alexametrics
32C
Malang
Monday, 19 April 2021

Underground

Izinkan saya untuk mempunyai pengertian sendiri tentang istilah ”underground”. Mereka yang disebut sebagai ”underground” ini adalah orang-orang idealis, punya nilai tersendiri, prestasinya bukan kaleng-kaleng, punya keahlian di atas rata-rata, karya-karyanya out of the box, dan tidak butuh publikasi.

Saya kenal beberapa orang Malang yang berkategori underground. Salah satunya Agus. Dia seorang arsitek. Rumah tempat tinggalnya cukup unik. Punya lahan sekitar 1.000 meter persegi, tapi yang dibuat untuk rumah hanya berukuran 6 x 6 meter. Selebihnya, dia gunakan untuk menampung berbagai macam tanaman (di antara tanaman koleksinya tergolong langka dan mahal), lalu ada kolam ikannya, dan sebagian lagi dia bangun untuk kafe.

Nama Agus cukup dikenal di kalangan arsitek tanah air. Ini kata Deddy Wahyudi. Saya pernah menulis tentang sosok dan kiprah Deddy. Arek Malang lulusan SMAN 3 Kota Malang itu punya sederet prestasi baik nasional maupun internasional. Yang paling baru, dia berhasil memenangi sayembara desain revitalisasi kawasan Monas di Jakarta. ”Aku banyak diskusi dengan Agus. Ide-idenya sebagai seorang arsitek sering out of the box,” kata Deddy ketika menceritakan tentang Agus.

Bukti dari nilai seorang Agus dapat dilihat dari sebuah buku berjudul ”15 Cerita Arsitek Muda”. Buku ini menceritakan tentang sosok dan kiprah 15 arsitek muda yang punya kehebatan, keunikan, serta prestasi yang berbeda ketimbang arsitek-arsitek lainnya. Agus adalah arsitek nomor satu yang dikisahkan dan disebutkan dalam buku tersebut. Dia disebut sebagai arsitek yang berkarya tanpa gambar. Karya-karya Agus merupakan kepiawaian dalam meyakinkan klien yang nyaris tanpa bayangan di benak kepala mereka. Nyatanya, Agus tetap bisa eksis dengan ”kenyelenehannya” dalam berarsitektur.

Beberapa kali Agus menolak developer yang ingin menggunakan jasanya untuk mendesain sebuah konsep hunian. ”Karena banyak developer yang masih punya mindset bahwa arsitek itu menjual gambar dan arsitek itu harus ikut apa yang menjadi kemauan developer. Saya bukan seperti itu. Saya ini arsitek, bukan menjual gambar. Dan saya nggak mau karya saya didikte oleh developer,” katanya. Jujur, baru kali ini saya menjumpai arsitek seperti ini. Padahal, di antara developer yang ditolak oleh Agus itu tergolong developer kakap dan yang sudah punya nama. Tapi, itulah Agus. Jika bukan sosok yang unik, mungkin dia tidak akan masuk dalam deretan 15 arsitek Indonesia yang disebut di dalam buku tadi.

Sosok underground lainnya adalah Aldi. Masih sangat muda. 27 tahun. Tapi, dia adalah salah satu eksporter top tanaman atau bunga yang tanaman-tanamannya atau bunga-bunga koleksinya sudah diekspor ke Amerika, Dubai, Singapura, Thailand, dan Filipina. Yang rutin Aldi mengekspor adalah ke Amerika. Dan hampir di semua negara bagian di Amerika sudah menjadi sasaran ekspor tanaman atau bunga milik Aldi. Di antaranya Washington, Florida, dan Texas.

Jika Anda sudah pernah mengunjungi Gardens by The Bay di Singapura yang banyak terdapat tanaman-tanaman indah dan bagus-bagus itu, salah satu pemasok tanaman-tanaman di sana adalah Aldi. Arek Malang asli. Masih sangat muda.

Dan sosok Aldi punya idealisme tersendiri yang membuat nilainya berbeda ketimbang pengusaha tanaman lainnya. Koleksi tanaman-tanamannya sangat luas. Mulai yang paling murah dengan harga ribuan rupiah hingga ratusan juta rupiah per potnya, ada semua di kebunnya Aldi yang luasnya total mencapai hampir dua hektare (lokasi kebunnya ada di beberapa tempat). Koleksi Aldi mulai dari tanaman paling umum hingga paling langka.

Suatu ketika, ada pembeli dari Thailand yang ingin membeli koleksi tanaman langka milik Aldi. Dia tak langsung mau menjual koleksi tanaman miliknya. Meski si pembeli dari Thailand itu bersedia membayar mahal. Aldi mengajukan syarat, dia mau melepas tanamannya yang langka, asal si pembeli dari Thailand itu mau melepas tanaman yang langka di negaranya. Ini dilakukan Aldi agar dia tidak tertinggal dengan pengusaha tanaman dari luar negeri. Yang seperti ini, menurut saya langka.

Jika Aldi bisa sesukses sekarang, bukan dia peroleh secara instan. Dia menyukai bunga dan tanaman sejak kelas 1 SMP. Ketika kuliah di Universitas Brawijaya, dia masih menekuni kesukaannya merawat dan menjual tanaman. Sempat diolok-olok temannya, karena ketika sudah berhasil meraih gelar sarjana, Aldi tetap saja menekuni kesukaannya menjadi petani tanaman dan bunga. Kini, Aldi sudah menerima buah dari ketekunannya merawat tanaman dan bunga.

Agus dan Aldi adalah sosok underground di Malang yang istimewa. Bernilai, berkarakter, dan berprestasi. Tapi, tak banyak diketahui publik di Malang. Masih banyak lagi sosok-sosok underground lain yang saya kenal, yang belum saya ceritakan di tulisan ini.

Pertanyaannya: apakah para pemimpin kita yang membuat kebijakan di Malang Raya, tahu akan prestasi dan capaian dari sosok-sosok underground ini? Jika sudah tahu, mengapa mereka tidak dilibatkan untuk mengembangkan, mempermaju, dan memperindah Bumi Arema ini? Jika belum tahu, semoga setelah membaca tulisan ini, bisa langsung di-follow up.

Ajak mereka untuk ikut membangun Malang Raya. Adalah naif dan patut disayangkan, seorang Aldi dimanfaatkan oleh negara lain, sementara Malang tempat di mana Aldi lahir dan tinggal tak memanfaatkannya. Adalah naif dan patut disayangkan, seorang Agus yang karya-karyanya dipuji, dikagumi, dan dikoleksi oleh warga dari luar Malang, sementara orang Malang sendiri tak mengenalnya dan malah mengabaikannya.

Kota-kota lain sudah berbenah. Kota Surabaya, Kota Bandung, Kota Solo, dan juga Kota Madiun, sudah memermak wajah kotanya dengan lebih indah dan lebih memukau. Bagaimana dengan Kota Malang? Kabupaten Malang? Kota Batu? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Izinkan saya untuk mempunyai pengertian sendiri tentang istilah ”underground”. Mereka yang disebut sebagai ”underground” ini adalah orang-orang idealis, punya nilai tersendiri, prestasinya bukan kaleng-kaleng, punya keahlian di atas rata-rata, karya-karyanya out of the box, dan tidak butuh publikasi.

Saya kenal beberapa orang Malang yang berkategori underground. Salah satunya Agus. Dia seorang arsitek. Rumah tempat tinggalnya cukup unik. Punya lahan sekitar 1.000 meter persegi, tapi yang dibuat untuk rumah hanya berukuran 6 x 6 meter. Selebihnya, dia gunakan untuk menampung berbagai macam tanaman (di antara tanaman koleksinya tergolong langka dan mahal), lalu ada kolam ikannya, dan sebagian lagi dia bangun untuk kafe.

Nama Agus cukup dikenal di kalangan arsitek tanah air. Ini kata Deddy Wahyudi. Saya pernah menulis tentang sosok dan kiprah Deddy. Arek Malang lulusan SMAN 3 Kota Malang itu punya sederet prestasi baik nasional maupun internasional. Yang paling baru, dia berhasil memenangi sayembara desain revitalisasi kawasan Monas di Jakarta. ”Aku banyak diskusi dengan Agus. Ide-idenya sebagai seorang arsitek sering out of the box,” kata Deddy ketika menceritakan tentang Agus.

Bukti dari nilai seorang Agus dapat dilihat dari sebuah buku berjudul ”15 Cerita Arsitek Muda”. Buku ini menceritakan tentang sosok dan kiprah 15 arsitek muda yang punya kehebatan, keunikan, serta prestasi yang berbeda ketimbang arsitek-arsitek lainnya. Agus adalah arsitek nomor satu yang dikisahkan dan disebutkan dalam buku tersebut. Dia disebut sebagai arsitek yang berkarya tanpa gambar. Karya-karya Agus merupakan kepiawaian dalam meyakinkan klien yang nyaris tanpa bayangan di benak kepala mereka. Nyatanya, Agus tetap bisa eksis dengan ”kenyelenehannya” dalam berarsitektur.

Beberapa kali Agus menolak developer yang ingin menggunakan jasanya untuk mendesain sebuah konsep hunian. ”Karena banyak developer yang masih punya mindset bahwa arsitek itu menjual gambar dan arsitek itu harus ikut apa yang menjadi kemauan developer. Saya bukan seperti itu. Saya ini arsitek, bukan menjual gambar. Dan saya nggak mau karya saya didikte oleh developer,” katanya. Jujur, baru kali ini saya menjumpai arsitek seperti ini. Padahal, di antara developer yang ditolak oleh Agus itu tergolong developer kakap dan yang sudah punya nama. Tapi, itulah Agus. Jika bukan sosok yang unik, mungkin dia tidak akan masuk dalam deretan 15 arsitek Indonesia yang disebut di dalam buku tadi.

Sosok underground lainnya adalah Aldi. Masih sangat muda. 27 tahun. Tapi, dia adalah salah satu eksporter top tanaman atau bunga yang tanaman-tanamannya atau bunga-bunga koleksinya sudah diekspor ke Amerika, Dubai, Singapura, Thailand, dan Filipina. Yang rutin Aldi mengekspor adalah ke Amerika. Dan hampir di semua negara bagian di Amerika sudah menjadi sasaran ekspor tanaman atau bunga milik Aldi. Di antaranya Washington, Florida, dan Texas.

Jika Anda sudah pernah mengunjungi Gardens by The Bay di Singapura yang banyak terdapat tanaman-tanaman indah dan bagus-bagus itu, salah satu pemasok tanaman-tanaman di sana adalah Aldi. Arek Malang asli. Masih sangat muda.

Dan sosok Aldi punya idealisme tersendiri yang membuat nilainya berbeda ketimbang pengusaha tanaman lainnya. Koleksi tanaman-tanamannya sangat luas. Mulai yang paling murah dengan harga ribuan rupiah hingga ratusan juta rupiah per potnya, ada semua di kebunnya Aldi yang luasnya total mencapai hampir dua hektare (lokasi kebunnya ada di beberapa tempat). Koleksi Aldi mulai dari tanaman paling umum hingga paling langka.

Suatu ketika, ada pembeli dari Thailand yang ingin membeli koleksi tanaman langka milik Aldi. Dia tak langsung mau menjual koleksi tanaman miliknya. Meski si pembeli dari Thailand itu bersedia membayar mahal. Aldi mengajukan syarat, dia mau melepas tanamannya yang langka, asal si pembeli dari Thailand itu mau melepas tanaman yang langka di negaranya. Ini dilakukan Aldi agar dia tidak tertinggal dengan pengusaha tanaman dari luar negeri. Yang seperti ini, menurut saya langka.

Jika Aldi bisa sesukses sekarang, bukan dia peroleh secara instan. Dia menyukai bunga dan tanaman sejak kelas 1 SMP. Ketika kuliah di Universitas Brawijaya, dia masih menekuni kesukaannya merawat dan menjual tanaman. Sempat diolok-olok temannya, karena ketika sudah berhasil meraih gelar sarjana, Aldi tetap saja menekuni kesukaannya menjadi petani tanaman dan bunga. Kini, Aldi sudah menerima buah dari ketekunannya merawat tanaman dan bunga.

Agus dan Aldi adalah sosok underground di Malang yang istimewa. Bernilai, berkarakter, dan berprestasi. Tapi, tak banyak diketahui publik di Malang. Masih banyak lagi sosok-sosok underground lain yang saya kenal, yang belum saya ceritakan di tulisan ini.

Pertanyaannya: apakah para pemimpin kita yang membuat kebijakan di Malang Raya, tahu akan prestasi dan capaian dari sosok-sosok underground ini? Jika sudah tahu, mengapa mereka tidak dilibatkan untuk mengembangkan, mempermaju, dan memperindah Bumi Arema ini? Jika belum tahu, semoga setelah membaca tulisan ini, bisa langsung di-follow up.

Ajak mereka untuk ikut membangun Malang Raya. Adalah naif dan patut disayangkan, seorang Aldi dimanfaatkan oleh negara lain, sementara Malang tempat di mana Aldi lahir dan tinggal tak memanfaatkannya. Adalah naif dan patut disayangkan, seorang Agus yang karya-karyanya dipuji, dikagumi, dan dikoleksi oleh warga dari luar Malang, sementara orang Malang sendiri tak mengenalnya dan malah mengabaikannya.

Kota-kota lain sudah berbenah. Kota Surabaya, Kota Bandung, Kota Solo, dan juga Kota Madiun, sudah memermak wajah kotanya dengan lebih indah dan lebih memukau. Bagaimana dengan Kota Malang? Kabupaten Malang? Kota Batu? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru