alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Altruisme dan Egoisme dalam Reformasi

TEPATNYA kemarin, 21 Mei 2022, tak terasa 24 tahun sudah mometum reformasi di negeri ini berjalan. Selama itu pula, banyak catatan capaian akan penuntasan agenda reformasi yang diusung para mahasiswa di angkatan 1998. Catatan bisa bisa dalam pengamatan lingkup nasional maupun lokal di Malang raya. Ada yang bilang sudah berjalan tapi pelan, ada pula yang bilang masih jalan di tempat, bahkan ada pula yang ekstreem menyebut reformasi telah gagal dijalankan.

Bicara soal penuntasan agenda reformasi di negeri ini, telah dilihat oleh banyak orang dengan multi perspektif. Ada pihak yang menunggangi agenda reformasi untuk kepentingan tertentu. Ada pula yang memandang agenda reformasi sebagai sebuah komoditas yang layak untuk dikomodifikasi.

Sedikit mengulas apa saja agenda reformasi yang pernah dituangkan oleh para pejuang reformasi di tahun 1998 silam, antara lain: Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, melaksanakan amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menghapus dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya, menegakkan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dalam kondisi sekarang ini, tentunya capaian penuntasan agenda reformasi sangat sulit ditelaah. Utamanya dua agenda yang terakhir, yakni menegakkan supremasi hukum dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tidak dipungkiri, banyak pemimpin mulai tingkat pusat hingga di daerah yang berperan seolah-olah sebagai aktor dalam penuntasan agenda reformasi tersebut. Namun kenyataannya, malah menumpangi agenda reformasi demi kepentingan pribadi ataupun kelompoknya. Bahkan lebih halus dalam penyampaian kepada publik, seakan akan mereka adalah pengawal agenda reformasi. Mulai penggalangan opini yang telah ditata sedemikan rupa, bahkan bila perlu dalam penataan anggaran seolah-olah tidak tampak jika hal itu menyalahi tujuan dari agenda reformasi.

Melihat hal semacam itu, rasanya negeri ini sangat butuh orang-orang altruis. Altruis atau altruisme adalah sifat yang mengutamakan kepentingan orang lain. Orang yang punya jiwa altruis tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok golongan. Lawan dari altruis adalah mementingkan diri sendiri atau biasa disebut egois.

Menurut seorang filsuf Richard Rorty, altruisme adalah panggilan untuk solidaritas yang tidak berangkat dari dasar filosofis, religius, serta ideologi tertentu. Ditegaskan pula bahwa altruisme sejatinya merupakan panggilan moral. Dalam jiwa orang yang altruis tak ada ego identitas sosial, agama, etnis, suku, ras, serta politik tertentu. Sementara Martin Luther King menyebut bahwa altruisme adalah keinginan seseorang untuk menyenangkan orang lain yang lebih didasari oleh rasa pembebasan dari penderitaan yang dialami.

Apalagi di era penetrasi medsos yang semakin tiada lawan seperti saat ini sangat berpengaruh terhadap sikap dalam menilai seseorang. Banyak orang membuat konten di medsos dengan aksi penegakan agenda reformasi, hanya demi konten di medsosnya. Ujung-ujungnya figur dalam bekerja ini bukan didasari oleh rasa kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara, namun lebih untuk merebut simpati khalayak.

Tak sedikit orang, misalkan para figur publik, politisi, dan selebriti yang terseret dalam era eksis di dunia konten saat ini. Dalam telaah di dunia medsos, seseorang baru bisa dibilang eksis dan diakui keberadaannya jika mereka sudah membuat konten yang punya kekuatan masif. Sehingga tak sedikit orang berlomba-loba mencipta konten dan menghalalkan banyak cara demi meraih jumlah penonton (viewer), pengikut (follower), dan subscriber. Karena di dunia medsos, siapa yang mampu merajai konten dan punya pengikut yang banyak itulah yang dibilang hebat. Meski realitanya “perjuangan” dia dalam mengawal agenda reformasi tak sehebat konten yang ia buat.

Pertanyaannya kepada kita semua, siapa sejatinya publik figur yang tulus mengawal penuntasan agenda reformasi guna kepentingan rakyat? Lalu siapa pula orang yang tampil berperangai egois dan hanya ingin mengambil keuntungan pribadi dari proses mengawal agenda reformasi ini?. Tentunya kita semua bisa menilai figur publik di Malang raya ini yang punya perangai altruis ataupun egois. (saran dan masukan ke email: mardisampurno@icloud.com)

TEPATNYA kemarin, 21 Mei 2022, tak terasa 24 tahun sudah mometum reformasi di negeri ini berjalan. Selama itu pula, banyak catatan capaian akan penuntasan agenda reformasi yang diusung para mahasiswa di angkatan 1998. Catatan bisa bisa dalam pengamatan lingkup nasional maupun lokal di Malang raya. Ada yang bilang sudah berjalan tapi pelan, ada pula yang bilang masih jalan di tempat, bahkan ada pula yang ekstreem menyebut reformasi telah gagal dijalankan.

Bicara soal penuntasan agenda reformasi di negeri ini, telah dilihat oleh banyak orang dengan multi perspektif. Ada pihak yang menunggangi agenda reformasi untuk kepentingan tertentu. Ada pula yang memandang agenda reformasi sebagai sebuah komoditas yang layak untuk dikomodifikasi.

Sedikit mengulas apa saja agenda reformasi yang pernah dituangkan oleh para pejuang reformasi di tahun 1998 silam, antara lain: Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, melaksanakan amendemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menghapus dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, melaksanakan otonomi daerah seluas-luasnya, menegakkan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dalam kondisi sekarang ini, tentunya capaian penuntasan agenda reformasi sangat sulit ditelaah. Utamanya dua agenda yang terakhir, yakni menegakkan supremasi hukum dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tidak dipungkiri, banyak pemimpin mulai tingkat pusat hingga di daerah yang berperan seolah-olah sebagai aktor dalam penuntasan agenda reformasi tersebut. Namun kenyataannya, malah menumpangi agenda reformasi demi kepentingan pribadi ataupun kelompoknya. Bahkan lebih halus dalam penyampaian kepada publik, seakan akan mereka adalah pengawal agenda reformasi. Mulai penggalangan opini yang telah ditata sedemikan rupa, bahkan bila perlu dalam penataan anggaran seolah-olah tidak tampak jika hal itu menyalahi tujuan dari agenda reformasi.

Melihat hal semacam itu, rasanya negeri ini sangat butuh orang-orang altruis. Altruis atau altruisme adalah sifat yang mengutamakan kepentingan orang lain. Orang yang punya jiwa altruis tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok golongan. Lawan dari altruis adalah mementingkan diri sendiri atau biasa disebut egois.

Menurut seorang filsuf Richard Rorty, altruisme adalah panggilan untuk solidaritas yang tidak berangkat dari dasar filosofis, religius, serta ideologi tertentu. Ditegaskan pula bahwa altruisme sejatinya merupakan panggilan moral. Dalam jiwa orang yang altruis tak ada ego identitas sosial, agama, etnis, suku, ras, serta politik tertentu. Sementara Martin Luther King menyebut bahwa altruisme adalah keinginan seseorang untuk menyenangkan orang lain yang lebih didasari oleh rasa pembebasan dari penderitaan yang dialami.

Apalagi di era penetrasi medsos yang semakin tiada lawan seperti saat ini sangat berpengaruh terhadap sikap dalam menilai seseorang. Banyak orang membuat konten di medsos dengan aksi penegakan agenda reformasi, hanya demi konten di medsosnya. Ujung-ujungnya figur dalam bekerja ini bukan didasari oleh rasa kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara, namun lebih untuk merebut simpati khalayak.

Tak sedikit orang, misalkan para figur publik, politisi, dan selebriti yang terseret dalam era eksis di dunia konten saat ini. Dalam telaah di dunia medsos, seseorang baru bisa dibilang eksis dan diakui keberadaannya jika mereka sudah membuat konten yang punya kekuatan masif. Sehingga tak sedikit orang berlomba-loba mencipta konten dan menghalalkan banyak cara demi meraih jumlah penonton (viewer), pengikut (follower), dan subscriber. Karena di dunia medsos, siapa yang mampu merajai konten dan punya pengikut yang banyak itulah yang dibilang hebat. Meski realitanya “perjuangan” dia dalam mengawal agenda reformasi tak sehebat konten yang ia buat.

Pertanyaannya kepada kita semua, siapa sejatinya publik figur yang tulus mengawal penuntasan agenda reformasi guna kepentingan rakyat? Lalu siapa pula orang yang tampil berperangai egois dan hanya ingin mengambil keuntungan pribadi dari proses mengawal agenda reformasi ini?. Tentunya kita semua bisa menilai figur publik di Malang raya ini yang punya perangai altruis ataupun egois. (saran dan masukan ke email: mardisampurno@icloud.com)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/