alexametrics
25.9C
Malang
Friday, 22 January 2021

Daring adalah Keniscayaan, Luring Jadi Pilihan

Oleh: Prof Dr AH Rofi’uddin MPd *)

Predikat Kota Malang sebagai Kota Pendidikan menurut saya sudah cukup tepat. Terlebih bila kita melihatnya dari segi kualitas. Kalau dari segi kuantitas, tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah cukup banyak instansi pendidikan di Kota Malang. Tersebar di semua jenjang. Mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi (PT). Kini, predikat itu sedang mendapat ’ujian’. Datangnya Covid-19 turut mengubah segala tata cara kehidupan manusia di muka bumi.

Tidak hanya dunia pendidikan yang merasakan dampaknya. Sebab, urusan lain juga turut diatur lagi. Seperti kegiatan yang bersifat keagamaan. Kita tahu, bahwa di awal pandemi dulu, ada fatwa yang menyatakan bila salat Jumat bisa diganti dengan salat Duhur. Di sisi kehidupan bersosial, juga ada sejumlah perubahan. Kebiasaan gotong royong, silahturahmi, dan seterusnya juga turut berubah.

Contoh-contoh itu adalah hal yang sangat mendasar. Dari sana, kita bisa memahami dampak pandemi Covid-19 yang begitu luas. Itu tidak hanya dirasakan warga Kota Malang dan Indonesia, namun juga dirasakan seluruh penduduk di muka bumi ini. Kembali ke dunia pendidikan, kita tahu bahwa mulai akhir bulan Februari lalu, pembelajaran di semua jenjang diharuskan menggunakan sistem daring.
Saya memahami bahwa itu bukan sebuah tawaran, namun merupakan keniscayaan. Saya rasa, mayoritas insan pendidikan juga setuju dengan keputusan itu. Sebab saat ini, langkah yang lebih baik dilakukan yakni mementingkan kesehatan dan mengutamakan keselamatan jiwa. Bagi kami yang ada di perguruan tinggi, pandemi dan pembelajaran daring tidak menimbulkan dampak yang cukup luas. Terlebih bagi perguruan tinggi yang sudah siap dengan fasilitas IT-nya.
Tapi untuk jenjang sekolah menengah sampai ke bawah, tentu yang terjadi berbeda. Sejumlah problem turut mengiringinya. Seperti problem keterbatasan jaringan hingga perangkat. Terlepas dari semua itu, menurut saya tidak penting untuk membahas apakah pembelajaran daring adalah opsi yang terbaik atau tidak. Sebab, saat ini kita tidak memiliki banyak opsi. Di tempat saya, Universitas Negeri Malang (UM), sebelum pandemi, kami sudah menyiapkan Sistem Pengelolaan Pembelajaran (Sipejar).
Di dalamnya, kami sudah mendorong sejumlah mata kuliah tertentu untuk digelar secara daring. Khususnya mata kuliah yang bersifat teori. Sementara untuk mata kuliah yang bersifat praktik dan pembentukan karakter, tentu tidak mungkin digelar secara daring. Saat ini, kami sadar tidak mempunyai banyak pilihan. Kalaupun ada sesi praktikum, protokol kesehatan (prokes) benar-benar kami terapkan secara ketat.
Ruang laboratorium dipakai maksimal hanya 60 menit. Setelah itu, ada sesi penyemprotan disinfektan. Selanjutnya, ruangan kami kosongkan selama satu jam. Baru setelah itu bisa dipakai praktikum kembali. Saya sadar bila kebijakan tersebut membawa keterbatasan bagi anak-anak yang praktikum di laboratorium. Namun, lagi-lagi kami tidak memiliki lebih banyak opsi.
Saat ini, salah satu upaya yang terus kami lakukan yakni menjaga standar mutu. Meski harus diakui, bahwa di kondisi sekarang, yang terjadi sedikit berbeda. Sebab, penguasaan suatu skill dari seseorang bakal berbeda sebelum dan sesudah dilaksanakan pembelajaran daring. Sebagai contoh, di UM itu ada sekitar 36 ribu mahasiswa. Mereka berasal dari seluruh wilayah di Indonesia.
Dari pengamatan saya, meski jumlahnya sedikit, tetap ada mahasiswa yang tidak bisa mengakses pembelajaran secara daring dengan leluasa. Bila dipersentase, ada sekitar 3 persen mahaswa yang mengalami kendala tersebut. Baik terkendala hotspot, jaringan, atau perangkat. Saya juga sempat mengecek mereka yang tidak aktif dalam pembelajaran daring tersebut. Hasilnya, memang ada sebagian mahasiswa yang berada di area blank spot, tidak ada sinyal sama sekali. Kalaupun ada, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 30 km.
Untuk anak-anak yang seperti itu, tentu susah menyelesaikan kuliah tepat waktu. Kami juga sudah memberikan kemudahan dan kelonggaran waktu kepada yang bersangkutan. Secara umum, mutu pembelajaran yang dihasilkan sebelum dan sesudah pandemi tentu ada perbedaan. Namun seberapa perbedaannya, kami sulit menjangkaunya. Sebab, itu merupakan akumulasi dari semua proses. Palingan, kami hanya bisa melihatnya dari indeks prestasi (IP) yang itu juga hanya menjadi salah satu tolok ukur kecakapan mahasiswa.
Utamakan Protokol Kesehatan
Di Universitas Negeri Malang (UM), kami sempat berkeinginan untuk menyelenggarakan perkuliahan secara luring (luar jaringan). Kami sudah merancang dan menyiapkannya untuk semester genap. Namun dalam perkembangan berikutnya, kondisi yang terjadi tidak lebih baik. Dari data pemerintah, jumlah warga yang terpapar Covid-19 menjadi lebih banyak lagi. Dengan berat hati, kami cabut lagi keputusan itu. Dan kembali menggelar perkuliahan secara daring. Selaku rektor, saat ini saya tidak jenuh-jenuhnya untuk mengingatkan seluruh warga kampus untuk mentaati protokol kesehatan (prokes). Penerapan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) harus terus ditegakkan.
Saya sadar, keputusan untuk tetap menggelar perkuliahan secara daring itu bakal membawa dampak pada perekonomian warga di sekitar UM. Sebagai perbandingan, asrama UM hanya mampu menampung sekitar 1.000 mahasiswa. Di luar itu, ada 20 ribuan mahasiswa yang memilih kos. Jumlah itulah yang menggerakkan ekonomi warga di sekitar kampus. Kami tentu sangat paham dengan kondisi tersebut, namun lagi-lagi kami terpaksa harus mengambil keputusan menggelar kuliah secara daring.
Hal serupa juga berlaku pada jenjang pendidikan di bawah kami. Seperti SMA dan SMK. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI memang sudah membebaskan sekolah untuk menggelar pembelajaran secara luring. Asalkan memperoleh izin dari satgas Covid-19 dan pemerintah daerah. Melihat situasi saat ini, instansi pendidikan yang semula sudah siap menyelenggarakan pembelajaran luring, juga melakukan peninjauan kembali. Alasannya tentu satu, mengutamakan kesehatan dan keselamatan seluruh pelajar. (*)

*) Penulis adalah Rektor Universitas Negeri Malang.

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Wajib Dibaca