alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Agus Sunyoto

Jimat (5)

Penjelasan Kang Karnen tentang komisi yang diperolehnya itu, ternyata menyulut kembali semangat saya untuk makin tekun mendalami “bisnis” benda-benda langka. Sebab, menurut pikiran saya, komisi yang telah diperoleh Kang Karnen itu menunjukkan bahwa perdagangan benda-benda tersebut bukan omong kosong belaka. Apalagi, dalam setiap pembicaraan dengan para calo yang lain maupun pemilik barang, benda-benda langka itu seolah-olah memang merupakan pesanan seorang pejabat tinggi di Jakarta atau keluarga Sultan Brunei Darussalam.

Jadinya, suasana pembicaraan yang bersangkut paut dengan benda-benda langka itu benar-benar mengesankan suatu pembicaraan tentang suatu bisnis yang sangat menguntungkan dengan harapan yang berbunga-bunga.

Persoalan benda-benda langka yang memberi harapan itu, rupanya berkembang terus dalam bentuk yang lebih menggiurkan. Dikatakan menggiurkan, karena pokok bahasan dalam bisnis itu sudah mengalami suatu perubahan yang lebih konkret. Jika sebelumnya benda-benda langka yang diperdagangkan itu berkisar benda-benda yang memiliki kekuatan misterius seperti batu mirah delima, Qur’an Stambul, keris luk 13, kul buntet, dan sejenisnya, maka kini pada gilirannya berkembang menjadi lebih konkret seperti emas dan platina milik Presiden Soekarno, sertifikat pengambilan emas hibah dari Presiden Soekarno, surat kuasa dari Jugun Ianfu dan mantan Heiho, dan sebagainya.

Benda-benda langka yang juga menyimpan harapan ini dalam tempo singkat telah berkembang luas, terutama di daerah pedesaan. Dan apa yang terjadi dengan benda-benda langka model ini, yang menjadi korban langsung adalah rakyat kecil yang bodoh. Misalnya, sekeping platina yang dikatakan titipan Presiden Soekarno itu dijual dengan harga Rp 12 juta. Warga desa yang umumnya mengultuskan proklamator itu, tak jarang yang harus urunan bersama untuk bisa memiliki platina itu. Padahal, kepingan logam itu bukan platina melainkan logam monel biasa yang tidak berharga.

Sekalipun logam platina yang ditawarkan itu sudah terbukti palsu, yaitu hanya logam monel, toh pada kenyataannya peredaran logam ini masih terus bergulir dari satu tempat ke tempat yang lain seolah-olah logam itu benar-benar titipan Presiden Soekarno. Malah mengikuti logam emas dan platina itu, beredar pula fotokopi surat-surat penawaran dari sejumlah pejabat di Jakarta atas logam tersebut. Dengan berbekal surat dalam bentuk fotokopi itu, orang awam memang dengan gampang tertipu dan secepatnya meyakini bahwa logam emas dan platina itu benar-benar murni dan milik Presiden Soeakrno yang dihibahkan kepada rakyat.

Khusus dalam persoalan logam platina yang ada tulisannya JM Johnson Matthey Assoyers & Refichess Platinum 99,99 32 Ounces Troy PT-0533 itu, saya mengaku terus terang tidak berani ikut terlibat. Begitu juga dengan Kang Karnen. Sebab, sejak Bunadi, calo dari kota T ditangkap polisi, kami sepakat untuk tidak mau terlibat dengan urusan logam palsu itu. ”Kalau soal platina dan emasnya Bung Karno, Dik Gombloh, kita sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan. Sebab, kasus itu kelihatannya memang ada unsur penipuannya,” ujar Kang Karnen. (bersambung)

Penjelasan Kang Karnen tentang komisi yang diperolehnya itu, ternyata menyulut kembali semangat saya untuk makin tekun mendalami “bisnis” benda-benda langka. Sebab, menurut pikiran saya, komisi yang telah diperoleh Kang Karnen itu menunjukkan bahwa perdagangan benda-benda tersebut bukan omong kosong belaka. Apalagi, dalam setiap pembicaraan dengan para calo yang lain maupun pemilik barang, benda-benda langka itu seolah-olah memang merupakan pesanan seorang pejabat tinggi di Jakarta atau keluarga Sultan Brunei Darussalam.

Jadinya, suasana pembicaraan yang bersangkut paut dengan benda-benda langka itu benar-benar mengesankan suatu pembicaraan tentang suatu bisnis yang sangat menguntungkan dengan harapan yang berbunga-bunga.

Persoalan benda-benda langka yang memberi harapan itu, rupanya berkembang terus dalam bentuk yang lebih menggiurkan. Dikatakan menggiurkan, karena pokok bahasan dalam bisnis itu sudah mengalami suatu perubahan yang lebih konkret. Jika sebelumnya benda-benda langka yang diperdagangkan itu berkisar benda-benda yang memiliki kekuatan misterius seperti batu mirah delima, Qur’an Stambul, keris luk 13, kul buntet, dan sejenisnya, maka kini pada gilirannya berkembang menjadi lebih konkret seperti emas dan platina milik Presiden Soekarno, sertifikat pengambilan emas hibah dari Presiden Soekarno, surat kuasa dari Jugun Ianfu dan mantan Heiho, dan sebagainya.

Benda-benda langka yang juga menyimpan harapan ini dalam tempo singkat telah berkembang luas, terutama di daerah pedesaan. Dan apa yang terjadi dengan benda-benda langka model ini, yang menjadi korban langsung adalah rakyat kecil yang bodoh. Misalnya, sekeping platina yang dikatakan titipan Presiden Soekarno itu dijual dengan harga Rp 12 juta. Warga desa yang umumnya mengultuskan proklamator itu, tak jarang yang harus urunan bersama untuk bisa memiliki platina itu. Padahal, kepingan logam itu bukan platina melainkan logam monel biasa yang tidak berharga.

Sekalipun logam platina yang ditawarkan itu sudah terbukti palsu, yaitu hanya logam monel, toh pada kenyataannya peredaran logam ini masih terus bergulir dari satu tempat ke tempat yang lain seolah-olah logam itu benar-benar titipan Presiden Soekarno. Malah mengikuti logam emas dan platina itu, beredar pula fotokopi surat-surat penawaran dari sejumlah pejabat di Jakarta atas logam tersebut. Dengan berbekal surat dalam bentuk fotokopi itu, orang awam memang dengan gampang tertipu dan secepatnya meyakini bahwa logam emas dan platina itu benar-benar murni dan milik Presiden Soeakrno yang dihibahkan kepada rakyat.

Khusus dalam persoalan logam platina yang ada tulisannya JM Johnson Matthey Assoyers & Refichess Platinum 99,99 32 Ounces Troy PT-0533 itu, saya mengaku terus terang tidak berani ikut terlibat. Begitu juga dengan Kang Karnen. Sebab, sejak Bunadi, calo dari kota T ditangkap polisi, kami sepakat untuk tidak mau terlibat dengan urusan logam palsu itu. ”Kalau soal platina dan emasnya Bung Karno, Dik Gombloh, kita sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan. Sebab, kasus itu kelihatannya memang ada unsur penipuannya,” ujar Kang Karnen. (bersambung)

Previous articleJimat (4)
Next articleJimat (6)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/