alexametrics
27.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Pak Sanusi

”Saya tidak akan tinggal di pendapa. Saya akan tetap tinggal di sini (rumah dinas wakil bupati).”

”Tapi, Bapak kan sudah jadi bupati? Bukan lagi wakil bupati? Harusnya tinggal di pendapa dong?”

”Nggak apa-apa. Sudah kadung cocok tinggal di sini. Lagipula, pendapa itu nanti akan kita jadikan bangunan heritage.”

Inilah petikan obrolan saya dengan Pak Sanusi yang kemarin (26/2) secara resmi sudah dilantik menjadi Bupati Malang. Obrolan itu terjadi kira-kira sebulan lalu.

Pak Sanusi rupanya ingin mengubah kebiasaan dalam hal rumah dinas bupati. Jika keinginannya itu benar-benar dapat diwujudkan, bisa jadi, mungkin baru kali ini Bupati Malang tidak tinggal di rumah dinas yang menjadi satu dengan Pendapa Pringgitan.

Pak Sanusi tidak mempersoalkan bahwa dia lebih memilih tinggal di rumah dinas yang seharusnya itu untuk wakil bupati. Selain sudah merasa cocok tinggal di sana, ada keinginannya untuk menjadikan Pendapa Pringgitan sebagai bangunan heritage. Rupanya, dia akan lebih memaksimalkan pendapa yang sudah terbangun di Kepanjen. Ini seiring dengan rencananya yang akan benar-benar menjadikan Kepanjen sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang.

Selama ini, boleh dibilang, Kepanjen hanyalah ”ibu kota seakan-akan” dari Kabupaten Malang. Mengapa disebut sebagai ”ibu kota seakan-akan”? Karena sejauh ini memang belum sepenuhnya difungsikan sebagai ibu kota kabupaten. Dan untuk disebut sebagai ibu kota kabupaten, banyak fasilitas, sarana, dan prasarana yang harus dibangun di Kepanjen. Dan selama ini, kantor-kantor dinas di lingkungan Pemkab Malang tak semuanya ada di Kepanjen. Masih ada yang kantornya di wilayah Kota Malang. Kantor bupati pun selama ini ada dua. Di Kepanjen ada, di wilayah Kota Malang juga ada. Kantor sekda pun juga ada dua.

Pelantikannya sebagai Bupati Malang rupanya dijadikan Pak Sanusi sebagai momentum untuk mengubah yang selama bertahun-tahun masih belum berubah. Dan itu dia mulai dari yang paling kecil. Yakni dimulai dari kerelaannya untuk tidak tinggal di Pendapa Pringgitan meski sudah menjadi bupati.

Inilah sisi baiknya jika bupati itu pernah jadi wakil bupati. Bahkan, pernah juga menjadi wakil rakyat yang duduk di DPRD Kabupaten Malang. Ketika dulu menjadi legislator, kewenangannya terbatas. Betapa pun punya keinginan untuk membuat perubahan, kewenanganlah yang membatasinya. Ketika masih menjadi wakil bupati, kewenangannya juga terbatas. Orang Jawa bilang, wakil itu adalah ”awak” dan ”sikil”. Betapa pun punya keinginan untuk membuat perubahan, toh keputusan akhirnya tetap pada bupati.

Kini Pak Sanusi sudah menjadi Bupati Malang. Kita berharap, jika dulu punya keinginan-keinginan untuk membuat perubahan menuju yang lebih baik yang belum bisa diwujudkan, kinilah saatnya untuk mewujudkannya.

Saya sering mengibaratkan Kabupaten Malang itu sebenarnya adalah bongkahan emas. Tapi, untuk membuat semakin banyak orang tahu bahwa itu adalah emas, maka bongkahan itu harus banyak di-treatment. Digosok-gosok, dipoles, diolah, bahkan kalau perlu dilakukan pembakaran agar bongkahan itu benar-benar menjadi emas yang kemilaunya membuat banyak orang terpana dan takjub.

Jadi, untuk bikin Kabupaten Malang kemilau, maka butuh kerja keras. Butuh effort yang tak ringan. Ketika menjadi bupati transisi (melanjutkan kepemimpinan Pak Rendra), gebrakan yang dilakukan Pak Sanusi adalah membuka keran selebar-lebarnya bagi investor yang mau berinvestasi di Kabupaten Malang.

Dengan percaya diri, Pak Sanusi sering mengatakan, di tahun pertama pemerintahannya setelah dilantik nanti, dia menargetkan nilai investasi yang bisa masuk ke Kabupaten Malang sekitar Rp 30 triliun.

Suatu ketika saya pernah bertemu dengan salah seorang investor yang akan membangun hotel bintang empat di Kepanjen. Dia mengaku, kali ini berinvestasi di Kabupaten Malang sangat dipermudah. Kata dia, itu karena bupatinya benar-benar ikut ngawal.

Saya juga pernah bertemu dengan investor dari Jakarta yang akan menggarap kawasan terpadu perumahan dan pertanian. Kata mereka, Kabupaten Malang akan dijadikan pilot project untuk pembangunan kawasan terpadu perumahan dan pertanian. Dan mereka sangat terbantu dengan kemudahan-kemudahan terkait pengurusan surat-menyurat, perizinan, hingga pembebasan lahan. Dan lagi-lagi kata mereka, itu karena bupatinya ikut ngawal.

Semoga, Pak Sanusi benar-benar membawa perubahan yang signifikan bagi Kabupaten Malang. Dan ini ditunjang dengan keberadaan wakilnya, Pak Didik, yang merupakan orang nomor satu di partai pemenang pemilu di Kabupaten Malang. Sebelumnya adalah legislator. Bahkan pernah menjadi ketua DPRD. Dan sebelumnya juga pernah menjadi kepala desa hingga dua periode. Ditambah lagi, dibantu oleh sekda yang mumpuni. Pak Wahyu yang doktor itu. Yang juga dosen. Yang juga sudah berpengalaman memimpin di sejumlah dinas dan rata-rata mampu mengubah dinas-dinas yang dipimpinnya menjadi lebih baik.

Kita sebagai rakyat hanya bisa berharap. Walakhir, selamat mengemban amanah untuk Pak Sanusi dan Pak Didik. Manuk gelatik menclok nang gapuro. Mari dilantik, kudu langsung kerjo. Kerjone kudu nyoto. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

”Saya tidak akan tinggal di pendapa. Saya akan tetap tinggal di sini (rumah dinas wakil bupati).”

”Tapi, Bapak kan sudah jadi bupati? Bukan lagi wakil bupati? Harusnya tinggal di pendapa dong?”

”Nggak apa-apa. Sudah kadung cocok tinggal di sini. Lagipula, pendapa itu nanti akan kita jadikan bangunan heritage.”

Inilah petikan obrolan saya dengan Pak Sanusi yang kemarin (26/2) secara resmi sudah dilantik menjadi Bupati Malang. Obrolan itu terjadi kira-kira sebulan lalu.

Pak Sanusi rupanya ingin mengubah kebiasaan dalam hal rumah dinas bupati. Jika keinginannya itu benar-benar dapat diwujudkan, bisa jadi, mungkin baru kali ini Bupati Malang tidak tinggal di rumah dinas yang menjadi satu dengan Pendapa Pringgitan.

Pak Sanusi tidak mempersoalkan bahwa dia lebih memilih tinggal di rumah dinas yang seharusnya itu untuk wakil bupati. Selain sudah merasa cocok tinggal di sana, ada keinginannya untuk menjadikan Pendapa Pringgitan sebagai bangunan heritage. Rupanya, dia akan lebih memaksimalkan pendapa yang sudah terbangun di Kepanjen. Ini seiring dengan rencananya yang akan benar-benar menjadikan Kepanjen sebagai Ibu Kota Kabupaten Malang.

Selama ini, boleh dibilang, Kepanjen hanyalah ”ibu kota seakan-akan” dari Kabupaten Malang. Mengapa disebut sebagai ”ibu kota seakan-akan”? Karena sejauh ini memang belum sepenuhnya difungsikan sebagai ibu kota kabupaten. Dan untuk disebut sebagai ibu kota kabupaten, banyak fasilitas, sarana, dan prasarana yang harus dibangun di Kepanjen. Dan selama ini, kantor-kantor dinas di lingkungan Pemkab Malang tak semuanya ada di Kepanjen. Masih ada yang kantornya di wilayah Kota Malang. Kantor bupati pun selama ini ada dua. Di Kepanjen ada, di wilayah Kota Malang juga ada. Kantor sekda pun juga ada dua.

Pelantikannya sebagai Bupati Malang rupanya dijadikan Pak Sanusi sebagai momentum untuk mengubah yang selama bertahun-tahun masih belum berubah. Dan itu dia mulai dari yang paling kecil. Yakni dimulai dari kerelaannya untuk tidak tinggal di Pendapa Pringgitan meski sudah menjadi bupati.

Inilah sisi baiknya jika bupati itu pernah jadi wakil bupati. Bahkan, pernah juga menjadi wakil rakyat yang duduk di DPRD Kabupaten Malang. Ketika dulu menjadi legislator, kewenangannya terbatas. Betapa pun punya keinginan untuk membuat perubahan, kewenanganlah yang membatasinya. Ketika masih menjadi wakil bupati, kewenangannya juga terbatas. Orang Jawa bilang, wakil itu adalah ”awak” dan ”sikil”. Betapa pun punya keinginan untuk membuat perubahan, toh keputusan akhirnya tetap pada bupati.

Kini Pak Sanusi sudah menjadi Bupati Malang. Kita berharap, jika dulu punya keinginan-keinginan untuk membuat perubahan menuju yang lebih baik yang belum bisa diwujudkan, kinilah saatnya untuk mewujudkannya.

Saya sering mengibaratkan Kabupaten Malang itu sebenarnya adalah bongkahan emas. Tapi, untuk membuat semakin banyak orang tahu bahwa itu adalah emas, maka bongkahan itu harus banyak di-treatment. Digosok-gosok, dipoles, diolah, bahkan kalau perlu dilakukan pembakaran agar bongkahan itu benar-benar menjadi emas yang kemilaunya membuat banyak orang terpana dan takjub.

Jadi, untuk bikin Kabupaten Malang kemilau, maka butuh kerja keras. Butuh effort yang tak ringan. Ketika menjadi bupati transisi (melanjutkan kepemimpinan Pak Rendra), gebrakan yang dilakukan Pak Sanusi adalah membuka keran selebar-lebarnya bagi investor yang mau berinvestasi di Kabupaten Malang.

Dengan percaya diri, Pak Sanusi sering mengatakan, di tahun pertama pemerintahannya setelah dilantik nanti, dia menargetkan nilai investasi yang bisa masuk ke Kabupaten Malang sekitar Rp 30 triliun.

Suatu ketika saya pernah bertemu dengan salah seorang investor yang akan membangun hotel bintang empat di Kepanjen. Dia mengaku, kali ini berinvestasi di Kabupaten Malang sangat dipermudah. Kata dia, itu karena bupatinya benar-benar ikut ngawal.

Saya juga pernah bertemu dengan investor dari Jakarta yang akan menggarap kawasan terpadu perumahan dan pertanian. Kata mereka, Kabupaten Malang akan dijadikan pilot project untuk pembangunan kawasan terpadu perumahan dan pertanian. Dan mereka sangat terbantu dengan kemudahan-kemudahan terkait pengurusan surat-menyurat, perizinan, hingga pembebasan lahan. Dan lagi-lagi kata mereka, itu karena bupatinya ikut ngawal.

Semoga, Pak Sanusi benar-benar membawa perubahan yang signifikan bagi Kabupaten Malang. Dan ini ditunjang dengan keberadaan wakilnya, Pak Didik, yang merupakan orang nomor satu di partai pemenang pemilu di Kabupaten Malang. Sebelumnya adalah legislator. Bahkan pernah menjadi ketua DPRD. Dan sebelumnya juga pernah menjadi kepala desa hingga dua periode. Ditambah lagi, dibantu oleh sekda yang mumpuni. Pak Wahyu yang doktor itu. Yang juga dosen. Yang juga sudah berpengalaman memimpin di sejumlah dinas dan rata-rata mampu mengubah dinas-dinas yang dipimpinnya menjadi lebih baik.

Kita sebagai rakyat hanya bisa berharap. Walakhir, selamat mengemban amanah untuk Pak Sanusi dan Pak Didik. Manuk gelatik menclok nang gapuro. Mari dilantik, kudu langsung kerjo. Kerjone kudu nyoto. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/