alexametrics
25.1 C
Malang
Sunday, 23 January 2022

Jalan Asal-asalan

ADA masalah yang selalu muncul setiap tahun: jalan berlubang. Setiap tahun pula, pemerintah selalu mengalokasikan anggaran untuk memperbaikinya. Tapi masalah ”jalan berlubang” tak kunjung tuntas. Masih saja muncul di tahun berikutnya, dan berikutnya lagi. Entah sampai kapan problem ini bisa dituntaskan.

Bupati dan wali kota juga sudah berganti belasan kali, tapi pekerjaannya tetap sama: menambal jalan berlubang. Siapa pun kepala daerahnya, apa pun visi misinya, tetap saja tambal sulam jalan berlubang.

Kenapa jalan berlubang menjadi problem tahunan? Apakah anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk infrastruktur jalan terlalu kecil, sehingga tidak mampu meng-cover semua titik jalan berlubang? Tentu tidak. Pemerintah daerah (Pemda) di Malang Raya sudah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk infrastruktur jalan.
Di Kabupaten Malang misalnya, di saat semua anggaran terpangkas akibat refocusing, sektor infrastruktur masih mendapat jatah hampir Rp 200 miliar. Itu untuk perbaikan dan perawatan jalan, termasuk menambal jalan berlubang. Dana ini lebih besar dibanding anggaran untuk program lainnya.

Tahun depan, Bupati Malang H M. Sanusi berjanji akan menggerojok dana lebih besar lagi untuk infrastruktur. “Tahun 2022 mendatang, infrastruktur digenjot. Kami bakal mengalokasikan Rp 400 miliar,” kata Sanusi di hadapan para pengusaha saat keliling delapan perusahaan di Bumi Kanjuruhan, beberapa hari lalu.

Dana Rp 400 miliar itu memang tidak semuanya dialokasikan untuk perawatan jalan seperti menambal jalan berlubang. Tapi untuk kebutuhan lain juga, misalnya perbaikan dan pembangunan jalan. Juga untuk gaji pegawai di Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (PUBM) Kabupaten Malang.

Tingginya perhatian terhadap infrastruktur jalan juga ditunjukkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Apalagi banyak sekali jalan di Kota Malang yang berlubang. Pemkot Malang juga menyadari bahwa infrastruktur merupakan kebutuhan mendasar di perkotaan, sehingga harus diprioritaskan.

Lantas kenapa anggaran yang besar tersebut tidak mampu menuntaskan problem jalan berlubang? Ada beberapa faktor yang mengakibatkan setiap tahun ada jalan berlubang. Pertama, selama masih menggunakan jalan aspal, risiko kerusakannya cukup besar. Itu karena sifat aspal yang cenderung naik ke permukaan ruas jalan ketika terkena panas, sehingga campuran kerikilnya terpisah di bagian bawah. Ketika musim hujan, air yang menggenangi ruas jalan itu mudah meresap. Kondisi ini mengakibatkan aspal gampang mengelupas.
Sebenarnya, pengelupasan aspal bisa diminimalisir. Agar air hujan tidak menggenangi ruas jalan, maka ruas jalan tidak boleh datar. Harus ada kemiringan sekitar 2 centimeter. Kemiringan ini berfungsi untuk mengalirkan air agar tidak menggenang. Sayangnya, pembangunan non-jalan tol rata-rata tidak memperhitungkan kemiringan medan. Seolah asal pengerjaan rampung dan jalannya mulus.

Jika terbukti asal-asalan, harus digali motifnya kenapa kontraktor asal membangun. Apakah masa pengerjaan terlalu singkat, sehingga kontraktor tidak bisa menjaga kualitas pengerjaannya? Jika hal itu terjadi, pemerintah tidak boleh lambat dalam membuka lelang. Jangan menunggu pertengahan, apalagi akhir tahun baru dilelang. Terkadang pemerintah terlalu birokratis, sehingga lambat. Semoga bukan karena faktor kontraktor mencari untung besar, sehingga pengerjaan asal-asalan.

Faktor kedua, drainase di Malang belum ideal. Ketika musim hujan, drainase tidak mampu menampung curah hujan, sehingga air menggenangi ruas jalan, lalu mengakibatkan aspal mengelupas. Ketiga, kualitas aspal. Jika aspal yang digunakan kualitasnya buruk, kemiringan ruas jalan dan keberadaan drainase ideal tidak ada berfungsi lagi. Sebab aspal yang buruk akan mengelupas sendiri tanpa menunggu guyuran air hujan.

Jika pemerintah tidak bisa membangun drainase ideal, tidak mampu membeli aspal berkualitas, dan tidak membangun jalan dengan kemiringan 2 centimeter, sebaiknya jangan jalan beraspal. Sebaiknya bikin jalan beton atau rigid pavement saja. Beberapa daerah sudah banyak yang membuat jalan beton, termasuk DKI Jakarta dan Surabaya. Memang biayanya lebih mahal dibanding aspal, tapi kualitasnya tahan lama.
“Untuk beton berkualitas tinggi dengan ketebalan 30 centimeter (setara jalan tol), memerlukan biaya sekitar Rp 650 ribu per meter persegi,” kata Direktur Teknik PT Jasa Marga Pandaan-Malang Siswantono, kemarin. ”Sedangkan perkerasan lentur dengan bahan aspal beberapa lapis setebal 30 centimeter butuh biaya sekitar Rp 530 ribu per meter persegi,” tambah pria asli Kota Batu tersebut.

Selisihnya tidak terlalu jauh, tapi kualitasnya tahan lama. Saat menggunakan jalan beton, pemerintah juga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya perawatan jalan setiap tahun. Kalau pun ada perawatan, paling hanya 4-5 tahun, tergantung kondisi jalan dan tonase kendaraan yang melintas.

Yang lebih penting lagi, problem jalan berlubang tuntas. Bukan hanya pengendara yang nyaman, tapi juga meminimalisasi kecelakaan lalu lintas. Mestinya, pertimbangan pemerintah dalam memilih jalan, antara aspal atau beton itu tidak sekadar besar kecilnya biaya. Tapi juga pertimbangan nyawa. Jadi mau pilih mana? (kritik dan saran di mahmudanyudoyono@gmail.com).

ADA masalah yang selalu muncul setiap tahun: jalan berlubang. Setiap tahun pula, pemerintah selalu mengalokasikan anggaran untuk memperbaikinya. Tapi masalah ”jalan berlubang” tak kunjung tuntas. Masih saja muncul di tahun berikutnya, dan berikutnya lagi. Entah sampai kapan problem ini bisa dituntaskan.

Bupati dan wali kota juga sudah berganti belasan kali, tapi pekerjaannya tetap sama: menambal jalan berlubang. Siapa pun kepala daerahnya, apa pun visi misinya, tetap saja tambal sulam jalan berlubang.

Kenapa jalan berlubang menjadi problem tahunan? Apakah anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk infrastruktur jalan terlalu kecil, sehingga tidak mampu meng-cover semua titik jalan berlubang? Tentu tidak. Pemerintah daerah (Pemda) di Malang Raya sudah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk infrastruktur jalan.
Di Kabupaten Malang misalnya, di saat semua anggaran terpangkas akibat refocusing, sektor infrastruktur masih mendapat jatah hampir Rp 200 miliar. Itu untuk perbaikan dan perawatan jalan, termasuk menambal jalan berlubang. Dana ini lebih besar dibanding anggaran untuk program lainnya.

Tahun depan, Bupati Malang H M. Sanusi berjanji akan menggerojok dana lebih besar lagi untuk infrastruktur. “Tahun 2022 mendatang, infrastruktur digenjot. Kami bakal mengalokasikan Rp 400 miliar,” kata Sanusi di hadapan para pengusaha saat keliling delapan perusahaan di Bumi Kanjuruhan, beberapa hari lalu.

Dana Rp 400 miliar itu memang tidak semuanya dialokasikan untuk perawatan jalan seperti menambal jalan berlubang. Tapi untuk kebutuhan lain juga, misalnya perbaikan dan pembangunan jalan. Juga untuk gaji pegawai di Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (PUBM) Kabupaten Malang.

Tingginya perhatian terhadap infrastruktur jalan juga ditunjukkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Apalagi banyak sekali jalan di Kota Malang yang berlubang. Pemkot Malang juga menyadari bahwa infrastruktur merupakan kebutuhan mendasar di perkotaan, sehingga harus diprioritaskan.

Lantas kenapa anggaran yang besar tersebut tidak mampu menuntaskan problem jalan berlubang? Ada beberapa faktor yang mengakibatkan setiap tahun ada jalan berlubang. Pertama, selama masih menggunakan jalan aspal, risiko kerusakannya cukup besar. Itu karena sifat aspal yang cenderung naik ke permukaan ruas jalan ketika terkena panas, sehingga campuran kerikilnya terpisah di bagian bawah. Ketika musim hujan, air yang menggenangi ruas jalan itu mudah meresap. Kondisi ini mengakibatkan aspal gampang mengelupas.
Sebenarnya, pengelupasan aspal bisa diminimalisir. Agar air hujan tidak menggenangi ruas jalan, maka ruas jalan tidak boleh datar. Harus ada kemiringan sekitar 2 centimeter. Kemiringan ini berfungsi untuk mengalirkan air agar tidak menggenang. Sayangnya, pembangunan non-jalan tol rata-rata tidak memperhitungkan kemiringan medan. Seolah asal pengerjaan rampung dan jalannya mulus.

Jika terbukti asal-asalan, harus digali motifnya kenapa kontraktor asal membangun. Apakah masa pengerjaan terlalu singkat, sehingga kontraktor tidak bisa menjaga kualitas pengerjaannya? Jika hal itu terjadi, pemerintah tidak boleh lambat dalam membuka lelang. Jangan menunggu pertengahan, apalagi akhir tahun baru dilelang. Terkadang pemerintah terlalu birokratis, sehingga lambat. Semoga bukan karena faktor kontraktor mencari untung besar, sehingga pengerjaan asal-asalan.

Faktor kedua, drainase di Malang belum ideal. Ketika musim hujan, drainase tidak mampu menampung curah hujan, sehingga air menggenangi ruas jalan, lalu mengakibatkan aspal mengelupas. Ketiga, kualitas aspal. Jika aspal yang digunakan kualitasnya buruk, kemiringan ruas jalan dan keberadaan drainase ideal tidak ada berfungsi lagi. Sebab aspal yang buruk akan mengelupas sendiri tanpa menunggu guyuran air hujan.

Jika pemerintah tidak bisa membangun drainase ideal, tidak mampu membeli aspal berkualitas, dan tidak membangun jalan dengan kemiringan 2 centimeter, sebaiknya jangan jalan beraspal. Sebaiknya bikin jalan beton atau rigid pavement saja. Beberapa daerah sudah banyak yang membuat jalan beton, termasuk DKI Jakarta dan Surabaya. Memang biayanya lebih mahal dibanding aspal, tapi kualitasnya tahan lama.
“Untuk beton berkualitas tinggi dengan ketebalan 30 centimeter (setara jalan tol), memerlukan biaya sekitar Rp 650 ribu per meter persegi,” kata Direktur Teknik PT Jasa Marga Pandaan-Malang Siswantono, kemarin. ”Sedangkan perkerasan lentur dengan bahan aspal beberapa lapis setebal 30 centimeter butuh biaya sekitar Rp 530 ribu per meter persegi,” tambah pria asli Kota Batu tersebut.

Selisihnya tidak terlalu jauh, tapi kualitasnya tahan lama. Saat menggunakan jalan beton, pemerintah juga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya perawatan jalan setiap tahun. Kalau pun ada perawatan, paling hanya 4-5 tahun, tergantung kondisi jalan dan tonase kendaraan yang melintas.

Yang lebih penting lagi, problem jalan berlubang tuntas. Bukan hanya pengendara yang nyaman, tapi juga meminimalisasi kecelakaan lalu lintas. Mestinya, pertimbangan pemerintah dalam memilih jalan, antara aspal atau beton itu tidak sekadar besar kecilnya biaya. Tapi juga pertimbangan nyawa. Jadi mau pilih mana? (kritik dan saran di mahmudanyudoyono@gmail.com).

Previous articleMaliobatu
Next articleBukan Ashabul Kahfi

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru