alexametrics
23 C
Malang
Tuesday, 28 June 2022

Catatan Akhir Pekan: Pemimpin dan Keputusan

Teman saya, yang seorang pengusaha, mengirimi saya lewat WhatsApp, tentang permohonan pembebasan pajak para pengusaha di sebuah daerah yang dikabulkan oleh kepala daerahnya. Jenis pajak yang dimohon untuk dibebaskan adalah pajak hiburan.

Dan tak tanggung-tanggung, melalui BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) daerah itu, diberikan pengurangan setoran sebesar 75 persen dari pajak yang seharusnya dibayarkan. Dan ini berlaku untuk masa pembayaran pajak Juni – Desember 2020. Selanjutnya, diberikan pengurangan setoran sebesar 50 persen dari pajak yang seharusnya dibayarkan. Dan ini berlaku untuk masa pembayaran Januari – Desember 2021.

Saya konfirmasi lagi ke teman saya tadi, “Apakah betul informasi ini?,”. Dia membenarkan. Saya tahu mengapa dia mengirimi saya informasi tersebut. Dia ingin mengatakan secara tidak langsung kepada saya, bahwa media melalui berita-beritanya harus mendorong pemerintah daerah (pemda) di Malang Raya agar membantu para pengusaha dengan cara memberikan keringanan pajak.

Meski dia tidak terang-terangan ngomong seperti ini kepada saya, tapi saya katakan kepada dia, bahwa media kami sudah beberapa kali memberitakan soal keringanan pajak ini. Media kami sudah mendorong agar pemda di Malang Raya berani men-defisit-kan budget penerimaannya dari sektor pajak, karena memberikan pembebasan atau keringanan pajak bagi para pengusaha. Dan jika ada pemda yang berani membuat keputusan seperti itu di masa pandemi covid yang serba sulit ini, sama sekali tak melanggar aturan. Ada regulasinya. Dan ini malah didorong oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Memang, risiko jangka pendeknya, Pemda akan kehilangan pendapatan yang bisa jadi cukup besar dengan kebijakan itu. Tapi, ini akan berdampak baik untuk jangka panjangnya. Sebab, dengan adanya pembebasan atau keringanan pajak, itu berarti pemda sudah menunjukkan empati dan kepeduliannya terhadap para pengusaha. Dan empati serta peduli itu bersifat imbal balik. Jika pemda peduli dan empati kepada para pengusaha, maka para pengusaha pasti akan peduli dan empati terhadap program-program pemda.

Dengan adanya kebijakan pembebasan atau keringanan pajak, berarti memberikan “jeda bernafas” bagi para pengusaha agar terus menggeliat. Agar terus berkembang di masa-masa sulit akibat pandemi covid ini.

Lalu, mengapa sampai saat ini belum ada kebijakan pembebasan atau keringanan pajak di pemda Malang Raya? Ini lah yang disebut “political will”. Menurut kamuslengkap.com maupun kamus politik, “political will” adalah adanya kemauan politik dari pemerintah atau para pengambil kebijakan. Berarti, dibuat atau tidak kebijakan pembebasan atau keringanan pajak, sangat tergantung dari pemerintah-nya. Di daerah, sangat tergantung bupati atau walikotanya yang didukung para legislator di daerah itu. Jadi, kuncinya ada pada bupati atau wali kota.

Di dalam “political will” harus ada keberanian menginisiasi dan mengambil keputusan. Kehebatan seorang pemimpin itu, point utamanya adalah dilihat dari keberaniannya dalam membuat keputusan. Pemimpin yang berani membuat keputusan biasanya kerap membuat terobosan. Pemimpin yang tak berani membuat keputusan, maka bisanya hanya mewarisi legacy dari para pendahulu-pendahulunya. Pemimpin yang seperti ini, bisanya hanya menikmati jabatan belaka. Nggak ada gebrakannya. Dan selalu beralasan karena terkait aturan.

Pemimpin dan keberanian sebenarnya adalah dua hal yang saling terkait. Kata Walt Disney: “Courage is the main quality of leadership, in my opinion, no matter where it is exercised. Usually it implies some risk, especially in new undertakings” (keberanian adalah kualitas utama kepemimpinan. Menurut saya, dimana pun itu dilakukan. Biasanya ini menyiratkan beberapa risiko, terutama dalam usaha baru).

Hanya dengan keberanian, maka pemimpin akan membuat terobosan. Dan hanya dengan terobosan, maka berarti pemimpin itu mampu membawa warganya ke suatu tempat, dimana mereka tak akan sampai kalau berjalan sendiri. Ini seperti yang disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di masa perang Vietnam, Henry Kissinger. Dia mendefinisikan kepemimpinan sebagai: “Taking people where they would not have got by themselves” (membawa orang-orang ke tempat dimana mereka tidak akan sampai kalau berjalan sendiri).

Nah, ayo kita nilai, para pemimpin kita….apakah mereka termasuk pemimpin yang berani membuat keputusan, atau termasuk pemimpin yang bisanya hanya menikmati jabatan dan fasilitas? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Teman saya, yang seorang pengusaha, mengirimi saya lewat WhatsApp, tentang permohonan pembebasan pajak para pengusaha di sebuah daerah yang dikabulkan oleh kepala daerahnya. Jenis pajak yang dimohon untuk dibebaskan adalah pajak hiburan.

Dan tak tanggung-tanggung, melalui BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah) daerah itu, diberikan pengurangan setoran sebesar 75 persen dari pajak yang seharusnya dibayarkan. Dan ini berlaku untuk masa pembayaran pajak Juni – Desember 2020. Selanjutnya, diberikan pengurangan setoran sebesar 50 persen dari pajak yang seharusnya dibayarkan. Dan ini berlaku untuk masa pembayaran Januari – Desember 2021.

Saya konfirmasi lagi ke teman saya tadi, “Apakah betul informasi ini?,”. Dia membenarkan. Saya tahu mengapa dia mengirimi saya informasi tersebut. Dia ingin mengatakan secara tidak langsung kepada saya, bahwa media melalui berita-beritanya harus mendorong pemerintah daerah (pemda) di Malang Raya agar membantu para pengusaha dengan cara memberikan keringanan pajak.

Meski dia tidak terang-terangan ngomong seperti ini kepada saya, tapi saya katakan kepada dia, bahwa media kami sudah beberapa kali memberitakan soal keringanan pajak ini. Media kami sudah mendorong agar pemda di Malang Raya berani men-defisit-kan budget penerimaannya dari sektor pajak, karena memberikan pembebasan atau keringanan pajak bagi para pengusaha. Dan jika ada pemda yang berani membuat keputusan seperti itu di masa pandemi covid yang serba sulit ini, sama sekali tak melanggar aturan. Ada regulasinya. Dan ini malah didorong oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Memang, risiko jangka pendeknya, Pemda akan kehilangan pendapatan yang bisa jadi cukup besar dengan kebijakan itu. Tapi, ini akan berdampak baik untuk jangka panjangnya. Sebab, dengan adanya pembebasan atau keringanan pajak, itu berarti pemda sudah menunjukkan empati dan kepeduliannya terhadap para pengusaha. Dan empati serta peduli itu bersifat imbal balik. Jika pemda peduli dan empati kepada para pengusaha, maka para pengusaha pasti akan peduli dan empati terhadap program-program pemda.

Dengan adanya kebijakan pembebasan atau keringanan pajak, berarti memberikan “jeda bernafas” bagi para pengusaha agar terus menggeliat. Agar terus berkembang di masa-masa sulit akibat pandemi covid ini.

Lalu, mengapa sampai saat ini belum ada kebijakan pembebasan atau keringanan pajak di pemda Malang Raya? Ini lah yang disebut “political will”. Menurut kamuslengkap.com maupun kamus politik, “political will” adalah adanya kemauan politik dari pemerintah atau para pengambil kebijakan. Berarti, dibuat atau tidak kebijakan pembebasan atau keringanan pajak, sangat tergantung dari pemerintah-nya. Di daerah, sangat tergantung bupati atau walikotanya yang didukung para legislator di daerah itu. Jadi, kuncinya ada pada bupati atau wali kota.

Di dalam “political will” harus ada keberanian menginisiasi dan mengambil keputusan. Kehebatan seorang pemimpin itu, point utamanya adalah dilihat dari keberaniannya dalam membuat keputusan. Pemimpin yang berani membuat keputusan biasanya kerap membuat terobosan. Pemimpin yang tak berani membuat keputusan, maka bisanya hanya mewarisi legacy dari para pendahulu-pendahulunya. Pemimpin yang seperti ini, bisanya hanya menikmati jabatan belaka. Nggak ada gebrakannya. Dan selalu beralasan karena terkait aturan.

Pemimpin dan keberanian sebenarnya adalah dua hal yang saling terkait. Kata Walt Disney: “Courage is the main quality of leadership, in my opinion, no matter where it is exercised. Usually it implies some risk, especially in new undertakings” (keberanian adalah kualitas utama kepemimpinan. Menurut saya, dimana pun itu dilakukan. Biasanya ini menyiratkan beberapa risiko, terutama dalam usaha baru).

Hanya dengan keberanian, maka pemimpin akan membuat terobosan. Dan hanya dengan terobosan, maka berarti pemimpin itu mampu membawa warganya ke suatu tempat, dimana mereka tak akan sampai kalau berjalan sendiri. Ini seperti yang disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di masa perang Vietnam, Henry Kissinger. Dia mendefinisikan kepemimpinan sebagai: “Taking people where they would not have got by themselves” (membawa orang-orang ke tempat dimana mereka tidak akan sampai kalau berjalan sendiri).

Nah, ayo kita nilai, para pemimpin kita….apakah mereka termasuk pemimpin yang berani membuat keputusan, atau termasuk pemimpin yang bisanya hanya menikmati jabatan dan fasilitas? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/