alexametrics
23.9 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Ijen 2

Pagar tembok yang mengelilingi rumah dinas Wali Kota Malang di Jalan Ijen No 2, akan dirobohkan. Ini jika ide dari Ny Widayati Sutiaji, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Malang benar-benar direalisasikan. Dia ingin, agar rumah dinas wali kota menjadi rumah rakyat. Artinya, siapa pun warga, khususnya dari Kota Malang boleh masuk ke halaman rumah dinas itu. Boleh berkunjung ke rumah dinas itu. Boleh berfoto-foto ria di rumah dinas itu.

Wali Kota Malang Sutiaji mengamini ide dari isterinya itu. Ini dia sampaikan kepada kami, ketika bertemu dalam rangka halal bi halal secara terbatas di rumah dinasnya yang saat ini interior ruangannya sudah dipermak lebih bagus itu.
“Nanti konsepnya dibikin ala heritage. Akan ada spot-spot untuk selfie. Dan akan ada spot siapa pun bisa berfoto memakai baju walikota (baju formal yang putih-putih itu),” katanya kepada kami.

Saya pun membayangkan, jika ide dan rencana itu diwujudkan, maka wajah rumah dinas walikota itu akan bisa dilihat secara lebih utuh oleh siapa pun yang melintas di depannya. Sebab, tak akan ada lagi pagar tembok yang selama ini mengelilinginya.

Jika kelak pagar temboknya benar-benar dirobohkan, bagaimana dengan keamanannya? Dengan diberi pagar tembok saja, baru-baru ini ada insiden, yakni sekelompok orang bikin gaduh di depan rumah dinas wali kota itu. Mereka melempar sesuatu ke dalam halaman rumah dinas wali kota. Untung, yang dilempar bukan jenis benda berbahaya.
Tentu, berbagai pertimbangan soal keamanan, saya rasa sudah dipikirkan oleh wali kota, jika dia benar-benar akan merealisasikan ide itu, yakni ingin menjadikan rumah dinas wali kota sebagai destinasi wisata rakyat.

Wali kota memang pejabat publik. Dalam negara demokrasi, dia dipilih oleh rakyat secara langsung. Kemudian, untuk mempermudah tugas-tugasnya sebagai pejabat publik, disiapkan rumah dinas yang bisa ditinggali bersama dengan keluarganya.
Setiap kepala daerah, punya cara yang berbeda-beda dalam menyikapi rumah dinasnya. Ada yang langsung menempati rumah dinasnya begitu dilantik. Tapi ada juga yang lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri. Rumah dinas hanya digunakan untuk menerima tamu-tamu penting atau tamu-tamu resmi.

Bahwa oleh Wali Kota Sutiaji rumah dinas yang dia tempati akan dijadikan sebagai destinasi wisata rakyat, ini menurut saya menarik. Tema heritage yang akan diangkat dalam mempermak rumah dinas itu juga tepat.

Sebab, rumah dinas wali kota Malang adalah termasuk satu dari 20 benda atau bangunan yang pernah diajukan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan wali kota. Selain rumah dinas walikota, 19 benda atau bangunan yang diusulkan sebagai cagar budaya di Kota Malang adalah: Balai Kota Malang, kompleks SMA Tugu, Stasiun Kota, jembatan Splendid dan Kahuripan, gedung Bank Indonesia, gereja Kayutangan, gereja Immanuel, Masjid Jami’, dan Gedung KPPN. Yang lainnya: gedung PLN, gereja Ijen, kompleks sekolah Corjesu, klenteng Eng An Kiong, jembatan Brantas (buk gluduk), tandon air Tlogomas, brandweer (mobil PMK), hotel Pelangi, koleksi museum Mpu Purwa dan makam Ki Ageng Gribig.

Jika rencana menjadikan rumah dinas wali kota Malang sebagai destinasi wisata rakyat benar-benar dilaksanakan, maka ini akan nyambung dengan kawasan Jalan kembar Ijen yang sangat ikonik itu. Saya sering mengatakan, Kota Malang harus berterima kasih kepada Thomas Karsten, arsitek Belanda yang mendesain kawasan di Jalan Ijen itu. Berkat Karsten, Kota Malang punya Jalan kembar Ijen.

Sayangnya, begitu keluar dari Jalan kembar Ijen, misalnya ke Jalan Kawi, suasananya terasa njegleg. Jalan Kawi terkesan menjadi jalan yang tak ditata dengan baik. Lihat saja pedestriannya. Banyak bagian yang rusak. Dan belum ada perbaikan yang signifikan, sehingga menjadi pedestrian yang nyaman. Padahal Jalan Kawi adalah salah satu jalan protokol di Kota Malang.

Makanya, begitu nanti rumah dinas wali kota diperbaiki penampilannya, dan dijadikan sebagai destinasi wisata rakyat dengan nuansa heritage, semoga berlanjut pada upaya memperbaiki penampilan jalan-jalan protokol di sekitar Jl Ijen. Salah satunya Jalan Kawi hingga ke Jl Kawi Atas. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Pagar tembok yang mengelilingi rumah dinas Wali Kota Malang di Jalan Ijen No 2, akan dirobohkan. Ini jika ide dari Ny Widayati Sutiaji, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Malang benar-benar direalisasikan. Dia ingin, agar rumah dinas wali kota menjadi rumah rakyat. Artinya, siapa pun warga, khususnya dari Kota Malang boleh masuk ke halaman rumah dinas itu. Boleh berkunjung ke rumah dinas itu. Boleh berfoto-foto ria di rumah dinas itu.

Wali Kota Malang Sutiaji mengamini ide dari isterinya itu. Ini dia sampaikan kepada kami, ketika bertemu dalam rangka halal bi halal secara terbatas di rumah dinasnya yang saat ini interior ruangannya sudah dipermak lebih bagus itu.
“Nanti konsepnya dibikin ala heritage. Akan ada spot-spot untuk selfie. Dan akan ada spot siapa pun bisa berfoto memakai baju walikota (baju formal yang putih-putih itu),” katanya kepada kami.

Saya pun membayangkan, jika ide dan rencana itu diwujudkan, maka wajah rumah dinas walikota itu akan bisa dilihat secara lebih utuh oleh siapa pun yang melintas di depannya. Sebab, tak akan ada lagi pagar tembok yang selama ini mengelilinginya.

Jika kelak pagar temboknya benar-benar dirobohkan, bagaimana dengan keamanannya? Dengan diberi pagar tembok saja, baru-baru ini ada insiden, yakni sekelompok orang bikin gaduh di depan rumah dinas wali kota itu. Mereka melempar sesuatu ke dalam halaman rumah dinas wali kota. Untung, yang dilempar bukan jenis benda berbahaya.
Tentu, berbagai pertimbangan soal keamanan, saya rasa sudah dipikirkan oleh wali kota, jika dia benar-benar akan merealisasikan ide itu, yakni ingin menjadikan rumah dinas wali kota sebagai destinasi wisata rakyat.

Wali kota memang pejabat publik. Dalam negara demokrasi, dia dipilih oleh rakyat secara langsung. Kemudian, untuk mempermudah tugas-tugasnya sebagai pejabat publik, disiapkan rumah dinas yang bisa ditinggali bersama dengan keluarganya.
Setiap kepala daerah, punya cara yang berbeda-beda dalam menyikapi rumah dinasnya. Ada yang langsung menempati rumah dinasnya begitu dilantik. Tapi ada juga yang lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri. Rumah dinas hanya digunakan untuk menerima tamu-tamu penting atau tamu-tamu resmi.

Bahwa oleh Wali Kota Sutiaji rumah dinas yang dia tempati akan dijadikan sebagai destinasi wisata rakyat, ini menurut saya menarik. Tema heritage yang akan diangkat dalam mempermak rumah dinas itu juga tepat.

Sebab, rumah dinas wali kota Malang adalah termasuk satu dari 20 benda atau bangunan yang pernah diajukan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan wali kota. Selain rumah dinas walikota, 19 benda atau bangunan yang diusulkan sebagai cagar budaya di Kota Malang adalah: Balai Kota Malang, kompleks SMA Tugu, Stasiun Kota, jembatan Splendid dan Kahuripan, gedung Bank Indonesia, gereja Kayutangan, gereja Immanuel, Masjid Jami’, dan Gedung KPPN. Yang lainnya: gedung PLN, gereja Ijen, kompleks sekolah Corjesu, klenteng Eng An Kiong, jembatan Brantas (buk gluduk), tandon air Tlogomas, brandweer (mobil PMK), hotel Pelangi, koleksi museum Mpu Purwa dan makam Ki Ageng Gribig.

Jika rencana menjadikan rumah dinas wali kota Malang sebagai destinasi wisata rakyat benar-benar dilaksanakan, maka ini akan nyambung dengan kawasan Jalan kembar Ijen yang sangat ikonik itu. Saya sering mengatakan, Kota Malang harus berterima kasih kepada Thomas Karsten, arsitek Belanda yang mendesain kawasan di Jalan Ijen itu. Berkat Karsten, Kota Malang punya Jalan kembar Ijen.

Sayangnya, begitu keluar dari Jalan kembar Ijen, misalnya ke Jalan Kawi, suasananya terasa njegleg. Jalan Kawi terkesan menjadi jalan yang tak ditata dengan baik. Lihat saja pedestriannya. Banyak bagian yang rusak. Dan belum ada perbaikan yang signifikan, sehingga menjadi pedestrian yang nyaman. Padahal Jalan Kawi adalah salah satu jalan protokol di Kota Malang.

Makanya, begitu nanti rumah dinas wali kota diperbaiki penampilannya, dan dijadikan sebagai destinasi wisata rakyat dengan nuansa heritage, semoga berlanjut pada upaya memperbaiki penampilan jalan-jalan protokol di sekitar Jl Ijen. Salah satunya Jalan Kawi hingga ke Jl Kawi Atas. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/