alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Idul Adha di Tengah Wabah

Suasana Idul Adha tahun ini yang masih dalam kondisi wabah Covid-19 menjadi kurang semarak seperti kondisi normal pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau dalam kondisi normal ummat Islam bisa merayakan secara maksimal dengan mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid di tempat-tempat ibadah bahkan di jalan-jalan raya dengan takbir keliling. Demikian pula shalat idul adha secara serentak bisa dilakukan dengan berjama’ah di dalam masjid, mushala, maupun di tempat lain yang terbuka. Kali ini perayaan Idul Adha hanya bisa dilakukan secara sederhana di rumah-rumah untuk menghindari kerumunan yang berakibat penularan virus korona yang belum mereda. Sekalipun secara fisik tidak bisa merayakan secara optimal seperti kondisi normal namun bagi mereka yang mempunyai niat dan semangat tinggi dalam merayakan Idul Adha tahun ini maka nilai pahala yang diperoleh tetap tinggi. Tidak berbeda dengan nilai yang diperoleh saat kondisi normal. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tobroni Rasulullah bersabda: ”Niat orang mukmin lebih baik dari pada perbuatannya”(HR. Tobroni). Sekalipun asbabul wurud (sebab turun) hadis ini khusus terkait dengan sahabat Usman yang berniat membuat sumur dan tidak jadi karena didahului oleh orang Yahudi, namun secara umum hadis tersebut bisa dimaknai bahwa seseorang yang berniat melakukan suatu kebaikan namun terhalang oleh sesuatu maka dia mendapat pahala sesuai dengan niatnya. Oleh karena itu bagi umat Islam yang tahun ini merayakan Idul Adha di rumah-rumah karena terhalang oleh kondisi Covid-19, maka pahalanya sama dengan merayakannya di tempat-tempat ibadah seperti yang dilakukan pada kondisi normal tahun-tahun sebelumnya.

Selanjutnya terkait dengan Idul Adha ini memori kita tidak bisa lepas dengan figur utama pemegang peran yang langkahnya perlu ditapaktilasi oleh semua umat Islam, bahkan semua umat beragama samawi, yaitu Nabi Ibrahim AS. Beliau seorang Nabi yang mendapat ujian dari Allah secara bertubi-tubi, berupa ujian nasab (beliau putra pembuat berhala), ujian dari penguasa (beliau dibakar Namruz), dan ujian keluarga (perintah untuk menyembelih putranya sendiri). Semua ujian itu dilewati dengan penuh keteguhan sehingga beliau sukses bahkan mendapat gelar khalilullah (kekasih Allah). Oleh karena itu dalam tulisan singkat ini penulis akan mengungkap beberapa hikmah di balik peristiwa Idul Adha yang dialami Nabi Ibrahim AS. sebagai uswah dan qudwah kita dalam menempuh kehidupan sehari-hari.

1. Ujian
Sebagaimana yang disinggung sebelumnya bahwa Nabi Ibrahim AS. mengalami ujian hidup berat yang bertubi-tubi dalam berbagai peristiwa. Hidup ini memang tidak bisa lepas dari ujian bahkan esensi hidup adalah ujian, sebagaimana yang Allah tegaskan dalam surat al-Mulk ayat 2 yang artinya : ”Dia lah Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun” (QS.67:2). Perlu kita sadari bahwa semakin tinggi derajat seseorang maka semakin tinggi bobot materi ujian yang diberikan. Materi ujian tingkat SD lebih ringan dari pada SMP, SMA, S1, S2, dan S3. Demikian pula dalam strata kehidupan kita yang berbeda antara satu dengan yang lain, tentu berbeda pula bobot materi ujian yang kita alami. Terkait dengan esensi hidup sebagai ujian maka kita harus tahu apa saja materi ujian? dan bagaimana tata tertib ujian? Jika dua hal itu kita ketahui insyaAllah ujian akan berlangsung dengan lancar. Dalam suat al-Anbiya’ ayat 35 Allah berfirman yang artinya :”….dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kalian akan dikembalikan kepada Kami” (QS.21:35). Dari ayat ini jelas bahwa materi ujian adalah segala peristiwa yang kita alami dalam kehidupan ini baik berupa keburukan maupun kebaikan, negatif maupun positif. Adapun tata tertib ujian adalah al-Qur’an dan al-Hadis. Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 89 yang artinya :”…dan Kami turunkan al-Qur’an kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Islam” (QS.16:89). Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa al-Qur’an memuat penjelasan dan petunjuk terkait semua permasalahan hidup. Jika muatan al-Qur’an masih global maka rinciannya ada pada al-Hadis. Oleh karena itu al-Qur’an dan al-Hadis merupakan rujukan dan sekaligus sebagai tata tertib ujian dalam kehidupan. Dalam kondisi sekarang ini jika wabah korona kita posisikan sebagai materi ujian dan al-Qur’an & al-Hadis sebagai tata tertib ujian maka cara mengatasinya harus dengan ikhtiar lahir (QS.13:11), berdoa (QS.40:60), dan tawakkal (QS.65:3). Ikhtiyar lahir dengan menerapkan protokol kesehatan, kemudian kita berdoa semoga korona segera berlalu, dan kita tawakkal kepada Allah, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Insya Allah dengan cara itu atas izin Allah wabah korona segera berlalu.

Suasana Idul Adha tahun ini yang masih dalam kondisi wabah Covid-19 menjadi kurang semarak seperti kondisi normal pada tahun-tahun sebelumnya. Kalau dalam kondisi normal ummat Islam bisa merayakan secara maksimal dengan mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid di tempat-tempat ibadah bahkan di jalan-jalan raya dengan takbir keliling. Demikian pula shalat idul adha secara serentak bisa dilakukan dengan berjama’ah di dalam masjid, mushala, maupun di tempat lain yang terbuka. Kali ini perayaan Idul Adha hanya bisa dilakukan secara sederhana di rumah-rumah untuk menghindari kerumunan yang berakibat penularan virus korona yang belum mereda. Sekalipun secara fisik tidak bisa merayakan secara optimal seperti kondisi normal namun bagi mereka yang mempunyai niat dan semangat tinggi dalam merayakan Idul Adha tahun ini maka nilai pahala yang diperoleh tetap tinggi. Tidak berbeda dengan nilai yang diperoleh saat kondisi normal. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tobroni Rasulullah bersabda: ”Niat orang mukmin lebih baik dari pada perbuatannya”(HR. Tobroni). Sekalipun asbabul wurud (sebab turun) hadis ini khusus terkait dengan sahabat Usman yang berniat membuat sumur dan tidak jadi karena didahului oleh orang Yahudi, namun secara umum hadis tersebut bisa dimaknai bahwa seseorang yang berniat melakukan suatu kebaikan namun terhalang oleh sesuatu maka dia mendapat pahala sesuai dengan niatnya. Oleh karena itu bagi umat Islam yang tahun ini merayakan Idul Adha di rumah-rumah karena terhalang oleh kondisi Covid-19, maka pahalanya sama dengan merayakannya di tempat-tempat ibadah seperti yang dilakukan pada kondisi normal tahun-tahun sebelumnya.

Selanjutnya terkait dengan Idul Adha ini memori kita tidak bisa lepas dengan figur utama pemegang peran yang langkahnya perlu ditapaktilasi oleh semua umat Islam, bahkan semua umat beragama samawi, yaitu Nabi Ibrahim AS. Beliau seorang Nabi yang mendapat ujian dari Allah secara bertubi-tubi, berupa ujian nasab (beliau putra pembuat berhala), ujian dari penguasa (beliau dibakar Namruz), dan ujian keluarga (perintah untuk menyembelih putranya sendiri). Semua ujian itu dilewati dengan penuh keteguhan sehingga beliau sukses bahkan mendapat gelar khalilullah (kekasih Allah). Oleh karena itu dalam tulisan singkat ini penulis akan mengungkap beberapa hikmah di balik peristiwa Idul Adha yang dialami Nabi Ibrahim AS. sebagai uswah dan qudwah kita dalam menempuh kehidupan sehari-hari.

1. Ujian
Sebagaimana yang disinggung sebelumnya bahwa Nabi Ibrahim AS. mengalami ujian hidup berat yang bertubi-tubi dalam berbagai peristiwa. Hidup ini memang tidak bisa lepas dari ujian bahkan esensi hidup adalah ujian, sebagaimana yang Allah tegaskan dalam surat al-Mulk ayat 2 yang artinya : ”Dia lah Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa dan Maha Pengampun” (QS.67:2). Perlu kita sadari bahwa semakin tinggi derajat seseorang maka semakin tinggi bobot materi ujian yang diberikan. Materi ujian tingkat SD lebih ringan dari pada SMP, SMA, S1, S2, dan S3. Demikian pula dalam strata kehidupan kita yang berbeda antara satu dengan yang lain, tentu berbeda pula bobot materi ujian yang kita alami. Terkait dengan esensi hidup sebagai ujian maka kita harus tahu apa saja materi ujian? dan bagaimana tata tertib ujian? Jika dua hal itu kita ketahui insyaAllah ujian akan berlangsung dengan lancar. Dalam suat al-Anbiya’ ayat 35 Allah berfirman yang artinya :”….dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kalian akan dikembalikan kepada Kami” (QS.21:35). Dari ayat ini jelas bahwa materi ujian adalah segala peristiwa yang kita alami dalam kehidupan ini baik berupa keburukan maupun kebaikan, negatif maupun positif. Adapun tata tertib ujian adalah al-Qur’an dan al-Hadis. Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 89 yang artinya :”…dan Kami turunkan al-Qur’an kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Islam” (QS.16:89). Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa al-Qur’an memuat penjelasan dan petunjuk terkait semua permasalahan hidup. Jika muatan al-Qur’an masih global maka rinciannya ada pada al-Hadis. Oleh karena itu al-Qur’an dan al-Hadis merupakan rujukan dan sekaligus sebagai tata tertib ujian dalam kehidupan. Dalam kondisi sekarang ini jika wabah korona kita posisikan sebagai materi ujian dan al-Qur’an & al-Hadis sebagai tata tertib ujian maka cara mengatasinya harus dengan ikhtiar lahir (QS.13:11), berdoa (QS.40:60), dan tawakkal (QS.65:3). Ikhtiyar lahir dengan menerapkan protokol kesehatan, kemudian kita berdoa semoga korona segera berlalu, dan kita tawakkal kepada Allah, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Insya Allah dengan cara itu atas izin Allah wabah korona segera berlalu.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru