alexametrics
21.6 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Improvisasi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat keputusan yang tergolong ”di luar kebiasaan” atau bisa juga disebut ”di luar pakem”. Ketika mengumumkan nama enam menteri baru hasil reshuffle, ada satu nama yang ”di luar kebiasaan” untuk menjadi menteri kesehatan. Dia adalah Budi Gunadi Sadikin. Sejak era reformasi, baru kali ini menteri kesehatan dijabat oleh sosok yang bukan berlatar belakang dokter.

Budi Gunadi sebelumnya menjabat sebagai pucuk pimpinan di lingkungan BUMN. Pernah menjabat dirut Bank Mandiri, dirut PT Inalum, dan terakhir sebagai wamen BUMN. Kaitannya dengan penanganan Covid-19, dia adalah ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).

Sebelumnya, keputusan yang ”tidak biasa” juga dibuat Jokowi ketika mengangkat Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan periode 2014–1019. Disebut ”tidak biasa” karena baru saat itu, seorang figur diangkat sebagai menteri tanpa mempertimbangkan  portofolio pendidikan. Sebagai pengusaha, Susi memang termasuk sukses dan moncer. Perusahaan yang dia dirikan adalah eksporter produk-produk perikanan. Selain itu juga memiliki puluhan unit pesawat terbang. Punya maskapai sendiri: Susi Air. Tapi, soal latar belakang pendidikan, Susi mengenyam pendidikan formal hanya sampai pada bangku kelas 2 SMA. Tapi, oleh Jokowi dipercaya untuk menjadi menteri.

Seorang pemimpin memang boleh berimprovisasi. Bahkan harus berani berimprovisasi ketika memang harus berimprovisasi. Seorang pemimpin harus punya spirit ”be different”. Harus berbeda dengan pemimpin sebelum-sebelumnya. Sudah barang tentu, ”berbeda” dari sisi positif.

Keberanian Jokowi untuk mengangkat Susi—yang drop out dari SMA—sebagai menteri dan menjadikan Budi Gunadi–yang bukan dokter–sebagai menteri kesehatan, adalah bentuk improvisasi seorang pemimpin. Dan saya rasa, selain itu Jokowi ingin menunjukkan bahwa dia berbeda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Dan bisa jadi, Jokowi ingin memberikan contoh kepada para pemimpin di daerah, mulai gubernur, bupati, hingga wali kota, tentang perlunya seorang pemimpin berimprovisasi. Improvisasi adalah bagian dari kreativitas. Orang yang kreatif biasanya suka berimprovisasi.

Kreativitas dan improvisasi membutuhkan rasa ingin tahu, keberanian, waktu, dan keinginan. Orang yang terlalu menggunakan metodologi yang sudah dibuktikan, logika, dan statistik biasanya sulit untuk berimprovisasi. Orang yang tidak berani dengan risiko biasanya sulit untuk berimprovisasi. Dan orang yang selalu berpikir hierarkis biasanya juga sulit untuk berimprovisasi.

Saya pernah bertanya kepada seorang kepala daerah tentang keberadaan jalan di wilayahnya yang sebenarnya bisa dilebarkan di kanan-kirinya. Karena kondisinya sering macet. Dan itu terjadi sudah puluhan tahun. Saya katakan kepada dia, jika dilebarkan kanan-kirinya, maka akan mengurai kemacetan. Tapi, apa jawabnya: ”Itu bukan kewenangan saya. Itu adalah jalan provinsi.”

Memang, kalau dilihat dari status jalan, milik provinsi dan menjadi kewenangan provinsi. Tapi, rakyat tahunya jalan itu ada di wilayah di mana dia adalah kepala daerahnya. Dalam hal ini, harusnya dia berimprovisasi, bagaimana caranya, agar dia sebagai kepala daerah bisa melobi provinsi untuk melebarkan jalan tersebut. Inilah contoh kepala daerah yang terlalu berpikir hierarkis sehingga tak punya kemauan untuk berimprovisasi.

Ada juga tipe kepala daerah yang selalu berpatokan pada regulasi serta kemampuan anggaran (APBD). Regulasi dan APBD itulah yang akhirnya membatasi program-programnya. Jadi, kalau bikin program harus selalu berpatokan pada regulasi dan kemampuan anggaran. Jika program yang diusulkan tak ada dalam regulasi dan jika anggarannya tidak ada, maka program itu tidak akan bisa dilaksanakan. Kepala daerah dengan tipe seperti ini juga sulit untuk melakukan improvisasi.

Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini yang kini menjadi menteri sosial, Kabupaten Banyuwangi di bawah kepemimpinan Bupati Azwar Anas, adalah contoh bagaimana sebuah daerah dibangun dengan banyak improvisasi. Kita bisa melihat bagaimana Kota Surabaya, bagaimana Banyuwangi saat ini, dibandingkan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Banyuwangi 10-20 tahun lalu.

Ayo, kita lihat bagaimana pemimpin-pemimpin yang ada di sekitar kita. Apakah mereka suka berimprovisasi atau inginnya hanya main aman? Jika mereka sedang berimprovisasi menuju yang lebih baik, dukunglah. Jika dia hanya main aman, bangunkanlah. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali membuat keputusan yang tergolong ”di luar kebiasaan” atau bisa juga disebut ”di luar pakem”. Ketika mengumumkan nama enam menteri baru hasil reshuffle, ada satu nama yang ”di luar kebiasaan” untuk menjadi menteri kesehatan. Dia adalah Budi Gunadi Sadikin. Sejak era reformasi, baru kali ini menteri kesehatan dijabat oleh sosok yang bukan berlatar belakang dokter.

Budi Gunadi sebelumnya menjabat sebagai pucuk pimpinan di lingkungan BUMN. Pernah menjabat dirut Bank Mandiri, dirut PT Inalum, dan terakhir sebagai wamen BUMN. Kaitannya dengan penanganan Covid-19, dia adalah ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).

Sebelumnya, keputusan yang ”tidak biasa” juga dibuat Jokowi ketika mengangkat Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan periode 2014–1019. Disebut ”tidak biasa” karena baru saat itu, seorang figur diangkat sebagai menteri tanpa mempertimbangkan  portofolio pendidikan. Sebagai pengusaha, Susi memang termasuk sukses dan moncer. Perusahaan yang dia dirikan adalah eksporter produk-produk perikanan. Selain itu juga memiliki puluhan unit pesawat terbang. Punya maskapai sendiri: Susi Air. Tapi, soal latar belakang pendidikan, Susi mengenyam pendidikan formal hanya sampai pada bangku kelas 2 SMA. Tapi, oleh Jokowi dipercaya untuk menjadi menteri.

Seorang pemimpin memang boleh berimprovisasi. Bahkan harus berani berimprovisasi ketika memang harus berimprovisasi. Seorang pemimpin harus punya spirit ”be different”. Harus berbeda dengan pemimpin sebelum-sebelumnya. Sudah barang tentu, ”berbeda” dari sisi positif.

Keberanian Jokowi untuk mengangkat Susi—yang drop out dari SMA—sebagai menteri dan menjadikan Budi Gunadi–yang bukan dokter–sebagai menteri kesehatan, adalah bentuk improvisasi seorang pemimpin. Dan saya rasa, selain itu Jokowi ingin menunjukkan bahwa dia berbeda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Dan bisa jadi, Jokowi ingin memberikan contoh kepada para pemimpin di daerah, mulai gubernur, bupati, hingga wali kota, tentang perlunya seorang pemimpin berimprovisasi. Improvisasi adalah bagian dari kreativitas. Orang yang kreatif biasanya suka berimprovisasi.

Kreativitas dan improvisasi membutuhkan rasa ingin tahu, keberanian, waktu, dan keinginan. Orang yang terlalu menggunakan metodologi yang sudah dibuktikan, logika, dan statistik biasanya sulit untuk berimprovisasi. Orang yang tidak berani dengan risiko biasanya sulit untuk berimprovisasi. Dan orang yang selalu berpikir hierarkis biasanya juga sulit untuk berimprovisasi.

Saya pernah bertanya kepada seorang kepala daerah tentang keberadaan jalan di wilayahnya yang sebenarnya bisa dilebarkan di kanan-kirinya. Karena kondisinya sering macet. Dan itu terjadi sudah puluhan tahun. Saya katakan kepada dia, jika dilebarkan kanan-kirinya, maka akan mengurai kemacetan. Tapi, apa jawabnya: ”Itu bukan kewenangan saya. Itu adalah jalan provinsi.”

Memang, kalau dilihat dari status jalan, milik provinsi dan menjadi kewenangan provinsi. Tapi, rakyat tahunya jalan itu ada di wilayah di mana dia adalah kepala daerahnya. Dalam hal ini, harusnya dia berimprovisasi, bagaimana caranya, agar dia sebagai kepala daerah bisa melobi provinsi untuk melebarkan jalan tersebut. Inilah contoh kepala daerah yang terlalu berpikir hierarkis sehingga tak punya kemauan untuk berimprovisasi.

Ada juga tipe kepala daerah yang selalu berpatokan pada regulasi serta kemampuan anggaran (APBD). Regulasi dan APBD itulah yang akhirnya membatasi program-programnya. Jadi, kalau bikin program harus selalu berpatokan pada regulasi dan kemampuan anggaran. Jika program yang diusulkan tak ada dalam regulasi dan jika anggarannya tidak ada, maka program itu tidak akan bisa dilaksanakan. Kepala daerah dengan tipe seperti ini juga sulit untuk melakukan improvisasi.

Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini yang kini menjadi menteri sosial, Kabupaten Banyuwangi di bawah kepemimpinan Bupati Azwar Anas, adalah contoh bagaimana sebuah daerah dibangun dengan banyak improvisasi. Kita bisa melihat bagaimana Kota Surabaya, bagaimana Banyuwangi saat ini, dibandingkan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Banyuwangi 10-20 tahun lalu.

Ayo, kita lihat bagaimana pemimpin-pemimpin yang ada di sekitar kita. Apakah mereka suka berimprovisasi atau inginnya hanya main aman? Jika mereka sedang berimprovisasi menuju yang lebih baik, dukunglah. Jika dia hanya main aman, bangunkanlah. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/