersendiri secara marketing. Narasi yang bisa dibangun: Partai Demokrat sedang diganggu. Atau, Partai Demokrat sedang diuji.

Menurut saya, AHY janganlah terlalu proaktif untuk mengarahkan tuduhan kepada pemerintah, hanya gara-gara ada nama Moeldoko. Biarkanlah masyarakat yang menilai. Toh masyarakat sudah sangat paham dan sangat cerdas untuk menilai dan menyimpulkan tentang siapa Moeldoko. Lebih baik energi AHY digunakan untuk semakin menyolidkan internal partai. Mempersiapkan berbagai aturan dan regulasi serta dokumen untuk menghadapi bergulirnya kasus kudeta ini hingga ke meja hukum. Gara-gara ada manuver kudeta itu, bisa jadi AHY punya cara untuk menguji kesolidan para pengurusnya di jajaran DPP, DPD provinsi, hingga DPC.

”Sisi lain” yang juga bisa dilihat oleh AHY adalah: Anggap saja sedang menghadapi ujian. Tak ada pemimpin tanpa harus melewati ujian. Tak ada pemimpin tanpa harus melewati rintangan dan hambatan. Jadi, menurut saya, AHY harus berterima kasih kepada orang-orang yang dia sebut sebagai pengkhianat partai. Sebab, gara-gara manuver mereka, AHY punya bahan untuk ujian. Dan jika AHY lulus melewati ujian ini, pamornya akan semakin meningkat. Kapabilitasnya sebagai pemimpin akan semakin teruji. Dan kompetensinya sebagai pemimpin, semakin terlegitimasi.

Berpikir untuk selalu melihat dari ”sisi lain” sama dengan membiasakan untuk selalu ber-positive thinking. Menurut Dr Norman Vincent Peale, pencetus teori ”Berpikir Positif”: Berpikir positif adalah kemampuan berpikir seseorang untuk menilai pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, sebagai bahan yang berharga untuk pengalaman selanjutnya dan menganggap semua itu sebagai proses hidup yang harus diterima. Peale menyatakan bahwa individu yang berpikir positif akan mendapatkan hasil yang positif. Dan individu yang berpikir negatif akan mendapatkan hasil yang negatif (Peale, 2006).

Jadi, ayo kita biasakan untuk selalu melihat ”sisi lain” dan selalu ber-positive thinking terhadap apa pun hal buruk yang menimpa kita. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Dalam jurnalistik, ”sisi lain” disebut juga sebagai angle. Atau sudut pandang. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kejelian seorang wartawan ketika meliput di lapangan, dapat dilihat dari seberapa dia jeli dalam melihat sebuah angle atau ”sisi lain” dari peristiwa yang terjadi.

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita akan menjadi bijak atau tidak, apakah kita akan menjadi orang yang sabar atau pemarah, apakah kita akan menjadi orang yang pendendam atau pemaaf, salah satunya sangat tergantung pada seberapa kita mau melihat dari ”sisi lain” tentang sebuah peristiwa yang tak menyenangkan yang terjadi pada kita.

Ketika seorang pemuda diputus pacarnya secara sepihak karena si pacar ternyata sudah punya cowok lain yang dianggap lebih mapan, bisa jadi pemuda itu bersedih. Di satu sisi, dia mungkin bersedih, galau, ataupun stres. Karena dia begitu cintanya dengan pacarnya. Bahkan, dia sudah berniat akan menikahinya. Tapi, ternyata dia dikhianati.

Jika pemuda itu cepat move on, lalu menemukan ”sisi lain” di balik peristiwa pengkhianatan yang dia alami, maka dia pasti tidak akan larut dalam kesedihan. Mungkin dia malah bersyukur. ”Sisi lain” itu misalnya: Pengkhianatan itu justru lebih baik terjadi sekarang ketika masih pacaran, ketimbang pengkhianatan itu terjadi setelah resmi menjadi suami-istri. Atau, ”sisi lain” itu bisa juga begini: Berarti dia bukan jodoh yang baik untukku. Jadi, mencari ”sisi lain” di sini adalah sama halnya dengan mencari hikmah di balik peristiwa yang tak menyenangkan. Dengan cara seperti ini, maka jiwa akan selalu tegar. Jiwa akan selalu bersyukur terhadap apa pun yang terjadi. Jiwa akan menjadi bijak. Dan jiwa akan menjadi pemaaf.

Ketika Partai Demokrat saat ini sedang dikudeta, maka kalau saya menjadi AHY (Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono), maka saya akan berusaha melihatnya dari ”sisi lain”. Memang, di satu sisi, peristiwa yang disebut kudeta itu sangat tidak menyenangkan. Ini membuat SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) kecewa berat sekaligus sakit hati. Wabil khusus sakit hati terhadap Moeldoko yang telah ditunjuk secara aklamasi di Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat tandingan di Deli Serdang, Sumatera Utara. SBY benar-benar merasa dikhianati oleh Moeldoko. Wajar jika SBY sakit hati. Karena Moeldoko bisa menjadi Panglima TNI, karena saat itu dipilih oleh SBY saat dia menjadi presiden.

Okelah, boleh saja AHY maupun SBY sakit hati dan kecewa. Tapi, menurut saya, jangan hanya melihat dari sisi ”pengkhianatannya”. Lihatlah dari ”sisi lain” di balik peristiwa kudeta tersebut. ”Sisi lain” itu misalnya: Gara-gara ramai pemberitaan soal kudeta ini, nama Partai Demokrat menjadi ramai disebut-sebut dan ramai diperbincangkan. Dan ketika nama Partai Demokrat banyak disebut-sebut, maka sesungguhnya ini punya keuntungan tersendiri secara marketing. Narasi yang bisa dibangun: Partai Demokrat sedang diganggu. Atau, Partai Demokrat sedang diuji.

Menurut saya, AHY janganlah terlalu proaktif untuk mengarahkan tuduhan kepada pemerintah, hanya gara-gara ada nama Moeldoko. Biarkanlah masyarakat yang menilai. Toh masyarakat sudah sangat paham dan sangat cerdas untuk menilai dan menyimpulkan tentang siapa Moeldoko. Lebih baik energi AHY digunakan untuk semakin menyolidkan internal partai. Mempersiapkan berbagai aturan dan regulasi serta dokumen untuk menghadapi bergulirnya kasus kudeta ini hingga ke meja hukum. Gara-gara ada manuver kudeta itu, bisa jadi AHY punya cara untuk menguji kesolidan para pengurusnya di jajaran DPP, DPD provinsi, hingga DPC.

”Sisi lain” yang juga bisa dilihat oleh AHY adalah: Anggap saja sedang menghadapi ujian. Tak ada pemimpin tanpa harus melewati ujian. Tak ada pemimpin tanpa harus melewati rintangan dan hambatan. Jadi, menurut saya, AHY harus berterima kasih kepada orang-orang yang dia sebut sebagai pengkhianat partai. Sebab, gara-gara manuver mereka, AHY punya bahan untuk ujian. Dan jika AHY lulus melewati ujian ini, pamornya akan semakin meningkat. Kapabilitasnya sebagai pemimpin akan semakin teruji. Dan kompetensinya sebagai pemimpin, semakin terlegitimasi.

Berpikir untuk selalu melihat dari ”sisi lain” sama dengan membiasakan untuk selalu ber-positive thinking. Menurut Dr Norman Vincent Peale, pencetus teori ”Berpikir Positif”: Berpikir positif adalah kemampuan berpikir seseorang untuk menilai pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, sebagai bahan yang berharga untuk pengalaman selanjutnya dan menganggap semua itu sebagai proses hidup yang harus diterima. Peale menyatakan bahwa individu yang berpikir positif akan mendapatkan hasil yang positif. Dan individu yang berpikir negatif akan mendapatkan hasil yang negatif (Peale, 2006).

Jadi, ayo kita biasakan untuk selalu melihat ”sisi lain” dan selalu ber-positive thinking terhadap apa pun hal buruk yang menimpa kita. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru