alexametrics
32 C
Malang
Saturday, 15 May 2021

Tiga Modal Dasar Pengusaha Sukses

SETAHUN sudah pandemi Covid-19 ini melanda negeri kita. Bukan hanya Indonesia, tapi hampir semua negara di belahan dunia ini terdampak keganasan virus korona. Bukan keganasannya, tapi efek yang ditimbulkannya melumpuhkan banyak sektor, terutama sektor perekonomian.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) mengungkapkan bahwa tahun 2018 lalu ada sekitar 64.194.057 UMKM dengan daya serap 116.978.631 tenaga kerja. Setelah dilanda pandemi, sekitar 56 persen di antaranya mengalami penurunan omzet, 22 persen lainnya kesulitan mendapatkan kredit, 15 persen mengalami permasalahan dalam distribusi barang, dan 4 persen sisanya melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.

Tak ada yang menduga bahwa akan ada wabah Covid-19 yang melumpuhkan semua sektor. Saya masih teringat awal tahun lalu saat semua UMKM dan pegiat bisnis optimistis melakukan rapat tahunan untuk merencanakan strategi-strategi pertumbuhan di tahun 2020. Tiba-tiba pada Maret 2020 semua keran perekonomian seketika mati akibat pandemi Covid-19 ini.

Dunia wirausaha memang penuh dengan dinamika. Apa yang akan terjadi keesokan hari seolah unpredictable meskipun perencanaan matang telah dibuat sebelumnya. Karenanya, kondisi dunia usaha yang dinamis itu menuntut para pengusaha untuk bisa beradaptasi dengan cepat agar bisa bertahan dan bertumbuh di situasi apa pun.

Pandemi Covid-19 ini juga merupakan salah satu ujian bagi pengusaha. Ujian untuk mengukur seberapa dalam, seberapa tinggi, seberapa luas keilmuan, seberapa kuat daya tahannya, dan seberapa cepat bangkit dari keterpurukan. Para pengusaha dituntut untuk bisa terus berpikir dan menemukan cara agar, seberapa pun beratnya badai yang menghadang, mereka bisa beradaptasi.

Setidaknya ada tiga kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh pengusaha agar bisa bertahan, bahkan tumbuh dalam situasi apa pun. Terlebih lagi dalam situasi negara dan dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini.

Apa ketiga modal dasar yang harus dimiliki oleh pengusaha? Pertama, kemampuan mengelola sumber daya. Sumber daya seorang pengusaha adalah suatu yang melekat, keberadaan dan daya dukungnya akan menjadi penentu bagi keberlangsungan bisnisnya.

Berbicara tentang sumber daya, maka kita sebenarnya sedang berbicara tentang cash flow perusahaan, sarana dan prasana, serta SDM yang terlibat dalam seluruh mata rantai bisnis tersebut.

Sementara cash flow adalah jantung bagi sebuah bisnis. Semakin bagus pengelolaan keuangan, maka semakin bagus pula perusahaan. Semakin banyak cash flow yang tersedia, maka semakin kuat sebuah bisnis atau perusahaan tersebut.

Begitu juga dengan sarana dan prasarana (inventory). Sebuah bisnis tentu akan semakin bagus jika inventory-nya bisa ditekan seminimal mungkin, tapi tetap memenuhi prinsip-prinsip efektivitas dalam proses produksi. Banyak bisnis yang terjebak dalam over inventory dan tidak bisa mengendalikan keberadaannya, sehingga keberadaannya bukannya menjadi daya dukung, tapi justru menjadi beban bagi bisnis tersebut.

Kedua, kemampuan untuk mencari peluang. Pengusaha atau pelaku UMKM harus memiliki kemampuan dan kesigapan menganalisis setiap perubahan di pasar, termasuk perubahan pola perilaku konsumen. Adaptif dengan perubahan dan cepat melakukan aksi perubahan adalah kata kunci bagi pengusaha agar terus bisa bertahan, bahkan bertumbuh.

Pandemi Covid-19 banyak memberikan pelajaran bagi pengusaha, di mana di tengah situasi yang serbasulit ini kita tetap dituntut bisa mencari peluang sekecil apa pun itu. Ada salah seorang teman yang awalnya bisnis travel umrah dan haji. Karena harus tutup total, maka dia beralih berjualan frozen food dengan memanfaatkan semua platform media sosial untuk pemasaran. Misalnya layanan paket isolasi mandiri bagi penderita Covid-19 yang ditawarkan oleh hotel selama pandemi berlangsung yang ternyata cukup membantu menambah revenue hotel tersebut.

Intinya, pengusaha atau pelaku UMKM harus cepat merespons peluang, mengubah sistem pelayanan ke arah digital, mengubah arah bisnis, memanfaatkan semua platform pemasaran, serta mampu melihat dan menangkap setiap peluang.

Ketiga, keberanian mengambil risiko. Salah satu kompetensi dan mentalitas mendasar yang harus dimiliki oleh pengusaha adalah keberanian mengambil risiko. Peluang yang muncul di depan mata, sumber daya yang memadai, akan percuma jika kita sebagai pengusaha tidak berani mengambil keputusan.

Ada sebuah ungkapan ”Risk equal with luck”, bahwa risiko itu berbanding lurus dengan kesuksesan. Ungkapan ini seolah benar adanya bahwa semakin tinggi risiko yang dihadapi dalam bisnis, maka semakin besar peluang mendapatkan kesuksesan.

Kalau kita membaca banyak biografi orang-orang sukses, selalu ada cerita dari setiap perjalanan karirnya. Rata-rata mereka berani membuat keputusan dan mengambil risiko. Tentu terukur.

Salah satu contoh keberanian mengambil risiko yang harus dimiliki oleh pengusaha atau pelaku UMKM adalah kegigihannya untuk terus melakukan inovasi-inovasi pengembangan produknya sesuai permintaan pasar. Kebutuhan pasar telah bergeser dan model bisnis telah banyak berubah, maka dibutuhkan mentalitas dan keberanian mengambil keputusan dan risiko bagi para pengusaha atau pelaku UMKM.

Hari ini sudah lebih baik dari kondisi setahun yang lalu. Pemerintah sudah banyak membuat terobosan agar berada pada kondisi normal. Vaksinasi yang terus berjalan turut menjadi penyebab munculnya harapan dan optimisme bagi pelaku UMKM. Tiga kemampuan mendasar di atas adalah syarat mutlak yang harus dimiliki setiap pelaku UMKM agar bisnisnya terus bertumbuh dan membesar. Pandemi berangsur pergi, kehidupan bisnis baru harus dihadapi dengan segala kompetensi. (*)

SETAHUN sudah pandemi Covid-19 ini melanda negeri kita. Bukan hanya Indonesia, tapi hampir semua negara di belahan dunia ini terdampak keganasan virus korona. Bukan keganasannya, tapi efek yang ditimbulkannya melumpuhkan banyak sektor, terutama sektor perekonomian.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) mengungkapkan bahwa tahun 2018 lalu ada sekitar 64.194.057 UMKM dengan daya serap 116.978.631 tenaga kerja. Setelah dilanda pandemi, sekitar 56 persen di antaranya mengalami penurunan omzet, 22 persen lainnya kesulitan mendapatkan kredit, 15 persen mengalami permasalahan dalam distribusi barang, dan 4 persen sisanya melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.

Tak ada yang menduga bahwa akan ada wabah Covid-19 yang melumpuhkan semua sektor. Saya masih teringat awal tahun lalu saat semua UMKM dan pegiat bisnis optimistis melakukan rapat tahunan untuk merencanakan strategi-strategi pertumbuhan di tahun 2020. Tiba-tiba pada Maret 2020 semua keran perekonomian seketika mati akibat pandemi Covid-19 ini.

Dunia wirausaha memang penuh dengan dinamika. Apa yang akan terjadi keesokan hari seolah unpredictable meskipun perencanaan matang telah dibuat sebelumnya. Karenanya, kondisi dunia usaha yang dinamis itu menuntut para pengusaha untuk bisa beradaptasi dengan cepat agar bisa bertahan dan bertumbuh di situasi apa pun.

Pandemi Covid-19 ini juga merupakan salah satu ujian bagi pengusaha. Ujian untuk mengukur seberapa dalam, seberapa tinggi, seberapa luas keilmuan, seberapa kuat daya tahannya, dan seberapa cepat bangkit dari keterpurukan. Para pengusaha dituntut untuk bisa terus berpikir dan menemukan cara agar, seberapa pun beratnya badai yang menghadang, mereka bisa beradaptasi.

Setidaknya ada tiga kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh pengusaha agar bisa bertahan, bahkan tumbuh dalam situasi apa pun. Terlebih lagi dalam situasi negara dan dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini.

Apa ketiga modal dasar yang harus dimiliki oleh pengusaha? Pertama, kemampuan mengelola sumber daya. Sumber daya seorang pengusaha adalah suatu yang melekat, keberadaan dan daya dukungnya akan menjadi penentu bagi keberlangsungan bisnisnya.

Berbicara tentang sumber daya, maka kita sebenarnya sedang berbicara tentang cash flow perusahaan, sarana dan prasana, serta SDM yang terlibat dalam seluruh mata rantai bisnis tersebut.

Sementara cash flow adalah jantung bagi sebuah bisnis. Semakin bagus pengelolaan keuangan, maka semakin bagus pula perusahaan. Semakin banyak cash flow yang tersedia, maka semakin kuat sebuah bisnis atau perusahaan tersebut.

Begitu juga dengan sarana dan prasarana (inventory). Sebuah bisnis tentu akan semakin bagus jika inventory-nya bisa ditekan seminimal mungkin, tapi tetap memenuhi prinsip-prinsip efektivitas dalam proses produksi. Banyak bisnis yang terjebak dalam over inventory dan tidak bisa mengendalikan keberadaannya, sehingga keberadaannya bukannya menjadi daya dukung, tapi justru menjadi beban bagi bisnis tersebut.

Kedua, kemampuan untuk mencari peluang. Pengusaha atau pelaku UMKM harus memiliki kemampuan dan kesigapan menganalisis setiap perubahan di pasar, termasuk perubahan pola perilaku konsumen. Adaptif dengan perubahan dan cepat melakukan aksi perubahan adalah kata kunci bagi pengusaha agar terus bisa bertahan, bahkan bertumbuh.

Pandemi Covid-19 banyak memberikan pelajaran bagi pengusaha, di mana di tengah situasi yang serbasulit ini kita tetap dituntut bisa mencari peluang sekecil apa pun itu. Ada salah seorang teman yang awalnya bisnis travel umrah dan haji. Karena harus tutup total, maka dia beralih berjualan frozen food dengan memanfaatkan semua platform media sosial untuk pemasaran. Misalnya layanan paket isolasi mandiri bagi penderita Covid-19 yang ditawarkan oleh hotel selama pandemi berlangsung yang ternyata cukup membantu menambah revenue hotel tersebut.

Intinya, pengusaha atau pelaku UMKM harus cepat merespons peluang, mengubah sistem pelayanan ke arah digital, mengubah arah bisnis, memanfaatkan semua platform pemasaran, serta mampu melihat dan menangkap setiap peluang.

Ketiga, keberanian mengambil risiko. Salah satu kompetensi dan mentalitas mendasar yang harus dimiliki oleh pengusaha adalah keberanian mengambil risiko. Peluang yang muncul di depan mata, sumber daya yang memadai, akan percuma jika kita sebagai pengusaha tidak berani mengambil keputusan.

Ada sebuah ungkapan ”Risk equal with luck”, bahwa risiko itu berbanding lurus dengan kesuksesan. Ungkapan ini seolah benar adanya bahwa semakin tinggi risiko yang dihadapi dalam bisnis, maka semakin besar peluang mendapatkan kesuksesan.

Kalau kita membaca banyak biografi orang-orang sukses, selalu ada cerita dari setiap perjalanan karirnya. Rata-rata mereka berani membuat keputusan dan mengambil risiko. Tentu terukur.

Salah satu contoh keberanian mengambil risiko yang harus dimiliki oleh pengusaha atau pelaku UMKM adalah kegigihannya untuk terus melakukan inovasi-inovasi pengembangan produknya sesuai permintaan pasar. Kebutuhan pasar telah bergeser dan model bisnis telah banyak berubah, maka dibutuhkan mentalitas dan keberanian mengambil keputusan dan risiko bagi para pengusaha atau pelaku UMKM.

Hari ini sudah lebih baik dari kondisi setahun yang lalu. Pemerintah sudah banyak membuat terobosan agar berada pada kondisi normal. Vaksinasi yang terus berjalan turut menjadi penyebab munculnya harapan dan optimisme bagi pelaku UMKM. Tiga kemampuan mendasar di atas adalah syarat mutlak yang harus dimiliki setiap pelaku UMKM agar bisnisnya terus bertumbuh dan membesar. Pandemi berangsur pergi, kehidupan bisnis baru harus dihadapi dengan segala kompetensi. (*)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru