alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

NU Back to Pesantren!

Bila tidak ada aral, Desember 2021 mendatang, masa bakti sejumlah pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Malang, bahkan sampai Pengurus Besar NU bakal berakhir. Ini artinya akan ada pemilihan para pengurus baru. Bisa jadi wajah-wajah baru akan menjadi nakhoda organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di dunia ini.

Untuk diketahui, NU saat ini sudah menyita perhatian dunia. Sukses menebar misi Islam Rahmatan Lil’alamin, menjadi pengayom seluruh umat, membuat negara-negara Islam seantero bumi mulai belajar di NU. Bahkan negara Adidaya seperti Amerika Serikat saja juga mulai membuka diri untuk kerja sama dengan organisasi yang didirikan KH Hasyim Asyari tersebut.

Peran NU demikian besar kali ini. Bisa dibilang, urusan ”dapur” pembinaan umatnya sudah tuntas. Tugas lainnya adalah menebar ajaran Ahlussunnah Waljami’al ala Nahdliyah lebih jauh lagi. Tidak lagi hanya berkutat di dalam negeri, tapi sudah harus bisa menjangkau kawasan manca. Upaya itu sebenarnya juga sudah dilakukan dengan mendirikan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara. Bahkan di Afghanistan saja suah ada 21 PCI. Belum termasuk di Australia, Jepang, Belanda dan negara Eropa. Dan hebatnya, keberadaan NU sudah bisa diterima dengan baik di berbagai negara tersebut. Ini tak lepas dari prinsip wasathon (moderasi) maupun tasamuh (toleransi) yang selalu dikedepankan NU.

Dengan begitu besarnya peran NU ke depan, ajang konfercab (untuk memilih pengurus tingkat kota/kabupaten) hingga muktamar (memilih pengurus tingkat pusat) kali ini tidak boleh asal-asalan. Karena tugas pengurus NU mendatang jauh lebih berat. Tantangan internal dan eksternal kian menantang.
Tantangan internal yang dimaksud adalah pengurus NU harus mampu meredam tarik menarik berbagai kepentingan. Karena kita tahu, NU itu ibarat gadis manis yang selalu jadi rebutan oleh siapa saja. Para pengusaha ingin dekat-dekat dengan NU. Para pejabat, birokrasi, akademisi, kalangan profesional semua berebut menjadi bagian dari NU. Lebih-lebih para politisi. Tidak sedikit dari mereka yang sebelumnya tidak pernah mengenal NU, mendadak mengaku paling tahu tentang organisasi yang berdiri tahun 1926 ini. Bahkan demi mendulang suara dan kepentingan sesaatnya, kemana-mana tega “jualan” NU.
Orang-orang yang seperti inilah yang menjadikan marwah NU menjadi jatuh. Ironisnya, tidak sedikit dari pengurus NU yang oke-oke saja ditarik-tarik untuk kepentingan politisi sesaat. Konfercab mendatang merupakan taruhan untuk bisa mengembalikan marwah NU.

Untuk bisa mengembalikan marwah NU dan tidak gampang tergoda hal bersifat politik kepentingan, maka menurut saya, serahkan NU pada ahlinya. Siapa mereka? Para ulama, para kiai yang punya jiwa ikhlas menjaga titah para pendiri NU. Mereka-mereka para kiai pemangku pesantren kini saatnya harus turun gunung menjadi pengendali NU biar organisasi ini tidak dibawa kemana-mana di luar visi misinya. Terutama di jajaran pengurus syuriah, kiprah para kiai pengasuh pesatren ditunggu umat. Fatwa-fatwa yang disampaikan lewat kelembagaan NU akan lebih isa dipatuhi umat. Bahkan kalau para kiai yang duduk di jajaran kepengurusan, baik di syuriah maupun tanfidziyah, setidaknya akan mengeliminir para pihak yang ingin menyeret-nyeret NU dalam kepentingan sesaat. Apalagi di periode kepemimpinan mendatang, akan ada pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden. NU sangat rawan dimanfaatkan.
Para pengasuh pesantren yang duduk di kepengurusan NU, setidaknya akan bisa ngemong umat lebih banyak lagi. Kalau selama ini, masih ada kesan, justru NU yang ”diemong” politisi.

Militensi kader NU saya rasa akan bisa lebih kuat lagi ketika marwah pengurusnya terjaga. Para pengurus mendatang harus orang-orang yang secara kapasitas keilmuan keagamaan dan rekam jejaknya cukup disegani. Sehingga marwah NU pun ikut terangkat. Sebagai kader NU, tentu saya sangat berharap kerelaan dari para kiai pengasuh pesantren berkenan kembali menjadi pembimbing umat lewat organisasi. Agar NU benar-benar menjadi organisasi kebangkitan ulama sesuai namanya. Tidak boleh lagi ada orang yang hanya memanfaatkan NU, sebaliknya, siapa saja harus memberi manfaat untuk NU. Semoga. (Ig: abdulmuntholib1406)

Oleh: Abdul Muntholib
Jurnalis Radar Malang dan Pengurus ISNU Kabupaten Malang

Bila tidak ada aral, Desember 2021 mendatang, masa bakti sejumlah pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Malang, bahkan sampai Pengurus Besar NU bakal berakhir. Ini artinya akan ada pemilihan para pengurus baru. Bisa jadi wajah-wajah baru akan menjadi nakhoda organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di dunia ini.

Untuk diketahui, NU saat ini sudah menyita perhatian dunia. Sukses menebar misi Islam Rahmatan Lil’alamin, menjadi pengayom seluruh umat, membuat negara-negara Islam seantero bumi mulai belajar di NU. Bahkan negara Adidaya seperti Amerika Serikat saja juga mulai membuka diri untuk kerja sama dengan organisasi yang didirikan KH Hasyim Asyari tersebut.

Peran NU demikian besar kali ini. Bisa dibilang, urusan ”dapur” pembinaan umatnya sudah tuntas. Tugas lainnya adalah menebar ajaran Ahlussunnah Waljami’al ala Nahdliyah lebih jauh lagi. Tidak lagi hanya berkutat di dalam negeri, tapi sudah harus bisa menjangkau kawasan manca. Upaya itu sebenarnya juga sudah dilakukan dengan mendirikan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di berbagai negara. Bahkan di Afghanistan saja suah ada 21 PCI. Belum termasuk di Australia, Jepang, Belanda dan negara Eropa. Dan hebatnya, keberadaan NU sudah bisa diterima dengan baik di berbagai negara tersebut. Ini tak lepas dari prinsip wasathon (moderasi) maupun tasamuh (toleransi) yang selalu dikedepankan NU.

Dengan begitu besarnya peran NU ke depan, ajang konfercab (untuk memilih pengurus tingkat kota/kabupaten) hingga muktamar (memilih pengurus tingkat pusat) kali ini tidak boleh asal-asalan. Karena tugas pengurus NU mendatang jauh lebih berat. Tantangan internal dan eksternal kian menantang.
Tantangan internal yang dimaksud adalah pengurus NU harus mampu meredam tarik menarik berbagai kepentingan. Karena kita tahu, NU itu ibarat gadis manis yang selalu jadi rebutan oleh siapa saja. Para pengusaha ingin dekat-dekat dengan NU. Para pejabat, birokrasi, akademisi, kalangan profesional semua berebut menjadi bagian dari NU. Lebih-lebih para politisi. Tidak sedikit dari mereka yang sebelumnya tidak pernah mengenal NU, mendadak mengaku paling tahu tentang organisasi yang berdiri tahun 1926 ini. Bahkan demi mendulang suara dan kepentingan sesaatnya, kemana-mana tega “jualan” NU.
Orang-orang yang seperti inilah yang menjadikan marwah NU menjadi jatuh. Ironisnya, tidak sedikit dari pengurus NU yang oke-oke saja ditarik-tarik untuk kepentingan politisi sesaat. Konfercab mendatang merupakan taruhan untuk bisa mengembalikan marwah NU.

Untuk bisa mengembalikan marwah NU dan tidak gampang tergoda hal bersifat politik kepentingan, maka menurut saya, serahkan NU pada ahlinya. Siapa mereka? Para ulama, para kiai yang punya jiwa ikhlas menjaga titah para pendiri NU. Mereka-mereka para kiai pemangku pesantren kini saatnya harus turun gunung menjadi pengendali NU biar organisasi ini tidak dibawa kemana-mana di luar visi misinya. Terutama di jajaran pengurus syuriah, kiprah para kiai pengasuh pesatren ditunggu umat. Fatwa-fatwa yang disampaikan lewat kelembagaan NU akan lebih isa dipatuhi umat. Bahkan kalau para kiai yang duduk di jajaran kepengurusan, baik di syuriah maupun tanfidziyah, setidaknya akan mengeliminir para pihak yang ingin menyeret-nyeret NU dalam kepentingan sesaat. Apalagi di periode kepemimpinan mendatang, akan ada pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden. NU sangat rawan dimanfaatkan.
Para pengasuh pesantren yang duduk di kepengurusan NU, setidaknya akan bisa ngemong umat lebih banyak lagi. Kalau selama ini, masih ada kesan, justru NU yang ”diemong” politisi.

Militensi kader NU saya rasa akan bisa lebih kuat lagi ketika marwah pengurusnya terjaga. Para pengurus mendatang harus orang-orang yang secara kapasitas keilmuan keagamaan dan rekam jejaknya cukup disegani. Sehingga marwah NU pun ikut terangkat. Sebagai kader NU, tentu saya sangat berharap kerelaan dari para kiai pengasuh pesantren berkenan kembali menjadi pembimbing umat lewat organisasi. Agar NU benar-benar menjadi organisasi kebangkitan ulama sesuai namanya. Tidak boleh lagi ada orang yang hanya memanfaatkan NU, sebaliknya, siapa saja harus memberi manfaat untuk NU. Semoga. (Ig: abdulmuntholib1406)

Oleh: Abdul Muntholib
Jurnalis Radar Malang dan Pengurus ISNU Kabupaten Malang

Previous articleJimat (1)
Next articleJimat (2)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/