alexametrics
28.8 C
Malang
Saturday, 13 August 2022

Pementasan Rumah Yang Dikuburkan, Embrio Kebangkitan (Lagi) Teater di Malang?

Oleh: Prija Djatmika*

TIDAK mudah merealisir dalam perilaku kehidupan kita bait puisi penyair WS Rendra (alm), yakni “kemarin dan esok adalah sekarang”, karena banyak orang yang masih terjebak dalam sesal masa lalunya, serta mencemaskan masa depannya, hingga melupakan untuk menikmati hidupnya hari ini.

Dalam pementasan produksi ke -5 Kelompok Teater Sagaloka, yang disutradarai Doni Kus Indarto, di Dewan Kesenian Malang (DKM), tanggal 20 dan 21 Juli lalu,  persoalan kemelekatan pada masa lalu dan kecemasan akan masa depan, yang menghantui kehidupan sebuah keluarga di Amerika inilah, yang menjadi roh pementasan yang bagus dan enak ditonton ini. Pentas teater berjudul “Rumah yang Dikuburkan”, karya asli Sam Shepard  dari AS pada Tahun 1978 dan dindonesiakan oleh penyair dan teaterwan Afrizal Malna ini, bercerita tentang kehancuran keluarga Amerika akibat peperangan yang berkepanjangan, serta kemiskinan yang terus melingkupi keluarga DOJ (Bahauddin Tamhid), beserta anak istrinya.

Generasi kakek nenek dihancurkan oleh perang dunia pertama, generasi ayah ibu oleh perang dunia kedua serta generasi anak dibantai oleh perang Vietnam waktu itu.

Dalam penulisan kembali oleh Afrizal Malna, lakon ini menjadi puisi panjang, sarat kritik. Kritik terhadap media, kritik anak terhadap bapak, bapak terhadap anak cucu dan kritik terhadap suami dan istri, serta kritik terhadap kegagapan menyambut hadirnya perubahan.

“Setiap generasi selalu dihantui oleh semacam penyakit untuk membunuh generasi di bawahnya,” sindir DOJ.

Pentas dalam durasi dua jam ini, berhasil menyuguhkan konflik kejiwaan anggota keluarga yang tercekam pada masa lalu, dan kegamangan menghadapi kehidupan hari ini dan esok, meski terdapat beberapa adegan yang mendekati over-acting, seperti banting-membanting antar pelakon, yang lebih menonjolkan kekerasan  yang tidak relevan dengan makna yang hendak disampaikan pelakon.

Saya kira, aktor terbaik dalam pentas dua malam ini, adalah Bahauddin Tamhid yang memerankan tokoh DOJ, bapak keluarga yang babak belur kejiwaannya ini. Penjiwaannya sebagai bapak yang “sakit” secara psikologis dan menyalahkan semua orang di keluarganya, mampu diperankannya dengan apik dan utuh, dalam takaran akting yang pas, tahap demi tahap.

Perubahan wajah dan olah gerak DOJ , yang dihimpit kenangan traumatik perang dunia ke dua, yang membuatnya ketergantungan pada alkohol dan televisi, yang menjadi aktivitasnya hari ke hari, sambil terus menyalahkan sikap anak istrinya, serta kejemuannya menghadapi hidup, mampu diperankan Bahauddin Tamhid, yang sepanjang pementasan terus di  atas panggung, dengan apik.

Sesungguhnya cukup sulit untuk menjiwai peran DOJ, yang sepanjang pertunjukkan, kecuali di adegan-adegan terakhir, harus terus duduk di kursi dengan berselimut di separo tubuhnya. Namun, perubahan wajah dan gerak sederhana Bahauddin Tamhid , mampu  mengekspresikan penderitaan batin DOJ.

Dalam ketidakleluasaan gerak yang dituntut oleh naskah ini, Bahauddin Tamhid mampu mengatasi tuntutan untuk berakting hanya dengan perubahan rona dan ekspresi wajah saja, serta gerakan tangan dan jemarinya  yang representatif untuk menggambarkan penderitaan seorang ayah yang dipuncak frustasi, agar tidak bunuh diri.

Musik yang lirik dan aransemen dibuat oleh  Lusiana  Dwi Andini, dan dimainkannya dengan gitar kecil sepanjang pertunjukkan, terasa ritmis dan kian menegaskan kehancuran keluarga DOJ ini. Kapan musik harus disuguhkan, irama apa yang mesti disuarakan, serta karakter vokal Lusiana yang nyaring melengking, sangat mendukung keberhasilan pentas ini. Penataan lampu juga sangat mendukung kesuksesan pentas ini, dengan pilihan warna penyinaran yang kian menegaskan perjalanan konflik keluarga ini.

Saya senang diundang Doni Kus Indarto untuk ikut menyaksikan pentas drama hasil penyutradaraannya ini. Sungguh menyegarkan melihat pentas teater ini, karena dapat mengobati kerinduan berkesenian warga Malang, yang kegiatan seninya mati suri ini. Sayang, pentas ini dipentaskan di ruang tak seberapa luas di DKM dan hanya bisa dihadiri sekitar 50 orang saja.

Melihat kuatnya akting para pemeran dalam lakon ini, saya juga cukup senang, paling tidak membunuh pesimisme saya akan perkembangan seni peran di Kota Malang. Sunyinya pentas teater di Malang selama ini, menyebabkan pesimisme ini muncul.

Padahal, Malang sebagai episentrum geliat kesenian di Jawa Timur, pernah jaya di tahun 1980-1990-an. Dulu, pentas-pentas teater dan pameran seni rupa marak di Malang. Entah kenapa, pelan-pelan peran episentrum kesenian Jatim itu surut dan hilang ditelan jaman. DKM antara hidup dan mati, atau dinikmati oleh para pekerja seninya sendiri, tanpa keterlibatan publik.

Dari satu walikota ke walikota yang lain dua dekade ini, tampaknya juga tak peduli dengan geliat teater dan seni rupa di Malang. Namun, seniman sebagai manusia kreatif tidak boleh tergantung pada birokrat untuk terus berkarya.

Moga-moga dengan pentas Teater Sagaloka ini, gairah teater, serta gairah berkesenian di Malang, termasuk pameran-pameran senirupa, di luar DKM, marak lagi. Biar gedung  DKM  dan aktivitas para pekerja seninya, tidak sekadar jadi monumen.

(*Akademisi sekaligus Penyuka Seni di Malang)

 

 

 

 

Oleh: Prija Djatmika*

TIDAK mudah merealisir dalam perilaku kehidupan kita bait puisi penyair WS Rendra (alm), yakni “kemarin dan esok adalah sekarang”, karena banyak orang yang masih terjebak dalam sesal masa lalunya, serta mencemaskan masa depannya, hingga melupakan untuk menikmati hidupnya hari ini.

Dalam pementasan produksi ke -5 Kelompok Teater Sagaloka, yang disutradarai Doni Kus Indarto, di Dewan Kesenian Malang (DKM), tanggal 20 dan 21 Juli lalu,  persoalan kemelekatan pada masa lalu dan kecemasan akan masa depan, yang menghantui kehidupan sebuah keluarga di Amerika inilah, yang menjadi roh pementasan yang bagus dan enak ditonton ini. Pentas teater berjudul “Rumah yang Dikuburkan”, karya asli Sam Shepard  dari AS pada Tahun 1978 dan dindonesiakan oleh penyair dan teaterwan Afrizal Malna ini, bercerita tentang kehancuran keluarga Amerika akibat peperangan yang berkepanjangan, serta kemiskinan yang terus melingkupi keluarga DOJ (Bahauddin Tamhid), beserta anak istrinya.

Generasi kakek nenek dihancurkan oleh perang dunia pertama, generasi ayah ibu oleh perang dunia kedua serta generasi anak dibantai oleh perang Vietnam waktu itu.

Dalam penulisan kembali oleh Afrizal Malna, lakon ini menjadi puisi panjang, sarat kritik. Kritik terhadap media, kritik anak terhadap bapak, bapak terhadap anak cucu dan kritik terhadap suami dan istri, serta kritik terhadap kegagapan menyambut hadirnya perubahan.

“Setiap generasi selalu dihantui oleh semacam penyakit untuk membunuh generasi di bawahnya,” sindir DOJ.

Pentas dalam durasi dua jam ini, berhasil menyuguhkan konflik kejiwaan anggota keluarga yang tercekam pada masa lalu, dan kegamangan menghadapi kehidupan hari ini dan esok, meski terdapat beberapa adegan yang mendekati over-acting, seperti banting-membanting antar pelakon, yang lebih menonjolkan kekerasan  yang tidak relevan dengan makna yang hendak disampaikan pelakon.

Saya kira, aktor terbaik dalam pentas dua malam ini, adalah Bahauddin Tamhid yang memerankan tokoh DOJ, bapak keluarga yang babak belur kejiwaannya ini. Penjiwaannya sebagai bapak yang “sakit” secara psikologis dan menyalahkan semua orang di keluarganya, mampu diperankannya dengan apik dan utuh, dalam takaran akting yang pas, tahap demi tahap.

Perubahan wajah dan olah gerak DOJ , yang dihimpit kenangan traumatik perang dunia ke dua, yang membuatnya ketergantungan pada alkohol dan televisi, yang menjadi aktivitasnya hari ke hari, sambil terus menyalahkan sikap anak istrinya, serta kejemuannya menghadapi hidup, mampu diperankan Bahauddin Tamhid, yang sepanjang pementasan terus di  atas panggung, dengan apik.

Sesungguhnya cukup sulit untuk menjiwai peran DOJ, yang sepanjang pertunjukkan, kecuali di adegan-adegan terakhir, harus terus duduk di kursi dengan berselimut di separo tubuhnya. Namun, perubahan wajah dan gerak sederhana Bahauddin Tamhid , mampu  mengekspresikan penderitaan batin DOJ.

Dalam ketidakleluasaan gerak yang dituntut oleh naskah ini, Bahauddin Tamhid mampu mengatasi tuntutan untuk berakting hanya dengan perubahan rona dan ekspresi wajah saja, serta gerakan tangan dan jemarinya  yang representatif untuk menggambarkan penderitaan seorang ayah yang dipuncak frustasi, agar tidak bunuh diri.

Musik yang lirik dan aransemen dibuat oleh  Lusiana  Dwi Andini, dan dimainkannya dengan gitar kecil sepanjang pertunjukkan, terasa ritmis dan kian menegaskan kehancuran keluarga DOJ ini. Kapan musik harus disuguhkan, irama apa yang mesti disuarakan, serta karakter vokal Lusiana yang nyaring melengking, sangat mendukung keberhasilan pentas ini. Penataan lampu juga sangat mendukung kesuksesan pentas ini, dengan pilihan warna penyinaran yang kian menegaskan perjalanan konflik keluarga ini.

Saya senang diundang Doni Kus Indarto untuk ikut menyaksikan pentas drama hasil penyutradaraannya ini. Sungguh menyegarkan melihat pentas teater ini, karena dapat mengobati kerinduan berkesenian warga Malang, yang kegiatan seninya mati suri ini. Sayang, pentas ini dipentaskan di ruang tak seberapa luas di DKM dan hanya bisa dihadiri sekitar 50 orang saja.

Melihat kuatnya akting para pemeran dalam lakon ini, saya juga cukup senang, paling tidak membunuh pesimisme saya akan perkembangan seni peran di Kota Malang. Sunyinya pentas teater di Malang selama ini, menyebabkan pesimisme ini muncul.

Padahal, Malang sebagai episentrum geliat kesenian di Jawa Timur, pernah jaya di tahun 1980-1990-an. Dulu, pentas-pentas teater dan pameran seni rupa marak di Malang. Entah kenapa, pelan-pelan peran episentrum kesenian Jatim itu surut dan hilang ditelan jaman. DKM antara hidup dan mati, atau dinikmati oleh para pekerja seninya sendiri, tanpa keterlibatan publik.

Dari satu walikota ke walikota yang lain dua dekade ini, tampaknya juga tak peduli dengan geliat teater dan seni rupa di Malang. Namun, seniman sebagai manusia kreatif tidak boleh tergantung pada birokrat untuk terus berkarya.

Moga-moga dengan pentas Teater Sagaloka ini, gairah teater, serta gairah berkesenian di Malang, termasuk pameran-pameran senirupa, di luar DKM, marak lagi. Biar gedung  DKM  dan aktivitas para pekerja seninya, tidak sekadar jadi monumen.

(*Akademisi sekaligus Penyuka Seni di Malang)

 

 

 

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/