alexametrics
27.2 C
Malang
Saturday, 13 August 2022

Heboh “Good Looking”

Beberapa waktu lalu, jagat dunia maya heboh. Para netizen berdebat yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Yakni menyoal syarat masuk D3 Perbankan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) yang mewajibkan mahasiswanya harus “good looking”.

Warganet yang kontra dengan aturan itu, berpandangan kampus UB pilih kasih dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Mereka beranggapan, seharusnya perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, tidak boleh membatasi calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan apa pun.

Perdebatan yang mulanya dari media sosial twitter itu terus bergulir, hingga berpindah ke instagram. Sampai akhirnya, beberapa akun instagram yang memiliki pengikut dengan jumlah besar seperti Asumsi dan Vice Indonesia memberitakan atau memposting terkait aturan good looking tersebut. Jika dilihat dari komentar pada dua akun tersebut, banyak yang kontra dengan aturan good looking, tetapi juga ada yang mendukung aturan itu.

Saya tak habis pikir, banyak orang-orang di luar sana memprotes aturan good looking bagi mahasiswa perbankan. Padahal dalam kenyataannya, ya memang dunia perbankan itu mencari tenaga kerja khususnya di bagian teller, yang berpenampilan menarik atau good looking. Sehingga, aturan ini seharusnya tidak bisa diganggu gugat. Karena merupakan kebutuhan industri atau dunia yang sebenarnya.

Hal itu juga yang diungkapkan oleh perwakilan Vokasi UB kepada awak media. Kampus mengaku hanya mengikuti syarat yang diajukan oleh bank mitra. Menurut San Rudiyanto, untuk menyiapkan mahasiswa siap kerja, pendidikan vokasi harus menyelaraskan kebutuhan dengan dengan usaha. Adanya syarat tambahan good looking ini merupakan kemauan dari dunia industri, bukan pihak kampus yang menentukan. “Nantinya dalam seleksi masuk perbankan kualifikasi seperti itu (good looking) menjadi salah satu tambahan persyaratan. Proses seleksi tetap dilakukan melalui jalur tes tulis dan nilai raport, untuk menentukan kelolosan calon mahasiswa vokasi sesuai dengan passing grade,” jelas San.

Warganet yang kontra aturan itu menurut saya terlalu berpikir sempit. Good looking hanya diartikan soal wajah cantik atau ganteng. Padahal good looking memiliki arti luas. Klarifikasi dari pihak UB, jika bisa melihat lebih luas lagi, good looking bisa diartikan seperti berpenampilan menarik. Bisa ditunjukkan dengan pakaian rapi, bersih dan ramah. Ini sudah sewajarnya, bagi tenaga kerja front liner, atau yang bersinggungan langsung dengan pelanggan. Wajib hukumnya memiliki kriteria di atas. Karena pelanggan yang mengurus sesuatu di bank, mereka tidak hanya mampir satu atau dua menit saja. Tetapi, bisa menghabiskan waktu 10-15 menit. Jika pelanggan dihadapkan dengan teller yang “menarik” dan penuh keramahan, jujur saja waktu itu sedikit tidak terasa.

Menurut saya, aturan good looking ini juga mirip-mirip dengan aturan beberapa jurusan jenjang SMK. Di antaranya melarang siswa buta warna di beberapa jurusan berhubungan dengan teknik. Serta ada aturan minimal tinggi badan pada perhotelan. Sekali lagi, dibuatnya aturan ini semata untuk kepentingan industri. Agar siswa yang sudah lulus, cepat diserap oleh dunia kerja.

Lantas bagaimana bagi mereka yang tidak masuk kriteria good looking? Tentunya masih banyak pekerjaan lainnya yang tidak membutuhkan penampilan sebagai modal utama. Bertampang pas-pasan atau di bawah standar, memang membuat orang harus lebih ekstra lagi dalam mencari pekerjaan dan lebih sulit dibanding orang yang dianugerahi wajah menawan. Tetapi, kekurangan dalam segi penampilan tidak boleh membuat keputusasaan dalam mencari pekerjaan, karena rezeki sudah ada yang mengatur. Semua mempunyai peran sendiri dalam kehidupan.
Namun di sisi lain, masih saya yakini ungkapan ini: “Kalau orang terlahir cantik atau ganteng, masalah hidupnya 70 persen telah selesai”. Atau pada saat ini hal itu biasa disebut “Beauty Previllege”, keuntungan menjadi orang yang ganteng atau cantik. Beauty previllege ini sudah banyak contohnya di masyarakat.

Misalnya, penjual makanan yang memiliki tampang menarik, akan lebih cepat viral dibanding penjual makanan berwajah biasa, padahal barang yang dijual sama. Atau yang sempat viral, salah satunya pengamen dengan kostum badut bernama Elin yang memiliki paras cantik mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Hingga, akhirnya dia diundang ke acara televisi. Padahal banyak anak yang berkostum badut untuk mencari rezeki, namun hanya Elin saja yang diundang ke TV. Lagi-lagi, ya itulah keuntungan terlahir rupawan dan memang itu anugerah dari Tuhan yang tidak bisa dimiliki semua orang.

Beberapa waktu lalu, jagat dunia maya heboh. Para netizen berdebat yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Yakni menyoal syarat masuk D3 Perbankan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) yang mewajibkan mahasiswanya harus “good looking”.

Warganet yang kontra dengan aturan itu, berpandangan kampus UB pilih kasih dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Mereka beranggapan, seharusnya perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan, tidak boleh membatasi calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan apa pun.

Perdebatan yang mulanya dari media sosial twitter itu terus bergulir, hingga berpindah ke instagram. Sampai akhirnya, beberapa akun instagram yang memiliki pengikut dengan jumlah besar seperti Asumsi dan Vice Indonesia memberitakan atau memposting terkait aturan good looking tersebut. Jika dilihat dari komentar pada dua akun tersebut, banyak yang kontra dengan aturan good looking, tetapi juga ada yang mendukung aturan itu.

Saya tak habis pikir, banyak orang-orang di luar sana memprotes aturan good looking bagi mahasiswa perbankan. Padahal dalam kenyataannya, ya memang dunia perbankan itu mencari tenaga kerja khususnya di bagian teller, yang berpenampilan menarik atau good looking. Sehingga, aturan ini seharusnya tidak bisa diganggu gugat. Karena merupakan kebutuhan industri atau dunia yang sebenarnya.

Hal itu juga yang diungkapkan oleh perwakilan Vokasi UB kepada awak media. Kampus mengaku hanya mengikuti syarat yang diajukan oleh bank mitra. Menurut San Rudiyanto, untuk menyiapkan mahasiswa siap kerja, pendidikan vokasi harus menyelaraskan kebutuhan dengan dengan usaha. Adanya syarat tambahan good looking ini merupakan kemauan dari dunia industri, bukan pihak kampus yang menentukan. “Nantinya dalam seleksi masuk perbankan kualifikasi seperti itu (good looking) menjadi salah satu tambahan persyaratan. Proses seleksi tetap dilakukan melalui jalur tes tulis dan nilai raport, untuk menentukan kelolosan calon mahasiswa vokasi sesuai dengan passing grade,” jelas San.

Warganet yang kontra aturan itu menurut saya terlalu berpikir sempit. Good looking hanya diartikan soal wajah cantik atau ganteng. Padahal good looking memiliki arti luas. Klarifikasi dari pihak UB, jika bisa melihat lebih luas lagi, good looking bisa diartikan seperti berpenampilan menarik. Bisa ditunjukkan dengan pakaian rapi, bersih dan ramah. Ini sudah sewajarnya, bagi tenaga kerja front liner, atau yang bersinggungan langsung dengan pelanggan. Wajib hukumnya memiliki kriteria di atas. Karena pelanggan yang mengurus sesuatu di bank, mereka tidak hanya mampir satu atau dua menit saja. Tetapi, bisa menghabiskan waktu 10-15 menit. Jika pelanggan dihadapkan dengan teller yang “menarik” dan penuh keramahan, jujur saja waktu itu sedikit tidak terasa.

Menurut saya, aturan good looking ini juga mirip-mirip dengan aturan beberapa jurusan jenjang SMK. Di antaranya melarang siswa buta warna di beberapa jurusan berhubungan dengan teknik. Serta ada aturan minimal tinggi badan pada perhotelan. Sekali lagi, dibuatnya aturan ini semata untuk kepentingan industri. Agar siswa yang sudah lulus, cepat diserap oleh dunia kerja.

Lantas bagaimana bagi mereka yang tidak masuk kriteria good looking? Tentunya masih banyak pekerjaan lainnya yang tidak membutuhkan penampilan sebagai modal utama. Bertampang pas-pasan atau di bawah standar, memang membuat orang harus lebih ekstra lagi dalam mencari pekerjaan dan lebih sulit dibanding orang yang dianugerahi wajah menawan. Tetapi, kekurangan dalam segi penampilan tidak boleh membuat keputusasaan dalam mencari pekerjaan, karena rezeki sudah ada yang mengatur. Semua mempunyai peran sendiri dalam kehidupan.
Namun di sisi lain, masih saya yakini ungkapan ini: “Kalau orang terlahir cantik atau ganteng, masalah hidupnya 70 persen telah selesai”. Atau pada saat ini hal itu biasa disebut “Beauty Previllege”, keuntungan menjadi orang yang ganteng atau cantik. Beauty previllege ini sudah banyak contohnya di masyarakat.

Misalnya, penjual makanan yang memiliki tampang menarik, akan lebih cepat viral dibanding penjual makanan berwajah biasa, padahal barang yang dijual sama. Atau yang sempat viral, salah satunya pengamen dengan kostum badut bernama Elin yang memiliki paras cantik mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Hingga, akhirnya dia diundang ke acara televisi. Padahal banyak anak yang berkostum badut untuk mencari rezeki, namun hanya Elin saja yang diundang ke TV. Lagi-lagi, ya itulah keuntungan terlahir rupawan dan memang itu anugerah dari Tuhan yang tidak bisa dimiliki semua orang.

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/