alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 25 July 2021

Tetap Optimistis di Masa Pandemi ke Dua

”Jadikan momentum pademi kedua ini sebagai titik tolak perubahan bisnis yang lebih mendasar dan menguat, memperbaiki produk, layanan, pemasaran, menguatkan sinergisitas, mengembangkan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan persatuan Indonesia,”

KONDISI yang sedang menimpa bangsa ini dan bangsa di dunia hendaknya bisa disikapi dengan jalan keluar bersama. Bangsa Indonesia yang telah dikenal sebagai bangsa yang ramah, guyub rukun dan gotong royong harus dikembalikan dengan cara menghadirkan rasa nyaman, optimistis, serta merangkul semua pihak. Indonesia yang majemuk ber-Bhinneka Tunggal Ika harus lebih disadari dan dipahami tidak sekadar jargon semata tapi juga kesadaran bersama, bahwa bangsa Indonesia beragam dan berbeda tetapi tetap bersatu dengan tindakan serta pikiran yang adil sekaligus bijaksana.

Apalagi di jaman pandemi ini jangan ada ruang keterpecahan bangsa. Semua pihak, terutama pejabat harus bisa menghadirkan rasa aman, bicara yang positif, optimistis, merangkul semua pihak. Jika perlu lagi ada semacam rekonsiliasi nasional dengan sadar dan seksama bahwa inilah momentum yang tepat untuk mencanangkan hal tersebut. Pandemi diyakini bukan sebagai alat politik membunuh lawan, tapi harus dipahami sebagai momentum persatuan Indonesia sebagaimana amanat daam Pancasila sila ketiga. Rakyat, secara sadar akan manut mengikut para pemimpinnya, kalau pemimpin memberi teladan dalam sikap misal kesederhanaan, ketulusan pelayanan, siap menerima kritik, mudah meminta maaf, semua rakyat akan sadar dan rela mengikuti hal-hal tersebut. Bagi pihak yang tetap berperilaku memecah belah bangsa dan merusak tatanan harus diberi efek jera.

Indonesia sebagai negara padat ke-4 ( 271,35 juta penduduk ) di dunia sedang menjadi sorotan bersama. Kondisi Covid-19 yang eksponensial, sampai dengan tulisan ini dibuat, jumlah penyebaran pasien terdampak berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 hingga Sabtu (17/7/2021) pukul 12.00 WIB, ada penambahan sebanyak 51.952 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Ini merupakan hari keempat kasus baru Covid-19 di tanah air tembus angka 50.000 penderita. Dengan demikian, jumlah pasien yang terjangkit Covid-19 kini berjumlah 2.832.755 orang terhitung sejak Maret 2020 lalu.

Data pemerintah menunjukkan, terjadi penambahan pasien meninggal dunia akibat Covid-19 sebanyak 1.092 orang dalam sehari. Dengan demikian, total jumlah pasien Covid-19 meninggal dunia menjadi 72.489 orang. Informasi tersebut disampaikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melalui data yang diterima Kompas.com. Semua pihak lagi mencari cara bertahan dan jalan keluar pembatasan penularan.

Dampak Covid-19 sudah kita rasakan dalam setahun ini menjadi dampak multi dimensional, dimana selain membawa dampak paling terasa ada di bidang kesehatan, pendidikan warga, sosial hubungan kemasyarakatan, ketahanan pangan, politik dan keamanan, stabilitas negara, juga ekonomi serta kemandirian bangsa. Bagi pihak seperti kami yang berada di jalur bisnis dan usaha kecil menengah (UKM) setidaknya tetap akan mengorbit guna mencari jalan-keluar agar bisa tetap optimis melangkah menggunakan berbagai hal yang memungkinkan untuk digunakan. Dalam kondisi ini konsep yang tepat menggunakan kuadran business recovery atau turn around. Satu kuadran dari 4 kuadran dalam tata kelola bisnis tepat bagi banyak pihak yang mengalami kondisi penurunan nilai transaksi, berkurangnya daya dukung karena banyak hal yang mempengaruhi. Adapun kuadran yang lain yang akan di bahas di waktu yang lain di antaranya kuadaran memulai bisnis (entrepreneur), mengembangkan bisnis (corporate), scale up bisnis (patnership).

Kita sebagai bangsa beragama dan beradab harus memiliki prasangka yang baik atas semua kondisi. Sehingga dalam kuadran bisnis recovery/pemulihan kita tidak bisa kemudian meninggalkan bisnis yang selama ini kita geluti. Pada kondisi ini tugas business owner yang perlu di lakukan adalah menemukan hal baru dalam melayani pelanggan dengan kondisi baru, menyediakan barang, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki spesifikasi produk, memperbaiki cara mendistribusikan produk dan cara mengkosumsinya.

Kondisi krisis kedua yang akan dan sedang kita hadapi ini setidaknya kita semua telah merasakan setahun berjalan pandemi 2020 hingga 2021. Dengan demikian, kita juga bisa mengetahui dan memahami pola permainannya. Di masa sekarang, selain kondisi dampak lebih besar dirasakan semua lapisan masyarakat namun kita sudah menyadari permainan new normal dalam bertransaksi dan memainkan bisnis.
Dalam business recovery/pemulihan, kita harus siap melakukan perubahan lagi untuk tetap selamat dari tekanan/turbulensi krisis. Ada beberapa hal konsep Turn Around Framework dalam buku Strategi Jitu Business Recovery oleh Coach Dr. Fahmi dijelaskan beberapa hal yang bisa kita gunakan sebagai panduan.

Framework yang dimaksud di antaranya:

1. Low Cost Operation/Operasi Biaya Terendah
Para pelaku bisnis perlu lebih ketat dalam mengendalikan operasional pada biaya terendah. Ada beberapa hal yang bisa di lakukan:
• Operation Efficiency (efisiensi di operasional)
Biaya-biaya yang harus di kurangi dari kegiatan operasional harian, hal ini mengacu pada jumlah pekerjaan yang bisa di selesaikan dalam sehari.
• Inventory Efficiency (efisiensi di persediaan)
Penggunaan bahan baku sehemat mungkin agar semua bahan baku bisa menjadi sumber pendapatan, karena itu tidak ada bahan baku yang rusak bahkan hilang.
• Modest overhead (beroperasi dengan biaya variabel rata-rata)
Menggunakan biaya overhead yang lebih sedikit dibandingkan perusahaan yang lain, perlu pengetatan terhadap penggunaan biaya non penjualan.
• Low cost through design (beroperasi dalam biaya rendah dan terencana dengan merancang produk yang mebutuhkan biaya sedikit)

2. Product Differentiation/Diferensiasi Produk, di antaranya:
• Distinguishing Features (fitur yang membedakan), berupaya membuat produk yang memiliki fitur berbeda dengan yang lainnya yang di butuhkan pelanggan.
• Reliability and Performance (keandalan dan kemanfaatan), pelaku usaha berupaya menghasilkan produk yang handal dan manfaat sehingga mampu bersaing di pasar memiliki performance penjulan yang baik dan di terima pasar.
• Produt Quality, Kualitas Produk tetap di jaga agar bisa di terima pasar
• Market Continuity (pasar yang berkelanjutan), produk yang dihadirkan memperhatikan kesinambungan pasar, tidak mudah melakukan perubahan yang menjadikan pelanggan bingung, termasuk membangun komunikasi dengan para pelanggan yang loyal dengan produk kita.

”Jadikan momentum pademi kedua ini sebagai titik tolak perubahan bisnis yang lebih mendasar dan menguat, memperbaiki produk, layanan, pemasaran, menguatkan sinergisitas, mengembangkan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan persatuan Indonesia,”

KONDISI yang sedang menimpa bangsa ini dan bangsa di dunia hendaknya bisa disikapi dengan jalan keluar bersama. Bangsa Indonesia yang telah dikenal sebagai bangsa yang ramah, guyub rukun dan gotong royong harus dikembalikan dengan cara menghadirkan rasa nyaman, optimistis, serta merangkul semua pihak. Indonesia yang majemuk ber-Bhinneka Tunggal Ika harus lebih disadari dan dipahami tidak sekadar jargon semata tapi juga kesadaran bersama, bahwa bangsa Indonesia beragam dan berbeda tetapi tetap bersatu dengan tindakan serta pikiran yang adil sekaligus bijaksana.

Apalagi di jaman pandemi ini jangan ada ruang keterpecahan bangsa. Semua pihak, terutama pejabat harus bisa menghadirkan rasa aman, bicara yang positif, optimistis, merangkul semua pihak. Jika perlu lagi ada semacam rekonsiliasi nasional dengan sadar dan seksama bahwa inilah momentum yang tepat untuk mencanangkan hal tersebut. Pandemi diyakini bukan sebagai alat politik membunuh lawan, tapi harus dipahami sebagai momentum persatuan Indonesia sebagaimana amanat daam Pancasila sila ketiga. Rakyat, secara sadar akan manut mengikut para pemimpinnya, kalau pemimpin memberi teladan dalam sikap misal kesederhanaan, ketulusan pelayanan, siap menerima kritik, mudah meminta maaf, semua rakyat akan sadar dan rela mengikuti hal-hal tersebut. Bagi pihak yang tetap berperilaku memecah belah bangsa dan merusak tatanan harus diberi efek jera.

Indonesia sebagai negara padat ke-4 ( 271,35 juta penduduk ) di dunia sedang menjadi sorotan bersama. Kondisi Covid-19 yang eksponensial, sampai dengan tulisan ini dibuat, jumlah penyebaran pasien terdampak berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 hingga Sabtu (17/7/2021) pukul 12.00 WIB, ada penambahan sebanyak 51.952 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Ini merupakan hari keempat kasus baru Covid-19 di tanah air tembus angka 50.000 penderita. Dengan demikian, jumlah pasien yang terjangkit Covid-19 kini berjumlah 2.832.755 orang terhitung sejak Maret 2020 lalu.

Data pemerintah menunjukkan, terjadi penambahan pasien meninggal dunia akibat Covid-19 sebanyak 1.092 orang dalam sehari. Dengan demikian, total jumlah pasien Covid-19 meninggal dunia menjadi 72.489 orang. Informasi tersebut disampaikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melalui data yang diterima Kompas.com. Semua pihak lagi mencari cara bertahan dan jalan keluar pembatasan penularan.

Dampak Covid-19 sudah kita rasakan dalam setahun ini menjadi dampak multi dimensional, dimana selain membawa dampak paling terasa ada di bidang kesehatan, pendidikan warga, sosial hubungan kemasyarakatan, ketahanan pangan, politik dan keamanan, stabilitas negara, juga ekonomi serta kemandirian bangsa. Bagi pihak seperti kami yang berada di jalur bisnis dan usaha kecil menengah (UKM) setidaknya tetap akan mengorbit guna mencari jalan-keluar agar bisa tetap optimis melangkah menggunakan berbagai hal yang memungkinkan untuk digunakan. Dalam kondisi ini konsep yang tepat menggunakan kuadran business recovery atau turn around. Satu kuadran dari 4 kuadran dalam tata kelola bisnis tepat bagi banyak pihak yang mengalami kondisi penurunan nilai transaksi, berkurangnya daya dukung karena banyak hal yang mempengaruhi. Adapun kuadran yang lain yang akan di bahas di waktu yang lain di antaranya kuadaran memulai bisnis (entrepreneur), mengembangkan bisnis (corporate), scale up bisnis (patnership).

Kita sebagai bangsa beragama dan beradab harus memiliki prasangka yang baik atas semua kondisi. Sehingga dalam kuadran bisnis recovery/pemulihan kita tidak bisa kemudian meninggalkan bisnis yang selama ini kita geluti. Pada kondisi ini tugas business owner yang perlu di lakukan adalah menemukan hal baru dalam melayani pelanggan dengan kondisi baru, menyediakan barang, meningkatkan kualitas produk, memperbaiki spesifikasi produk, memperbaiki cara mendistribusikan produk dan cara mengkosumsinya.

Kondisi krisis kedua yang akan dan sedang kita hadapi ini setidaknya kita semua telah merasakan setahun berjalan pandemi 2020 hingga 2021. Dengan demikian, kita juga bisa mengetahui dan memahami pola permainannya. Di masa sekarang, selain kondisi dampak lebih besar dirasakan semua lapisan masyarakat namun kita sudah menyadari permainan new normal dalam bertransaksi dan memainkan bisnis.
Dalam business recovery/pemulihan, kita harus siap melakukan perubahan lagi untuk tetap selamat dari tekanan/turbulensi krisis. Ada beberapa hal konsep Turn Around Framework dalam buku Strategi Jitu Business Recovery oleh Coach Dr. Fahmi dijelaskan beberapa hal yang bisa kita gunakan sebagai panduan.

Framework yang dimaksud di antaranya:

1. Low Cost Operation/Operasi Biaya Terendah
Para pelaku bisnis perlu lebih ketat dalam mengendalikan operasional pada biaya terendah. Ada beberapa hal yang bisa di lakukan:
• Operation Efficiency (efisiensi di operasional)
Biaya-biaya yang harus di kurangi dari kegiatan operasional harian, hal ini mengacu pada jumlah pekerjaan yang bisa di selesaikan dalam sehari.
• Inventory Efficiency (efisiensi di persediaan)
Penggunaan bahan baku sehemat mungkin agar semua bahan baku bisa menjadi sumber pendapatan, karena itu tidak ada bahan baku yang rusak bahkan hilang.
• Modest overhead (beroperasi dengan biaya variabel rata-rata)
Menggunakan biaya overhead yang lebih sedikit dibandingkan perusahaan yang lain, perlu pengetatan terhadap penggunaan biaya non penjualan.
• Low cost through design (beroperasi dalam biaya rendah dan terencana dengan merancang produk yang mebutuhkan biaya sedikit)

2. Product Differentiation/Diferensiasi Produk, di antaranya:
• Distinguishing Features (fitur yang membedakan), berupaya membuat produk yang memiliki fitur berbeda dengan yang lainnya yang di butuhkan pelanggan.
• Reliability and Performance (keandalan dan kemanfaatan), pelaku usaha berupaya menghasilkan produk yang handal dan manfaat sehingga mampu bersaing di pasar memiliki performance penjulan yang baik dan di terima pasar.
• Produt Quality, Kualitas Produk tetap di jaga agar bisa di terima pasar
• Market Continuity (pasar yang berkelanjutan), produk yang dihadirkan memperhatikan kesinambungan pasar, tidak mudah melakukan perubahan yang menjadikan pelanggan bingung, termasuk membangun komunikasi dengan para pelanggan yang loyal dengan produk kita.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru