21.6 C
Malang
Friday, 3 February 2023

Bangun Art Center Apa Atasi Sampah?

Salah satu kebijakan Pemkot Batu yang cukup menjadi perdebatan antara eksekutif dan legislatif adalah rencana membangun art center, cold storage dan depo bangunan. Legislatif menilai program pembangunan tiga proyek tersebut tidak mendesak dan membutuhkan anggaran yang besar. Untuk art center dianggarkan Rp 20 miliar, cold storage Rp 12,3 miliar dan depo bangunan Rp 4 miliar. Jika ditotal sebanyak Rp 36,3 miliar.

Dewan menilai, Kota Batu belum perlu membangun art center, karena saat ini sudah ada gedung kesenian Mbatuaji yang kondisinya memprihatinkan. Sehingga dewan menyarankan lebih baik membenahi gedung kesenian Mbatuaji daripada membangun art center. Toh fungsinya juga sama, untuk pagelaran seni budaya.
Kemudian untuk pembangunan cold storage di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo juga dinilai kurang pas dan tidak mendesak. Karena persoalan sayur relatif teratasi. Apalagi rata-rata petani sayur berasal dari daerah Bumiaji yang jaraknya cukup jauh dari Dapdarejo. Begitu juga dengan depo arsip, dianggap belum urgen.

Akan tetapi, pihak eksekutif di masa kepemimpinan Wali Kota Dewanti Rumpoko dan Wakil Wali Kota Punjul Santoso dulu sangat ingin merealisasikan proyek-proyek tersebut. Bahkan keduanya berpesan agar semua program yang telah dicanangkan selama kepemimpinan Dewanti-Punjul hendaknya dilanjutkan oleh siapapun yang menjabat sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Batu.

Nah, sekarang setelah kepemimpinan di Pemkot Batu benar-benar diisi oleh seorang Pj, akankah proyek tersebut dilanjutkan atau tidak. Akankah Pj Wali Kota Batu yang dijabat oleh Aries Agung Paewai mau melanjutkan tiga proyek kontroversi tersebut atau tidak.
Karena, berdasarkan SK Mendagri Nomor 100.2.1.3 – 6344 tahun 2022, salah satu wewenang Pj yakni dapat membuat kebijakan yang berbeda dengan program pembangunan pejabat sebelumnya. Itu artinya, Aries nantinya bisa menentukan kebijakan pembangunan Kota Batu yang bisa saja berbeda dengan kebijakan wali kota terdahulu.

Hanya saja hemat penulis, hendaknya Pj wali kota meninjau kembali tiga proyek yang disoal dewan tersebut. Karena memang, jika dibangunpun kemungkinan tidak akan berdampak penting bagi warga Kota Batu secara luas. Kenapa? Karena salah satu persoalan besar yang kini dihadapi oleh warga Kota Batu adalah masalah tempat pembuangan sampah (TPA).

Mengingat TPA Tlekung sudah kewalahan menampung sampah yang terus melimpah di Kota Batu. Kalau nanti TPA Tlekung benar-benar tidak mampu menampung sampah, maka yang terdampak adalah masyarakat luas.

Selain itu, persoalan bau busuk yang menyebar juga sudah terjadi bertahun-tahun dan tetap belum ada solusi yang pas. Sampai-sampai, warga Desa Tlekung yang merasa selama ini tidak diperhatikan akhirnya protes dengan bau sampah yang sangat mengganggu tersebut. Hari-hari ini warga memasang spanduk yang intinya meminta Pemkot Batu menyelesaikan masalah bau sampah tersebut. Mereka tidak akan melepas spanduk sebelum sampah tertangani.

Menyikapi persoalan ini, Pemkot Batu beralasan sudah tidak punya lahan untuk TPA karena lahan di Kota Batu semakin sempit. Namun, apakah karena alasan itu, masalah TPA kemudian dibiarkan saja. Apakah tidak mungkin Pemkot Batu mencari lahan alternatif yang bisa untuk membangun TPA baru. Jika masalahnya terkait anggaran, kan bisa menggunakan anggaran yang dianggarkan untuk tiga proyek yang dianggap kurang penting tersebut.

Memang, untuk menyiapkan lahan untuk TPA baru bukan perkara mudah. Butuh proses dan waktu yang panjang, sedangkan masa jabatan Pj wali kota maksimal hingga 2024, tidaklah sepanjang masa jabatan wali kota. Sehingga sepertinya untuk membangun TPA sepertinya tidak cukup. Akan tetapi jika Pj wali kota yang saat ini menjabat ternyata mampu menyelesaikan masalah sampah, maka jasanya akan dikenang oleh warga Batu. Meskipun menjabat dalam waktu yang singkat kenangan baiknya akan melekat di hati sanubari masyarakat akan sangat panjang.

Lalu, kira-kira kebijakan apa yang akan diprioritaskan oleh Pj wali Kota Aries? Masyarakat Batu masih menunggu-nunggu gebrakannya. Semua hanya berharap kebijakan yang dijalankan benar-benar menyelesaikan persoalan yang menyangkut langsung dengan masyarakat banyak. Penulis yakin Aries ingin meninggalkan warisan yang baik untuk warga Kota Batu, meskipun dia menjabat tidak sampai 5 tahun.

Untuk itu, bagi warga kota apel, bisa mengusulkan apa saja program yang benar-benar diinginkan masyarakat. Selanjutnya kawal program tersebut agar benar-benar sesuai dengan keinginan masyarakat. (*)

Salah satu kebijakan Pemkot Batu yang cukup menjadi perdebatan antara eksekutif dan legislatif adalah rencana membangun art center, cold storage dan depo bangunan. Legislatif menilai program pembangunan tiga proyek tersebut tidak mendesak dan membutuhkan anggaran yang besar. Untuk art center dianggarkan Rp 20 miliar, cold storage Rp 12,3 miliar dan depo bangunan Rp 4 miliar. Jika ditotal sebanyak Rp 36,3 miliar.

Dewan menilai, Kota Batu belum perlu membangun art center, karena saat ini sudah ada gedung kesenian Mbatuaji yang kondisinya memprihatinkan. Sehingga dewan menyarankan lebih baik membenahi gedung kesenian Mbatuaji daripada membangun art center. Toh fungsinya juga sama, untuk pagelaran seni budaya.
Kemudian untuk pembangunan cold storage di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo juga dinilai kurang pas dan tidak mendesak. Karena persoalan sayur relatif teratasi. Apalagi rata-rata petani sayur berasal dari daerah Bumiaji yang jaraknya cukup jauh dari Dapdarejo. Begitu juga dengan depo arsip, dianggap belum urgen.

Akan tetapi, pihak eksekutif di masa kepemimpinan Wali Kota Dewanti Rumpoko dan Wakil Wali Kota Punjul Santoso dulu sangat ingin merealisasikan proyek-proyek tersebut. Bahkan keduanya berpesan agar semua program yang telah dicanangkan selama kepemimpinan Dewanti-Punjul hendaknya dilanjutkan oleh siapapun yang menjabat sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Batu.

Nah, sekarang setelah kepemimpinan di Pemkot Batu benar-benar diisi oleh seorang Pj, akankah proyek tersebut dilanjutkan atau tidak. Akankah Pj Wali Kota Batu yang dijabat oleh Aries Agung Paewai mau melanjutkan tiga proyek kontroversi tersebut atau tidak.
Karena, berdasarkan SK Mendagri Nomor 100.2.1.3 – 6344 tahun 2022, salah satu wewenang Pj yakni dapat membuat kebijakan yang berbeda dengan program pembangunan pejabat sebelumnya. Itu artinya, Aries nantinya bisa menentukan kebijakan pembangunan Kota Batu yang bisa saja berbeda dengan kebijakan wali kota terdahulu.

Hanya saja hemat penulis, hendaknya Pj wali kota meninjau kembali tiga proyek yang disoal dewan tersebut. Karena memang, jika dibangunpun kemungkinan tidak akan berdampak penting bagi warga Kota Batu secara luas. Kenapa? Karena salah satu persoalan besar yang kini dihadapi oleh warga Kota Batu adalah masalah tempat pembuangan sampah (TPA).

Mengingat TPA Tlekung sudah kewalahan menampung sampah yang terus melimpah di Kota Batu. Kalau nanti TPA Tlekung benar-benar tidak mampu menampung sampah, maka yang terdampak adalah masyarakat luas.

Selain itu, persoalan bau busuk yang menyebar juga sudah terjadi bertahun-tahun dan tetap belum ada solusi yang pas. Sampai-sampai, warga Desa Tlekung yang merasa selama ini tidak diperhatikan akhirnya protes dengan bau sampah yang sangat mengganggu tersebut. Hari-hari ini warga memasang spanduk yang intinya meminta Pemkot Batu menyelesaikan masalah bau sampah tersebut. Mereka tidak akan melepas spanduk sebelum sampah tertangani.

Menyikapi persoalan ini, Pemkot Batu beralasan sudah tidak punya lahan untuk TPA karena lahan di Kota Batu semakin sempit. Namun, apakah karena alasan itu, masalah TPA kemudian dibiarkan saja. Apakah tidak mungkin Pemkot Batu mencari lahan alternatif yang bisa untuk membangun TPA baru. Jika masalahnya terkait anggaran, kan bisa menggunakan anggaran yang dianggarkan untuk tiga proyek yang dianggap kurang penting tersebut.

Memang, untuk menyiapkan lahan untuk TPA baru bukan perkara mudah. Butuh proses dan waktu yang panjang, sedangkan masa jabatan Pj wali kota maksimal hingga 2024, tidaklah sepanjang masa jabatan wali kota. Sehingga sepertinya untuk membangun TPA sepertinya tidak cukup. Akan tetapi jika Pj wali kota yang saat ini menjabat ternyata mampu menyelesaikan masalah sampah, maka jasanya akan dikenang oleh warga Batu. Meskipun menjabat dalam waktu yang singkat kenangan baiknya akan melekat di hati sanubari masyarakat akan sangat panjang.

Lalu, kira-kira kebijakan apa yang akan diprioritaskan oleh Pj wali Kota Aries? Masyarakat Batu masih menunggu-nunggu gebrakannya. Semua hanya berharap kebijakan yang dijalankan benar-benar menyelesaikan persoalan yang menyangkut langsung dengan masyarakat banyak. Penulis yakin Aries ingin meninggalkan warisan yang baik untuk warga Kota Batu, meskipun dia menjabat tidak sampai 5 tahun.

Untuk itu, bagi warga kota apel, bisa mengusulkan apa saja program yang benar-benar diinginkan masyarakat. Selanjutnya kawal program tersebut agar benar-benar sesuai dengan keinginan masyarakat. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/