alexametrics
21.9 C
Malang
Thursday, 26 May 2022

Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi 2021

Oleh: Azka Subhan Aminurridho *)

Tahun 2021 pun telah menjelang. Berkaca pada tahun 2020, optimisme pemulihan ekonomi global di tahun 2020 berubah setelah mewabahnya coronavirus disease (Covid-19). Pandemi Covid-19 berdampak sangat luar biasa (extraordinary) terhadap kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan di seluruh dunia. Berdasarkan laporan WHO, sampai dengan minggu ke-4 (empat) bulan Desember 2020 secara global penderita Covid-19 sudah mencapai 76,2 juta jiwa dengan total meninggal 1,7 juta jiwa. Pada penghujung tahun 2020 perkembangan uji klinis vaksin Covid-19 dunia terus membuahkan kabar baik. Beberapa negara berencana memulai vaksinasi Covid-19 pada Desember 2020. Awal momentum perbaikan ekonomi pada 2021 mendatang. Hal ini menjadi game changer di tengah pandemi.

Kinerja perekonomian global mulai menunjukkan perbaikan, setelah terkontraksi pada triwulan II dan III 2020. Aktivitas perekonomian dunia mulai meningkat meskipun masih dibayangi risiko gelombang kedua (second wave) pandemi Covid-19. International Monetary Fund (IMF) berdasarkan rilis pada bulan Oktober 2020 menyebutkan pertumbuhan ekonomi secara global diproyeksikan menjadi di angka –4,4 persen pada tahun 2020. Proyeksi tersebut lebih tinggi 0,8 poin sejak revisi proyeksi pada bulan Juni 2020 sebesar -5,5 persen. Proyeksi yang lebih kuat di tahun 2020 mencerminkan efek dari dua faktor, yakni dorongan dari PDB triwulan III 2020 yang lebih baik dan penurunan kasus Covid-19 dari tindakan physical distancing. Ke depan, perbaikan ekonomi global diperkirakan terus berlanjut. Oleh karena itu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan rebound pada 2021 sebesar 5,2 persen.

Outlook Ekonomi Nasional dan Jawa Timur
Menjaga kestabilan di tengah turbulensi global akibat pandemi Covid-19, optimisme menyambut tahun 2021 dibangun oleh Presiden Joko Widodo yang memaparkan langkah strategis dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2020. Salah satu poin penting yang disampaikan yaitu perbaikan ekonomi sejalan dengan realisasi stimulus fiskal, meningkatnya mobilitas masyarakat, dan membaiknya permintaan global. Oleh karena itu, momentum pertumbuhan positif ini harus dijaga dengan terus menjalankan protokol kesehatan secara disiplin.

Sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran non makanan dan online, Prompt Manufacturing Index (PMI) manufaktur, serta pendapatan masyarakat. Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat didorong oleh membaiknya perekonomian global serta akselerasi realisasi anggaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah, kemajuan dalam program restrukturisasi kredit, serta berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial Bank Indonesia. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mulai positif pada triwulan IV-2020 dan diperkirakan mencapai 4,8-5,8 persen pada tahun 2021. Sementara itu, inflasi nasional tetap rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang cukup memadai. Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada akhir tahun 2020 akan lebih rendah dari 2 persen dan pada tahun 2021 akan terkendali di dalam sasaran 3,0±1 persen.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur 2021 diperkirakan berada dalam range 5,3-6,3 persen. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kinerja lapangan usaha utama Jawa Timur seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Upaya mengembalikan kinerja perekonomian Jawa Timur kepada keseimbangan normal pada path potensial, memerlukan dukungan sektor ekonomi dengan multiplier effect tinggi seperti industri kertas, makan minum, tembakau, farmasi, kayu, dan karet. Sementara sektor ekonomi dengan multiplier effect sedang seperti kimia, perikanan, dan pertanian juga harus tetap didorong untuk mendukung penguatan ekonomi Jawa Timur. Dari sisi perkembangan harga, target inflasi Jawa Timur mengacu pada target inflasi Bank Indonesia 2021 yaitu 3±1 persen. Sikap optimistis perlu terus ditumbuhkan agar dapat menjadi pijakan dalam transformasi ekonomi sehingga mampu meningkatkan daya saing ekonomi dan merebut peluang pasar.

Outlook Ekonomi Malang Raya
Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu menjadi wilayah pengungkit pertumbuhan di wilayah Kawasan Tengah Selatan (Katesa) Jawa Timur. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 Bank Indonesia Malang, pertumbuhan ekonomi pada Kota Malang diproyeksikan tumbuh dan diprakirakan berada pada rentang 5,4-6,4 persen, Kabupaten Malang diprakirakan berada pada rentang 5,2-6,2 persen, dan Kota Batu diprakirakan berada pada rentang 5,8-6,8 persen. Secara umum, pertumbuhan ekonomi Malang Raya lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur dan nasional yang didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, serta konstruksi. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang Raya. Menyikapi perkembangan inflasi, Bank Indonesia Malang tetap optimistis realisasi inflasi Malang Raya akan terkendali di dalam sasaran 3,0+1 persen sesuai target inflasi 2021.

Pengembangan Ekonomi Malang Raya
Dalam rangka mewujudkan optimisme tumbuhnya ekonomi Malang Raya, Bank Indonesia Malang terus mendorong pemulihan ekonomi di antaranya memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah seperti menjaga terkendalinya inflasi serta mendukung stabilitas sistem keuangan. Fokus koordinasi diarahkan pada mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pemulihan ekonomi.

Bank Indonesia Malang dalam rangka pemulihan ekonomi daerah berupaya untuk terus-menerus mendorong: 1) Pengembangan sektor industri pengolahan yang memiliki kontribusi tinggi dalam pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berpotensi ekspor, 2) Pengembangan sektor-sektor pendukung pariwisata terutama pascapandemi, 3) Pengembangkan sektor UMKM melalui 3 (tiga) pilar kebijakan yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan, 4) Pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai subsektornya seperti aplikasi dan pengembangan permainan, 5) Pengembangan transaksi nontunai dan keuangan digital seperti Elektronifikasi Transaksi Pemda dan perluasan Quick Response Code Indonesian Standard, 6) Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah serta pemberdayaan ekonomi pesantren, 7) Peningkatan kerja sama dan kolaborasi pentahelix bersama pemda, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.

Tentunya dalam kaitan pemulihan ekonomi terdapat kondisi prasyarat (necessary condition) “2V” yaitu penanganan Virus Covid-19 dan Vaksin. Faktor kesehatan tetap menjadi prioritas utama selaras dengan pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif dan aman Covid-19. Selain itu, diperlukan pemberian vaksin yang aman dan efektif secara luas sesegera mungkin. Salam Satu Jiwa. (*)

*) Penulis adalah Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang

Oleh: Azka Subhan Aminurridho *)

Tahun 2021 pun telah menjelang. Berkaca pada tahun 2020, optimisme pemulihan ekonomi global di tahun 2020 berubah setelah mewabahnya coronavirus disease (Covid-19). Pandemi Covid-19 berdampak sangat luar biasa (extraordinary) terhadap kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan di seluruh dunia. Berdasarkan laporan WHO, sampai dengan minggu ke-4 (empat) bulan Desember 2020 secara global penderita Covid-19 sudah mencapai 76,2 juta jiwa dengan total meninggal 1,7 juta jiwa. Pada penghujung tahun 2020 perkembangan uji klinis vaksin Covid-19 dunia terus membuahkan kabar baik. Beberapa negara berencana memulai vaksinasi Covid-19 pada Desember 2020. Awal momentum perbaikan ekonomi pada 2021 mendatang. Hal ini menjadi game changer di tengah pandemi.

Kinerja perekonomian global mulai menunjukkan perbaikan, setelah terkontraksi pada triwulan II dan III 2020. Aktivitas perekonomian dunia mulai meningkat meskipun masih dibayangi risiko gelombang kedua (second wave) pandemi Covid-19. International Monetary Fund (IMF) berdasarkan rilis pada bulan Oktober 2020 menyebutkan pertumbuhan ekonomi secara global diproyeksikan menjadi di angka –4,4 persen pada tahun 2020. Proyeksi tersebut lebih tinggi 0,8 poin sejak revisi proyeksi pada bulan Juni 2020 sebesar -5,5 persen. Proyeksi yang lebih kuat di tahun 2020 mencerminkan efek dari dua faktor, yakni dorongan dari PDB triwulan III 2020 yang lebih baik dan penurunan kasus Covid-19 dari tindakan physical distancing. Ke depan, perbaikan ekonomi global diperkirakan terus berlanjut. Oleh karena itu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan rebound pada 2021 sebesar 5,2 persen.

Outlook Ekonomi Nasional dan Jawa Timur
Menjaga kestabilan di tengah turbulensi global akibat pandemi Covid-19, optimisme menyambut tahun 2021 dibangun oleh Presiden Joko Widodo yang memaparkan langkah strategis dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2020. Salah satu poin penting yang disampaikan yaitu perbaikan ekonomi sejalan dengan realisasi stimulus fiskal, meningkatnya mobilitas masyarakat, dan membaiknya permintaan global. Oleh karena itu, momentum pertumbuhan positif ini harus dijaga dengan terus menjalankan protokol kesehatan secara disiplin.

Sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran non makanan dan online, Prompt Manufacturing Index (PMI) manufaktur, serta pendapatan masyarakat. Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat didorong oleh membaiknya perekonomian global serta akselerasi realisasi anggaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah, kemajuan dalam program restrukturisasi kredit, serta berlanjutnya stimulus moneter dan makroprudensial Bank Indonesia. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mulai positif pada triwulan IV-2020 dan diperkirakan mencapai 4,8-5,8 persen pada tahun 2021. Sementara itu, inflasi nasional tetap rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang cukup memadai. Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada akhir tahun 2020 akan lebih rendah dari 2 persen dan pada tahun 2021 akan terkendali di dalam sasaran 3,0±1 persen.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur 2021 diperkirakan berada dalam range 5,3-6,3 persen. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kinerja lapangan usaha utama Jawa Timur seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi. Upaya mengembalikan kinerja perekonomian Jawa Timur kepada keseimbangan normal pada path potensial, memerlukan dukungan sektor ekonomi dengan multiplier effect tinggi seperti industri kertas, makan minum, tembakau, farmasi, kayu, dan karet. Sementara sektor ekonomi dengan multiplier effect sedang seperti kimia, perikanan, dan pertanian juga harus tetap didorong untuk mendukung penguatan ekonomi Jawa Timur. Dari sisi perkembangan harga, target inflasi Jawa Timur mengacu pada target inflasi Bank Indonesia 2021 yaitu 3±1 persen. Sikap optimistis perlu terus ditumbuhkan agar dapat menjadi pijakan dalam transformasi ekonomi sehingga mampu meningkatkan daya saing ekonomi dan merebut peluang pasar.

Outlook Ekonomi Malang Raya
Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu menjadi wilayah pengungkit pertumbuhan di wilayah Kawasan Tengah Selatan (Katesa) Jawa Timur. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021 Bank Indonesia Malang, pertumbuhan ekonomi pada Kota Malang diproyeksikan tumbuh dan diprakirakan berada pada rentang 5,4-6,4 persen, Kabupaten Malang diprakirakan berada pada rentang 5,2-6,2 persen, dan Kota Batu diprakirakan berada pada rentang 5,8-6,8 persen. Secara umum, pertumbuhan ekonomi Malang Raya lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur dan nasional yang didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, serta konstruksi. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang Raya. Menyikapi perkembangan inflasi, Bank Indonesia Malang tetap optimistis realisasi inflasi Malang Raya akan terkendali di dalam sasaran 3,0+1 persen sesuai target inflasi 2021.

Pengembangan Ekonomi Malang Raya
Dalam rangka mewujudkan optimisme tumbuhnya ekonomi Malang Raya, Bank Indonesia Malang terus mendorong pemulihan ekonomi di antaranya memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah seperti menjaga terkendalinya inflasi serta mendukung stabilitas sistem keuangan. Fokus koordinasi diarahkan pada mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pemulihan ekonomi.

Bank Indonesia Malang dalam rangka pemulihan ekonomi daerah berupaya untuk terus-menerus mendorong: 1) Pengembangan sektor industri pengolahan yang memiliki kontribusi tinggi dalam pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berpotensi ekspor, 2) Pengembangan sektor-sektor pendukung pariwisata terutama pascapandemi, 3) Pengembangkan sektor UMKM melalui 3 (tiga) pilar kebijakan yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan, 4) Pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai subsektornya seperti aplikasi dan pengembangan permainan, 5) Pengembangan transaksi nontunai dan keuangan digital seperti Elektronifikasi Transaksi Pemda dan perluasan Quick Response Code Indonesian Standard, 6) Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah serta pemberdayaan ekonomi pesantren, 7) Peningkatan kerja sama dan kolaborasi pentahelix bersama pemda, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.

Tentunya dalam kaitan pemulihan ekonomi terdapat kondisi prasyarat (necessary condition) “2V” yaitu penanganan Virus Covid-19 dan Vaksin. Faktor kesehatan tetap menjadi prioritas utama selaras dengan pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif dan aman Covid-19. Selain itu, diperlukan pemberian vaksin yang aman dan efektif secara luas sesegera mungkin. Salam Satu Jiwa. (*)

*) Penulis adalah Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/