alexametrics
24.5 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Wisata Baru di Pasar Batu

Pembangunan Pasar Besar Batu membawa harapan baru untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat utamanya para pedagang pasar. Karena diharapkan, setelah pembangunan selesai, jumlah pengunjung dan pembeli akan semakin bertambah. Sehingga Pasar Batu akan pusat perekonomian dengan perputaran yang yang besar.

Jika dulu Pasar Batu identik dengan keruwetan dan kekumuhan, hendaknya brand image itu jangan ada lagi setelah pembangunan pasar yang kini namanya diubah menjadi Pasar Induk Among Tani itu selesai. Setelah model bangunannya berubah drastis, dari yang kumuh dan ruwet menjadi bangunan modern yang indah, sudah seharusnya jika perilaku pengelola pasar (UPT Pasar Batu), pedagang pasar, PKL termasuk juru parkir (jukir) juga harus berubah.

Apalagi, pasar yang pembangunannya menelan biaya kisaran Rp 200 miliar itu juga digembar gemborkan akan jadi pasar wisata. Tentu ini menjadi tantangan berat bagi semuanya. Karena menjadi pasar wisata tidak cukup menyajikan bangunan baru yang indah dan megah, tetapi yang tidak kalah penting adalah mengubah perilaku dan mindset pengelola dan pedagang yang ada di dalamnya.

Bagaimana mereka menjaga kebersihan, bagaimana mereka melayani para wisatawan/pembeli yang datang. Apakah pengelola bisa menyiapkan tempat yang nyaman? Apakah para pedagang bisa memberi kenyamanan atau tidak? Itu semua menurut penulis adalah salah satu kunci keberhasilan menjadikan pasar tersebut sebagai pasar wisata. Untuk itu harus diupayakan, para pedagang di Pasar Induk Among Tani adalah para pedagang yang ramah wisatawan.

Kenapa harus ramah dengan wisatawan? Ya karena mereka datang ke Kota Batu untuk berwisata. Yang mana orang berwisata itu biasanya selalu membawa uang lebih dari ketika tidak berwisata. Yang mana orang berwisata itu “membuang” uang, untuk mencari kesenangan, juga untuk mencari kenangan. Nah karakter orang yang membawa uang dan mencari kesenangan itu biasanya ingin dilayani dengan baik.

Mereka biasanya sangat sensitif jika mengalami pelayanan yang tidak menyenangkan. Jangan sampai wisatawan yang datang ke pasar nanti punya kenangan buruk. Dan di zaman sekarang pelayanan tidak baik itu bisa diviralkan di media sosial (medsos). Hati-hati kalau bisa hal semacam itu jangan terjadi di Kota Batu karena berita buruk jauh lebih cepat menyebar. Dan jika itu terjadi maka yang rugi adalah warga Kota Batu sendiri.

Kalau bisa, di Pasar Induk Among Tani para pedagangnya tidak ada yang judes, tidak ada pedagang yang suka ngemplang, pedagang berjualan dengan harga yang wajar. Bukan hanya pedagang, jangan sampai juga di pasar wisata nanti ada jukir yang tidak ramah, apalagi sampai berani ngemplang wisatawan.

Karena tindakan-tindakan yang tidak ramah semacam itu akan mencoreng pariwisata Kota Batu. Masyarakat Kota Batu terutama para pedagang, jukir pelayan pariwisata dan semuanya sudah seharusnya mulai sadar bahwa para wisatawan yang datang ke Kota Batu adalah tamu istimewa. Mereka adalah potensi besar yang bisa menopang perekonomian masyarakat. Jangan sampai wisatawan tersakiti dengan sikap-sikap yang tidak ramah.

Soal sikap tidak ramah dan suka ngemplang ini, di masa lalu sering terjadi di Kota Batu. Para pedagang kaki lima (PKL) di seputar alun-alun lama dulu dikenal kurang ramah terhadap pembeli wisatawan. Ada beberapa yang suka mempermainkan harga. Jika pembelinya diketahui orang jauh atau wisatawan maka harga akan dinaikkan hingga di atas kewajaran. Tapi semua itu kini sudah berubah dan semua PKL di seputar alun-alun tidak ada yang ngemplang lagi. Kini semua PKL wajib mencantumkan daftar harga menu yang dijual. Dan hasilnya bisa dirasakan oleh para PKL, para wisatawan berjubel untuk membeli dagangan yang mereka jual.

Penulis yakin para pedagang di Pasar Induk Among Tani bisa menjadi pelayan yang baik kepada wisatawan. Apalagi selama ini tidak pernah terdengar ada pedagang di Pasar Batu yang suka ngemplang. Selama ini pedagang sudah melayani para pembelinya dengan baik. Kami yakin pedagang Pasar Batu akan lebih mudah diajak berubah karena mereka sudah punya kebiasaan baik. Selain itu mereka juga sudah tergabung dalam paguyuban yang menjadi wadah untuk mengatasi berbagai persoalan.

Selain masalah pelayanan dari para pedagang, hal penting berikutnya adalah menjaga kebersihan. Bisakah pengelola pasar dan pedagang pasar menjaga kebersihan di kawasan pasar? Masalah ini juga tidak mudah, tetapi kami yakin bisa dilakukan. Diharapkan tidak ada lagi tumpukan sampah berbau busuk di sudut pasar, atau sampah berserakan di seputar kios.

Dan yang terakhir adalah penataan parkir. Kalau boleh usul, model parkirnya bikin saja seperti Lippo Plaza Batu. Pakai e-parkir. Begitu masuk pintu gerbang pasar langsung pencet tombol dan baru bayar setelah keluar. Kemudian di area parkir ada tukang parkir yang bertugas menata kendaraan. Semoga niat Pemkot Batu menjadikan Pasar Induk Among Tani sebagai pasar wisata bisa berhasil dengan baik, bukan pasar wisata yang gagal. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

 

Pembangunan Pasar Besar Batu membawa harapan baru untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat utamanya para pedagang pasar. Karena diharapkan, setelah pembangunan selesai, jumlah pengunjung dan pembeli akan semakin bertambah. Sehingga Pasar Batu akan pusat perekonomian dengan perputaran yang yang besar.

Jika dulu Pasar Batu identik dengan keruwetan dan kekumuhan, hendaknya brand image itu jangan ada lagi setelah pembangunan pasar yang kini namanya diubah menjadi Pasar Induk Among Tani itu selesai. Setelah model bangunannya berubah drastis, dari yang kumuh dan ruwet menjadi bangunan modern yang indah, sudah seharusnya jika perilaku pengelola pasar (UPT Pasar Batu), pedagang pasar, PKL termasuk juru parkir (jukir) juga harus berubah.

Apalagi, pasar yang pembangunannya menelan biaya kisaran Rp 200 miliar itu juga digembar gemborkan akan jadi pasar wisata. Tentu ini menjadi tantangan berat bagi semuanya. Karena menjadi pasar wisata tidak cukup menyajikan bangunan baru yang indah dan megah, tetapi yang tidak kalah penting adalah mengubah perilaku dan mindset pengelola dan pedagang yang ada di dalamnya.

Bagaimana mereka menjaga kebersihan, bagaimana mereka melayani para wisatawan/pembeli yang datang. Apakah pengelola bisa menyiapkan tempat yang nyaman? Apakah para pedagang bisa memberi kenyamanan atau tidak? Itu semua menurut penulis adalah salah satu kunci keberhasilan menjadikan pasar tersebut sebagai pasar wisata. Untuk itu harus diupayakan, para pedagang di Pasar Induk Among Tani adalah para pedagang yang ramah wisatawan.

Kenapa harus ramah dengan wisatawan? Ya karena mereka datang ke Kota Batu untuk berwisata. Yang mana orang berwisata itu biasanya selalu membawa uang lebih dari ketika tidak berwisata. Yang mana orang berwisata itu “membuang” uang, untuk mencari kesenangan, juga untuk mencari kenangan. Nah karakter orang yang membawa uang dan mencari kesenangan itu biasanya ingin dilayani dengan baik.

Mereka biasanya sangat sensitif jika mengalami pelayanan yang tidak menyenangkan. Jangan sampai wisatawan yang datang ke pasar nanti punya kenangan buruk. Dan di zaman sekarang pelayanan tidak baik itu bisa diviralkan di media sosial (medsos). Hati-hati kalau bisa hal semacam itu jangan terjadi di Kota Batu karena berita buruk jauh lebih cepat menyebar. Dan jika itu terjadi maka yang rugi adalah warga Kota Batu sendiri.

Kalau bisa, di Pasar Induk Among Tani para pedagangnya tidak ada yang judes, tidak ada pedagang yang suka ngemplang, pedagang berjualan dengan harga yang wajar. Bukan hanya pedagang, jangan sampai juga di pasar wisata nanti ada jukir yang tidak ramah, apalagi sampai berani ngemplang wisatawan.

Karena tindakan-tindakan yang tidak ramah semacam itu akan mencoreng pariwisata Kota Batu. Masyarakat Kota Batu terutama para pedagang, jukir pelayan pariwisata dan semuanya sudah seharusnya mulai sadar bahwa para wisatawan yang datang ke Kota Batu adalah tamu istimewa. Mereka adalah potensi besar yang bisa menopang perekonomian masyarakat. Jangan sampai wisatawan tersakiti dengan sikap-sikap yang tidak ramah.

Soal sikap tidak ramah dan suka ngemplang ini, di masa lalu sering terjadi di Kota Batu. Para pedagang kaki lima (PKL) di seputar alun-alun lama dulu dikenal kurang ramah terhadap pembeli wisatawan. Ada beberapa yang suka mempermainkan harga. Jika pembelinya diketahui orang jauh atau wisatawan maka harga akan dinaikkan hingga di atas kewajaran. Tapi semua itu kini sudah berubah dan semua PKL di seputar alun-alun tidak ada yang ngemplang lagi. Kini semua PKL wajib mencantumkan daftar harga menu yang dijual. Dan hasilnya bisa dirasakan oleh para PKL, para wisatawan berjubel untuk membeli dagangan yang mereka jual.

Penulis yakin para pedagang di Pasar Induk Among Tani bisa menjadi pelayan yang baik kepada wisatawan. Apalagi selama ini tidak pernah terdengar ada pedagang di Pasar Batu yang suka ngemplang. Selama ini pedagang sudah melayani para pembelinya dengan baik. Kami yakin pedagang Pasar Batu akan lebih mudah diajak berubah karena mereka sudah punya kebiasaan baik. Selain itu mereka juga sudah tergabung dalam paguyuban yang menjadi wadah untuk mengatasi berbagai persoalan.

Selain masalah pelayanan dari para pedagang, hal penting berikutnya adalah menjaga kebersihan. Bisakah pengelola pasar dan pedagang pasar menjaga kebersihan di kawasan pasar? Masalah ini juga tidak mudah, tetapi kami yakin bisa dilakukan. Diharapkan tidak ada lagi tumpukan sampah berbau busuk di sudut pasar, atau sampah berserakan di seputar kios.

Dan yang terakhir adalah penataan parkir. Kalau boleh usul, model parkirnya bikin saja seperti Lippo Plaza Batu. Pakai e-parkir. Begitu masuk pintu gerbang pasar langsung pencet tombol dan baru bayar setelah keluar. Kemudian di area parkir ada tukang parkir yang bertugas menata kendaraan. Semoga niat Pemkot Batu menjadikan Pasar Induk Among Tani sebagai pasar wisata bisa berhasil dengan baik, bukan pasar wisata yang gagal. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/