alexametrics
21.8 C
Malang
Saturday, 25 June 2022

Kota Ganti Nama

Ide Bupati Malang Sanusi mengubah nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen ini layak jadi sebuah diskursus menarik. Jangan dulu sak wasangka dengan wacana yang terkesan ujug-ujug ini. Bisa jadi Sanusi punya scene behind atau udang di balik rempeyek yang belum semua orang tahu. Biarkan saja wacana ini terus menggelinding. Biarkan saja pro-kontra itu terus berjalan dulu.

Membahas perubahan nama administratif kota, sebenarnya ide Sanusi ini bukan hal baru. Sudah ada banyak kota yang namanya berubah-ubah. Bahkan di Indonesia saja, ada satu kota yang namanya berubah sampai 13 kali!. Dan itu adalah Jakarta. Dulu, sebelum nama Jakarta, kota yang kini dipimpin Anies Baswedan tersebut bernama Sunda Kelapa, Jayakarta, Stad Batavia, Gemeente Batavia, Stad Gemeente Batavia, Jakarta Toko Betsu Shi, Pemerintah Kota Nasional Jakarta. Lalu balik lagi menjadi Stad Gemeente Batavia, Kota Praja Jakarta, Kota Praja Djakarta Raya, Pemda DKI Jakarta Raya, dan terakhir Jakarta.
Di luar negeri, nama kota berubah itu juga cukup banyak. Kota terbesar ketiga di China, Guangzhou misalnya, dulu bernama Cantao, lalu ganti Canton dan baru pada 1949 berganti nama Guangzhou hingga kini.

Bahkan nama kota sangat terkenal di dunia, New York Amerika Serikat pun tak luput dari perubahan nama. Dulu, ketika kali pertama kawasan itu ditemukan Giovanni da Verrazzano, kapten kapal asal Prancis pada 1524, kota itu dinamai dengan Nouvelle-Angouleme. Seiring perjalanan waktu, Amerika saat itu dikuasai Belanda sehingga kota itu diubah nama menjadi New Amsterdam. Tak lama nama itu diubah lagi oleh Belanda menjadi New Orange. Giliran Amerika dikuasai Inggris, baru nama kota itu berganti dengan New York hingga kini.

Melihat dari perubahan nama kota-kota di atas, hampir semuanya memiliki sejarah khusus mengapa nama kota itu diubah. Rata-rata karena daerah itu direbut oleh pihak lain. Sehingga siapa yang menguasai kota itu, mereka yang punya hak untuk mengganti atau tidak mengganti nama kota. Tentu tergantung selera dari penguasanya.

Seperti kisah nama Istanbul, Ibu Kota Turki saat ini. Dulu nama awalnya Byzantium dan diubah menjadi Kota Konstantinopel ketika Turki di bawah kekaisaran Romawi Kuno. Giliran kota itu berada di Kekaisaran Usmani baru diubah menjadi Istanbul hingga kini setelah sang penakluk Sultan Mahmed II pada 1453 berhasil merebut kota itu.

Jadi perubahan nama kota karena ada nilai sejarah kuat.
Kembali ke wacana yang digulirkan Sanusi mengubah Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen, rasanya belum ada dasar sangat kuat. Ada tiga alasan yang dikemukakan Sanusi. Pertama, kalau tetap pakai nama Malang, cenderung identik dengan Kota Malang. Kedua, dalam Peraturan Pemerintah terkait ibu kota Kabupaten Malang sudah tertulis nama Kepanjen. Sehingga ini dianggap sebagai landasan hukum jika Kepanjen bisa disebut Kabupaten Kepanjen. Ketiga, dengan menggunakan nama Kabupaten Kepanjen, supaya ada identitas lebih jelas. Orang luar kota itu biasanya hanya menyebut Malang begitu saja. Tidak ada kejelasan, apakah yang dimaksud Kota Malang atau Kabupaten Malang. Bahkan banyak orang akan ke Batu saja masih menyebut akan ke Malang.

Membaca dari alasan Sanusi tersebut, saya rasa belum kuat jadi alasan untuk mengubah nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen. Terlalu remeh alasan itu. Tidak ada nilai sejarah yang mengharuskan nama berubah. Justru dengan menghapus nama Malang, itu mengerdilkan sebuah kota. Di peta nasional, barangkali, nama Kepanjen tidak banyak yang tahu. Sehingga justru akan menjadi blunder jika wacana ini nanti diwujudkan. Kabupaten Malang yang begitu luas ini akan kian ”tenggelam” jika sampai berubah nama. Apalagi Kepanjen itu hanya sebuah kota kecil yang belum memiliki magnet kuat dari banyak sektor. Beda cerita dengan Batu yang dulu harus lepas dari Kabupaten Malang. Kecamatan Batu yang menjadi bagian dari Kabupaten Malang saat itu sudah punya keunggulan dari banyak sektor. Mulai pertanian dan pariwisata. Sehingga ketika berdiri sendiri, Kota Batu sudah siap.

Belum lagi, ketika Kepanjen menjadi nama kabupaten, tentu warga di luar Kepanjen, seperti Wajak, Dampit, Singosari, Kasembon, barangkali tidak akan bisa menerima. Mereka merasa lebih bangga menjadi warga Kabupaten Malang daripada menjadi bagian dari Kabupaten Kepanjen. Bisa jadi karena wacana ini, keinginan sejumlah warga Kabupaten Malang untuk disintegrasi kian menguat lagi. Dulu pernah ada keinginan ada pemekaran wilayah antara Kabupaten Malang selatan dan utara. Bisa saja, udang di balik rempeyek yang dimaksud Sanusi tadi, wacana perubahan nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen ini sebagai pemantik untuk pemekaran wilayah tersebut. Kita tunggu saja. Wallahu a’lam. (IG: abdulmuntholib1406)

Ide Bupati Malang Sanusi mengubah nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen ini layak jadi sebuah diskursus menarik. Jangan dulu sak wasangka dengan wacana yang terkesan ujug-ujug ini. Bisa jadi Sanusi punya scene behind atau udang di balik rempeyek yang belum semua orang tahu. Biarkan saja wacana ini terus menggelinding. Biarkan saja pro-kontra itu terus berjalan dulu.

Membahas perubahan nama administratif kota, sebenarnya ide Sanusi ini bukan hal baru. Sudah ada banyak kota yang namanya berubah-ubah. Bahkan di Indonesia saja, ada satu kota yang namanya berubah sampai 13 kali!. Dan itu adalah Jakarta. Dulu, sebelum nama Jakarta, kota yang kini dipimpin Anies Baswedan tersebut bernama Sunda Kelapa, Jayakarta, Stad Batavia, Gemeente Batavia, Stad Gemeente Batavia, Jakarta Toko Betsu Shi, Pemerintah Kota Nasional Jakarta. Lalu balik lagi menjadi Stad Gemeente Batavia, Kota Praja Jakarta, Kota Praja Djakarta Raya, Pemda DKI Jakarta Raya, dan terakhir Jakarta.
Di luar negeri, nama kota berubah itu juga cukup banyak. Kota terbesar ketiga di China, Guangzhou misalnya, dulu bernama Cantao, lalu ganti Canton dan baru pada 1949 berganti nama Guangzhou hingga kini.

Bahkan nama kota sangat terkenal di dunia, New York Amerika Serikat pun tak luput dari perubahan nama. Dulu, ketika kali pertama kawasan itu ditemukan Giovanni da Verrazzano, kapten kapal asal Prancis pada 1524, kota itu dinamai dengan Nouvelle-Angouleme. Seiring perjalanan waktu, Amerika saat itu dikuasai Belanda sehingga kota itu diubah nama menjadi New Amsterdam. Tak lama nama itu diubah lagi oleh Belanda menjadi New Orange. Giliran Amerika dikuasai Inggris, baru nama kota itu berganti dengan New York hingga kini.

Melihat dari perubahan nama kota-kota di atas, hampir semuanya memiliki sejarah khusus mengapa nama kota itu diubah. Rata-rata karena daerah itu direbut oleh pihak lain. Sehingga siapa yang menguasai kota itu, mereka yang punya hak untuk mengganti atau tidak mengganti nama kota. Tentu tergantung selera dari penguasanya.

Seperti kisah nama Istanbul, Ibu Kota Turki saat ini. Dulu nama awalnya Byzantium dan diubah menjadi Kota Konstantinopel ketika Turki di bawah kekaisaran Romawi Kuno. Giliran kota itu berada di Kekaisaran Usmani baru diubah menjadi Istanbul hingga kini setelah sang penakluk Sultan Mahmed II pada 1453 berhasil merebut kota itu.

Jadi perubahan nama kota karena ada nilai sejarah kuat.
Kembali ke wacana yang digulirkan Sanusi mengubah Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen, rasanya belum ada dasar sangat kuat. Ada tiga alasan yang dikemukakan Sanusi. Pertama, kalau tetap pakai nama Malang, cenderung identik dengan Kota Malang. Kedua, dalam Peraturan Pemerintah terkait ibu kota Kabupaten Malang sudah tertulis nama Kepanjen. Sehingga ini dianggap sebagai landasan hukum jika Kepanjen bisa disebut Kabupaten Kepanjen. Ketiga, dengan menggunakan nama Kabupaten Kepanjen, supaya ada identitas lebih jelas. Orang luar kota itu biasanya hanya menyebut Malang begitu saja. Tidak ada kejelasan, apakah yang dimaksud Kota Malang atau Kabupaten Malang. Bahkan banyak orang akan ke Batu saja masih menyebut akan ke Malang.

Membaca dari alasan Sanusi tersebut, saya rasa belum kuat jadi alasan untuk mengubah nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen. Terlalu remeh alasan itu. Tidak ada nilai sejarah yang mengharuskan nama berubah. Justru dengan menghapus nama Malang, itu mengerdilkan sebuah kota. Di peta nasional, barangkali, nama Kepanjen tidak banyak yang tahu. Sehingga justru akan menjadi blunder jika wacana ini nanti diwujudkan. Kabupaten Malang yang begitu luas ini akan kian ”tenggelam” jika sampai berubah nama. Apalagi Kepanjen itu hanya sebuah kota kecil yang belum memiliki magnet kuat dari banyak sektor. Beda cerita dengan Batu yang dulu harus lepas dari Kabupaten Malang. Kecamatan Batu yang menjadi bagian dari Kabupaten Malang saat itu sudah punya keunggulan dari banyak sektor. Mulai pertanian dan pariwisata. Sehingga ketika berdiri sendiri, Kota Batu sudah siap.

Belum lagi, ketika Kepanjen menjadi nama kabupaten, tentu warga di luar Kepanjen, seperti Wajak, Dampit, Singosari, Kasembon, barangkali tidak akan bisa menerima. Mereka merasa lebih bangga menjadi warga Kabupaten Malang daripada menjadi bagian dari Kabupaten Kepanjen. Bisa jadi karena wacana ini, keinginan sejumlah warga Kabupaten Malang untuk disintegrasi kian menguat lagi. Dulu pernah ada keinginan ada pemekaran wilayah antara Kabupaten Malang selatan dan utara. Bisa saja, udang di balik rempeyek yang dimaksud Sanusi tadi, wacana perubahan nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen ini sebagai pemantik untuk pemekaran wilayah tersebut. Kita tunggu saja. Wallahu a’lam. (IG: abdulmuntholib1406)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/